
“Alvaro, sesuai dengan apa yang kita sepakati sebelumnya, kami sudah memutuskan pertunangan kalian. Namun, pernikahannya akan kalian putuskan." Flora angkat suara, memulai pembicaraan mereka di meja makan malam itu. Semua orang yang ada di meja makan, serempak mengalihkan fokusnya pada wanita yang paling berkuasa di rumah ini.
“Alvaro menyerahkan semuanya pada Mama,” jawab Alvaro ringan disertai dengan senyumnya yang menampakkan gigi putihnya.
“Sekitar dua minggu lagi, tanggal pertunangan kalian.” Suara batuk Olvee terdengar keras setelah Flora mengatakannya.
Segera Olvee menyambar gelas miliknya dan meminum isinya hingga tandas. Tanpa mengatakan apapun, Olvee melanjutkan kembali makannya. Ia tanpa sadar mengalihkan seluruh atensi orang yang ada di meja makan padanya. Entah ia memang sadar dan berpura-pura tidak mengetahuinya.
“Persiapannya apa benar-benar sudah selesai?” tanya Zahir memecah keterdiaman.
“Mama adalah wanita yang paling bisa diandalkan. Tentu saja mengerjakan sebuah acara pertunangan bukanlah masalah. Apalagi itu adalah pertunangan putranya. Bukankah begitu, Ma?” Alvaro mulai membanggakan ibunya.
“Tentu saja. Apa yang dikatakan oleh Alvaro benar,” timpal Flora.
“Setelah aku dan Jihan memiliki ikatan, kami bisa lebih leluasa untuk mengenal satu sama lain dan memperkuat ikatan pernikahan nantinya. Mungkin juga, kami bisa saling mencintai bahkan sebelum pernikahan kami. Itu akan menjadi hal yang bagus nantinya,” ucap Alvaro dengan mulusnya mengatakan kebohongan itu di depan kedua orang tua dan kakaknya.
“Benar, itu hal yang bagus.” Flora menimpali yang ikut bersemangat.
“Tapi ingatlah untuk tidak melanggar batasan, Alvaro. Hargai Jihan bahkan setelah kalian menikah. Sampai kapanpun itu,” nasehat Zahir pada Alvaro.
“Tentu saja, Pa.” Alvaro menjawab yang kali ini menatap pada Olvee yang kebetulan tengah melirik ke arahnya.
“Vee, cepat segera beritahu Celine kabar baik ini,” ujar Flora beralih pada Olvee yang sejak tadi hanya terdiam setelah makanan di piringnya habis.
“Iya, Ma.” Olvee menjawab pelan.
“Apa Celine sudah diberitahu mengenai perjodohan Alvaro dan Jihan? Papa melupakan hal itu,” ucap Zahir dengan nada yang cemas.
“Vee tadi baru menerima telfon dari Kak Celine dan sudah memberitahunya. Ia turut senang dengan kabar gembira ini,” sahut Olvee.
“Papa lega mendengarnya,” jawab Zahir.
“Seperti biasanya, dia selalu saja sibuk dan sulit dihubungi. Hanya padamu dia mau memberikan kabar. Apa masalahnya dengan berbicara pada kami berdua di waktu istirahat seperti ini.” Flora mendengus tidak suka dengan perangai anaknya itu yang jarang memberikan kabar pada keduanya sejak tinggal jauh.
“Itulah kenapa dia selalu terlupakan,” lanjut Flora.
“Ia mungkin memang sangat sibuk, Flora. Tidak sempat saja mengabari kita dan menitipkan kabar pada Vee.” Zahir menenangkan Flora yang mulai lagi terlihat kesal.
“Ini sudah satu tahun lebih lamanya sejak terakhir kali,” timpal Flora ketus.
“Ma, Pa, Vee ke kamar lebih dulu. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan,” pamit Olvee di tengah perdebatan kedua orang tuanya.
“Alvaro juga akan ke kamar karena sudah menghabiskan makan malam, Ma, Pa.” Olvee menatap sengit pada Alvaro yang juga ikut berdiri dari duduknya, sama seperti dirinya.
“Selamat malam, selamat tidur, Sayang.” Flora berbicara untuk mengantar kepergian mereka.
Flora menatap Olvee dan Alvaro dengan tatapan aneh yang lebih kepada curiga. Kedua anaknya ini berlagak sangat aneh, terlebih Alvaro. Firasat seorang ibunya mengatakan, seolah mereka menyembunyikan sesuatu. Atau lebih tepatnya menyembunyikan sebuah hubungan. Namun, Flora menepis keras pemikiran tersebut karena pilihan Alvaro adalah Jihan. Tidak mungkin juga ia sampai menyukai kakaknya sendiri yang sudah dibesarkan seperti kakaknya.
