
“Selamat datang di kamar barumu!” Dengan semangat, Dylan memperlihatkan kamar baru yang akan ditempati oleh Olvee mulai sekarang.
Begitu sampai di rumah yang cukup besar ini, Dylan dan Olvee disambut dengan cukup hangat oleh mungkin hampir seluruh para pekerja di rumah ini. Dylan tampak tidak terganggu dan sudah terbiasa, tapi berbeda dengan Olvee yang merasa canggung. Seluruh pekerja membungkuk dengan rapi berjajar saat dirinya berdiri di tengah mereka, mengatakan akan melayaninya dengan baik. Tentu itu sesuatu yang cukup membuat Olvee terkejut karena di rumah lamanya saja mereka hanya memiliki satu pembantu rumah tangga. Meski mereka keluarga kaya, semua anggota keluarga terbiasa hidup mandiri.
“Maafkan aku karena hanya terlihat ini saja hasilnya, aku terburu-buru menyiapkan kamarmu.” Dylan berkata, menyadarkan lamunan Olvee.
“Aku sama sekali tidak ada masalah,” jawab Olvee.
Cat kamarnya tidak banyak memiliki warna cerah. Hanya warna monokrom yang menghiasi dinding dan segala macam furniture di dalamnya. Seperti kamar lamanya dulu. Tidak sama persis, hanya saja memiliki hawa dan nuansa yang sama karena memiliki konsep yang sama.
“Aku mendengar jika profesimu sampai sekarang adalah seorang pelukis, dan kamu melukis di kamarmu. Jadi, aku sudah membuat ruang galeri juga di kamarmu. Barang-barangnya belum diantarkan, mungkin akan sampai besok. Untuk sekarang, kamu beristirahat saja memulihkan diri.” Dylan melangkah lebih dulu ke arah pintu yang tampaknya disebutkannya tadi.
“Kemarilah dan lihat. Jika ada yang kurang, kau bisa mengatakannya padaku,” lanjutnya yang diikuti langkah Olvee menghampiri.
“Apa kau merasa puas?” tanya Dylan setelah Olvee di sampingnya ikut melihat sekeliling ruang galeri barunya.
“Ini lebih dari cukup, Kak. Terima kasih.” Olvee menoleh padanya dan tersenyum menunjukkan kepuasan.
Dylan mengangkat tangannya dan mengelus lembut rambutnya, merasa senang Olvee terlihat bahagia. “Ini adalah hal yang wajar bagi seorang kakak pada adiknya, Olvee. Jangan sungkan.” Olvee mengangguk.
“Turunlah untuk makan bersama setelah selesai mandi, pakaian sudah disiapkan di ruang ganti,” ujar Dylan.
“Ya,” jawab Olvee dan Dylan melenggang pergi.
Olvee menuruti apa yang dikatakan Dylan karena tubuhnya pun meminta hal yang sama. Seharusnya ia sudah pulang sejak dua hari lalu, tapi dua pria posesif dan over protektif di sampingnya tidak membiarkan hal itu terjadi. Hari ini, ia akhirnya bisa pulang dan menikmati mandi air hangat yang rasanya sudah lama tidak ia rasakan. Bahkan saat ia dikunci di dalam kamarnya, ia sama sekali tidak menikmati mandinya yang hanya beberapa kali dalam 5 hari terkurung.
Sejak tadi ia mengingat rumah, sempat ada perdebatan saat Olvee hendak pulang. Dylan tidak setuju jika dirinya kembali ke rumah bersama kedua orang tuanya dan ingin ia tinggal di rumahnya. Sedangkan Alvaro ingin dirinya tinggal di penthouse miliknya bersama dengannya. Keduanya sama-sama keras kepala mempertahankan pendapatnya.
“Vee dan aku akan menikah, wajar saja jika kami tinggal lebih cepat! Dan lagi, dia sedang hamil anakku. Bagaimana jika dia merasakan sesuatu?” ucap Alvaro kala itu berusaha memenangkan argumennya.
“Justru karena kalian akan menikah dan aku baru bertemu dengan saudariku aku harus menghabiskan waktu lebih banyak dengannya! Di rumahku ada 2 dokter yang 24 jam akan siap sedia memeriksa keadaan Olvee jika terjadi sesuatu. Jangan membuat-buat alasan!” Itu argumen Dylan.
Olvee yang mengingat hal itu saat ini menertawakan kejadian yang setelah ia pikir-pikir cukup lucu juga. Setelah dirinya lebih memilih kakaknya, Alvaro sama sekali tidak melepaskannya bahkan sampai di detik terakhir ia naik mobil bersama Dylan. Hal itu membuat Dylan cukup kesal dan mengumpatinya, hampir tidak ingin merestui hubungan mereka.
