(Not) Mistake

(Not) Mistake
Bab 23 : Acara Reuni



“Alvaro …” panggil Olvee dengan lembut.


“Alvaro, sudahlah. Mungkin dia memang belum siap melepaskanmu di depan orang tuanya. Hubungan kalian juga sepertinya baru berjalan beberapa bulan.” Olvee kembali membujuk Alvaro yang sejak mereka berangkat tadi, mood nya belum kunjung membaik.


Alasannya hanya satu, itu karena Jihan. Gadis itu datang berkunjung ke rumah seolah ia dan Alvaro masih bertunangan. Menunjukkan sikap baik selayaknya seorang tunangan di depan kedua orang tuanya. Padahal di kesempatan itu, Alvaro berniat untuk mengatakan semua kebenaran tentang hubungannya dengan Jihan yang sudah berakhir. Namun, gadis itu tidak memberikan tanda-tanda sama sekali bahwa ia akan mengatakan semua kejujuran. Saat ia berniat mengatakannya, Olvee juga membuat Alvaro kesal dengan mencegahnya.


“Jangan bujuk aku,” timpal Alvaro dingin.


“Lain waktu, mungkin kalian bisa mengatakannya dengan baik. Komunikasikan lebih dulu dengan Jihannya. Dia mungkin tidak bisa mengatakannya pada kedua orang tuanya karena takut kecewa,” ucap Olvee.


Alvaro tidak lagi menggubris apa yang dikatakan oleh Olvee. Ia bukan hanya kesal karena sikap Jihan saja, tapi juga karena ia merasakan sesuatu dari gadis itu. Alvaro sudah berfirasat jika Jihan pasti merencanakan sesuatu. Namun ia tidak mengetahui apa yang sebenarnya gadis itu pikirkan dan rencanakan sekarang untuk ke depannya pada dirinya dan Olvee. Jika benar firasatnya, ia tidak akan membiarkan gadis itu berhasil dalam rencananya.


“Jihan anak yang baik, kupikir hanya itu alasannya. Jangan terlalu dipikirkan,” ujar Olvee.


Alvaro berhenti di pinggir jalan tepat di depan Zara yang sudah menunggu mereka. Wanita itu memang berniat untuk menumpang sampai ke tempat tujuan mereka. Dimana acara reuni mereka akan diadakan.


“Ini pasti bukan hanya sekedar pesta biasa jika yang diundang beberapa angkatan sekaligus,” ucap Zara begitu ia menutup pintu mobil.


“Siapa yang menyelenggarakan pesta ini, ya?” tanya Olvee menimpali.


“Aku juga tidak mengetahuinya. Paling-paling pesta ini hanya akan menjadi ajang pamer dan mabuk-mabukan,” timpal Zara yang diangguki oleh Olvee.


“Alvaro, apa kau tahu siapa yang menyelenggarakan pesta ini? Mungkin saja angkatanmu ada,” tanya Zara pada Alvaro yang sejak tadi hanya diam dan fokus menyetir. Tidak biasanya anak itu berdiam diri seperti ini, pikir Zara.


“Apa ada masalah?” tanya Zara kembali dengan heran setelah tak mendapati jawaban apapun dari Alvaro.


“Jihan kemarin datang ke rumah,” jawab Olvee yang semakin membuat Zara tidak mengerti.


“Lantas, apa masalahnya?” tanya Zara kembali.


“Dia kesal karena Jihan belum memutuskan hubungan pertunangannya dengan dirinya,” lanjut Olvee kembali menjawab.


“Aku belum mendengar apapun soal masalah itu,” ucap Zara yang memang sama sekali tidak mendengar cerita dari Olvee mengenai hubungan Jihan dan Alvaro. Ia hanya mendengar terakhir kali jika Alvaro memanfaatkan hubungannya dengan Jihan untuk membuat Olvee cemburu.


“Sudahlah, jangan membahas soal wanita itu lagi di dalam mobil ini!” Alvaro angkat bicara dengan suara yang masih kesal saat baru saja Olvee hendak menjawab.


“Ok, cukup biasa saja tidak usah membentak. Kalau cemburu jangan melampiaskannya pada orang lain!” ketus Zara.


“Aku tidak cemburu, wanita itu yang membuatku kesal karena bukannya memutuskan hubungan, dia malah datang seolah ia masih tunanganku.” Jawaban Alvaro kali ini mengundang tawa Zara.


“Wanita itu jelas menyukaimu, mana mungkin dia mau memutuskan hubungan begitu saja denganmu setelah susah payah memilikinya. Kau ini bodoh! Apa dia juga mengetahui hubungan kalian?” tanya Zara kemudian.