“Zahir," panggil Flora yang masih belum beranjak dari duduknya. Sedangkan Zahir, sudah bergerak membereskan peralatan makan yang masih berserakan di meja makan.
“Hm?” jawab Zahir tanpa menatapnya. Ia kini berada di depan wastafel cuci piring.
“Apa kau merasa aneh dengan Alvaro dan Olvee?” tanya Flora.
“Aneh kenapa?” tanya Zahir kembali yang terdengar masih tidak begitu peduli.
“Jangan asal berbicara, Flora. Mereka adik dan kakak, tidak mungkin menyukai satu sama lain! Kamu juga sudah mendengar tadi apa yang dikatakan oleh Alvaro. Ia berharap pada hubungan ini,” sangkal Zahir.
Flora menatap Zahir yang kini sudah berbalik menatapnya dengan datar. Ia mengetahui dengan jelas kekhawatiran suaminya, tetapi jika itu terjadi, bukankah…
“Mereka akan tetap menjadi adik dan kakak!” tegas Zahir sekali lagi yang membuyarkan lamunan Flora. Ia tidak akan melupakan, betapa keras kepalanya suaminya ini.
“Aku tau,” jawab Flora menimpali.
“Alvaro juga sudah memilih bertunangan dengan Jihan. Mana ada kemungkinan seperti itu. Sudahlah, jangan asal berbicara.” Zahir meninggalkan pekerjaannya begitu saja dan juga Flora.
“Tunggu aku!”
Meskipun ini hanya sebuah keraguan dan kecurigaan berdasar pada naluri seorang ibu, tetapi Flora tetap tidak bisa melepaskan perasaan itu. Namun, ia juga tidak bisa bertindak atau menyangkal Zahir lebih jauh. Karena faktanya, Alvaro memang sudah memilih Jihan dalam perjodohan ini. Menjadikan itu bukti kuat bahwa Alvaro tidak mungkin menyukai Olvee. Sedangkan Olvee, ia sedikit meragukan putrinya itu karena sikapnya sejak tadi siang.
“Kak Vee … Tolong biarkan aku masuk,” ucap Alvaro disertai dengan gedoran pintu di depan kamar Olvee.
Sudah sejak tadi, sejak mereka meninggalkan meja makan, Alvaro mengikutinya dan berniat kembali masuk ke dalam kamarnya. Jika saja dirinya sedikit lebih lambat dari Alvaro, maka ia sudah dipastikan berhasil masuk ke dalam kamarnya. Ia tidak mengerti, kenapa kedua orang tuanya merasa tidak terganggu dengan gedoran pintu dan suara Alvaro. Entah rumah ini yang cukup besar dan membuat suara Alvaro menjadi lebih kecil dan tidak terdengar sampai lantai bawah kamar orang tuanya.
“Pergilah dan tidur di kamarmu sendiri, Alvaro.” Untuk kesekian kalinya Olvee mengatakan hal yang sama. Ia bahkan tidak bisa tidur karena suara Alvaro yang mengganggunya belum juga menyerah.
“Aku hanya ingin tidur di kamarmu. Pendingin di kamarku rusak dan aku tidak bisa tidur tanpa AC.” Alasan saja! Ia bisa tidur di kamar lain dan meminta Flora untuk mencari tukang. Itupun jika Alvaro menginginkannya. Namun pada akhirnya, itu hanya sebuah kebohongan.
“Kau bisa tidur di kamar lain!” seru Olvee mulai kesal.
“AC di kamarmu lebih dingin!” balas Alvaro.
“Pergi ke kamarmu dan jangan membuat alasan, Alvaro!” teriak Olvee lebih kencang disertai dengan sebuah benda yang dilempar ke arah pintu. Membuat suara yang cukup kencang, terdengar sampai telinga Alvaro yang ditempelkan tepat pada pintu.
Olvee bernapas terengah-engah setelah melampiaskan pada sebuah guling yang ia lemparkan. Setelahnya, tidak ada suara apapun lagi yang terdengar dari luar kamarnya. Kali ini ia menghembuskan napas lega dan mengubah posisi tubuhnya menjadi berbaring. Namun, baru saja ia memejamkan matanya, suara kunci kamarnya yang dibuka dari luar dan derit pintu yang terbuka, membuat Olvee lagi-lagi membuka kedua matanya.
“Alvaro!” teriak Olvee yang benar-benar melepaskan suaranya.
“Vee!” Suara Zahir terdengar dari lantai bawah membuat Olvee dan Alvaro saling menatap terkejut.
To be continued