(Not) Mistake

(Not) Mistake
Bab 46 : Pertemuan Penuh Haru



“Bermainlah bersama kami lebih dulu maka kami akan melepaskanmu.”


“Dasar wanita sialan!”


“Bawa dia!”


“Pegangi dia, aku yang akan duluan.”


“Sial, wanita ini!”


Prang!


Ingatan-ingatan buruk itu menyeruak masuk di dalam tidur Olvee membuat wanita itu segera terbangun dari tidurnya. Ia membuka kedua matanya dan melirik ke sekitar ruangan, dimana bau obat-obatan menyeruak masuk. Rasa sakit di bahu serta kepalanya masih kalah jauh dengan rasa takut yang ditunjukkan degup jantungnya yang tak tenang. Dengan tubuh lemah dan rasa sakit yang ia rasakan, Olvee berusaha bangun dari tempat tidur.


“Vee!” Alvaro masuk dan bergegas mendekat pada ranjang Olvee untuk menghentikannya bergerak. Disusul oleh Dylan di belakangnya yang cukup terkejut sekaligus tenang, melihat Olvee sudah terbangun.


“Alvaro …” Mendengar suara pria itu, jantung Olvee yang berdegup sangat kencang karena ketakutan, berangsur-angsur tenang. Ia menangis dan memeluk tubuhnya.


Alvaro segera menenangkan Olvee dengan mengelus lembut surai panjangnya yang menutupi punggungnya. Beberapa kali mendaratkan kecupan lembut di puncak rambutnya. Tubuhnya yang gemetar akibat tangis, perlahan-lahan mulai membaik.


Sedangkan Dylan yang sejak tadi ada di ruangan dan menonton mereka, merasa dongkol dan iri pada posisi Alvaro. Egonya mengatakan untuk menjambak rambut Alvaro dan menariknya agar menjauh dari saudarinya. Namun, hatinya tidak membiarkan ia melakukan hal tersebut sebab kondisi saudarinya yang lebih penting dari egonya.


Tak bisa dipungkiri jika kehadiran Alvaro di sampingnya membuat Olvee menjadi lebih tenang. Sedangkan dirinya, walaupun keluarga kandungnya sekalipun belum tentu bisa membuat Olvee seperti itu. Olvee mungkin tetap akan menganggapnya asing meski sudah mengatakan bahwa ia adalah kakak kandungnya. Karena waktu yang mereka habiskan lebih lama darinya yang baru bertemu.


“Kau aman di sini, Vee.” Itu kalimat penenang bagai mantra yang diucapkan Alvaro pada Olvee.


Setelah merasa lebih tenang, Olvee mengurai pelukan mereka. Alvaro menghapus jejak-jejak air mata di wajahnya. Menyadari ada seseorang selain mereka, Olvee meliriknya sekilas dan kembali menatap pada Alvaro. Dylan berjalan mendekat karena tampaknya kehadirannya baru disadari Olvee. Alvaro mundur, sedikit menjaga jarak dari ranjang Olvee untuk membiarkan Dylan berdiri di sampingnya dekat dengan Olvee.


“Terima kasih sudah menyelamatkan saya saat saya dalam bahaya, Tuan.” Hati Dylan bergetar ketika mendengar suara sayu nan lembut milik Olvee. Rasanya ia ingin segera memeluk dan melepaskan segala rindu serta rasa bersalah yang dibawanya pada sang saudari.


Olvee memang tidak begitu melihat persis bagaimana wajah seseorang yang menyelamatkannya, tapi begitu melihat wajah pria ini, ia yakin karena wajahnya begitu tertanam di ingatannya. Entah untuk alasan apa, ia seperti bisa merasakan bagaimana hati orang ini. Pria yang terlihat dingin tak berbelas hati, tapi tampak begitu kesepian dan hampa. Olvee merasa sedih dan berempati padanya.


“Ya,” jawab Dylan menekan suaranya yang serak menahan tangis.


“Alvaro, bagaimana dengan keadaan anak kita?” Olvee teringat akan seseorang lain yang sudah menjadi bagian dari dirinya sejak beberapa minggu yang lalu.


“Dokter bilang, dia masih baik-baik saja karena ibunya bertahan dengan kuat.” Kabar yang dikatakan Alvaro membuat Olvee bernapas lega.


“Vee …” Alvaro memanggilnya lembut membuat Olvee menatapnya kembali.


“Iya?” jawab Olvee.


