
“Vee, kau yakin baik-baik saja?” tanya Zahir khawatir bertanya dengan nada yang lebih lembut.
“Kau bahkan tidak mau dibawa ke dokter,” tambah Flora tak kalah cemasnya.
“Aku sudah baik-baik saja. Ini sudah satu minggu,” jawab Olvee.
Ini sudah satu minggu sejak Olvee pergi menemui Alvaro, ia memang benar-benar hanya beristirahat di rumah, tak mengerjakan proyeknya, dan tak sama sekali mendengar kabar Alvaro lagi-lagi. Saat tiba di rumah, Zara langsung mengatakan kondisinya. Namun, Olvee menolak dan tidak mau sama sekali dibawa ke rumah sakit atau dokter yang diundang ke rumah untuk sekedar memeriksanya. Ia hanya merasa ini kelelahan biasa karena gejala yang ditunjukkan. Setelah seminggu ini, ia memang sudah merasa lebih baik.
“Verald juga sudah mengundangku,” lanjut Olvee berusaha menghentikan perkataan kedua orang tuanya.
Suara dering ponsel Olvee yang berbunyi di tengah-tengah sarapan mereka mengalihkan atensi keluarganya. Ia melihat nama Verald di layar ponselnya yang membuat ia berdiri dari duduknya.
“Vee, setidaknya habiskan sarapanmu. Saat kau sakit kau sangat sedikit makan, Vee.” Flora menghentikan langkah Olvee.
“Verald sudah menungguku,” timpal Olvee.
“Lagipula aku akan makan dengannya, jadi jangan terlalu khawatir.” Setelah mengatakan itu Zahir dan Flora tidak berbicara lagi.
“Vee benar, aku akan memberikan pesan pada Verald.” Zahir menenangkan Flora dengan perkataannya.
Olvee pergi dengan mobilnya sendiri, memang berniat menemui Verald hari ini. Ia memang akan berbicara hal penting dengannya, kebetulan juga pria itu mengundangnya untuk bertemu. Olvee sudah sangat percaya diri bahwa Verald akan membantunya setelah mendengar apa yang dikatakan pria itu di hari mereka bertemu di rumahnya.
Tak butuh waktu lama untuk Olvee sampai di sebuah restoran di hotel berbintang yang cukup berkelas hanya untuk mengajaknya sarapan bersama. Hotel ini diketahui Olvee adalah salah satu hotel milik keluarga Pero yang menjadi bisnis mereka. Olvee mulai mencari keberadaan Verald yang mengatakan sudah tiba di bagian restoran.
“Olvee, di sini!” Seruan Verald dan lambaian tangannya pada dirinya membuat Olvee melangkah ke arahnya.
“Terima kasih,” balas Olvee mendapatkan perlakuan manis dari Verald.
“Aku mendengar dari Om Zahir bahwa kau sakit seminggu terakhir ini. Apa kau yakin sekarang sudah baik-baik saja? Wajahmu terlihat masih pucat,” tanya Verald.
“Ya, aku memang sakit kemarin, tapi sekarang aku sudah baik-baik saja. Ngomong-ngomong, Verald, ada yang ingin kubicarakan juga denganmu.” Olvee cukup berbasa basi dan ingin segera mengatakan apa yang ingin dikatakannya.
“Kita bicara setelah makan, bagaimana? Maaf aku sudah mengambil beberapa menu makanan sebelum kau datang. Apa kau tidak keberatan?” tanya Verald dengan ekspresi memelas.
“Ya, tidak masalah, aku suka semuanya.” Olvee melirik ke arah menu sarapan yang memang sudah terhidang di atas meja.
“Apa Papa mengirimu pesan?” tanya Olvee yang tidak mendapatkan jawaban dari Verald, melainkan sebuah tatapan yang menjawabnya.
“Hei, bukankah itu Kak Vee dan Tuan Muda Pero?” tanya seorang pria pada pria lain yang datang bersamanya.
Alvaro yang mendengar pertanyaan Evan, melihat ke arah pandang sahabatnya dimana Olvee memang tengah bersama dengan Verald menikmati sarapan bersama. Ia melangkah berniat menghampiri mereka dan membawa Olvee.
“Eh… Jangan menghampiri mereka, lebih baik kita dengarkan pembicaraan mereka,” usul Evan.
