(Not) Mistake

(Not) Mistake
Bab 12 : Langkah Awal Alvaro



Jihan hanya bisa menghela napas panjang setelah kepergian Alvaro yang terburu-buru mengejar Olvee. Sudah cukup lama mereka memainkan peran ini, tapi Alvaro tidak bergeming sama sekali pada dirinya. Perhatiannya hanya pada Olvee, Olvee, dan Olvee. Ia juga sudah memberitahu Olvee akan perasaannya sekaligus memperingatkannya, tapi Olvee dengan keras kepala dan angkuhnya menyangkal hal tersebut. Sekarang, dia pergi begitu saja setelah melihat dirinya dan Alvaro. Itu sudah menunjukkan dengan jelas jika ia cemburu. Perasaan cemburu hanya akan ada jika seseorang menyukai orang lain. Jihan sama sekali tidak mengerti kenapa perasaan seperti itu bisa ada di antara mereka. Mungkinkah yang dikatakan oleh Alvaro adalah benar bahwa mereka sebenarnya bukan saudara kandung?


“Dia pandai menyetir juga,” gumam Alvaro dengan wajah serius sambil terus mengikuti Olvee di depannya yang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


“Kenapa dia pergi begitu saja bahkan tanpa berpamitan pada Zara tadi? Bahkan tidak menjawabku saat dipanggil tadi.” Alvaro kembali bermonolog seorang diri.


“Mungkinkah dia sudah mengetahui ada aku di sana?” tanya Alvaro pada dirinya sendiri lagi.


Alvaro menginjak pedal gas lebih dalam setelah lampu menunjukkan warna hijau. Menyusul kembali mobil Olvee yang sudah melaju lebih cepat di depannya. Di tengah konsentrasinya, ekspresi wajah Alvaro tiba-tiba berubah menjadi cerah. Ia semakin bersemangat menyusul Olvee yang menuju jalan pulang ke arah rumah mereka.


Benar saja jika Olvee ternyata pulang. Setelah memarkirkan mobilnya seperti yang dilakukan Olvee, Alvaro bergegas menyusul Olvee yang sudah masuk ke dalam rumah.


“Kenapa ia sangat cepat?” gerutu Alvaro kesal, tetapi tetap bergegas menyusul Olvee.


“Kak Vee!” seru Alvaro yang berlari menaiki anak tangga berusaha menyusul dan menggapai tangan Olvee.


“Vee! Olvee!” Sekali lagi Alvaro berusaha menghentikannya.


“Vee! Ada apa?” Akhirnya Alvaro berhasil mencegah pintu kamar Olvee yang hampir saja tertutup. Napasnya terlihat tersengal-sengal.


“Ada apa? Kenapa kau meninggalkanku?” tanya Alvaro yang sudah bisa bebas masuk ke dalam kamar Olvee karena Olvee yang sudah tidak menahan pintu kamarnya.


“Tidak ada apa-apa, aku hanya harus cepat menyelesaikan pekerjaanku yang aku tinggalkan dari tadi siang.” Olvee mendongak dan menatap sekilas pada Alvaro untuk mengurangi kecurigaan. Ia berusaha untuk tetap tenang dan tidak bertindak yang lebih mencurigakan di depan Alvaro.


“Kenapa kau menangis?” Alvaro begitu memperhatikan Olvee yang berusaha menyembunyikan wajahnya.


“Lalu kenapa kau pergi dari restoran Zara tanpa mendengarkanku? Apa kau sudah melihatku dengan Jihan tadi?” tanya Alvaro kembali seraya melangkah semakin maju mendekati Olvee yang gugup di tempatnya berdiri.


“Aku sudah mengenalmu lama, Vee. Aku bisa mengetahui mana kebenaran dan kebohongan darimu,” ucap Alvaro pelan yang nyaris terdengar seperti sebuah bisikan yang berhasil membuat Olvee merinding.


Olvee terus mundur tanpa mau menatap atau menjawab apapun perkataan Alvaro. Sampai pada akhirnya ia jatuh terduduk di atas kasurnya. Alvaro tidak berhenti mendekat dan semakin mendekati wajahnya seolah ia siap menciumnya. Seiring dengan jarak dirinya dan Alvaro semakin dekat, jantung Olvee semakin berdetak kencang tak karuan.


“Me-menjauh dariku! Aku tidak sudi dicium oleh bibir bekas gadis lain!” seru Olvee seraya mendorong keras Alvaro hingga menyisakan jarak di antara mereka.


Alvaro diam sebentar, kemudian menyeringai. Ia kembali membungkuk mendekati wajah Olvee.


“Ah, jadi, ini penyebabnya,” bisik Alvaro tepat di depan wajah Olvee yang menoleh ke samping untuk menghindari wajah Alvaro yang enggan menjauh.


‘Kenapa kau mengatakan itu, Vee bodoh!’ Diam-diam Olvee mengumpati dirinya sendiri di dalam batinnya karena keceplosan. Itu sama saja dengan mengatakan jika ia memang tidak suka melihat Alvaro dan Jihan.


