(Not) Mistake

(Not) Mistake
Bab 13 : Saling Memanfaatkan



Jihan meneguk minuman pesanannya yang baru saja datang itu untuk mencairkan kecanggungan dalam dirinya sendiri. Lagi-lagi, ia yang sejak tadi berusaha mencari topik pembicaraan dan berbicara. Sementara Alvaro, lagi-lagi hanya memandangi ponselnya. Namun kali ini, ia memainkan ponselnya dan sesekali mengetikkan sesuatu di sana disertai dengan senyumnya yang beberapa kali terlihat.


Jihan berdehem sebentar setelah selesai menetralisir kecanggungan yang hanya ia rasakan sendiri untuk mengalihkan fokus dari Alvaro. Kali ini ia berhasil membuat Alvaro akhirnya menatap ke arahnya. Indah sekali senyum di wajahnya itu. Andaikan senyum itu ditujukan untuknya. Ia berharap suatu hari nanti ia yang menjadi alasan dari senyum Alvaro.


“Maafkan aku,” ucap Alvaro seraya meletakkan ponselnya ke atas meja.


“Sepertinya sejak hari itu Kak Olvee tidak mengabaikanmu, ya?” tanya Jihan yang pada akhirnya ia mengangkat pembicaraan mengenai topik yang berkaitan dengan Olvee, yang menjadi topik pembicaraan paling disukai Alvaro.


Alvaro mengatur ekspresi wajahnya di depan Jihan sebelum menjawab, “Ia tidak mengabaikanku saat itu maupun sekarang.”


“Begitukah?” tanya Jihan yang diangguki Alvaro. Merasa tidak puas dengan jawaban singkat Alvaro, ia kembali bertanya, “Lalu, bagaimana dengan kemajuan hubungan kalian setelah kita melakukannya sejauh ini?”


“Meski dia kakak yang baik, dia tetap saja menarik garis di antara kita.” Jawaban Alvaro tanpa sadar membuat Jihan tersenyum tipis. Memang itu harapannya  pada hubungan mereka selamanya.


Alvaro memperhatikan setiap ekspresi wajah Jihan. Ia menarik kesimpulan bahwa Jihan memang berniat memanfaatkan kesempatan di dalam situasi ini. Namun sayangnya, sekeras apapun gadis itu berusaha, hatinya akan tetap terisi oleh Olvee. Meski rasa bersalah menggelayuti, Alvaro tetap akan mengambil sebanyak-banyaknya dari Jihan tanpa gadis itu mengambil apapun darinya.


“Kak Olvee sangat beruntung karena memiliki seseorang yang begitu sangat menyayangi dan menyukainya bahkan sejak kecil. Apalagi itu adalah seseorang yang bisa sangat dipercayai karena ia adalah keluarganya sendiri.” Alvaro lagi-lagi menatap Jihan dengan tatapan yang dalam dan sulit diartikan, membuat Jihan mau tak mau tak nyaman dibuatnya.


“Emm … bagaimana menurutmu Kak Olvee jika ia menjadi kekasihmu nanti?” tanya Jihan dengan wajah kikuk.


“Membayangkannya saja sudah membuat aku berdebar. Dia pasti akan menjadi sangat manis,” jawab Alvaro dengan binar kebahagiaan seolah tak sabar menanti momen tersebut.


Gadis yang disukai Alvaro memang sangat beruntung. Dan gadis beruntung itu adalah Olvee, kakaknya sendiri. Tidak hanya mendapatkan kasih sayang besar sejak lama karena hubungan keluarga mereka. Namun, juga mendapatkan perhatian khusus bahkan sampai menginjak usia dewasa karena Alvaro menyukainya sebagai seorang wanita.


“Kau tidak akan menarik kata-katamu yang akan membantuku, kan?” tanya Alvaro sekaligus membuyarkan lamunan Jihan.


Jihan menggeleng. “Tidak, tentu saja tidak. Aku juga tidak akan memberitahu hal ini pada siapapun. Ketika kita berhasil, aku akan mengatakan pada orang tuaku kalau kita merasa tidak cocok untuk hubungan ini. Sesuai yang direncanakan.”


‘Tentu saja aku berharap itu tidak akan terjadi.’ Jihan melanjutkan dalam batinnya.


‘Aku kira itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat karena aku masih membutuhkannya untuk alasan hubunganku dengan Vee.’ Alvaro berkata dalam batinnya.


“Lalu, bagaimana dengan hubungan kalian nantinya setelah itu?” tanya Jihan.


“Cepat atau lambat, mereka akan mengetahuinya. Aku berniat akan memberitahu mereka setelah aku dan Vee yakin.” Alvaro menjawab dengan penuh percaya diri.


Jihan mengira jika Alvaro benar-benar sudah gila. Alvaro yang ia kenal semasa kuliah adalah pemuda yang cerdas dan memiliki karisma tersendiri. Namun, apa ini. Apa ia sama sekali tidak memikirkan bagaimana respon orang tua mereka?


“Aku mohon bantuanmu, Jihan,” ucap Alvaro kembali yang diangguki Jihan.


