
...Tidak banyak keinginan wanita...
...Yang dimabuk cinta,...
...Dia hanya ingin satu darimu...
...Yaitu kepastian....
~Jangan lupa saling menghargai😉
...🌹🌹🌹🌹...
Suara tamparan mengalihkan perhatian pengunjung restoran. Tara tak menyangka Ziro melakukannya, selama ini dia tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar dari sang ayah. Bahkan sejail jailnya Dirgo tidak pernah berani menyentuhnya sedikitpun.
Dan sekarang Ziro menamparnya?.
BBUUKK
BBUUKK
BBUUKK
Hantaman dan tinjuan Dirgo layangkan tepat dibeberapa titik tubuh Ziro. Amarahnya sudah memuncak melihat sang adik ditampar didepan umum. Emosi Dirgo kali ini tak terkrndali, bahkan Ratih dan Fariz tak bisa menghentikan pergerakan Dirgo yang terus menyerang.
Ziro sama sekali tidak melawan. Dia menerima setiap pukulan sengit Dirgo. Indira mulai terisak dipelukan Aryo, sebagai seorang ibu dia tak kuasa melihat anaknya dihajar.Sampai kedua satpam melerai barulah Dirgo berhenti, tapi tidak dengan tatapan kemurkaannya.
Mereka hanya sibuk melerai keduanya sampai tak tahu kemana Tara pergi.Ratih mulai khawatir akan keadaan putrinya.
Sebenarnya Fariz menahan amarahnya, jika bukan tempat umum mungkin Ziro sudah habis ditangannya. Biarlah Dirgo menjadi tangannya saat ini.
"Saya benar benar kecewa sama putra mu Ar," ujar Fariz. Aryo tidak bisa berkata apa apa lagi, dia juga sangat kecewa dengan tindakan Ziro.
"Ini belum seberapa brengsek!!!," teriak Dirgo saat ditarik Faris dan Ratih menjauhi kerumunan. Ziro dengan santai menjilat darah yang mengalir disudut bibirnya.Aryo pun menggandeng Indira untuk pergi meninggalkan Ziro yang masih menatap Dirgo dari kejauhan.
Didalam mobil Fariz dan Ratih panik menghubungi nomor Tara. Tak ada jawaban dari putrinya.
"Ayah dimana Tara sekarang," isak Ratih.
"Tenang ya bun. Dirgo juga berusaha cari, kita terus hubungi Tara siapa tahu diangkat."
"Pasti sakit yah hikkss..."
"Tara putri ayah yang kuat bun____hanya tamparan tidak akan membuatnya bunuh diri kan??," hibur Fariz mencoba menenangkan istrinya.
"Ayahh bunda serius!!!."
"Ayah juga serius bunda."
Tara berjalan lunglai memyusuri koridor yang cukup sepi. Setelah menaiki lift dia berjalan menuju kamar paling pojok. Terlihat dua pria berhodie sedang mengotak atik pintu.
"Kalian sedang apa?."
Kedua pria berhodie terlonjak kaget, membuat Tara curiga apa yang akan dilakukan pria didepannya.
"Kalian pencuri??."
Dua orang itu langsung menubruk Tara dan berlari lewat tangga darurat. Hendak Tara memgejar tapi suara pintu terbuka dan menghentikan langkahnya.
"Tara?."
Suara ini yang ingin didengar Tara. Hatinya menjadi tenang memandang wajah damai Zehn. Tara mendekat dan memeluk Zehn erat.
"Jangan dilepas. Sebentar saja!!!."
Zehn bingung kenapa Tara kesini malam malam dan tiba tiba memeluknya. Ada rasa khawatir saat tubuh Tara mulai bergetar.
Zehn tahu situasi Tara sekarang tidak butuh pertanyaan. Dia hanya butuh sandaran untuk didengar.
"Kita kedalam dulu yah!?," Tara mengangguk mendahului Zehn masuk kedalam.
Dilain tempat kedua pria berhodie itu mencoba menjelaskan kronologi rencananya yang gagal.