Di tengah pikirannya, sentuhan lembut dari jari Alvaro pada wajahnya, menyadarkan Olvee. Alvaro menyentuh pipinya untuk bisa membuat ia menoleh ke arahnya. Olvee mau tak mau akhirnya menatap pada Alvaro. Niat hati ingin menjauhi Alvaro setelahnya, tapi ia justru tidak bisa melakukan apapun dan semakin tenggelam di dalam kedua netra yang menatapnya lembut itu.


Perlahan ia memejamkan matanya saat Alvaro mulai menyatukan bibir mereka. Otaknya berusaha untuk menghentikan Alvaro karena ini semua adalah kesalahan. Namun, hatinya yang merasakan kelembutan, kenyamanan, bercampur dengan manisnya rasa bibir Alvaro membuat Olvee enggan melakukan apa yang diperintahkan otaknya. Ia pada akhirnya memilih menyerah dan memilih hatinya.


Tangan Alvaro beralih pada tengkuk Olvee untuk semakin memperdalam ciuman mereka. Begitu pun dengan tangan Olvee yang meraih leher Alvaro dan melingkarinya tanpa sadar. Hingga mereka terbaring di atas kasur. Namun, itu tak membuat ciuman mereka terganggu. Alvaro semakin memperdalam permainan bibir mereka yang mulai menimbulkan suara decapan. Meresapi setiap rasa pada bibir masing-masing yang tanpa sadar menjadi candunya.


Sesekali Alvaro melepaskan bibir mereka selama beberapa second detik untuk membiarkan dirinya dan Olvee saling memperebutkan oksigen. Ia lantas kembali memiringkan kepalanya untuk kembali mencium bibir Olvee. Tak cukup sampai di sana, tangan Alvaro mulai bergerak menuju pakaian Olvee, berniat melepaskan kancing bajunya.


“Alvaro! Kenapa mobilmu dibiarkan di luar?” Suara ibunya yang tiba-tiba terdengar berteriak dari luar kamar membuat Olvee lebih dulu tersadar.


Olvee sudah tidak fokus lagi pada ciuman mereka. Ia melepaskan pangutan bibir keduanya dan menatap Alvaro yang juga akhirnya terdiam menatapnya. Kedua napas mereka terengah-engah saling bersahutan satu sama lain. Posisi yang sangat intim, penampilan yang berantakan, dan bibir mereka yang membengkak serta basah karena sudah saling bertukar saliva.


“Alvaro, kau sudah pulang?” Suara ibunya terdengar semakin dekat ke kamar Olvee.


“Mama sudah pulang!” seru Olvee mulai panik dan menyingkirkan Alvaro dari atasnya.


“Vee!” panggil Alvaro setengah berbisik sekaligus ikut panik. Ia segera menghampiri Olvee untuk mencegah niat Olvee yang hendak membuka pintu.


“Sstt … ” bisik Alvaro sambil menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya.


“Vee! Kau di dalam?” Flora mengetuk pintu kamar Olvee secara tiba-tiba membuat keduanya terkesiap.


Alvaro segera menarik Olvee masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya rapat. Ia bahkan membekap mulut Olvee dengan posisi ia memeluknya dari belakang.


“Vee …. ” Suara pintu kamarnya terdengar dibuka dan Flora kembali memanggil namanya.


“Vee, kau di dalam kamar mandi?” tanya Flora sambil mengetuk pintu kamar mandi.


Olvee melepaskan tangan Alvaro yang membekap mulutnya dengan susah payah. “Iya, Ma. Vee lagi di kamar mandi,” jawab Olvee setengah berteriak.


“Apa kau melihat Alvaro pulang? Mobilnya ada di luar begitu saja,” ujar Flora.


“Tidak, aku juga baru saja pulang dari restoran Zara dan sudah melihat mobil Alvaro seperti itu!” sahut Olvee kembali.


“Kemana anak itu pergi meninggalkan mobilnya seperti itu. Dia bahkan tidak ada di kamarnya,” gerutu Flora pada Alvaro.


“Ia mungkin sebentar lagi akan pulang,” ucap Olvee kembali menjawab.


“Ya sudah, Mama akan menyiapkan makan malam.” Terdengar langkah kaki yang menjauhi pintu kamar mandi kemudian pintu kamar yang ditutup.


Mendengar hal tersebut, Olvee dan Alvaro akhirnya menghela napas lega. Olvee segera menyadari posisi mereka dan melepaskan diri dari Alvaro. Menatap dengan tatapan tajam pada Alvaro yang tersenyum memperlihatkan giginya.


“Cepat keluar dan kembali ke kamarmu!” perintah Olvee sambil memukul lengannya keras hingga ia mengaduh.


“Mama mengetahui aku di luar. Bagaimana jika ia bertanya?” tanya Alvaro.


“Itu urusanmu bukan urusanku. Cepat keluar dari kamar mandiku dan kamarku!” perintah Olvee sekali lagi dengan nada jengkel sudah kehabisan kesabaran.


“Tapi Vee … ” Alvaro menggantungkan kalimatnya sambil menatap lekat pada Olvee yang mulai gugup kembali.


“Bisakah aku menganggap ciuman kita tadi sebagai tanda awal mula hubungan kita?”










To be continued