(Not) Mistake

(Not) Mistake
Bab 43 : Kedatangan Dylan



Zahir terdiam di ruang tamu seorang diri setelah kedatangan Celine. Tak ikut untuk sekedar melihat kondisi Olve yang sudah ia buat sampai seperti ini. Merenungi sikap yang selama ini ia lakukan pada Olvee. Ketakutan yang selama ini benar-benar menghantuinya belakangan, tidak terjadi entah belum terjadi seperti yang ia pikirkan selama ini.


Di tengah pikirannya itu, tiba-tiba kedatangan seseorang membuat Zahir kembali merasakan kemarahan. Namun, bukan kemarahan seperti yang ia rasakan saat pertama kali ia mengetahui Olvee dan Alvaro ketahuan memiliki hubungan. Kemarahan karena kesal pada Alvaro yang ia rasa sudah mencuri Olvee darinya.


“Ada keperluan apa kau kemari?” tanya Zahir menatap pada Alvaro yang baru saja datang.


Sebelum Alvaro menjawab pertanyaan, seseorang yang lain yang masuk ke dalam rumah membuat Zahir mengalihkan atensinya. Dan saat itu juga Zahir membulatkan kedua matanya terkejut melihat seseorang yang ia ketahui. Ia tidak begitu mengenalnya, tapi ia masih mengetahui siapa orang yang datang bersama Alvaro.


Melihat Alvaro yang membawa seorang Dylan Roxanne kemari, Zahir sudah mengetahui niat sebenarnya dari Alvaro. Sudah ia duga jika kedatangan Alvaro pasti hendak mencuri Olvee dari sisinya.


“Apa yang membawa Anda kemari, Tuan Dylan?” Zahir beralih bertanya pada tamu yang dibawa oleh Alvaro.


Dylan melangkah dengan angkuh sampai berdiri di samping Alvaro. Pandangannya mengitari ruang tamu yang menjadi objek pertama yang dilihat netranya. Cukup banyak foto-foto keluarga yang dipasang di dinding. Semua anggota keluarga lengkap, mereka terlihat sangat harmonis.


Perasaan Dylan yang dingin kembali terasa aneh ketika melihat foto satu wanita yang sudah diperlihatkan oleh Alvaro di awal. Saat tadi, ia tidak terlalu merespon ketika melihat foto tersebut. Namun kali ini, foto yang sama dan orang yang sama dalam berbagai usia, Dylan merasa begitu emosional.


“Saya sebenarnya tidak terlalu berminat pergi jauh dari kota saya, Tuan Marveen. Tapi anak Anda mengatakan jika saudara saya ada di sini dan ditahan oleh Anda. Apa saya boleh melihat saudara saya?” tanya Dylan dengan nada malas setelah tatapannya tertuju pada Zahir.


“Saudara Anda? Siapa yang Anda maksud?” tanya balik Zahir menyerngit memilih untuk berpura-pura.


“Pa, jangan menyangkal lagi. Aku sudah membawa keluarga kandung Vee satu-satunya. Seharusnya Papa ikut senang, bukan seperti ini!” potong Alvaro.


“Dimana dia?” tanya Dylan kembali yang sedikit mendesak.


“Olvee!” Jeritan Flora yang terdengar dari lantai atas membuat seluruh orang terkejut dan mengalihkan atensi ke lantai atas.


“Vee?” Alvaro segera berlari tanpa pikir panjang ke lantai atas. Diikuti oleh Dylan yang entah mengapa ikut merasa panik.


Alvaro dan Dylan terengah-engah begitu sampai di dalam kamar Olvee. Mereka masuk untuk mencari keberadaan Olvee, tapi sampai di galerinya, mereka tak mendapati Olvee melainkan Flora dan Celine.


Celine menatap pada Alvaro yang baru saja datang. Bersama dengan seorang pria asing baginya. Ia tidak tahu pria tersebut siapa. Namun, kesan pertama saat pria ini adalah pria ini memiliki aura yang sama dengan yang dimiliki Olvee. Padahal ini merupakan pertemuan pertama bagi mereka.


“Dimana Vee, Ma, Kak Celine?” tanya Alvaro.


Flora menangis sambil menunjuk ke arah jendela besar yang sudah berlubang pecah. Alvaro segera mendekat dan melihat ke bawah dimana pakaian Olvee semuanya menjadi tali untuk melarikan diri. Melihat hal itu, ia sudah mengetahui sebelumnya bagaimana perlakuan kedua orang tuanya pada Olvee saat terakhir kali mereka bertemu pastinya.


“Apa kalian tidak memiliki akal lagi sampai mengurung Vee di kamarnya sampai ia memilih kabur?” bentak Alvaro pada Flora dan Zahir yang baru tiba di galeri.


“Alvaro, jangan membentak mereka seperti itu!” tegur Celine.


