(Not) Mistake

(Not) Mistake
Bab 15 : Sama-sama Gila



Ini sudah yang kesekian kalinya Alvaro tidur di samping Olvee. Sudah tak terhitung jumlahnya sejak ia kecil hingga dewasa sekarang pun, ia tidak pernah bosan tidur bersama dengan Olvee, sebagai kakaknya. Namun, kali ini ia benar-benar merasakan sesuatu yang berbeda. Karena akhirnya, Olvee menyerah padanya dan mengikuti semua yang ia katakan. Sesuatu yang sudah ia tunggu-tunggu sejak lama.


Alvaro menatap wajah Olvee yang masih terlelap di dalam pelukannya dengan nyenyak. Tangan kanannya menggapai rambut Olvee yang menghalangi wajahnya. Menyingkirkannya dan memainkannya di jari jemarinya.


“Kau sudah tidak bisa kembali lagi, Vee,” bisik Alvaro dengan seringaian di wajahnya sambil mencium untaian rambut yang ada di jarinya dan menatap intens wajah Olvee yang masih memejamkan matanya sekali lagi.


Suara alarm dari jam beker berbunyi nyaring yang langsung membuyarkan lamunan Alvaro. Ia meraih jam tersebut dan menghentikan suaranya. Ketika atensinya kembali mengarah pada Olvee, tidak ada tanda-tanda gadis itu terganggu oleh suara jam yang sempat berbunyi. Kebiasaannya yang sulit dibangunkan masih tetap sama sejak kecil.


“Kak Vee,” panggil Alvaro lembut.


“Vee … ” Sekali lagi Alvaro memanggilnya yang kali ini diikuti oleh sentuhan tangannya pada pipi Olvee.


“Bae… ” panggil Alvaro kembali yang kali ini mulai menimbulkan reaksi pada Olvee.


Alvaro yakin jika Olvee kali ini sudah terbangun dan berada di tengah kesadaran dan alam mimpinya. Jika membiarkan ini, Olvee dipastikan akan pergi dan melanjutkan kembali alam mimpinya. Jadi, Alvaro menghambat pernapasan Olvee dengan bibirnya. Ia dengan sengaja menempelkan bibirnya dengan bibir Olvee supaya ia terbangun.


Namun, keputusan Alvaro itu membawa petaka baginya. Tak butuh waktu lama untuk Olvee yang sudah kehabisan napas akhirnya mendorong Alvaro hingga ia terjatuh. Dan Olvee segera bangun dan mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk.


“Sepertinya aku terkena sleep paralysis,” gumam Olvee sambil mengusap dadanya yang cukup sesak.


Olvee menoleh ke samping dan terkejut mendapati Alvaro ada di bawah kasurnya. “Kenapa kau tidur di lantai, Alvaro?” tanya Olvee.


“Tidak apa-apa,” jawab Alvaro tersenyum manis.


“Bukankah kau harus pergi ke kantor pagi ini? Kenapa belum kembali ke kamarmu?” tanya Olvee kembali.


“Aku menunggumu bangun untuk mendapatkan ciuman pagi,” sahut Alvaro seraya berdiri dan mendekat pada Olvee.


Tanpa diperintah, untuk pertama kalinya pagi ini, pipi Olvee memerah mendengar apa yang dikatakan oleh Alvaro. Namun, ia tak urung memberikan ciuman di pipi Alvaro. Tanpa mengatakan apapun lagi, Olvee beranjak dari kasurnya dan pergi ke kamar mandi dengan keadaan yang sangat malu.


Alvaro masih membeku di tempatnya setelah mendapatkan apa yang diinginkannya. Ia sedikit ragu, mengingat sifat Olvee yang keras kepala tidak mungkin semudah itu memberikan satu ciuman padanya. Namun, baru saja ia memintanya pada Olvee, dan ia langsung memberikannya. Perlahan semburat merah mulai menjalar di pipi Alvaro hingga ke telinganya. Ia menutup wajahnya dengan satu tangan dan baru menyadari jika Olvee sudah tidak ada di tempatnya.


“Kenapa dia bisa begitu manis?” gumam Alvaro kemudian melangkah keluar dari kamar Olvee masih dengan degup jantung yang cepat dan wajah yang merah.


“Alvaro!” Baru saja ia keluar dan menutup pintu kamar Olvee, suara ibunya benar-benar mengejutkannya.


“I-iya, Ma?” tanya Alvaro berusaha mengendalikan kembali dirinya.


