
Olvee memutar-mutar gelas berisi cairan berwarna putih beralkohol yang dipegangnya. Ia meneguk sesekali isinya dan kembali memutar gelasnya. Seharusnya ia memasang ekspresi wajah yang senang dan ceria di acara pertunangan adiknya. Namun, ia sama sekali tidak terlihat seperti orang yang turut bahagia atas hari bahagia adiknya.
“Hei girl, what are you doing here with your boo boo face?” Seseorang dengan sengaja menyenggol bahu Olvee kemudian merangkulnya akrab yang membuat Olvee terperanjat.
“Zara?” Olvee segera mengubah ekspresi wajahnya menjadi tersenyum lebar seraya memeluk sahabat karibnya itu.
“Seharusnya kau memasang wajah yang senang di hari bahagia adikmu. Bukan murung dan berdiam seorang diri seperti orang patah hati!" ujar Zara.
“Aku tidak patah hati! Aku hanya kesepian sejak tadi tidak ada yang menemani,” bantah Olvee.
“Benarkah?” tanya Zara dengan nada keraguan sambil memicingkan matanya.
“Tentu saja! Tidak ada gunanya patah hati,” jawab Olvee yang melirih di akhir kalimatnya.
“Padahal aku sama sekali tidak menyebutkan bahwa kau yang patah hati,” ucap Zara yang membuat Olvee menatap kesal padanya.
“Vee,” sapa seseorang dari arah belakang mereka berdua.
“Hai, Verald.” Olvee menyapa balik pria tinggi berwajah blasteran itu dengan senyum hangatnya.
“Lama tak berjumpa,” ucap Verald seraya memeluk Olvee.
“Lama tidak bertemu,” balas Olvee. Kemudian Verald bergantian memeluk Zara yang ada di sampingnya.
“Bagaimana kabarmu? Kupikir kau tidak akan datang,” tanya Zara.
“Aku baik-baik saja, seperti biasanya. Karena keluarga kami cukup dekat, tentu orang tuaku mengirimku kemari sebagai gantinya karena mereka tidak bisa datang.” Verald menjawab.
“Terima kasih karena sudah repot-repot datang ke acara ini, Verald.” Verald menggelengkan kepalanya. “Sebagai tali persahabatan yang erat,” timpalnya.
Diam-diam, di tengah interaksi antara Olvee, Zara, dan Verald, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan tatapan tidak suka. Terlebih ketika Olvee telah memeluknya dan menebar senyumnya sesekali di depan pria itu. Api kecemburuan membakar dirinya.
“Alvaro,” panggil suara ibunya.
“Iya, Ma?” sahut Alvaro seraya menoleh pada Flora.
“Jangan melamun seperti itu, cepat kenalkan Jihan pada kolega Papa dan kau juga.” Flora memberikan perintahnya yang mau tidak mau dituruti oleh Alvaro.
Sesekali ia terus menoleh memperhatikan Olvee yang masih saja asik mengobrol dengan putra keluarga Pero itu. Fokusnya sudah hilang dan hanya tertuju pada Olvee. Ingin sekali rasanya ia menarik Olvee dan menyeretnya untuk tetap berada di sampingnya.
“Vee, aku harus memberikan ucapan selamatku pada Alvaro dan Jihan. Sejak tadi datang, aku belum menyapanya.” Zara memotong pembicaraan mereka untuk berpamitan pergi.
“Kalau begitu aku juga akan ikut,” ucap Olvee mencegah kepergian Zara.
“Kau berbicaralah dengan Verald, atau Verald ikut bersama kami untuk menyapa Alvaro?” usul Zara.
“Tidak, aku sudah melakukannya. Aku hanya akan menikmati makanan ini,” jawabnya sambil menatap Olvee seolah mengatakan sesuatu melalui netranya.
“Vee, sebaiknya-”
“Tidak ada lagi yang akan kami bicarakan, jadi ayo pergi.” Olvee segera memotong ucapan Zara dan menyeret sahabatnya itu pergi.
Melalui tatapannya, Zara mengatakan kenapa seperti ini. Namun, Olvee menggelengkan kepalanya tanda tak setuju.
“Sepertinya Tuan muda Pero itu menyukaimu. Kenapa kau acuhkan dia?” tanya Zara tak mengerti.
“Aku hanya … tidak suka saja,” jawab Olvee bergumam.
“Aku meragukannya,” ucap Zara tanpa menatap Olvee.
Sikap diam Olvee ketika membicarakan Verald, tentu membuat kecurigaan jika sahabatnya ini menyukai Verald. Namun, pada kenyataannya, ia menghindari Verald karena ia memang tidak menyukainya. Ia tidak sebodoh itu untuk mengetahui jika Verald menyukainya. Tanpa sadar, hatinya sudah menyukai Alvaro. Adiknya.
“Zara,” sapa Flora yang pertama kalinya menyadari kehadiran Zara.
“Tante, Om.” Zara segera memeluk keduanya bergantian. Sahabat karib Olvee ini sudah mendapatkan perlakuan setara dengan anak-anak dari Zahir dan Flora.
