
“Di hari minggu ini sepertinya kalian akan pergi?” tanya Flora setelah menilik pakaian kedua anaknya yang sudah rapi.
“Ya,” jawab Olvee.
“Kemana kalian akan pergi? Apa bersama?” tanya Flora kembali.
“Ya.”
“Tidak.”
Olvee dan Alvaro menjawab serempak dengan jawaban yang berbeda. Mereka saling tatap, tak terkecuali dengan Flora dan Zahir yang menatap keduanya bergantian.
“Maksudnya, kami tidak pergi ke tempat yang sama, tapi kami pergi bersama.” Alvaro segera mengoreksi jawaban.
“Ya,” tambah Olvee.
“Bersenang-senanglah selama kalian libur bekerja,” ucap Zahir.
“Ayo, Kak,” ajak Alvaro setelah ia menghabiskan sarapannya.
“Kakakmu masih makan, Alvaro. Tunggulah sebentar,” tegur Flora.
“Sepertinya dia sangat terburu-buru. Aku akan habiskan rotinya di mobil, Ma. Sampai jumpa, Ma, Pa.” Olvee berpamitan pada ayah dan ibunya begitu pun dengan Alvaro bergantian.
“Kenapa kita harus berbohong hanya untuk pergi bersama seperti yang biasa kita lakukan saat kuliah?” tanya Olvee bingung setelah mereka keluar rumah.
“Aku juga tidak tahu. Mungkin karena kali ini kita akan berkencan?” tanya Alvaro balik sembari tertawa.
“Bukan kencan! Kita hanya menghabiskan waktu bersama setelah sekian lama seperti saat kuliah dulu!” seru Olvee dengan pipi memerah dan segera masuk ke dalam mobil.
‘Apa kamu tidak tahu, kalau kamu sangat lucu, Vee?’ Alvaro menggelengkan kepalanya melihat tingkah Olvee dan ikut masuk ke dalam mobil.
“Kita akan pergi kemana?” tanya Olvee setelah mobil Alvaro melaju.
“Kita akan pergi ke taman hiburan,” jawab Alvaro.
“Kita akan ke tempat itu di kencan pertama kita?” tanya Olvee yang tidak disembunyikan bernada kecewa.
“Jadi, kau menganggap kita berkencan sekarang?” Alvaro bertanya jahil yang langsung membuat pipi Olvee kembali memerah.
“Aku hanya ingin ke tempat istimewa itu bersama denganmu lagi dengan situasi yang berbeda,” jelas Alvaro.
“Istimewa?” Olvee menyerngit bingung.
Alvaro mengangguk. “Bagiku tempat itu istimewa karena setiap kita libur dan melepaskan rasa lelah dari kegiatan, kita selalu ke sana hanya berdua. Walaupun berdua, tetap menyenangkan karena bersama denganmu.”
Berbeda dengan Olvee yang sudah bosan dan menganggap tempat itu sebagai tempat biasa, Alvaro justru memperlakukannya sebagai tempat istimewa. Karena setiap tempat itu dikunjungi, hanya dikunjungi oleh mereka berdua saja.
“Alvaro, sebenarnya, sejak kapan kau memiliki rasa itu padaku? Dan bagaimana bisa?” Olvee menatap Alvaro penasaran.
“Aku juga bingung dan tidak mengerti kenapa aku memiliki rasa lain pada kakakku sendiri yang dibesarkan bersama denganku. Tapi, sejak kecil, aku sudah memiliki rasa yang berbeda padamu daripada aku pada Kak Celine.” Jawaban Alvaro benar-benar membuat Olvee terkejut.
“Sejak kecil?” gumam Olvee.
“Tapi karena aku masih kecil, aku tidak tahu. Sejujurnya aku hanya menganggap jika perbedaan rasa itu adalah rasa kasih sayang yang lebih besar padamu daripada Kak Celine. Begitulah … ” jelas Alvaro.
“Sampai aku beranjak dewasa dan semakin melihatmu berbeda,” lanjut Alvaro.
Olvee tidak menyalahkan pada Alvaro. Semua orang berhak merasakannya, tetapi dalam kasus Alvaro, ia bahkan sudah merasakan perbedaan itu sejak mereka kecil. Apa itu sesuatu yang mungkin terjadi pada orang yang dibesarkan bersama denganmu sejak kecil? Apa mereka memang bukan adik dan kakak kandung? Atau Alvaro sendiri yang menderita kelainan mental?
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Alvaro sambil menyentuh tangan Olvee yang segera tersentak.
Olvee melihat ke sekitarnya dimana mobil Alvaro sudah berhenti di sebuah tempat parkir. “Apa kita sudah sampai?” Alvaro mengangguk.
“Ayo,” ajak Alvaro seraya melepaskan sabuk pengamannya diikuti oleh Olvee.
“Di sini!” Seruan seseorang membuat keduanya mencari asal suara begitu mereka baru saja turun dari mobil.
Seseorang di seberang mereka melambaikan tangannya di depan sebuah mobil. Dari wajahnya, Olvee mengenali itu siapa. Sepertinya ia melakukan itu memang sengaja pada mereka. Alvaro menoleh ke kanan dan kiri untuk menyebrang dan menghampiri pria tersebut sambil menggandeng tangan Olvee.
