(Not) Mistake

(Not) Mistake
Bab 45 : Kemarahan Dylan



Dylan meninggalkan begitu saja para bajingan yang sudah terkapar tak sadarkan diri itu. Ia menggendong Olvee dengan setengah berlari menuju mobilnya. Setelah memastikan Olvee baik-baik saja di kursi penumpang belakang, ia bergerak cepat kembali ke kursi kemudi. Menancap gas mobilnya dengan kecepatan penuh menuju ke rumah sakit terdekat. Dylan sudah seperti orang kesetanan saat lampu jalanan menunjukkan warna merah. Tak terhitung jumlah kata umpatan yang keluar dari mulutnya dan klakson yang ia bunyikan terus menerus pada kendaraan di depannya. Kedua matanya sesekali melirik ke arah spion di depannya, menunjukkan Olvee yang masih tak sadarkan diri. Ia begitu khawatir jika Olvee akan kenapa-napa selama ia membawanya ke rumah sakit.


“Sialan! Brengsek! Lampu di depan sudah hijau, Bajingan! Cepat jalan atau aku akan menabrak mobilmu dan melindasmu dengan mobilku!” teriak Dylan pada pengendara di depannya yang berjalan begitu lambat sambil membunyikan klakson. Kepalanya bahkan keluar kaca mobil hanya demi mengancam orang tersebut.


Di tengah fokusnya menyetir dan rasa kalut, ponselnya terus saja berdering sejak tadi. Ia meraih ponselnya yang berada di saku jasnya sambil mulutnya lagi-lagi mengeluarkan umpatan.


“Bajingan sialan ini!” teriak Dylan, tapi tak urung menjawab panggilan tersebut dan menyambungkannya pada earphone bluetooth miliknya.


“Aku sekarang sedang sibuk, jangan mencoba menguji kesabaranku, Alvaro!” Dylan lebih dulu berbicara dan hendak menutup panggilan telpon.


Mendengar dari suaranya dan bagaimana ia berbicara, Alvaro sudah bisa menebak jika Dylan sudah lebih dulu menemui Olvee. Namun, rasa khawatir menyergapnya ketika mendengar Dylan yang begitu sangat panik.


“Dimana Vee?” tanya Alvaro sebelum Dylan menutup panggilan.


“Aku dalam perjalanan ke rumah sakit terdekat sekarang,” jawab Dylan.


“Vee kenapa? Ke rumah sakit mana kau akan membawanya?” tanya Alvaro.


“Aku tidak tahu,” jawab Dylan lagi-lagi.


“Aku-”


“Aku bilang aku belum tahu dan akan mengabarimu secepatnya. Aku akan menutupnya sekarang!” Tak menunggu lagi, Dylan menutup panggilan sambil melepaskan earphone bluetooth miliknya asal. Kembali memfokuskan diri pada jalanan.


Panik dan cemas tidak bisa disangkal Alvaro ketika mengetahui Olvee yang akan dibawa ke rumah sakit oleh Dylan. Menandakan jika kondisinya saat ditemukan tidak baik-baik saja. Kini ia tidak mengendarai mobilnya karena menunggu kabar terbaru dari Dylan mengenai rumah sakit Olvee. Ia mengabari orang-orang yang tengah mencari keberadaan Olvee.


Di satu sisi Alvaro cukup puas dengan reaksi Dylan tadi yang begitu mengkhawatirkan Olvee. Menandakan jika dia kemungkinan sudah mengakui Olvee sebagai adiknya. Namun, itu tak melepas rasa khawatir yang lebih besar dalam diri Alvaro sambil menunggu kabar dari Dylan.


Sebuah notifikasi dari pesan masuk berbunyi di ponselnya. Alvaro menegakkan tubuhnya dan membaca pesan tersebut yang sudah lama ia tunggu-tunggu. Setelah membaca dan mengirimnya ke yang lain, Alvaro segera menyalakan mesin mobilnya dan menancap gas penuh ke rumah sakit yang disebutkan. Jantungnya berdegup semakin kencang seiring dengan ia semakin dekat dengan rumah sakit tersebut. Rasa takutnya lebih besar pada kekhawatiran Olvee yang kondisinya bisa saja sangat buruk.


Melihat hanya ada Dylan seorang diri di depan ruang UGD, Alvaro menghampirinya. Pakaian yang dikenakan olehnya penuh dengan noda darah membuat raut wajah penuh kecemasan milik Dylan ikut menular pada Alvaro yang baru saja datang.


“Vee, bagaimana kondisinya? Kenapa dia bisa sampai seperti ini?” tanya Alvaro langsung begitu sampai di dekat Dylan.


