(Not) Mistake

(Not) Mistake
Bab 35 : Fakta mengejutkan



Alvaro memarkirkan mobilnya tepat di pekarangan rumah besar di depannya. Butuh waktu cukup lama untuk sampai di kota tempat dimana sepasang kakek dan nenek tinggal. Untuk ukuran sepasang wanita dan pria paruh baya, rumah ini sangat besar hingga terlihat cukup untuk disebut sebagai mansion daripada rumah.


Tak banyak memperhatikan, Alvaro keluar dari mobil untuk segera masuk dan menemui kedua pemilik rumah ini dan mengatakan tujuannya. Di depan pintu mansion, ada dua pelayan yang menyambut kedatangannya. Alvaro berdecih dengan gaya mewah yang sangat khas untuk kedua nenek dan kakeknya. Mereka begitu menjunjung tinggi kemewahan dan glamor hanya karena menyandang gelar nama Marveen yang diwarisi dari orang tuanya juga. Tanpa mengetahui kerja keras dibaliknya.


“Lihat siapa yang datang?” Suara Laila Marveen yang tak lain dan tak bukan adalah neneknya, menyambut kedatangannya setelah ia masuk ke dalam.


“Dimana Opa? Aku ingin bicara dengannya.” Alvaro langsung mengatakan tujuannya tanpa mau repot-repot berbasi basi.


“Dia akan segera pulang, ayo masuk dan minum sesuatu.” Laila Marveen masuk ke dalam yang mau tidak mau diikuti oleh Alvaro.


“Opa seharusnya sudah pensiun dan menikmati kekayaannya,” ujar Marveen di tengah mereka berjalan.


Laila Marveen mendengus. “Memang itulah rencananya jika ayahmu tidak memutus hubungan dengan tidak baik seperti itu.”


Laila membawanya ke sebuah ruangan yang terlihat sama dengan ruang tamu, tapi terkesan lebih informal dan bisa disebut ruang santai. Tampaknya ia sudah ada di sini sebelum ia datang. Laila duduk di sofa dan kembali membuka buku yang tergeletak di atas meja. Alvaro tidak mengatakan apapun dan bergabung bersama neneknya. Mereka diam tidak berbicara sampai pelayan datang membawakan minuman.


“Mau apa kau menemui opamu setelah lama tidak mau mendengar nama kami?” tanya Laila tanpa menatap Alvaro, membuka pembicaraan.


“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengannya dan juga Oma,” jawab Alvaro yang juga tidak menatap Laila.


“Cih! Jika kau memiliki tujuan, kau baru datang kemari. Sedangkan saat tidak ada, kalian sama sekali tidak mengunjungi bahkan sekedar berkirim kabar. Dasar bocah-bocah brengsek!” Alvaro tidak ingin menjawab lagi perkataan itu.


Dibalik sikap angkuh dan ketus mereka, semakin Alvaro dewasa semakin Alvaro menyadari bahwa mereka juga adalah sepasang paruh baya yang hanya mendambakan kehidupan seperti pasangan paruh baya lainnya. Hidup rukun bersama dengan anak dan cucunya. Ia yakin jika semua perkataan pedas yang keluar dari mulut mereka untuk orang tuanya pasti tidak ada maksud jahat sama sekali. Dari yang Alvaro tebak, mereka hanya terlalu malu untuk meminta maaf dan menutupinya dengan kata-kata pedas itu.


“Ini mengenai Vee,” ujar Alvaro mengubah pembicaraan sekaligus tujuan dari kunjungannya.


Laila berhenti menatap buku yang tengah dibacanya dan mendongak menatap pada Alvaro yang sudah menunggu tatapan matanya. Ia menyimpan bukunya dan tampak berniat hendak fokus dengan pembicaraan ini.


“Jika itu tujuanmu kemari, kami tidak memiliki apapun untuk dikatakan. Jangan sebut nama anak itu lagi di rumah ini!” kata Laila tegas menatap tajam Alvaro.


“Apa yang salah dengan Vee selain dia tidak memiliki darah keluarga Marveen? Kenapa kalian begitu membencinya?” tanya Alvaro.


“Jadi, kau sudah mengetahui jika anak itu bukan putri kandung Zahir dan Flora?” tanya balik Laila yang diangguki Alvaro.


“Memang itu bukan salah satu penyebab kami membenci anak itu,” lanjut Laila kemudian yang semakin membuat Alvaro penasaran.