“Bagaimana?” Alvaro akhirnya mengurungkan niatnya dan berjalan ke arah meja kosong yang berada tak jauh dari meja Olvee dan Verald.
“Kau sudah mengetahui kan kalau aku tidak menyukaimu?” tanya Olvee tanpa menunjukkan rasa bersalah atau ragu ketika mengatakannya.
Verald tersenyum pahit. “Ya, lalu kenapa kau menerima perjodohan ini?” tanya Verald.
“Karena jika aku menolak perjodohan ini, Papa akan berusaha menikahkanku dengan orang lain. Maka dari itu aku ingin membicarakan hal penting. Aku ingin meminta bantuan padamu, Verald.” Olvee akhirnya mengatakannya.
“Meminta bantuan?” tanya Verald yang diangguki Olvee.
Olvee sedikit bingung harus mengatakannya seperti apa tanpa harus mengatakan bahwa ia mencintai Alvaro dan menunggunya untuk menemukan cara agar mereka bisa bersama. Dan dirinya ingin meminta tolong pada Verald agar ia bisa mengulur waktu pernikahan mereka saat Alvaro menghabiskan waktu itu.
“Meminta bantuan apa, Olvee?” Suara Verald membuyarkan lamunan Olvee.
“Maaf, Verald. Aku sedang menunggu seseorang yang aku cintai. Dan bantuan yang aku inginkan adalah kau bisa mengulur waktu untukku dan orang itu.” Olvee berbicara sedikit pelan, baru merasakan rasa bersalah pada Verald.
“Aku akan memberikan apapun padamu sebagai bayarannya,” lanjut Olvee menatap tepat pada manik mata Verald yang juga tengah menatapnya.
“Yang kau katakan sangat jahat dan egois, Vee. Kau tahu?” Olvee diam tidak menjawab karena setuju dengan hal itu.
“Aku tidak akan bertanya siapa pria beruntung yang kau cintai itu. Dia sudah membuatmu menunggu,” ujar Verald kembali yang cukup memberikan waktu jeda sebelum ia berbicara kembali.
“Baiklah, aku akan membantumu, Vee.” Olvee segera mengubah ekspresi wajahnya saat mendengar jawaban Verald.
“Terima kasih, Verald!” seru Olvee senang.
“Terlalu cepat untuk berterima kasih karena ada sesuatu yang harus kau bayar,” ucap Verald kembali yang membuat Olvee menunggu dengan was was lagi.
“Saat waktu menunggu itu, izinkan aku untuk berusaha membuat hatimu berubah. Jika saat pria yang kau cintai itu datang dan sudah membuatmu berubah, maka aku akan menerimamu.” Syarat yang diajukan oleh Verald cukup membuat Olvee terkejut.
"Bukankah dengan kata lain dia meminta izin untuk menggoda Kak Vee?" bisik Evan bertanya pada Alvaro saat mereka masih menguping pembicaraan.
Ketika Evan melihat kepalan tangan Alvaro yang menggenggam pisau itu, Evan menyadari bahwa ia telah salah mengatakan sesuatu. Sebelum Evan sempat mencegah Alvaro bergerak, ia sudah lebih dulu berdiri dan menimbulkan suara yang cukup gaduh.
"Alvaro!" panggil Evan cukup pelan sambil melirik ke arah meja Olvee dan Verald, berharap mereka tidak menatap ke arah sini.
"Alvaro, kenapa kau di sini?" tanya Olvee ikut berdiri dan menatap terkejut dengan kedatangan Alvaro di tempat ini.
"Ayo pergi!" seru Alvaro mengabaikan pertanyaan Olvee dan menarik tangannya begitu saja.
"Tunggu, Alvaro. Kenapa kau ada di sini, aku tanya?" Olvee berusaha menghentikan Alvaro yang terlihat marah.
Ia kan sudah mengatakan pada Alvaro satu minggu lalu kalau ia akan mencoba meminta bantuan pada Verald. Dan, jika Alvaro bersikap seperti ini di depan Verald, ia tidak yakin bahwa Verald akan mengatakannya pada ayahnya.
"Vee datang untuk bertemu denganku, Alvaro." Perkataan Verald akhirnya menghentikan Alvaro.
"Lantas kenapa? Aku yang paling berhak atas Vee karena aku keluarganya!" bentak Alvaro tajam sebelum akhirnya kembali membawa Olvee bersamanya meninggalkan hotel.
To be continued