“Apa itu sekarang menjadi hal yang penting? Kau tidak mengetahui apapun yang dialami oleh Vee sampai saat ini. Mereka berdua yang mengaku sebagai orang tuanya, sudah gelap mata hingga membuat Vee stress dan tidak mempercayai mereka lagi!” Alvaro meluapkan kemarahannya sambil menunjuk-nunjuk jendela yang sudah pecah itu bergantian dengan kedua orang tuanya.


“Ma, aku berharap padamu! Vee sedang hamil, Ma! Apa Mama tidak memiliki belas kasih?” tanya Alvaro.


Celine tidak bisa lagi menjawab perkataan Alvaro. Banyak hal baru yang baru saja ia ketahui, keluarganya sudah banyak berubah. Ia yang baru saja datang tidak bisa mengomentari apapun. Begitu pun dengan Zahir yang saat itu juga merasa sangat bersalah. Semua kesalahan ada pada dirinya.


“Minggir!” seru Dylan pada Zahir sembari menabrak tubuhnya, bergegas keluar dari kamar, mulai berniat mencari Olvee.


"Ma, sebenarnya apa yang terjadi dan apa yang kalian lakukan pada Vee?" Air mata Celine akhirnya tumpah membasahi pipinya.


"Papa benar-benar sudah keterlaluan menyekap Vee di dalam kamarnya!" seru Celine sebelum akhirnya ikut keluar.


"Zahir, kau lihat hasil perbuatanmu? Itu semua karena keegoisanmu!" Flora satu-satunya yang selalu berpihak padanya, turut menyalahkannya juga.


Rasa bersalah menjadi semakin besar bagi Zahir. Lebih besar dari rasa takutnya sendiri. Objek ketakutan itu berpindah, menjadi pada Olvee yang akan membencinya. Tidak hanya Olvee, tapi juga anak-anaknya. Ia sudah gagal menjadi orang tua yang baik dan menjadi panutan anak-anaknya. Di detik itu juga, Zahir menyadari kesalahannya.


"Apa yang kau tunggu, Zahir? Cepat cari Vee!" perintah Flora menyentak suaminya. Tanpa berpikir dua kali, Zahir akhirnya pergi.


"Evan, telusuri semua komplek perumahan ini untuk mencari Vee!" perintah pertama Alvaro pada Evan.


"Kak Vee? Ada apa? Apa dia-"


"Jangan banyak bertanya!" bentak Alvaro yang akhirnya segera dituruti Evan.


Dylan sudah pergi dengan mobil yang ia bawa. Alvaro turut masuk ke dalam mobil mencari langsung Olvee. Sambil menyetir, Alvaro menelpon seseorang yang mungkin akan menjadi tujuan Olvee.


"Zara, apa Vee ada di tempatmu?" tanya Alvaro begitu telpon diangkat.


"Tidak ada. Ada apa dengan Vee, Alvaro? Dia baik-baik saja, kan?" Zara terdengar ikut panik mendengar Alvaro menanyakan keberadaan Olvee.


"Dia menghilang, ini akan jadi cerita panjang. Kau juga ikut bantu cari dia." Alvaro menutup telpon sepihak begitu saja setelah mengatakannya.


"Sial! Vee, dimana kau?" gumam Alvaro dengan wajah frustasi.


Dylan mengendarai mobilnya perlahan menelusuri jalan yang cukup asing baginya. Ini hanya kasus kaburnya seorang wanita dari rumah, ditambah wanita itu adalah wanita yang belum ia percayai sepenuhnya sebagai saudaranya. Namun, hatinya begitu tak tenang. Ia tergerak untuk segera menemukan wanita ini. Tak tanggung-tanggung bahkan Dylan sudah menghubungi orang-orangnya untuk membantu mencari keberadaan Vee.


Berjam-jam ia mengendarai mobilnya hingga hari semakin malam, tapi ia sama sekali belum menemukan keberadaan wanita itu. Ia juga belum mendapat kabar apapun dari Alvaro. Dylan berhenti di pinggir jalan yang sepi, menyandarkan kepalanya untuk berpikir lebih tenang.


Wanita yang sama sekali tidak ia kenal. Tidak ia ketahui apapun tentangnya. Namun, rasanya ia begitu memiliki ikatan dengannya. Perasaannya sangat tidak nyaman.


Di tengah pikirannya itu, Dylan mendengar sebuah suara teriakan wanita yang kencang. Dylan menegakkan tubuhnya dan menoleh ke sekitar mobilnya. Ia segera keluar dan mencari asal suara tersebut.


Setelah suaranya semakin mendekat, ia mendapati seorang wanita yang dikepung beberapa pria besar yang memegang botol minuman keras. Salah satu pria memukul bahu wanita itu dengan minuman keras karena sang wanita memberontak dari mereka. Wanita itu adalah wanita yang ia lihat di foto-foto yang ditunjukkan Alvaro. Mata Dylan menggelap melihat hal tersebut. Nalurinya sebagai seorang kakak bangkit saat itu juga.


"Hei!" teriak Dylan.


-


-


-


To be continued