Alvaro tidak menyadari, jika apa yang ia katakan hari ini akan menjadi bumerang pada dirinya sendiri dan Olvee. Jihan, gadis yang ia kira lugu dan mudah dimanfaatkan, bisa berubah kapanpun menuruti hatinya.


Olvee menatap layar ponselnya lama setelah pesan yang ia kirim pada Alvaro hanya dibaca saja tanpa dibalas lagi. Perasaannya kesal, tetapi wajahnya menunjukkan binar kebahagiaan. Senyumnya bahkan tidak memudar sejak tadi menerima pesan dari Alvaro yang terus menggodanya.


Hari sabtu seperti ini, ia seharusnya juga berlibur dan bermalas-malasan di atas kasurnya. Namun, Olvee sudah duduk di depan kanvasnya dengan semangat mengerjakan lukisan-lukisan yang bahkan deadlinenya masih cukup lama. Ia juga merasa tenang karena Alvaro sejak tadi pergi entah kemana. Jadi, ia leluasa mengerjakan lukisannya. Sampai Alvaro mengiriminya pesan beruntun seolah memang meminta balasan dari Olvee untuk melancarkan misinya.


Olvee terkesiap ketika melihat lukisannya yang tercoret dan tidak rapi lagi karena ia sibuk membaca kembali isi chat dirinya dan Alvaro. Olvee segera meletakkan kuasnya dan bergegas merapikan kembali lukisannya.


“Ini semua gara-gara Alvaro!” kesal Olvee, tapi tak urung senyum tetap terbit di wajahnya. Ia tampak persis seperti remaja yang kasmaran.


Olvee kembali duduk di depan kanvasnya, berusaha untuk kembali berkonsetrasi pada pekerjaannya. Dengan mood yang cukup baik hari ini, Olvee bisa segera menyelesaikan lukisannya dengan cepat. Pada akhirnya, ia bisa kembali berkonsentrasi dengan pekerjaannya sampai tenggelam bersamaan dengan matahari yang sudah tenggelam.


“Vee!” Suara ibunya terdengar dari arah kamarnya.


“Makan malam sudah siap!” timpalnya tanpa masuk ke dalam ruangan yang ditempati Olvee sekarang.


“Iya,” jawab Olvee seraya melepaskan seluruh peralatan melukis yang ia pegang dan menempel di tubuhnya.


“Selesai,” gumam Olvee sambil memperhatikan hasil karyanya sendiri di tempat ia berdiri. Ia lagi-lagi tersenyum puas dengan karya yang sudah berhasil dikerjakan.


Olvee mengangkat kanvas besar berisi lukisan tersebut dengan hati-hati. Mengambil kain putih besar untuk menutupnya juga dengan sangat hati-hati agar tidak merusak hasil kerja kerasnya.


“Vee!” teriak ibunya kembali terdengar.


“Iya, Ma!” Olvee bergegas menuju meja makan sebelum teriakan ibunya semakin kencang.


Baru saja Olvee akan menuruni anak tangga, ia bisa melihat dari lantai tempat ia berdiri ada seseorang yang sejak tadi pagi membuat ia sangat frustasi. Ketika melihat wajah Alvaro, ingatannya kembali melayang pada hari dimana mereka kehilangan kendali dan melakukan kesalahan. Ia memang terlihat seperti biasanya pada Alvaro, tetapi itu hanya sebatas di dalam obrolan di ponsel mereka masing-masing.


“Vee! Cepat turun! Sejak sarapan kau tidak makan lagi dan hanya mengurung diri di bengkelmu saja padahal ini hari libur.” Flora yang sudah menyadari kehadiran Olvee memanggilnya yang membuat ia tidak memiliki banyak pilihan selain turun.


Olvee menuruni anak tangga dengan sangat lambat, meski pada akhirnya ia sampai juga di meja makan. Ia sebisa mungkin bersikap normal dan tidak melakukan kontak dengan Alvaro. Secepat mungkin makan dan kembali mengurung diri di kamar.


“Kak Vee sangat tekun. Meski di hari libur, ia tetap bekerja.” Alvaro memuji Olvee yang tidak mendapatkan respon apapun.


Olvee hanya mengambil piring, nasi, dan lauk pauknya. Makan dalam diam tanpa menghiraukan apa yang dikatakan Alvaro. Kedua orang tuanya memperhatikan dengan seksama Olvee yang lebih pendiam dari biasanya.


“Apa yang sudah kau lakukan lagi sampai kakakmu marah padamu, Alvaro?” tanya Flora memukul pelan tangan Alvaro yang menjadi sasaran tuduhan penyebab sikap diamnya Olvee.


“Mama! Aku tidak melakukan apapun!” jawab Alvaro kesal.


“Lalu kenapa Vee mengabaikanmu? Kalian biasanya selalu bertengkar,” ucap Flora kembali.


“Itu mungkin karena-”


Suara Alvaro yang mengaduh kesakitan, tertutupi dengan suara meja yang terpukul dari bawah akibat lutut Olvee yang menginjak kaki Alvaro dengan keras dan tanpa sengaja terkena meja. Disusul dengan suara alat makan di atas meja yang berdenting nyaring.


“Ada apa di bawah sana, Vee?”










To be continued