“Dia mengetahuinya juga mengetahui kalau dirinya dimanfaatkan oleh Alvaro untuk mendapatkanku. Aku sangat merasa bersalah padanya, Zara,” timpal Olvee.


“Jelas itu akan terjadi, atau dia pasti akan memanfaatkan kelemahan kalian untuk mendapatkan Alvaro. Kupikir jika dia sangat mencintai Alvaro atau terobsesi padanya, dia akan melakukannya. Vee, jika kau sudah memutuskan menerima Alvaro, seharusnya kau sudah mengetahui ini akan terjadi. Dan jika kau sejak awal tidak ingin Alvaro memilih dia, kau yang harus menjadi jahat seperti ini.” Baik Alvaro maupun Olvee diam-diam mendengarkan perkataan Jihan.


“Jangan katakan jika kalian tidak siap menanggung resiko itu?” tanya Zara setelah lama tidak mendapatkan respon dari keduanya.


“Bukan aku, tapi Vee yang tidak siap,” jawab Alvaro yang membuat Olvee menoleh padanya.


“Benar kan, Vee?” tanya Alvaro sembari menoleh sekilas pada Olvee yang tidak menjawab.


“Kita sudah sampai?” tanya Zara mengalihkan pembicaraan.


“Kurasa ini tempatnya,” jawab Alvaro dan membawa mobilnya untuk bergabung bersama mobil-mobil lain di tempat parkir.


Zara dan Alvaro lebih dulu keluar dari mobil. Sementara Olvee sekarang merasa sedikit lambat dan tidak bersemangat. Olvee merasa jika ia memiliki rasa bersalah pada Jihan karena wanita itu terlalu baik padanya dan pada Alvaro. Sementara ia menjadi wanita jahat yang sudah merebut seorang pria dari wanita. Tidak hanya itu, ia menjadi sangat merasa bersalah karena sudah bersikap egois dan munafik di saat bersamaan. Andai saja Jihan bisa menjadi sedikit lebih jahat padanya, mungkin Olvee tidak akan merasa sangat bersalah padanya.


“Kau juga masih sama seperti di masa lalu ya, Philip. Selalu tidak cukup dengan satu wanita,” timpal Alvaro.


Olvee mengalihkan atensinya pada pria muda di depannya. Ia samar mengingatnya, pria ini adalah pria yang tak kalah popularnya dengan Alvaro saat di kampus dulu. Yang Olvee tahu, ia dan Alvaro kurang memiliki hubungan yang bagus. Bahkan sampai sekarang mereka masih saling melemparkan tatapan tajam.


“Jangan-jangan, kalian tidak hanya adik dan kakak tapi diam-diam juga menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Apa kalian sudah tidur bersama?” Philip bertanya sambil tertawa mengejek.


“Ya, kami sudah tidur bersama bahkan saat usia kami 5 tahun. Pergilah urusi jalangmu saja, Bajingan!” umpat Alvaro yang terdengar sangat menekan nada suaranya.


“Ayo, Alvaro. Dimana Zara ngomong-ngomong?” Olvee segera melerai dengan menarik membawa Alvaro pergi dari sana dan mengubah topik pembicaraan. Kebetulan ia juga tidak melihat Zara setelah turun dari mobil.


“Aku baru mengetahui kalau setiap angkatan memiliki bangunan yang berbeda,” jawab Alvaro.


“Dimana angkatanku berada?” tanya Olvee.


“Apa kamu akan pergi?” tanya balik Alvaro.


“Tentu saja, aku ingin bertemu dengan teman-teman lamaku daripada berbaur dengan juniorku yang sama sekali tidak dekat dan tidak kenal denganku.” Olvee menjawab yakin.


“Tidak bisakah kamu mengikuti pesta bersama denganku saja, Vee?” Alvaro mulai bersikap lembut guna membujuknya.


“Kita bisa bertemu di malam hari atau besok pagi saat kita pulang,” ujar Olvee tanpa menatap Alvaro.


“Tapi aku ingin menghabiskan waktuku denganmu,” timpal Alvaro dengan suara yang dibuat-buat.


“Itu tidak mempan padaku, Alvaro.” Olvee melepaskan genggaman tangan mereka dan mulai berjalan meninggalkan Alvaro.


“Vee …” panggil Alvaro.


“Kau juga gunakan waktumu untuk melepas rindu bersama teman-teman lamamu!” sahut Olvee setelah mereka dalam jarak yang cukup jauh.


"Ini adalah reuni!" seru Olvee kembali.


"Vee!" panggil Alvaro sekali lagi.


"Hei, Alvaro. Ayo kemarilah!" Saat hendak menyusul Olvee, seseorang memanggilnya.










To be continued