“Sepertinya kita kedatangan tamu, Laila.” Suara lain yang baru saja datang mendistraksi pembicaraan mereka


“Kenar, kau sudah pulang?” Laila berdiri dari duduknya berniat menghampiri sang suami.


“Tidak usah kemari, duduklah.” Kenar melangkah lebih dulu mendekat pada Laila dan duduk bergabung. Mereka memiliki sisi romantis juga meski usia sudah tidak muda lagi, Alvaro pikir.


“Jadi, ada apa dengan bocah tidak tahu diri ini kemari?” tanya Kenar langsung setelah ia duduk berhadapan dengan Alvaro sambil melonggarkan dasi yang masih terpasang di lehernya.


“Aku ingin bukti dari perkataan kalian bahwa Vee bukan putri kandung Papa dan Mama,” ucap Alvaro yang juga langsung tanpa berbasa basi.


“Haaah… apa istimewanya putri keparat itu hingga keluargaku mau menerimanya?” gumam Kenar kesal.


“Siapa sebenarnya keluarga kandung Vee, Opa?” tanya Alvaro mengabaikan perkataan Kenar.


“Dia itu putri dari keluarga musuh bebuyutan keluarga kita, itulah mengapa aku sangat membencinya. Ditambah dengan Zahir yang menerima anak yang sudah dibuang orang tuanya itu. Benar-benar menjengkelkan.” Alvaro sedikit terkejut mengetahui fakta yang baru itu.


“Keparat mana yang dimaksud Opa? Dan kenapa orang tua Vee membuangnya?” tanya Alvaro lagi dengan cepat.


“Dimana mereka sekarang?” Alvaro kembali bertanya.


“Orang tuanya sudah mati, ada rumor yang mengatakan bahwa mereka mati di tangan putra mereka sendiri. Sudah lama aku juga tidak mendengar kabar keluarga mereka, meskipun keluarga mereka masih sama terkenalnya dengan keluarga kita.” Alvaro lagi-lagi terkejut mendengar fakta baru ini.


“Untuk apa kau menanyakan mereka?” tanya Laila.


“Aku harus menemui keluarga Vee untuk membawanya dari Papa supaya aku bisa menikahi Vee dengan restu keluarga aslinya.” Kenar dan Laila melotot tajam, terkejut dengan apa yang dikatakan Alvaro.


“Kau akan menikahi anak itu?!” Laila bertanya setengah berteriak.


“Tidak, kami sudah tidak setuju dia menjadi bagian dari keluarga Marveen, apalagi dia benar-benar menjadi keluarga Marveen dengan menjadi menantu. Kami tidak akan-”


“Aku akan mengambil alih seluruh perusahaan Opa dan membuat kalian pensiun seperti yang diinginkan. Aku juga akan membuat Papa meminta maaf pada kalian.” Tawaran ini Alvaro yakini tidak akan bisa ditolak oleh mereka berdua.


"Kau tidak akan bisa dengan mudah mengembalikan gadis itu ke keluarganya karena Zahir sudah mengurus semua dokumen yang diperlukan untuk membuat dia menjadi anaknya. Bahkan sejak dia masih bayi," ucap Kenar tak lama setelah keterdiamannya.


"Itu biar aku yang mengurusnya. Aku hanya perlu pembenaran jika Vee benar-benar keluarga mereka. Apa kalian memiliki bukti jika Vee benar-benar keluarga mereka?" tanya Alvaro.


"Tidak, kami tidak memilikinya." Alvaro yang penuh harapan mendadak kembali putus asa mendengarnya.


"Lalu dari mana kalian mengetahui Vee putri mereka?" tanya Alvaro kesal.


"Kepala pelayan kami melihat sendiri kedua orang tuanya membuang bayi itu di jalanan. Dia memungutnya dan berencana untuk membesarkannya bersama dengan adiknya, tapi Zahir melihat hal itu dan memutuskan untuk membesarkannya sendiri. Adiknya itu adalah pembantu yang bekerja di rumah kalian sekarang."


"Jadi, aku hanya perlu membawa kepala pelayan kalian saja untuk menjadikannya saksi, kan?" tanya Alvaro merasa titik terang masih ada.


"Terserah," jawab Kenar.


"Siapa keluarga itu?" tanya Alvaro kembali seraya berdiri dari duduknya dengan semangat.


"Putranya yang memimpin perusahaan itu membuat pusat baru di kota X." Setelah mendengar informasi yang ia butuhkan itu, Alvaro pergi begitu saja.


"Hei bocah kurang ajar, apa begini cara menemui Oma dan Opamu?" teriak Kenar.










To be continued