(Not) Mistake

(Not) Mistake
Bab 26 : Kekhawatiran Alvaro



Jihan terbangun dari tidurnya dengan kepala yang begitu pening. Ia menoleh ke sekitarnya dan mendapati seorang pria tak berbusana di sampingnya. Tak berbeda jauh dengan dirinya. Dari sana, ia sudah mengetahui apa yang sudah terjadi pada dirinya. Kejadian ini bukan yang pertama kali baginya. Jadi, Jihan tidak terlalu terkejut mendapati seorang pria yang sudah tidur dengannya.


Begitu ia bangun dan memakai pakaiannya kembali, Jihan mengambil ponselnya yang tergeletak begitu saja. Langsung mengecek apa yang ia kerjakan semalam sebelum ia benar-benar hilang kesadaran. Setelah mendengarkan rekaman suara yang erotis itu, tangannya mengepal kuat. Tanpa sadar air matanya jatuh membasahi pipinya.


“Sialan!” umpat Jihan seraya membanting ponselnya ke lantai kuat-kuat. Ia menangis sambil menjambak rambutnya frustasi. Suara teriakan Jihan bahkan membuat pria yang masih tertidur itu bangun.


“Jihan, are you ok?” tanyanya dengan suara serak.


“Keluar,” ujar Jihan dingin.


“Apa?” tanyanya sekali lagi.


“Keluar aku bilang, bajingan tidak tahu diri!” teriak Jihan yang membuat pria tersebut terlonjak terkejut.


Pria tersebut buru-buru mengenakan kembali pakaiannya. Sementara Jihan kembali menangis sesegukan di antara lipatan kaki dan perutnya. Samar-samar ingatannya semalam yang ia lupakan terlintas sepotong-sepotong.


“Alvaro …” panggil Jihan lirih sambil menyentuh bibirnya yang membengkak bekas semalam.


“Aku mencintaimu, kenapa kalian benar-benar gila dan membuat aku harus melakukan hal gila ini?” tanyanya lirih pada dirinya sendiri.


Cukup lama Jihan menangis seorang diri di kamar tersebut. Setelah puas, ia bangun kembali lantas masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan bersiap pulang. Menjalankan rencananya yang sejak awal sudah ia pikirkan dengan baik dan berjalan sempurna.


“Kalian sangat senang, bukan?” gumam Jihan pada pantulan dirinya sendiri di dalam cermin.


“Akan aku tunjukkan apa itu artinya tidak menyerah,” ujarnya kembali.


“Sial, aku masih merasa mabuk!” umpat Evan di dalam ruangan Alvaro sambil memijat-mijat pelipisnya yang terasa pening.


“Aku juga punya sesuatu untuk dikatakan kepadamu, Evan,” ucap Alvaro tanpa menatap Evan.


“Hah? Apa itu?” tanya Evan mengalihkan atensi sepenuhnya pada Alvaro yang masih fokus menulis sesuatu di sebuah dokumen.


Alvaro menutup bolpoin hitam yang ia gunakan kemudian melemparkannya pada Evan dengan keras hingga tepat mengenai dadanya. Evan yang belum siap, terkena telak bolpoin tersebut. Ia memungut bolpoin tersebut dengan setengah hati.


“Apa yang mau kau katakan padaku, bos sialan? Seharusnya kau memberikan aku libur setelah mengetahui keadaanku yang mabuk berat kemarin!” seru Evan merasa tidak terima.


“Ketika kau mabuk, yang selalu repot adalah aku! Apa kau melupakan apa yang dikatakan mulut sialanmu itu?” Alvaro berdiri dari duduknya dan menggebrak meja membuat Evan merinding.


“A-apa yang aku katakan?” Meski begitu, Evan merasa penasaran.


“Kemarilah …” Alvaro menggerakkan tangannya untuk memberikan kode pada Evan agar mendekat.


Evan dengan polos mendekat pada Alvaro dan saat itu juga pipinya terkena tamparan keras Alvaro. Ia segera menjauh sambil memegangi pipinya yang perih. Rasa mabuk dan pusing yang sebelumnya ia rasakan seolah lenyap tak bersisa bersama tamparan Alvaro.


“Apa kau sudah tidak mabuk lagi?” tanya Alvaro tersenyum puas dan kembali duduk.


“Apa yang aku katakan kemarin?” tanya Evan kembali mengulangi pertanyaan.


“Kau melantur mengatakan aku dan Vee, kau dengar. Lain kali saat mabuk, tolong kendalikan dirimu. Kau sangat merepotkanku setiap kali mabuk!” seru Alvaro kesal.


