
“Ada yang mengunjungimu hari ini." Evan masuk ke dalam ruangannya bersama dengan seorang gadis.
Alvaro tak mengalihkan fokusnya sedikitpun dari komputer di depannya. “Katakan aku sibuk,” jawabnya.
Evan berdehem guna membuat Alvaro menatap mereka. Setelah beberapa detik berlalu, Alvaro akhirnya mendongak dan sedikit terkejut mendapati Jihan bersama dengan Evan. Ia pikir, Evan mengatakannya ketika ia belum bersama pengunjung yang dimaksud.
“Jihan, duduklah," ucap Alvaro baru mempersilahkan Jihan seraya berdiri dari duduknya.
“Aku akan melanjutkan pekerjaan kalau begitu.” Tanpa diperintah lagi, Evan keluar dari ruangan Alvaro.
“Apa yang membawamu kemari?” tanya Alvaro seperti biasanya tak berniat berbasa basi setelah mereka duduk berhadapan.
“Aku minta maaf karena sudah mengganggu waktumu bekerja,” ucap Jihan memulai pembicaraan yang bukan diinginkan Alvaro.
“Aku hanya ingin bertanya, apakah hubunganmu dengan Kak Olvee sudah berjalan?” Pertanyaan yang tidak pernah disangka Alvaro keluar dari mulut Jihan.
Pastilah kecurigaan itu ada saat mereka pergi ke taman hiburan kemarin. Ia tidak ingin Jihan mengetahui hal ini dulu supaya ia bisa memanfaatkan gadis ini lebih banyak dari yang ia bisa. Jika mereka sudah memutuskan hubungan, akan sulit berhubungan dengan Olvee tanpa Jihan sebagai tameng. Setelah mengetahui maksud dari bantuannya, Alvaro ragu jika Jihan tidak akan menjadi gangguannya dan Olvee di masa depan.
‘Bawakan aku map yang ada di atas meja belajar di kamarku, Vee. Aku ingin kau yang mengantarnya.'
Olvee menatap pesan yang dikirim Alvaro beberapa menit yang lalu. Ia baru saja setengah jalan memulai pekerjaannya, tetapi pria itu sudah mengganggunya.
“Alvaro …. ” geram Olvee yang tak urung beranjak dari duduknya, meninggalkan pekerjaannya dan pergi ke kamar Alvaro.
“Aku sudah ribuan kali mengatakan padanya untuk tidak ceroboh dan melupakan apa yang penting ketika hari bekerja,” gerutu Olvee bergumam seraya membuka pintu kamar Alvaro.
Setelah mendapati apa yang ia cari, Olvee mengambilnya dan kembali ke kamarnya. Bersiap pergi ke kantor Alvaro untuk mengantarkannya, sesuai dengan keinginan bos dari perusahaan tersebut yang ceroboh.
“Vee, mau kemana?” tanya Flora yang ada di ruang tamu.
“Alvaro lagi-lagi meninggalkan pekerjaannya di kamar, Ma.” Olvee memperlihatkan map yang ditentengnya.
“Anak itu selalu saja!” seru Flora yang ikut merasa kesal.
“Aku akan memarahinya di kantor nanti, Ma,” usul Olvee.
“Bagus itu, Vee!” Flora memberikan ibu jarinya pada Olvee menggantikan restunya untuk memarahi putranya.
Olvee berangkat dengan mobilnya menuju kantor Alvaro. Sesampainya di sana, ia mendapatkan sapaan dan sambutan yang cukup hangat dari para pegawai yang sudah mengetahui siapa dirinya. Tak banyak mengobrol lebih dulu, ia langsung naik ke lantai teratas dimana ruangan Alvaro berada.
“Apa Alvaro ada di dalam ruangannya, Evan?” tanya Olvee yang cukup mengejutkan pria itu dengan ketukan di meja kerjanya.
“Kak Vee, kenapa Kakak kemari?” tanya Evan.
Olvee mengangkat map yang dipegangnya sebagai jawaban atas pertanyaan Evan. Evan menatap Olvee penuh kecewa dan menggeleng karena merasa bersalah tidak mengingatkan Alvaro. Entah Evan menyadari jika ini hanya akal bulus dari bos sekaligus sahabat karibnya yang menjengkelkan itu.
“Tinggalkan saja di sini, aku akan memberikannya pada Alvaro.” Evan menyarankan.
“Aku akan menemuinya langsung untuk menyampaikan amarah Mama,” jawab Olvee tersenyum licik.
“Tapi … ” Belum sempat perkataan Evan selesai, pintu ruangan Alvaro terbuka dari dalam yang membuat atensi mereka beralih. Jihan keluar dari dalam ruangan Alvaro.
