
“Zara, bagaimana kabar Alvaro?” tanya Olvee dengan nada lemah.
“Dia juga tidak menghubungiku sejak beberapa hari yang lalu setelah hari itu. Tapi Vee, apa kau benar-benar baik-baik saja?” Zara bertanya setelah menjawab pertanyaan Olvee dengan nada khawatir.
“Aku hanya terlalu banyak bekerja kemarin,” jawab Olvee.
“Kau sangat pucat, Vee! Apa kau sadar?” ucap Zara menaikkan nada suaranya karena benar-benar khawatir dengan keadaannya yang ia rasa tidak baik-baik saja.
Zara datang ke rumah Olvee hari ini sesuai apa yang diinginkan oleh Olvee sendiri. Beruntung jadwalnya tidak terlalu padat hari ini dan ia bergegas mendatangi Olvee karena suaranya ketika berbicara di telpon terasa mengkhawatirkan. Dan kekhawatirannya benar adanya, Olvee terlihat tidak baik kondisinya.
Setelah hari terakhir mereka bertemu, ayahnya mengundang Verald ke rumahnya berniat untuk perjodohan. Beruntung Verald tampaknya bisa diajak kerja sama olehnya nanti. Dan setelahnya, ia sendiri melakukan aktivitas seperti biasanya mengerjakan proyeknya. Namun, Olvee mengurung dirinya sendiri lebih lama dan mengabaikan kondisi tubuhnya sendiri.
“Bantu aku, Ra.” Olvee memilih mengalihkan pembicaraan.
“Bantu apa?” Zara tak urung membalas pertanyaan Olvee, meski kekhawatirannya diabaikan olehnya.
“Aku merindukannya dan aku tidak bisa menghubunginya karena Papa telah memblokir dan menghapus semua kontaknya,” ucap Olvee.
“Pesanku juga tidak kunjung mendapatkan balasan darinya, Vee.” Dengan nada menyesal Zara berkata membuat ekspresi Olvee semakin tidak baik.
“Kalau begitu, bantu aku menemuinya.” Zara segera menggelengkan kepalanya mendengar suara lirih Olvee mengatakan permintaannya.
“Aku sudah berjanji pada Om Zahir. Dan melihat kondisimu yang tidak terlalu bagus, aku ragu kau mampu,” balas Zara mencoba menghentikan Olvee.
“Aku masih kuat, sudah kukatakan aku baik-baik saja. Jika pergi bersamamu aku rasa dia tidak akan curiga. Tolong aku, Zara. Aku merindukannya, sangat.” Olvee memohon-mohon dengan ekspresi memelas pada Zara.
Zara tidak bisa berlama-lama menatap kedua netra itu lama-lama jika tidak ingin luluh dengan bujukan Olvee. Jujur saja jika ia memang takut dengan ayah dari sahabatnya ini. Ia ingin kebahagiaan Olvee, tapi ia lebih takut pada kedua orang tuanya.
“Dia pasti ada di kantornya, aku hanya akan menemuinya sebentar saja. Mereka tidak akan curiga,” ucap Olvee semakin meyakinkan Zara.
“Baiklah,” putus Zara pada akhirnya kembali mengambil resiko.
“Ayo pergi sekarang!” Olvee saat itu juga berubah menjadi lebih bersemangat.
Zara ikut beranjak dari duduknya mengikuti Olvee dari belakang. Begitu mereka keluar kamar Olvee, Zahir sudah ada di depan kamarnya membuat keduanya terkejut.
“Mau kemana kalian?” tanya Zahir dingin. Zara sudah khawatir jika Zahir sudah ada di depan kamar Olvee sejak tadi dan mendengar pembicaraan mereka.
“Aku akan pergi bersama Zara sekalian untuk bertemu dengan klienku,” jawab Olvee tak kalah dingin seolah ia sudah terbiasa dengan berbohong.
“Zara?” panggil Zahir.
Zara menggangguk sekali, “Iya benar.”
“Om sudah percaya padamu,” ujar Zahir penuh dengan nada intimidasi.
“Ayo pergi,” ajak Olvee tak mau berlama-lama dengan sang ayah.
Zara mengendarai mobilnya, bukan untuk pergi menemui klien Olvee yang memang tidak ada. Namun, ke arah kantor Alvaro berada. Ia sempat khawatir tadi, tapi Olvee bahkan sama sekali tidak menunjukkan kegugupannya ketika berbohong.
Sepanjang perjalan, Olvee dilanda dengan rasa gelisah karena tidak mendapatkan kabar Alvaro sama sekali. Alvaro sendiri juga tidak berusaha sama sekali untuk menghubunginya, yang ia yakini sudah mengetahui bahwa akses mereka terblokir. Hal itu membuat Olvee cemas dengan keputusan Alvaro yang ia khawatirkan berubah. Dirinya sudah melangkah sejauh ini dan berada di titik dimana ia tidak mau Alvaro meninggalkannya.
“Kak Vee?” Olvee mengabaikan Evan yang menyapa dan masuk begitu saja ke ruangan Alvaro.
Evan yang hendak menghentikan Olvee ditahan oleh Zara. Ia menggelengkan kepalanya.