“Kenapa kau berdiri di depan kamar Vee?” tanya Flora heran.


Pertanyaan Flora membuat Alvaro sedikit tenang karena ibunya tidak memergokinya keluar dari kamar Olvee. “Alvaro mau membangunkan Kak Vee, Ma.”


“Ya sudah, bangunkan dia. Mama akan melanjutkan menyiapkan sarapan.” Flora kembali menuruni anak tangga.


Alvaro bergegas meninggalkan pintu kamar Olvee dan kembali ke kamarnya. Untuk saat ini, ia tidak ingin orang tuanya mengetahui perkembangan hubungan dirinya dan Olvee atau semua rencananya akan gagal.


“What?”


“Apa?”


Seperti itulah respon dari masing-masing sahabat Alvaro dan Olvee ketika diceritakan apa yang sudah terjadi. Alvaro yang berbicara setelah sampai di kantornya pada Evan. Olvee yang bercerita lewat telpon di dalam galerinya pada Zara.


“Kau memang benar-benar sudah gila!” Evan menimpali ucapan Alvaro.


“Lalu bagaimana dengan Jihan?” tanya Zara dan Evan di tempat yang berbeda pada masing-masing sahabat mereka.


“Jihan? Sejak awal aku tidak peduli padanya. Kenapa aku harus memikirkannya? Jika ia memang benar-benar ingin dimanfaatkan seperti yang ia katakan, maka aku akan dengan senang hati memanfaatkannya sampai tidak ada yang bisa dimanfaatkan lagi darinya dan membuangnya.” Alvaro menjawab dengan kejam seolah ia sudah tidak memiliki hati lagi untuk gadis lain selain Olvee.


“Gadis yang malang, aku kasihan padanya,” jawab Evan.


“Adikmu itu benar-benar, Vee.” Zara menimpali.


“Aku belum membicarakan hal ini dengan Alvaro. Mungkin aku akan membicarakan ini dengannya nanti. Aku juga sangat merasa bersalah padanya, Zara.” Nada bicara Olvee terdengar purau.


“Aku mengerti, jangan terlalu merasa bersalah karena bagaimanapun bocah itu yang menarikmu. Kupikir semuanya sudah diatur oleh takdir. Aku hanya berharap kebahagiaanmu. Dan semoga, kalian tidak benar-benar adik dan kakak seperti yang selalu dikatakan oleh bocah itu. Jadi kalian memiliki kesempatan.” Zara mencoba menghibur sahabatnya itu.


“Terima kasih, terima kasih banyak karena tidak menghujatku atas keputusan yang sudah aku ambil ini. Kupikir ini tidak akan berlangsung selamanya karena dia masih lah anak muda yang bisa berubah pikiran kapanpun. Dia pasti akan meninggalkanku cepat atau lambat.” Zara cukup lama tidak menjawab kembali perkataan Olvee.


‘Kau akan terluka setelah itu, tapi jika kalian memang ditakdirkan untuk menjadi adik dan kakak, itu akan baik untuk kalian.’ Zara berbicara sendiri di dalam batinnya. Melamun untuk waktu yang cukup lama karena merasa lebih mengasihani sahabatnya daripada Jihan.


“Zara? Kau masih di sana?” tanya Olvee ketika tidak mendengar suara Zara lagi.


“Y-ya, aku masih di sini. Aku hanya melamun sebentar tadi. Lalu, Vee, bagaimana dengan kedua orang tua kalian? Kau sekarang berbicara denganku di tempat aman, kan?” tanya Zara mengubah topik pembicaraan mereka.


“Papa pergi bekerja, aku mendengar Mama akan pergi tadi, aku berbicara denganmu di galeri lukisanku dan menutup pintunya. Aku juga tidak tau apa yang akan terjadi setelah mereka mengetahui hal ini. Mereka mungkin akan mencoba memisahkan kita, tapi aku pikir Alvaro tidak akan semudah itu melakukannya.” Olvee menjawab dan terdengar suara tawa Zara.


“Bocah itu tidak akan menjadi Alvaro yang kita kenal jika mudah menyerah,” ucap Zara yang dibenarkan Olvee.


“Sekarang aku harus bekerja, Zara. Aku akan menutup telponnya sekarang, nanti kita akan berbicara kembali. Sampai jumpa!” pamit Olvee.


“Sampai jumpa!” balas Zara dan sambungan telpon terputus.


‘Tolong berikan kebahagiaan padanya, Tuhan.’ Zara hanya berbicara dalam batinnya.










To be continued