
“Perfect!” seru Olvee seraya melepaskan kuas dan palet yang sejak tadi dipegangnya.
Olvee berdiri dari duduknya dan melepaskan apron yang sudah kotor dipenuhi cat itu. Menatap dengan bangga hasil karyanya. Setelahnya meregangkan pinggangnya yang sangat pegal sambil menarik tangannya ke atas.
“Pegal sekali, tapi akhirnya selesai dengan kepuasan!” ucap Olvee sambil terus meregangkan tubuhnya yang pegal-pegal akibat terlalu lama duduk.
Olvee mengambil ponselnya untuk mengecek waktu. Berjalan ke arah galon air untuk mengambil minum. Sambil meneguk airnya, ia melihat-lihat aplikasi chatnya yang dipenuhi oleh para kolega dan pembelinya. Ia tidak membuka satupun chat dari siapapun.
“Tok Tok!” Suara seseorang bersamaan ketukan pintu membuat Olvee mengalihkan atensinya.
“Hei, sudah pulang?” sapa Olvee menatap Alvaro dengan senyum di bibirnya, ia meletakkan ponselnya, dan berjalan ke arahnya.
“Ini tidak biasanya kau pulang cepat?” tanya Olvee kemudian.
“Tebak kenapa aku pulang cepat hari ini?” Alvaro bertanya balik sambil memeluk pinggang Olvee mengikis jarak di antara mereka.
“Jangan bilang kau menggunakan alasan konyol lagi demi menemuiku?” Bola mata Olvee berputar malas.
“Apa aku yang merindukanmu itu konyol?” Alvaro mencebikkan bibirnya.
Olvee yang semula mendengus kesal, tetap tak urung membalas pelukan Alvaro, menenggelamkan wajahnya yang berhias senyuman. Pipinya dengan cepat memerah bahkan sampai ke telinga. Jantungnya jangan ditanyakan, karena sejak kedatangan Alvaro, ia sudah tidak aman. Namun, ketidaknyamanan itu membuat Olvee bahagia dan menikmati waktu ini.
“Vee, apa kau lapar?” tanya Alvaro yang masih betah memeluk Olvee.
“Sedikit, sudah seharian ini aku di sini mengerjakan lukisanku. Haruskah kita keluar dan mencari makan sambil menghirup udara segar?” Olvee melepas pelukan mereka dan menatap Alvaro.
Alvaro menggelengkan kepalanya. “Kita makan di rumah saja dengan masakanmu. Kita akan kencan di hari minggu ini, bagaimana?” tanya Alvaro mengusulkan ide lain setelah tidak menyetujui ide Olvee.
“Aku setuju untuk pergi hari minggu, tapi makan di rumah, ada Mama.” Olvee mengatakan alasannya dengan nada sedikit takut.
“Kenapa jika ada Mama?” Olvee tidak berpikir jika Alvaro tidak benar-benar mengetahui alasan dirinya takut.
Jujur saja jika Olvee memang tidak terlalu mempercayai Alvaro. Ia takut jika Alvaro akan melebihi batas meski ada orang tua mereka sekalipun dan memperlihatkan secara terang-terangan hubungan mereka. Maka situasi akan sangat runyam.
“Berjanji lah jika kita akan bersikap normal di depan Mama dan Papa seperti biasanya. Tidak memperlihatkan hubungan kita,” ucap Olvee mengulurkan jari kelingkingnya untuk meminta Alvaro berjanji.
“Baiklah baiklah,” jawab Alvaro membalas uluran jari kelingking tersebut.
‘Tentu saja aku tidak akan bertindak bodoh.’ Alvaro berkata dalam batinnya ketika berjanji pada Olvee.
“Tapi Papa belum pulang begitu pun dengan Mama yang tidak ada,” lanjut Alvaro dengan seringaiannya, mencoba menggoda Olvee.
“Ada Bi Minah!” seru Olvee yang lagi-lagi memukul kepala Alvaro seraya melenggang pergi keluar.
Olvee merasa sedikit was was sekarang kalau-kalau anak itu akan bertindak berlebihan. Padahal, Olvee tidak tahu saja jika Alvaro mengatakan akan mengurus semuanya, maka ia sudah merencanakan sesuatu.
“Jangan berpikir yang aneh-aneh meski mereka tidak ada!” ucap Olvee dari dalam kamarnya.
Alvaro berjalan mengikuti Olvee yang sudah hendak menuruni anak tangga. Bibirnya terus mengembangkan senyuman sejak tadi sambil memperhatikan Olvee dari belakang.
‘Dia manis sekali,’ ucap Alvaro dalam batin.