Olvee selesai dengan mandinya, ia berdiri dari bath up dan membilas tubuhnya. Memakai jubah mandinya dan melangkah ke ruang ganti. Ketika Dylan mengatakan jika lemari sudah diisi oleh pakaiannya, lemari tersebut sudah sangat penuh dengan pakaian baru. Akan dimana pakaian lamanya diletakkan nantinya?
Jika terus memikirkan ini, tidak akan ada habisnya karena Dylan terus memberikannya kejutan. Olvee memilih pakaian santainya dan begitu selesai, turun ke bawah mencari ruang makan.
“Apa mandimu nyaman?” tanya Dylan setelah melihat Olvee berjalan ke arah meja makan.
“Tidak ada alasan untuk berkata tidak. Ini adalah mandi ternyaman setelah sekian lama,” sahut Olvee.
“Syukurlah mendengarnya,” timpal Dylan.
“Aku tidak tahu makanan kesukaanmu, tolong beritahu aku lain kali. Tapi aku juga senang menyiapkan semua makanan ini untukmu.” Dylan kembali berbicara yang membuat atensi Olvee beralih pada makanan yang memenuhi meja makan.
“Aku tidak memilih-milih atau secara khusus menyukai makanan tertentu. Tidak perlu khawatir, Kak.” Olvee menimpali.
“Ayo kita makan, semoga selera ini cocok denganmu.” Tak berbicara lagi, Dylan dan Olvee mulai menyantap makanan yang terhidang di atas meja.
“Ngomong-ngomong, aku tidak melihat dan mendengar kabar orang tua kita?” tanya Olvee yang sontak membuat Dylan terdiam di tengah kunyahan makannya.
Sesuai dengan minat dan profesi yang dimiliki Olvee, ia hanya mengetahui seputar tentang seni dan lukisan. Tidak mengikuti atau sekedar ingin mengetahui dunia bisnis dan kehidupannya. Jadi, ia tidak terlalu mengenal bahkan mengetahui keluarga Roxanne. Ia baru mengetahui juga dari Alvaro bahwa mereka juga memiliki usaha bisnis perusahaan yang tak kalah besar dengan milik keluarga Marveen. Namun, menguasai kota yang berbeda.
“Mereka sudah meninggal,” jawab Dylan.
“A-apa? Maksudku, maaf. Tidak-”
“Tidak, jangan terlalu merasa bersalah apalagi sedih untuk mereka.” Dylan memotong ucapan Olvee. Ia mulai terlihat berbeda ekspresinya ketika membicarakan orang tua mereka.
Cepat atau lambat Olvee perlu mengetahui kebenaran ini. Dan Dylan rasa, inilah waktu yang tepat ia memberitahu kebenaran yang sebenarnya pada Olvee meskipun pahit. Apapun yang terjadi, ia tetap akan menyayangi dan melindungi Olvee walaupun setelah ini Olvee membencinya.
“Mereka adalah orang-orang busuk yang tega membuangmu hanya karena obsesi konyol. Tidak hanya mereka, tapi seluruh keluarga Roxanne benar-benar busuk. Namun, yang tersisa saat aku menyadari hal itu adalah kedua orang tuaku yang membuatku menderita.” Dylan mulai bercerita yang didengarkan dengan seksama oleh Olvee.
“Karena itulah saat aku mengetahui kebenarannya, aku membunuh kedua orang itu,” lanjutnya.
“Kau boleh membenciku atau keluarga ini, aku benar-benar tidak-” Perkataannya terpotong sebab Olvee menyentuh tangannya. Dylan mengangkat wajahnya yang berkaca-kaca.
“Aku tidak membencimu atau keluarga kita karena takdir membawaku pada keluarga yang baik seperti keluarga Marveen. Mereka membesarkanku seperti putri mereka hingga aku tumbuh dengan banyak cinta. Kau sudah bekerja keras mengubah keluarga kita dan selalu memikirkanku. Mulai sekarang, pikirkanlah dirimu sendiri, Kak.” Satu lelehan air mata membasahi pipinya.
“Kau memang tumbuh di keluarga yang tepat,” ucap Dylan sembari menghapus jejak air mata tersebut.
“Aku memiliki permintaan,” ujar Olvee kemudian.
“Apa itu?” tanya Dylan.
“Tolong jangan terlalu membenci keluarga yang sudah membesarkanku.”
To be continued