“Vee!” Diikuti oleh Alvaro yang keluar dari ruangannya.
Beberapa menit lalu sebelum Olvee datang.
“Aku hanya ingin bertanya, apakah hubunganmu dengan Kak Olvee sudah berjalan?” Pertanyaan yang tidak pernah disangka Alvaro keluar dari mulut Jihan.
“Apa kau memata-mataiku dengan Vee kemarin ke taman hiburan?” Alvaro bertanya balik untuk memancing lebih banyak informasi dari Jihan sekaligus bertaruh.
Meski gadis di depannya tidak mudah untuk dibohongi, Alvaro juga tidak sulit untuk menebak apakah ia tengah berbohong atau tidak. Melihat dari responnya, Alvaro sudah bisa menebak apa jawabannya. Dan spekulasi selanjutnya adalah, Jihan sudah mencurigainya jauh dari kemarin. Atau ia sudah mengetahui dari Olvee langsung. Lebih baik ia mengakhiri ini sekarang, Alvaro pikir.
“Aku juga sudah mengetahui alasan kenapa kau ingin membantuku. Sekeras apapun kau berusaha, aku sudah mengatakan padamu, Jihan. Aku tidak akan melupakan Vee karena ia sudah menjadi bagian dari hidupku dan memegang seluruh nyawaku. Jangan juga berusaha mendekati Vee dan mencoba memisahkan kami lewat omong kosong. Ini peringatan untukmu.” Alvaro mulai kembali berbicara dengan nada yang tidak ingin Jihan dengar kembali.
“Tapi, berkatmu kami bisa bersama sekarang. Tadinya aku ingin lebih banyak memanfaatkanmu untuk menutupi hubungan kami, tapi sepertinya itu sudah tidak diperlukan lagi. Cepat atau lambat semuanya akan mengetahui Olvee adalah milikku.” Alvaro ingin sekali mengatakan kalimat tersebut pada Jihan. Namun, karena ia berhutang padanya, ia tidak akan mengatakan sesuatu yang menyakitkan gadis itu.
“Karena ini semua sudah kau ketahui, kita tidak perlu menjalin hubungan lagi, kan?” Pada akhirnya, kalimat perpisahan yang tidak ingin didengar Jihan, keluar juga dari mulut Alvaro.
“Apa kau benar-benar percaya dengan hubungan kalian yang akan berlangsung selamanya?” Tiba-tiba saja Jihan mengajukan pertanyaan yang siapapun tidak akan bisa menjawabnya.
“Aku hanya akan melakukannya supaya berhasil dan bertahan selamanya. Sudah kukatakan jika Vee adalah hidupku.” Alvaro menjawab dengan percaya diri.
“Aku mengerti.” Ketika mengatakannya, Alvaro bisa melihat dengan jelas kekecewaan yang ada di dalam ekspresi wajahnya.
“Aku akan pergi.” Jihan berpamitan dan berdiri dari duduknya untuk kemudian keluar dari ruangan Alvaro.
Sepertinya Jihan sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak menangis. Melihat bagaimana karakternya semasa mereka kuliah, ia gadis yang tidak terlalu terobsesi untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia juga gadis yang cerdas yang mengetahui apa yang harus ia lakukan dan apa yang tidak harus ia lakukan. Untuk saat ini, Alvaro hanya akan melihat Jihan ke depannya yang bisa berpotensi menjadi perusak hubungannya atau tidak.
“Vee!” seru Alvaro ketika ia ikut keluar dari ruangannya dan mendapati Olvee sudah ada di depan meja Evan.
“Kemarilah," ucap Alvaro sambil memberikan kode padanya untuk mendekat.
Tanpa banyak berbicara atau memasang wajah amarah, Olvee mendekat pada Alvaro. Semua niat dan apa yang sudah ia persiapkan untuk Alvaro sebelum datang kemari seolah lenyap begitu saja hanya karena melihat Jihan yang keluar dari ruangan Alvaro. Semuanya hilang bersama dengan Jihan yang pergi dengan kesedihannya.
Olvee memberikan dokumen yang ia bawa sesuai permintaan Alvaro dan pergi begitu saja setelah memberikannya tanpa berkata apapun. Membuat Alvaro yang ingin memanfaatkan kesempatan yang sudah ia buat mengurungkan niatnya, melihat bagaimana ekspresi wajah Olvee yang sudah benar-benar tidak bisa untuk ia ganggu atau goda.
“Terima kasih, Kak. Berhati-hatilah.”
To be continued