Olvee sampai di lantai satu rumahnya yang memang terasa lebih sepi dari biasanya. Benar apa yang dikatakan oleh Alvaro bahwa ibu mereka belum pulang sejak tadi siang. Langkahnya membawa Olvee ke dapur dan mulai menyiapkan makanan untuk dirinya dan Alvaro yang sudah bekerja keras seharian ini. Ketika sampai di dapur, ia tidak melihat keberadaan satu-satunya pembantu rumahnya itu.
Tangan Olvee membuka kulkas dan melihat-lihat isinya untuk memilih makanan apa yang sebaiknya ia masak. Setelah menjatuhkan pilihannya, ia mengeluarkan semua bahan yang diperlukan dan mulai mengeksekusinya. Sebelum itu ia menggunakan apron memasak yang biasa ibunya pakai.
Olvee mulai berkutat dengan sayur-sayuran di tangannya. Kemudian menyalakan kompor untuk mematangkan masakan. Di tengah konsentrasinya, ia merasakan tangan seseorang yang memeluk pinggangnya dari belakang. Dalam jarak sedekat ini, ia bisa merasakan napas Alvaro yang menerpa lehernya membuatnya tergelitik.
“Apa yang baru saja kau janjikan tadi, Alvaro?” tanya Olvee tegas tak ingin terlena lagi pada rayuan Alvaro.
“Berjanji untuk bersikap normal di depan Mama dan Papa. Tapi di sini, tidak ada mereka.” Suaranya terdengar masuk tepat ke telinga Olvee.
“Bi Minah bekerja untuk Mama, jika dia melihat kita seperti ini maka akan buruk.” Olvee berusaha melepaskan diri.
Hancur sudah konsentrasinya dalam memasak. Ia mengelap tangannya sebelum akhirnya memaksa untuk berbalik pada Alvaro. Tangannya bersedekap di depan dada untuk memberikan jarak pada mereka berdua.
“Bukankah kau lapar? Jadi, sebaiknya kau duduk manis dan berhenti menggangguku!” ucap Olvee mulai kesal.
“Aku berubah pikiran, aku ingin menu makannya adalah kau.” Olvee menghentikan Alvaro yang semakin mendekati wajahnya dengan kedua tangannya.
Lihat? Sejak kapan adiknya ini semesum ini pada dirinya? Atau ini memang warna aslinya yang tidak pernah diketahui olehnya?
“Tapi aku lapar!” seru Olvee cepat.
“Baiklah.” Jawaban Alvaro membuat Olvee dapat menghela napas lega.
Namun, belum sempat ia berbalik untuk melanjutkan pekerjaannya, Alvaro lebih cepat mencium bibirnya. Kedua mata Olvee terbelalak karena terkejut, tapi lagi-lagi Alvaro yang memimpin permainan membuat ia perlahan mulai menikmatinya. Kedua matanya mulai mengecil dan perlahan terpejam. Tangan kanan Alvaro merambat ke arah wajahnya dan menekan tengkuk Olvee. Sedangkan kedua tangan Olvee berada di depan dada Alvaro. Kembali mengambil kesadarannya, Olvee berusaha berhenti.
“A-alvaro,” panggil Olvee susah payah sambil menepuk dada Alvaro.
“Alvaro, hentikan! Aku mendengar suara seseorang membuka pintu!” seru Olvee yang pada akhirnya berhasil menghentikan kegiatan mereka dengan susah payah. Menatap Alvaro dengan cemas dan napas terengah-engah.
“Siapa?” tanya Alvaro yang sama terengahnya.
“Aku tidak tau, cepat menjauhlah dan bersikaplah normal!” ucap Olvee yang terburu-buru mengusap bibirnya dan kembali berbalik pada masakannya yang baru saja ia ingat. Alvaro ikut merapikan dirinya dan segera melangkah ke meja makan.
Olvee terkesiap dan segera mematikan kompor karena melihat wajan yang mengepulkan banyak asap. Sudah dipastikan jika sayuran yang dimasukkan juga tidak bisa diselamatkan.
“Ada apa?” Alvaro kembali menghampiri Olvee dan ikut panik setelah mendengar suara Olvee yang terkejut.
“Bau apa ini?” Suara Flora tiba-tiba saja terdengar begitu ia masuk ke dapur yang sudah penuh dengan asap.
“Vee? Alvaro?” panggil Flora.
“I-iya, Ma?” Olvee menjauh dari kompor dan segera menghadap ibunya.
“Matikan kompornya cepat!” perintah Flora.
“Sudah, Ma,” jawab Alvaro.
“Apa yang kau masak hingga berakhir seperti itu?” tanya Flora pada Olvee.
“Vee … ” Olvee tidak bisa menjawab yang sebenarnya.
“Kalian berdua ada di dapur, pasti kalian sibuk bertengkar sampai lupa sedang memasak sesuatu!” bentak Flora.
“Jika rumah ini kebakaran, bagaimana?!”
To be continued