“Aku tidak tahu,” jawab Alvaro memalingkan wajahnya.
“Tapi sepertinya ia sudah mengetahui kita akan kemari dan sengaja menunggu kita,” ucap Olvee melempar tatapan curiga pada keduanya.
“Dia kugunakan untuk alasan pergi bersama denganmu. Tapi, dia tidak akan mengganggu kencan kita, Vee.” Alvaro akhirnya mengatakan yang sebenarnya yang membuat Olvee tertawa.
“Tunggu, apa Evan sudah mengetahui hubungan kita?” Alvaro mengangguk sebagai jawaban. Sepertinya jika Evan bukan masalah. Sama sepertinya dirinya yang mempercayai Zara cerita ini dan Evan yang dipercayai Alvaro.
“Jika sudah ada Evan, yasudah kita masuk dan menikmati wahana bersama-sama.” Olvee melanjutkan untuk memberikan saran.
“Ide bagus, Kak!” tambah Evan bersemangat yang mendapatkan pelototan dari Alvaro.
“Alvaro … ” Olvee memperingati Alvaro.
“Tidak apa-apa, ayo,” ajak Olvee seraya menarik tangan Alvaro.
Kencan yang sudah direncanakan Alvaro hanya berdua dengan Olvee di tempat istimewa, gagal sudah karena dirinya juga. Seharusnya ia memang tidak perlu berbohong dan menyuruh Evan berbohong saja untuk berjaga-jaga jika orang tuanya bertanya. Pada akhirnya, ini bukan kencan melainkan bermain bersama-sama. Menurutnya, Evan sudah menodai tempat yang dianggap istimewa ini membuat Alvaro dongkol.
“Pertama, mari kita pemanasan dengan naik itu!” tunjuk Olvee pada salah satu wahana yang ringan.
“Aku setuju, Kak!” Evan mengangguk setuju dan berlari lebih dulu. Olvee menarik tangan Alvaro untuk ikut berlari menyusul Evan.
“Vee, Vee, kita tidak perlu berlari!” seru Alvaro kesal yang tidak diindahkan oleh Olvee yang sudah terlampau bersemangat. Tak kalah bersemangatnya dengan Evan.
Dua jam lebih akhirnya mereka menghabiskan waktu dengan mencoba berbagai macam wahana hanya untuk pemanasan. Yang sejak tadi mengobrol dan sangat senang hanya Olvee dan Evan. Sedangkan Alvaro hanya mengikuti kemana saja Olvee menariknya. Sepertinya yang kencan sebenarnya adalah Olvee dan Evan.
“Aku akan membeli minum,” ucap Evan mengambil inisiatif untuk membiarkan mereka berduaan akhirnya. Melihat bagaimana sejak tadi wajah Alvaro begitu tajam menatapnya.
“Kau terlihat tidak senang dengan kehadiran Evan?” tanya Olvee memulai pembicaraan yang padahal ia sudah tahu jawabannya.
Alvaro mengambil tangan Olvee untuk ia genggam dan menggapai kepala Olvee untuk membiarkannya bersandar pada bahu Alvaro. Olvee hanya menuruti saja kali ini untuk membuatnya senang.
“Aku memang tidak senang dengannya, tapi kalau kau senang aku juga akan ikut senang.” Jawaban Alvaro membuat Olvee tersenyum.
“Lain kali, lebih baik kita tidak usah berbohong untuk pergi bersama. Kita bisa kencan lagi kapanpun kau mau. Benar-benar hanya berdua.” Olvee mengangkat kepalanya dan menatap Alvaro untuk menghiburnya.
“Aku akan melakukannya dengan lebih baik,” jawab Alvaro menyentuh pipi Olvee dengan tangan lainnya.
“Kalau begitu aku akan membuat beberapa tempat istimewa lainnya yang hanya akan dikunjungi kita bersama saja.” Meski pipi Olvee memerah, ia kali ini tidak menghindari netra Alvaro.
“Hei, hei!” Suara Evan membuat keduanya mengalihkan atensi. Olvee segera menjaga jarak duduknya dengan Alvaro.
“Terima kasih … ” Olvee menggantungkan ucapannya ketika melihat seseorang yang ikut bersama dengan Evan di belakangnya.
“Evan,” panggil Alvaro tajam sambil menatap gadis di belakang Evan.
“Aku bertemu dengan teman kuliah kita di stan minuman dan aku ajak dia kemari karena sendirian.” Evan sedikit tidak enak dengan mereka berdua. Setelah dirinya juga ikut bersama mereka dan mengganggu acaranya, ia juga mengajak Jihan yang jelas-jelas adalah tunangan dari Alvaro. Namun, ia juga tidak tega melihat Jihan yang terlihat sendirian.
Olvee menelan salivanya susah payah. Pembicaraan terakhir mereka tiba-tiba saja terlintas di dalam kepalanya. Sekarang, ia merasa seperti menjadi orang termunafik di sini.
“Hai Kak Olvee, Alvaro.”
To be continued