"Maaf bos__kalau saja tidak ada perempuan tadi mungkin kita sudah berhasil."
"Dasar nggak berguna!!!," ucap dingin Jez.
BBRAAKK
Pintu terbuka menampakkan sosok Ziro dengan muka babak belur.
"Wajah lo kenapa bro?."
"Jez kumpulkan semua anak buah Heroz!!!."
"A..ada apa Ro??," tanya khawatir Jez. Pasalnya Ziro tidak pernah mengumpulkan semua pasukan Heroz terkecuali dalam kondisi sangat sangat genting.
"Sekarang Jez!!!!."
Jez tak lagi bertanya dan segera mendial nomor penjuru geng Heroz.
🌹🌹🌹🌹
"Minum dulu Tar!!!."
"Kak," panggil Tara pelan. Zehn baru menyadari bekas merah dipipi Tara, bukannya bertanya Zehn beranjak kearah dapur. Tara hanya memgamati pergerakan Zehn.
Zehn kembali membawa baskom berisi air dingin dan sapu tangan. " Kalau mau bicara___bicara aja!!!."
Zehn duduk disamping Tara. Sangat dekat bekas tamparan itu terlihat jelas dimata Zehn. Dia sudah menduga bahwa ini bekas tamparan. "Kalau sakit bilang aja!!."
"Tara nggak apa apa kok kak," cegah Tara saat tangan Zehn hendak mengompres pipinya.
"Nanti tambah membiru warnanya Tar!!."
"Kelihatan jelas ya kak?," tanya Tara ragu. Dia takut Zehn akan bertanya siapa yang melakukan ini.
"Nggak akan kelihatan kalau udah dikompres."
"Ahh.. iya," Tara melepas tangannya dan membiarkan Zehn mengobati.
Keadaan hening. Tara sibuk dengan pikirannya. Apa yang akan dijawab jika Zehn bertanya apa yang terjadi. Sedangkan Zehn memutar logikanya siapa yang berani melakukan ini pada Tara.
"Sakit??."
Tara menggeleng, tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.
"Kak Zehn kenapa nggak tanya keadaan Tara?," ceplos Tara mengembangkan senyum dibibir Zehn.
"Karena gue udah tahu keadaan lo!!!."
"Kak Zehn tahu kalau..."
"Tara habis ditamparkan?," lanjut Zehn saat Tara tak lagi melanjutkan ucapannya.
Mereka berdua beradu pandang. Tak ada suara yang keluar. Tara ingin mengadukan semuanya, tapi dia tidak sanggup jika melihat reaksi Zehn. Dia tahu Zehn dan Ziro tidak mempunyai hubungan baik lagi.
"Orang tua lo tahu kalau lo disini??," lagi lagi Tara menggeleng.
"Seenggaknya beri kabar supaya mereka nggak khawatir."
Tara menurut lalu mengetikkan beberapa kata digawainya dan mengirim pada bundanya. Hatinya jadi lebih tenang sekarang.
"Kak!?."
"Apa?."
"Tara boleh tidur dipangkuan kak Zehn?," tanya Tara terlalu polos. Zehn terkikik melihat wajah Tara.
Hikkss bikin malu gue aja lo tar
"Boleh sini!!!," ujar Zehn menepuk pahanya. Tara menidurkan kepalanya dipangkuan Zehn. Dia senang bisa sedekat ini dengan kakak ganteng yang sudah memikat hatinya.
"Kenapa kak Zehn nggak tanya siapa yang nampar Tara?."
Pertanyaan yang ingin Tara hindari, eh malah keluar dari mulutnya sendiri. Astaga Tara!!!.
"Siapa yang berani tampar anaknya pak TNI ini ha?," ucap Zehn sambil mengelus rambut Tara.
"Tangan kakak kayak ayah. Bikin Tara ngantuk!!!."
"Dasar anak kecil!!!."
"Kenapa nggak dijawab?."
"Jangan sekarang kak Tara ngantuk ," Zehn hanya terkekeh.
