(Not) Mistake

(Not) Mistake
Bab 9 : Sebuah Pengorbanan



Alvaro hanya memakan makanannya tanpa minat. Ia juga tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh gadis di depannya. Fokusnya hanya pada ponsel yang sejak tadi hening di atas meja. Seolah tengah menunggu seseorang yang menelponnya atau sekedar mengirimkan pesan. Helaan napas keluar dari mulut Alvaro seraya melepaskan garpu yang ia pegang dengan kasar ke atas piring. Hal itu membuat gadis di depannya menatap terkejut bercampur rasa bersalah dan sedikit sorot ketakutan pada Alvaro.


“Apa aku terlalu banyak berbicara, Alvaro?” tanya Jihan dengan sedikit nada yang gemetar yang ditahannya.


“Tidak, lanjutkan saja. Aku mendengarkan kok,” jawab Alvaro berbohong yang segera mengubah ekspresi wajahnya ketika menyadari kesalahannya.


Jihan bukan gadis yang terlalu bodoh untuk percaya pada apa yang dikatakan oleh Alvaro adalah sebuah kebenaran. Ia sejak tadi berbicara, menunggu respon Alvaro agar dirinya tidak terlihat aneh karena berbicara sendiri. Namun, sekeras apapun ia berpikir untuk terus mencari topik pembicaraan, itu sama sekali tidak menarik perhatian Alvaro.


“Apa ada yang kau tunggu?” tanya Jihan yang pada akhirnya menyerah dengan sendirinya.


Kali ini Alvaro mengalihkan atensi sepenuhnya pada Jihan. “Tidak ada.” Alvaro tersenyum meyakinkan pada Jihan.


“Tadi, sampai mana kau membicarakannya?” tanya Alvaro lurus.


Jihan tidak menjawab lagi dan menatap tepat pada manik mata Alvaro dalam waktu yang lama. Alvaro telah salah berbicara dan mengambil sikap sekarang, melihat ekspresi wajah Jihan. Namun, sekeras apapun ia berusaha dan mencoba, ia tetap tidak bisa mengusir Olvee dari hati dan pikirannya. Meski ia berbicara pada Olvee akan serius mengambil resiko ini, ia tidak bisa benar-benar berusaha melupakan Olvee.


“Alvaro, apa ada seseorang yang kau sukai?” Pertanyaan Jihan tepat mengenai sasaran. Alvaro sudah tidak bisa mengelak lagi dari gadis di depannya yang tidak sebodoh yang ia kira.


“Ya, ada.” Pada akhirnya, ia memilih berbicara jujur. Mungkin disinilah akhirnya rencana yang sudah ia buat.


“Apa itu Kak Olvee?” tanya Jihan kembali yang tidak bisa dijawab Alvaro dengan cepat.


“Itu benar,” jawab Alvaro selang beberapa detik.


“Aku sudah menduganya,” gumam Jihan seraya menundukkan kepalanya, menyembunyikan ekspresi kekecewaan di wajahnya.


Alvaro hanya memperhatikan bagaimana wajah yang sudah penuh dengan kekecewaan itu. Ia tidak bisa dan tidak ingin menghiburnya karena dirinya lah penyebab Jihan seperti itu. Mungkin ia memang harus menyerah atas rencana ini.


“Maafkan aku, aku mencintai Vee dan bertunangan denganmu untuk membuatnya cemburu dan membuka hatinya untukku. Sebenarnya … aku tidak benar-benar berniat mau menikah denganmu.” Kalimat kejujuran yang lebih pahit dari apapun itu membuat hati Jihan benar-benar seolah tertusuk akan sesuatu yang tajam dan menghancurkannya secara perlahan dengan kejam.


“Tapi sepertinya aku harus berhenti sampai di sini. Aku tidak ingin menyakitimu lebih lama.” Belum genap mereka bertunangan satu bulan, tetapi Alvaro sudah berniat memutuskannya.


Jihan berusaha keras untuk menyangkal tatapan penuh keibaan yang ditunjukkan pada dirinya itu. Namun, sekeras apapun ia menyangkal, setelah mendengar dengan telinganya sendiri kejujuran tersebut, ia sudah tidak bisa berkutik. Meski begitu, ia tetap ingin berusaha dan berharap jika suatu saat, tatapan iba itu akan berubah menjadi tatapan penuh damba dan cinta pada dirinya.


“Aku akan pergi,” ucap Alvaro kembali kemudian berdiri dari duduknya.


“Bagaimana jika aku bersedia?” Pertanyaan Jihan membuat pergerakan Alvaro terhenti. Ia kembali menatap lurus pada Jihan yang masih menundukkan kepalanya.


“Bagaimana jika aku masih mau kau manfaatkan?” tanya Jihan sekali lagi yang kali ini mendongak menatap tepat pada manik mata Alvaro sekali lagi.


“Aku sudah mengatakan jika aku tidak ingin menyakitimu lebih lama lagi, aku sudah menyerah.” Alvaro menjawab.