“Aku minta maaf,” ucap Evan pelan masih memegangi pipinya.


Alvaro menatap Evan sekilas. Merasa sedikit iba dan bersalah atas tindakannya. Namun, berkat itu, ia puas membalas penderitaannya kemarin karena Evan.


“Sudahlah, aku ada pekerjaan untukmu.” Alvaro mengubah topik pembicaraan.


“Apa?” Evan berhenti menggosok pipinya dan siap mendengarkan titah dari yang mulia Alvaro.


“Ada apa dengannya?” tanya Evan.


“Wanita itu membuatku kesal dan selalu mengotori jalanku,” ucap Alvaro dengan tangan mengepal kuat ketika mengingat kembali hari kemarin dimana wanita itu menciumnya.


“Memang apa yang sudah dia lakukan?” tanya Evan kembali pada inti pembicaraan yang akan dikatakan Alvaro.


“Dia mengancamku untuk menikahinya dengan membawa rahasia hubunganku dengan Vee. Entah apa yang akan ia rencanakan saat dia mengatakan tidak akan menyerah atas hubungan kami.” Alvaro diam berpikir apa sebenarnya yang direncanakan oleh Jihan.


“Aku sudah menduga dia akan melakukan sesuatu saat dia datang ke rumahku dan tidak mengatakan yang sebenarnya mengenai hubungan kami. Kalau saja Vee tidak bersikap terlalu baik padanya, mungkin aku sudah menyingkirkannya sejak kami memutuskan mengakhirinya,” ujar Alvaro.


“Dia tidak mungkin melakukan hal nekat seperti yang kau katakan, Alvaro. Sekenalnya aku dengan wanita itu, dia cukup baik,” timpal Evan.


“Jalang itu mengancamku, Evan. Apa yang menurutmu baik dari dirinya?” tanya Alvaro kesal.


“Aku tahu, mungkin dia mabuk dan tidak berpikir dengan jernih. Aku yakin dia tidak benar-benar melakukan ancamannya. Daripada itu, pikirkan cara agar kalian bisa menjalin hubungan dengan aman, daripada mengurusi Jihan.” Evan memberikan saran yang lebih baik.


“Aku sedang mengurusnya, tapi aku tidak bisa berhenti khawatir dengan penghalang itu yang bisa menghancurkan hubungan sulit ini. Evan, aku ingin kau mencari tahu apa niat sebenarnya wanita itu,” perintah Alvaro pada Evan.


“Baiklah, lalu apa lagi yang harus aku lakukan?” tanya Evan lagi.


Dering ponsel Alvaro terdengar, menghentikan Alvaro yang hendak berbicara. Itu adalah nama ibunya yang menelpon. Alvaro berniat untuk mengabaikan telpon dari sang ibu, tapi sepertinya ia tidak menyerah begitu saja. Pada akhirnya, Alvaro mengangkat telpon dari sang ibu.


“Alvaro, kau cepatlah pulang sekarang!” Belum juga ia menyapa ibunya, Flora berbicara lebih dulu pada Alvaro dengan isak tangisnya.


“Ada apa, Ma? Apa yang terjadi?” tanya Alvaro masih berusaha untuk tetap tenang di situasi sang ibu yang terdengar tidak baik.


“Cepat pulang sekarang dan hentikan Papa untuk membunuh Vee!” Mendengar nama Olvee dan apa yang dikatakan oleh ibunya, Alvaro tidak bisa lebih terkejut lagi dan segera beranjak dari duduknya.


“Ada apa?” tanya Evan ikut penasaran.


“Mama, dan Vee.” Alvaro tidak bisa melanjutkan apa yang akan ia katakan, ia segera mengambil kunci mobilnya dan pergi meninggalkan pekerjaannya begitu saja.


Jangan tanyakan bagaimana ia mengendarai mobil untuk sampai ke rumahnya dengan cepat. Ketika mendengar nama Olvee dan ayahnya yang dibawa, Alvaro sudah bisa mengira apa yang sebenarnya terjadi. Dan benar saja. Saat ia sampai, sudah ada keluarganya dan Vee yang tersungkur di bawah ayahnya. Selain itu, ada satu keluarga yang Alvaro tebak menjadi penyebab semua kekacauan ini terjadi. Netranya yang menangkap keadaan Olvee, segera Alvaro menghampirinya.


“Vee …” Dengan lirih ia menghampiri Olvee untuk membawanya ke dalam dekapannya.










To be continued