Ting
Om Fariz : Zehn nanti om jemput ya kalau Tara sudah tenang
Iya om. Sebentar lagi Tara sudah tidur.
Om Fariz : Terima kasih Zehn sudah mau direpotkan anak om.
Sama sekali tidak om.
Percakapan Zehn melalui Chat tidak mengganggu Tara yang sudah kealam mimpi. Malam ini membuatnya lelah sekaligus senang bisa santai bersama orang yang dia sayang. Bahkan lebih.
Dengkuran halus terdengar ditelinga Zehn. Tanpa Tara ketahui Zehn perlahan mengelus pipi bekas tamparan Ziro. Dan mengamati lamat lamat wajah cantik Tara. Mungkin saja Zehn berniat menanyakan langsung ke Fariz, dia juga ingin tahu siapa yang berani menampar gadis polos dan secantik Tara.
Bulan terukir dipipi Zehn, memperhatikan Tara dari jarak sedekat ini membuatnya mengenali sosok kecil yang pernah ia temui.
Saat ini bascamp Heroz dipenuhi para pria berhodie dengan tulisan Heroz dibelakang punggung. Ziro, Jez , Adit dan Aditya memimpin didepan. Rapat ini diadakan secara mendadak. Bahkan banyak yang berbisik bisik bahwa si boss sekarang dalam keadaan marah besar.
"Jez!!!___Ziro kenapa??," bisik Adit.
"Nggak tahu."
"Kok bisa nggak tahu. Dari tadi yang dibascamp kan cuma lo!!," sahut Aditya.
"Ziro datang datang udah suruh gue kumpulin mereka semua."
"Gue jadi ngeri lihat muka Ziro kek gitu. Siapa ya yang berani ngehajar leader geng Heroz??."
"Bisa diam nggak dit!!??."
Keadaan menjadi tegang saat Ziro mulai berbicara. Tatapan dan suaranya begitu mencekam bazcamp serba hitam ini. Mungkin akan terjadi perang ketiga antara geng Heroz dan nama geng yang baru didengar Ziro dari informannya.Antek antek geng Heros melebihi 20 orang. Lebih dari cukup untuk melakukan penyerangan.
"Ziro lo yakin sama rencana lo kali ini??," tanya Jez.
"Kalau gue nggak yakin nggak bakal gue kumpulin mereka semua disini!!!."
Ting Tong
Suara bel apartemen Zehn berbunyi. Dengan hati hati Zehn menurunkan kepala Tara dari pangkuannya.
"Silahkan masuk Om tante!!!."
" Iya nak," sahut Fariz masuk diikuti Ratih dan Zehn. Melihat putrinya tertidur lelap membuat tenang kedua orang tua Tara.
"Dia bilang apa aja sama kamu??."
"Nggak bilang apa apa kok tante," sahut Zehn tersenyum ramah.
"Kamu yang obatin Tara?," tanya Fariz melihat baskom berisi es bekas mengompres Tara tadi. Senyum dari sepasang suami istri itu melebar.
' Semoga anak ayah selalu bahagia dengan pilihannya sendiri '
"Iya om!!."
"Terimakasih banyak ya nak Zehn. Maaf sudah merepotkan!."
"Jangan seperti itu tante. Saya sudah menganggap Tara sebagai adik Zehn sendiri," Ratih dan Fariz saling tatap. " Yakin cuma sebagai adik Zehn??."
"I..iya kok om," gagap Zehn menggaruk tengkuknya.
"Iya iya om percaya."
"Lebih dari itu juga bunda setuju kok," sahut Ratih yang disambung kekehan Fariz. Zehn ikut tersenyum canggung.Padahal obrolan mereka cukup keras tapi tak membuat Tara terbangun dari tidurnya.
"Oh ya maaf om saya boleh tanya sesuatu?."
"Tanya apa Zehn?."
"Maaf kalau sedikit lancang tapi, apa boleh saya tahu siapa yang lakuin ini ke Tara?."
🌹🌹🌹🌹
DAHLAH:(