‘Bukan berarti aku menyerah atas Vee.’ Ia melanjutkan dalam batinnya.


“Aku akan membantumu mendapatkan Kak Olvee dengan menjadi tunanganmu dan membuatnya cemburu sampai ia membuka hatinya untukmu, sesuai dengan rencanamu.” Jihan lebih meyakinkan Alvaro.


Alvaro menyerngitkan dahinya menatap Jihan bingung, meski tak urung kembali duduk dan mulai tertarik dengan pembicaraan. Jika Jihan yang secara sukarela melakukannya, ia sama sekali tidak keberatan dan merasa lebih bersalah pada gadis di depannya.


“Kenapa kau mau melakukannya?” tanya Alvaro.


“Tidak seperti dirimu, aku menyukaimu dengan tulus,” jawab Jihan.


“Karena itulah, kenapa kau mau melakukannya?” Alvaro menjadi semakin bingung dengan jawaban Jihan.


“Anggap saja aku ingin orang yang aku sukai bahagia. Maka aku juga akan ikut bahagia meski tak bersamaku.” Jawaban yang aneh atau lebih tepatnya tidak masuk akal, menurut Alvaro. Jihan adalah gadis yang aneh dan sedikit tidak bisa ia percayai.


“Jika kau secara sukarela melakukannya, aku tidak akan menolaknya. Mohon bantuannya untuk ke depannya.” Alvaro mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan senyum puas seolah transaksi mereka benar-benar berhasil.


“Bukankah itu Alvaro dan Jihan? Ternyata mereka kencan disini,” ucap Zara yang bersama Olvee.


Perkataan Zara mengalihkan atensi Olvee. Ternyata memang benar jika Alvaro bersama Jihan. Sekarang ia terlihat sangat akrab dan mesra. Mungkin memang benar Alvaro sudah menyerah atasnya dan mulai membuka hatinya untuk Jihan. Seharusnya ia merasa senang dengan keputusan Alvaro. Namun, entah mengapa, melihat Alvaro bersama Jihan dan mulai akrab membuat Olvee tidak nyaman dan tidak rela.


“Ayo kita pergi ke tempat lain saja,” ajak Olvee.


“Kenapa? Ayo kita sapa saja dulu mereka dan sedikit menggodanya,” ujar Zara bersemangat.


“Mereka sedang kencan, tidak bagus kita mengganggunya,” timpal Olvee yang lebih dulu berjalan mendahului.


“Vee! Olvee, tunggu!” Zara segera ikut menyusul kemana arah Olvee pergi sebelum sekali lagi melihat ke arah meja Alvaro dan Jihan. Sekilas ia melihat Jihan menatap ke arahnya dan menyadari keberadaannya.


Jihan sejak tadi memang menyadari sejak kedatangan Olvee bersama Zara. Sampai ia kembali melihatnya keluar lagi. Gadis manapun bisa menebak dalam sekali lihat jika Olvee memang menyukai Alvaro. Yang mengetahui hubungan antara Alvaro dan Olvee akan mengetahui alasan kenapa Olvee tidak mengakuinya adalah karena hubungan mereka. Entah gadis itu sendiri tidak menyadari perasaannya. Jika pun menyadari, Olvee tidak memiliki pilihan lain. Ini membuat Jihan memiliki ide pemikiran yang lain. Mungkin saja, ia memang memiliki kesempatan bersama Alvaro.


“Aku baru saja melihat Kak Olvee bersama Kak Zara tadi,” ucap Jihan mengalihkan topik pembicaraan.


“Dimana?” tanya Alvaro sembari menoleh ke sekitarnya mencari keberadaan Olvee.


“Baru saja aku akan menyapanya, mereka sudah keluar,” jawab Jihan.


“Alvaro, kurasa, Kak Vee memang sudah menyukaimu.” Jihan menatap Alvaro.


“Aku mengetahuinya,” ujar Alvaro.


‘Jika kau mengetahuinya, lalu kenapa kau tidak berhenti seperti dia karena hubungan kalian berdua hanya akan menjadi adik dan kakak?’  tanya Jihan dalam batinnya.


“Kurasa itu tidak lama lagi untuk bisa membuat Kak Olvee menyadarinya,” ucap Jihan.


“Tapi, Alvaro, kenapa kau menginginkan Kak Olvee? Maksudku … kalian adalah kakak dan adik dilihat oleh siapapun. Bagaimana dengan masa depan kalian jika seandainya kalian memang bersama?” tanya Jihan.


“Kami bukan adik dan kakak,” jawab Alvaro mudah.


“Maksudnya?” Kernyitan timbul di dahi Jihan karena tidak mengerti.


“Kau tidak perlu mengetahuinya,” timpal Alvaro dingin. Jihan tidak berbicara lebih banyak lagi, mendengar nada dingin yang dilontarkan Alvaro untuk sepenuhnya menarik garis di antara mereka.










To be continued