Dylan menghela napas kasar, melihat Alvaro yang begitu cepat datang setelah ia mengabarinya. “Aku menemukannya di sebuah gang bersama para bajingan pemabuk yang hendak memperkosanya. Sebelum sempat, aku sudah menghajar mereka semua. Namun, mereka memukul bahu Olvee dengan botol alkohol hingga ia terluka cukup parah,” jelas Dylan.


“Alvaro, kau tidak menghubungi keluargamu yang-”


“Alvaro!” Panggilan dari Celine yang baru saja datang, bersamaan dengan Evan, disusul dengan Flora dan Zahir, memutus perkataan Dylan.


Baru saja Dylan hendak memastikan, jika kedua orang yang mengaku sebagai orang tua saudaranya itu tidak mendapat kabar, mereka sudah lebih dulu datang. Ketenangan yang ada di dalam dirinya saat ini adalah penekanan Dylan pada dirinya sendiri yang benar-benar emosi pada mereka. Jika sejak awal mereka tidak mengurung Olvee, ia tidak akan kabur, dan berakhir pada keadaan saat ini. Namun, pengendalian dirinya hancur begitu saja bagai bendungan ketika melihat wajah mereka.


“Bagaimana kondisi Vee? Apa dia baik-baik saja?” tanya Celine pada Alvaro.


Bugh!


Tangan yang mengepal kuat dan keras itu, bersiap kembali memukul Zahir dengan membabi buta. Menyadari niat Dylan, Alvaro dan Evan segera bertindak menghalangi tubuh Dylan. Sedangkan Celine dan Flora membantu Zahir berdiri. Tenaga Dylan bahkan masih sangat kuat meski sudah ditahan oleh dua pria yang memiliki tubuh tak berbeda jauh dengan pria ini.


“Dylan, cukup!” peringat Alvaro.


“Tuan Dylan, ini masih di rumah sakit, tolong tenanglah.” Evan ikut berbicara, berharap apa yang ia katakan akan membuat pria yang tengah dikuasai emosi ini bisa lebih tenang. Namun, pada kenyataannya, ia sama sekali tidak bisa tenang seperti banteng yang melihat warna merah.


“Minggir, lepaskan aku, Brengsek! Jangan kira karena dia ayahmu dan mengaku sebagai ayah Olvee selama ini, aku akan mengampuninya! Karena bajingan itu, Olvee sampai pada kondisi ini!” teriak Dylan yang terus memberontak.


Alvaro dan Evan mulai kesulitan dalam menahan tubuh Dylan yang bertenaga sangat kuat. Celine dan Flora masih sama terkejutnya, Flora bahkan sudah menangis sejak ia datang. Sedangkan Zahir, ia tidak mengatakan sepatah katapun untuk sekedar membela dirinya. Ia hanya menunduk dalam tidak sedikitpun memasang persiapan untuk menerima kemarahan Dylan lagi.


“Tapi fakta itu tidak bisa disangkal Tuan Dylan!” bentak Celine berbalik marah padanya.


“Vee sudah kedua orang tuaku rawat dari bayi hingga sebesar sekarang. Memberikannya banyak cinta sama seperti pada kami berdua dan tidak sedikitpun membedakannya. Bahkan kedua orang tuaku rela bertengkar dan memutus hubungan dengan Oma dan Opa karena membela Vee sejauh ini.” Celine menunjuk Dylan yang sama marahnya.


“Ini tidak adil untuk semua yang sudah orang tuaku lakukan hanya karena satu kesalahan! Aku, kedua orang tuaku, dan semuanya juga khawatir dan sangat menyayangi Vee, Tuan Dylan.” Dylan akhirnya berhenti memberontak setelah mendengar perkataan Celine. Barulah Alvaro dan Evan melepasnya, tapi tidak menurunkan sedikitpun kewaspadaan.


"Saya memang salah dan yang menyebabkan Vee sampai pada keadaan ini. Saya benar-benar minta maaf karena tidak bisa menjadi ayah yang baik baginya meski telah menghabiskan waktu lebih banyak." Zahir angkat suara, dengan nada rendah pada Dylan.


“Pergi dari sini dan jangan menampakkan diri setelah Olvee sadar! Aku akan membawanya ke rumahku setelah dia sadar nanti." Itu adalah perkataan terakhirnya sebelum akhirnya Zahir mengalah dan menuruti apa yang diinginkan Dylan. Begitu pun dengan Flora yang ikut bersamanya.


Tak lama dokter keluar setelah selesai mengobati Olvee. "Luka di bahunya sudah kami jahit. Pasien dan bayinya selamat, tapi sekarang pasien membutuhkan darah sebab luka yang dialaminya," jelas sang dokter.


"Kalau begitu ambil darah saya," sahut Dylan.


"Silahkan ikuti perawat untuk mendonorkan darah Anda." Dokter tersebut menunjuk perawat yang keluar bersama dengannya.










To be continued