“Anak kecil yang dulunya menangis hanya karena coklatnya diambil, akan segera menikah sekarang.” Zara bergantian memeluk Alvaro dan Jihan yang tampak serasi dengan pakaian mereka.
“Celine … ” Alvaro berkata dengan nada memperingati pada sang kakak.
“Lihatlah dia yang malu di depan Jihan,” ujar Flora yang ikut menggoda Alvaro.
“Selamat, ya, Alvaro, Jihan. Aku tidak menyangka kau gadis yang mendapatkan hati dingin pria ini." Tanpa diperintah, pipi Jihan bersemu merah, mendengar apa yang dikatakan oleh Zara.
Alvaro tak urung membalas perkataan Zara. Dalam diam, Olvee memperhatikan interaksi mereka. Tanpa sadar mendambakan hal yang sama dengan Jihan. Olvee menggelengkan kepalanya karena dengan lancang otaknya mendambakan sesuatu yang tidak seharusnya.
“Kulihat kau terlihat senang dengan si Tuan muda Pero, Vee.” Suara bernada dingin Alvaro terdengar tepat di depan telinga Olvee membuat tanpa sadar Olvee bergidik ngeri.
“Apa urusanmu?” tanya Olvee tak acuh, seperti biasanya mengandalkan poker face.
“Ma, Pa, Vee pulang duluan karena merasa tidak enak badan.” Olvee beralih pada kedua orang tuanya untuk berpamitan.
Di tempat ramai yang banyak orang ini sama sekali bukan kesukaan Olvee. Ia adalah seseorang yang cenderung introvert. Ditambah dengan melihat Alvaro dan Jihan yang membuat hatinya tidak nyaman.
“Bisakah Zara juga ikut denganku?” tanya Olvee kemudian.
“Tentu, Sayang. Beristirahatlah dan minta Bi Minah nanti untuk membuat bubur.” Flora berkata dengan nada kecemasannnya.
“Iya, Ma.” Olvee berlalu pergi bersama Zara begitu selesai dengan pembicaraannya.
Namun, sebelum ia sempat keluar, seseorang datang ke antara mereka. Bersama seorang wanita paruh baya di sampingnya yang sudah memperhatikan sekitarnya, seolah menilai dekorasi pesta. Wajah angkuh dan tatapan menilai yang terpasang di wajah paruh baya pria tersebut membuat siapapun bisa menebak siapa orang yang begitu mirip dengan Zahir ini.
Wajah keluarga Marveen ketika melihat kehadiran dua orang tersebut adalah terkejut karena tidak menyangka. Seseorang yang sudah membuang keluarga Zahir itu, hadir di pesta yang diadakan oleh putranya. Bercampur dengan sebuah kebencian dan ketidaksukaan pada keduanya. Tak terkecuali dengan Olvee yang lebih didominasi oleh ketakutan ketika melihat orang yang dipanggil oma dan opanya ini.
“Ada urusan apa Anda kemari, Tuan besar Marveen yang terhormat?” Zahir maju dan bertanya langsung pada ayah sekaligus kepala keluarga besar Marveen. Keluarga yang sudah membuangnya beberapa tahun silam.
“Ada pesta kecil yang diadakan oleh putraku untuk pertunangan cucuku, mana mungkin aku tidak datang?” Nada bicaranya masih tetap sama angkuhnya seperti tahun ketika Zahir sudah muak dengan semuanya.
“Seharusnya kau bisa membuat pesta yang lebih besar dan megah daripada ini jika kau tidak meninggalkan keluarga Marveen, Zahir.” Laila Marveen memberikan komentarnya.
“Alvaro, kau adalah penerusku juga. Aku sudah pasti lebih bisa mencarikanmu seorang gadis yang lebih setara denganmu, Nak.” Kenar Marveen berkata pada Alvaro sambil melirik ke arah gadis yang ketakutan di samping Alvaro, dengan tatapan mengintimidasi.
“Tuan besar Marveen, apa maksud dari perkataan merendahkan Anda?” Tuan Handreson, ayah dari Jihan berkata tegas karena tidak bisa menerima penghinaan tersebut.
“Sebaiknya Anda keluar karena Anda tidak diundang, Tuan besar Marveen.” Zahir mengusir ayahnya sebelum pria paruh itu semakin membuat kekacauan.
“Aku juga sudah tidak sudi di pesta kecil yang tidak ada apa-apanya ini lebih lama lagi.” Kenar segera berniat untuk pergi bersama istrinya yang tidak mengatakan apapun selain memasang wajah angkuhnya.
“Ayo pergi, Laila," ajak Kenar.
“Kau putri palsu keluarga Marveen.” Laila menghentikan langkahnya ketika hendak melewati Olvee yang berdiri mematung di tempatnya.
“Sekeras apapun kau bertindak seperti putri keluargaku, kau tidak akan bisa menjadi putri asli keluarga Marveen. Camkan itu." Laila berbisik di depan telinga Olvee yang membuat sekujur tubuhnya semakin menggigil ketakutan.
To be continued