“Tapi Alvaro sedang menerima tamu,” ucap Evan yang membuat Zara terkejut.
Olvee yang masuk begitu saja tidak mengetahui jika di dalam ruangan Alvaro tengah dikunjungi oleh tamu. Al hasil, ia berdiri dengan canggung begitu masuk dengan tidak sopannya begitu saja, mengalihkan atensi orang-orang yang fokus bekerja ini.
“Kebutuhan saya tidak mendesak, jadi silahkan-”
“Maaf, Tuan-Tuan. Mari kita lanjutkan pembicaraan ini setelah makan siang.” Alvaro memotong ucapan Olvee dan berbicara pada kedua tamu yang tadi tengah berbincang dengannya.
“Terima kasih atas waktunya, Tuan muda Marveen.” Keduanya dengan patuh mendengarkan Alvaro tanpa protes.
Tinggalah dirinya dan Alvaro. Olvee merasa sedikit merasa bersalah karena sudah mengganggu pekerjaan Alvaro. Ia masih berdiri di tempatnya.
“Jadi, apa yang membawamu kemari, Vee?” tanya Alvaro.
“Tidak ada,” jawab Olvee bergumam.
“Kemarilah,” ujar Alvaro sembari melambaikan tangannya untuk membuat Olvee mendekat padanya.
“Aku merindukanmu,” ucap Alvaro pelan.
Perlahan otot di wajah Olvee sedikit rilex, mendengar perkataan Alvaro. Ia merasa karena tidak hanya ia yang merasakan kerinduan tersebut. Olvee membalas pelukan hangat Alvaro tak kalah erat.
“Aku juga,” balas Olvee setengah berbisik di depan telinga Alvaro.
Meskipun tubuhnya terasa tidak bertenaga, perutnya mual dan tidak nyaman, dan kepalanya pusing, semuanya sirna setelah bertemu dengan Alvaro. Entah mengapa ia begitu sangat merindukan semua yang ada pada pria ini.
“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Alvaro.” Olvee mengurai pelukan mereka tanpa turun dari pangkuan Alvaro ketika mengingat tujuan lain ia menemui Alvaro.
“Hm?” tanya Alvaro.
“Papa berniat menjodohkanku dengan Verald,” ucap Olvee yang ia rasa membuat rahang Alvaro mengeras.
“Aku menerimanya agar Papa tidak menjodohkanku dengan pria-pria lainnya. Aku berniat untuk meminta bantuan padanya atau bernegosiasi dengannya, tapi bukan seperti yang dilakukan kau pada Jihan.” Segera Olvee menjelaskan juga niat sebenarnya.
Alvaro tertawa kecil, tapi tak lama ia berubah menjadi khawatir karena Olvee yang tiba-tiba turun dari pangkuannya dan muntah saat itu juga di depannya. Olvee sudah tidak bisa menahan gejolak di perutnya hingga tak mempunyai cukup waktu pergi ke toilet.
“Vee, are you ok?” tanya Alvaro khawatir sembari menyentuh untaian rambut Olvee yang menjuntai.
“Don’t look! Please, Alvaro. Maafkan aku.” Olvee menyingkirkan tangan Alvaro yang berusaha membantunya.
“Jangan meminta maaf untuk hal sepele! Biarkan aku membantumu!” seru Alvaro bersikeras dan tetap membantu Olvee yang terlihat kesakitan.
Di tengah muntahan Olvee yang tak terkontrol, pintu ruangannya terbuka dan menampilan Evan serta Zara yang masuk. Zara bergegas mendekat pada Olvee.
“Vee, kau baik-baik saja? Sudah kukatakan untuk tidak keras kepala menemui Alvaro! Lihat kondisimu,” ujar Zara panik.
“Vee, bagaimana bisa kau kemari dengan kondisi seperti ini? Apa kau sudah makan sesuatu?” tanya Alvaro khawatir.
“Evan ambilkan tisu!” perintah Alvaro pada Evan yang hanya diam melihat situasi.
Olvee merasa lebih baik setelah memuntahkan isi perutnya yang tidak berarti apa-apa. Alvaro mengelap mulutnya dengan telaten yang segera diambil alih oleh Olvee. Ia menatap wajah Olvee yang pucat dan menyentuh dahinya.
“Maafkan aku, Alvaro.” Olvee merasa menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan dengan datang menemui Alvaro.
“Lupakan itu, ayo kita pergi ke rumah sakit, ya?” Olvee menggelengkan kepalanya.
“Aku akan baik-baik saja setelah pulang,” ujar Olvee menolak.
“Tapi-”
“Papa bisa curiga jika aku terlalu lama pergi,” potong Olvee yang tidak bisa dijawab lagi oleh Alvaro.
“Kita sebaiknya pulang saja dan mengatakan kondisi Vee pada Om Zahir,” usul Zara.
“Ayo, Vee.” Ia lantas mengambil alih untuk memapah Olvee.
“Aku akan memikirkan cara untuk menemuimu, jangan khawatirkan apapun, Vee.” Pesan Alvaro diangguki Olvee.
“Berhati-hati dalam mengemudi, Zara.”
To be continued