
“Vee? Aku bicara denganmu.” Suara Alvaro yang tiba-tiba sudah terdengar di depan wajahnya membuat Olvee terkesiap. Ia mundur dan menjauh dari Alvaro.
“Apa ada yang mengganggumu?” tanya Alvaro memperhatikan wajah Olvee yang tampak memerah.
“Tidak,” jawab Olvee seraya melanjutkan langkahnya meninggalkan Alvaro dan mobilnya.
“Apa hari begitu panas sampai kau memerah? Kau sakit, Vee?” tanya Alvaro seakan berpura-pura tidak mengetahuinya yang membuat langkah Olvee terhenti.
“Cukup panas, aku baik-baik saja, Alvaro. Aku akan berjalan-jalan di sekitar komplek untuk mencari inspirasi. Kau pulanglah lebih dulu.” Olvee berbicara tanpa menatap Alvaro, lantas kembali melanjutkan langkahnya.
“Vee, kau benar-benar baik-baik saja?” Kali ini Alvaro datang menghampiri Olvee dan menyentuh dahinya. Ia sepertinya memang tidak mengetahuinya jika Olvee malu berhadapan dengan Alvaro karena apa yang dipikirkannya.
“Aku baik-baik saja! Kau sebaiknya pulang!” seru Olvee sambil menepis tangan Alvaro dari wajahnya. Ia menatap sedikit tajam pada Alvaro sebelum akhirnya berjalan lebih cepat.
Namun, sejak Olvee berjalan, ia tak melihat mobil Alvaro melewatinya. Begitu ia menoleh ke belakang, Alvaro menjalankan mobilnya perlahan mengikuti dirinya. Olvee memilih mengabaikan adiknya dan pulang ke rumahnya tanpa jadi pergi berjalan-jalan.
“Lagi, lagi, lagi?” Evan menjentikan jarinya di depan wajah Alvaro yang melamun.
“Apa lagi kali ini?” tanya Evan malas sekaligus kesal setelah mendapatkan atensi Alvaro.
“Evan, apa kau tidak memiliki pekerjaan lagi? Apa pekerjaan yang aku berikan padamu kurang banyak? Kenapa kau selalu menggangguku?” Alvaro justru bertanya balik merasa kesal pada Evan.
“Aku sedang bekerja, tapi bosku itu tidak mendengarkan sama sekali dan asik melamun sejak aku berbicara.” Evan menyindir Alvaro.
“Apa yang kau butuhkan?” tanya Alvaro ketus.
“Kita akan segera memulai rapat, Tuan muda Marveen yang terhormat.” Evan menjawab sambil memperlihatkan jam yang melingkari pergelangan tangannya.
Alvaro mendengus dan mendelikkan matanya dari Evan. Namun, ia tak urung tetap berdiri dan mengikuti apa yang dikatakan sekretarisnya.
“Sebenarnya apa lagi yang mengganggumu? Apa Kak Vee tidak menunjukkan respon setelah ‘kerja kerasmu’ itu?” tanya Evan di tengah mereka berjalan. Melihat ekspresi wajah Alvaro yang terlihat jengkel dalam keterdiamannya, Evan sudah mendapatkan jawabannya.
“Sudah kuduga, Kak Vee itu adalah orang dewasa yang rasional untuk tidak mengencani adiknya sendiri.” Evan menertawakan kemalangan Alvaro.
“Diam kau!” seru Alvaro bertambah kesal.
“Aku sedang memikirkan kenapa ia kali ini lebih banyak menghindariku dan tidak berbicara padaku meski kami bertatapan dan bertemu setiap hari?” tanya Alvaro.
“Aku sama sekali tidak mengerti dia. Dia menyukaiku tapi tidak mengakuinya,” gumam Alvaro pada dirinya sendiri.
“Itu karena tekadnya,” jawab Evan.
“Entahlah, mungkin. Aku juga tidak tau,” timpal Alvaro sebelum mereka masuk ke dalam ruang rapat.
“Kau makan banyak,” komentar Zara pada Olvee yang mengunjungi restorannya di hari kerja seperti ini.
“Apa ada yang mengganggumu? Kau tidak bekerja hari ini?” Pertanyaan yang sama dengan yang ia dengar dari Alvaro, keluar dari mulut Zara.
Olvee tidak menjawab yang dikatakan Zara atau pertanyaannya. Ia hanya makan makanan yang dipesan banyak olehnya. Sedangkan Zara hanya memperhatikan Olvee yang makan dengan lahap. Hanya satu alasan kenapa Olvee makan begitu banyak. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Itu sudah menjadi kebiasaannya.
“Apa aku terlihat menyukai adikku sendiri?” Olvee akhirnya bersuara untuk bertanya setelah meneguk setengah jus apel miliknya sehabis makanan di semua piring pesanannya.
Zara tersedak minumannya sendiri dengan pertanyaan diluar ekspektasi yang baru keluar dari mulut Olvee. Mereka menarik beberapa perhatian pengunjung, termasuk pegawai Zara yang menatap khawatir pada bosnya.