“Maaf aku meninggalkanmu cukup lama. Butuh waktu cukup lama untuk aku mencari, menemui, dan meyakinkan keluargamu untuk percaya padaku. Pria ini adalah keluarga kandungmu yang aku temui, Vee. Dia Kakak kembarmu.” Mendengar informasi tersebut, untuk sementara Olvee terdiam mencernanya.


“Namanya adalah Dylan Roxanne,” lanjut Alvaro.


Dylan menunggu harap-harap cemas reaksi Olvee yang masih saja diam. Ia takut jika Olvee tidak akan menerimanya dan membencinya karena dirinya baru menemukannya sekarang. Apalagi jika saat ia menceritakan kebenaran yang sebenarnya mengenai kebusukan keluarga bajingannya.


Olvee menunduk dan kembali meneteskan air matanya, kali ini tanpa bersuara isak tangis. Ia menutupi wajahnya dengan satu tangannya yang baik-baik saja. Alvaro kembali mendekat pada Olvee untuk sekedar mengelus punggungnya, menenangkannya.


“Setelah aku mengetahui jika aku bukan putri kandung mereka, kupikir aku tidak memiliki keluarga yang akan mengantarku ke altar pernikahan suatu saat.” Olvee berkata di tengah-tengah air matanya yang berderai.


Dylan tidak bisa lagi menahan keinginannya untuk memeluk Olvee. Ia mendekat dan mendekap erat tubuh Olvee tanpa menyakitinya. Tangisnya tumpah di atas puncak kepala Olvee bersamaan dengan semua perasaan yang ia miliki. Begitupun dengan Olvee yang tidak bisa menahan isak tangisnya sekali lagi.


“My dear sister, I miss you so much. Butuh waktu 27 tahun, maaf, maafkan kakakmu ini,” ucap Dylan tak menyembunyikan isak tangisnya.


“Miss you too, Brother.” Olvee membalas pelukannya tak kalah erat.


“Aku berjanji, akan menebus semua waktu yang tidak kita miliki selama ini. Memberikan semuanya termasuk nyawaku sendiri untukmu. Izinkan aku untuk melakukannya, saudariku.” Dylan mengurai pelukan mereka dan berkata penuh ambisi di depan Olvee.


“Cukup tetap menjadi keluargaku,” timpal Olvee.


Alvaro cukup terharu dan ikut bahagia dengan kebahagiaan yang ditemukan Olvee lewat keluarganya. Ia membiarkan Dylan menikmati waktu sepuasnya dengan Olvee karena pada akhirnya mereka akan menikah dan bersama. Mereka berpelukan kembali dan Olvee menangis lagi. Kali ini, Dylan yang menenangkan Olvee di dalam pelukannya dan memberikan kecupan manis miliknya. Alvaro merasa cukup terkejut dengan perubahan yang bisa dilakukan Dylan saat pertama kali mereka bertemu dan kemarin dengan hari ini.


“Vee …” Suara lain yang datang selain dari mereka bertiga membuat ketiganya menoleh.


“Kakak,” panggil Olvee pada Celine setelah melihat siapa gerangan orang yang datang.


Celine bergegas mendekat dan bergantian memeluk Olvee, menyingkirkan Dylan dan Alvaro yang berada di posisi kedua. “Adikku, betapa aku mencemaskanmu. Apa kau sudah baik-baik saja sekarang?” tanya Celine.


“Ya, aku sudah baik-baik saja bahkan jauh lebih baik karena aku mendapatkan kembali keluargaku.” Olvee tersenyum sambil menatap pada Dylan.


“Aku-”


“Aku minta maaf karena pergi tanpa memberitahu orang-orang rumah dan mengkhawatirkan kalian semua. Jujur saja aku sangat ketakutan saat Papa mengatakan akan menggugurkan kandunganku.” Mereka yang mendengarnya, tersentak secara serempak.


“Mama menelponku dan memintaku datang untuk menghentikan Papa. Vee, asal kau tahu, apapun yang menjadi kebahagiaanmu, aku akan selalu mendukungmu. Jangan khawatir jika kau merasa tidak memiliki pendukung atau keluarga. Aku juga tetap adalah keluargamu yang akan selalu memihakmu.” Olvee kembali memeluk Celine penuh haru.


“Terima kasih.” Celine mengangguk.


“Lalu, dimana Mama dan Papa sekarang?” tanya Olvee yang membuat mereka serempak terdiam.










To be continued