“Jawab!” desak Olvee.
“Kau sudah membuatku tersedak dan mendorongku!” balas Zara ketus.
Setelah Zara selesai dengan minumannya dan mengendalikan kembali dirinya, ia menatap Olvee yang masih menunggu jawabannya. Ia sekarang merasa harus memberitahu sahabatnya.
“Apa kau menyukai Alvaro?” tanya Zara.
“Tidak,” jawab Olvee cepat.
“Apa?” Olvee menaikkan nada suaranya.
“Aku juga terus mengabaikannya akhir-akhir ini karena aku percaya kau tidak akan mungkin bersama Alvaro. Melihatmu menanyakan ini padaku pasti kau ingin memastikan. Aku memang sudah melihat perasaan itu untuk Alvaro. Begitu pun dengan Alvaro padamu.” Zara memberikan jawabannya setelah memperhatikan Olvee belakangan ini.
“Sebenarnya … aku juga tidak percaya di antara kalian yang memiliki hubungan darah bisa memiliki perasaan seperti itu. Tapi Vee, yang kulihat adalah dia memang benar menyukaimu bukan sebagai kakak saja. Meski begitu, kau sudah mengetahui apa hasilnya. Kau dan Alvaro tidak mungkin.” Olvee terdiam setelah mendengar semua yang dikatakan oleh Zara.
“Itulah yang aku pikirkan,” ucap Olvee sambil mengangguk sekali dengan lemah.
“Saranku adalah, lupakan sebelum itu semakin jauh.” Olvee lagi-lagi mengangguk setuju.
Zara benar, meski Alvaro berusaha sekuat apapun, ia pasti akan jatuh cinta juga pada akhirnya dengan Jihan yang berpura-pura membantunya. Pasti akan seperti itu. Ia akan melupakan Alvaro dan membiarkannya bersama Jihan. Ia tidak peduli dengan cara apa Jihan akan membuat Alvaro melupakan dirinya. Ia benar-benar tidak peduli.
“Sepertinya Alvaro dan Jihan hari ini berkencan lagi?” Suara Zara membuyarkan lamunan Olvee.
“Apa?” tanya Olvee. Zara menunjuk dengan dagunya ke belakang Olvee membuat ia menoleh dan mendapati Alvaro dan Jihan yang baru saja masuk ke dalam restoran.
“Hubungan mereka tampaknya sudah semakin dekat dan Alvaro juga berusaha melupakanmu.” Olvee berhenti menatap pada mereka dan kembali pada Zara.
Zara tidak tau saja, jika Alvaro melakukan itu untuk membuatnya cemburu dan menaklukan dirinya. Jihan dengan sukarela membantunya. Atau lebih tepatnya, berpura-pura membantunya untuk membuat Alvaro benar-benar melupakan dirinya. Memikirkan Alvaro suatu saat akan melupakannya membuat perasaan Olvee bercampur aduk. Antara sedih dan memaksakan diri untuk senang atas hal itu. Ia begitu tidak mengerti dengan semua perasaan rumit ini.
“Waahh, sepertinya mereka benar-benar mendapatkan kemajuan. Mereka sudah berani berciuman.” Ucapan Zara itu membuat Olvee kembali menoleh ke belakang untuk memastikannya sendiri.
Zara segera menyadari apa yang ia katakan dan menatap pada Olvee. Sedangkan Olvee menyudahi tontonannya dan kembali pada Zara.
“Hei, are you ok?” tanya Zara khawatir, melihat kedua netra Olvee yang berkaca-kaca.
“I'm ok,” jawab Olvee berkebalikan dengan keadaannya. Ia sudah meneteskan air matanya dan Olvee segera menghapusnya lagi dan lagi. Sekarang Olvee sama sekali tidak mengerti kenapa hanya dengan melihat itu membuatnya menangis.
“Aku harus pergi sekarang,” ucap Olvee kemudian beranjak dari duduknya dan pergi.
“Olvee!” seru Zara yang mengundang tatapan beberapa orang termasuk Alvaro dan Jihan yang berada tak jauh darinya.
Alvaro menatap ke arah Zara yang segera disadari olehnya. Setelahnya Alvaro menoleh ke arah pintu keluar dimana Olvee baru saja melewatinya. Ia meninggalkan Jihan begitu saja dan segera menyusul Olvee keluar.
“Baru saja dia mengangguk untuk melupakan Alvaro, tapi sekarang dia sakit hati karena cemburu. Apa mereka benar-benar adik dan kakak? Kenapa mereka seperti itu?” Zara hanya menonton saja tingkah mereka.
“Vee!” panggil Alvaro setengah berteriak pada Olvee yang baru saja masuk ke dalam mobilnya.
“Olvee! Olvee!” teriak Alvaro berusaha menyusul mobil Olvee yang sudah melaju meninggalkan restoran.
“Shit!” umpat Alvaro dan segera masuk kembali ke dalam restoran untuk mengambil kunci mobilnya. Pikirannya dipenuhi dengan Olvee dan pertanyaan apa yang sebenarnya terjadi sebelum ini.
To be continued