
~Jangan lupa saling menghargai😉
🌹🌹🌹
Terik panas matahari tak menghalangi para murid kelas sepuluh Ipa empat untuk bermain beberapa permainan di lapangan. Tepat pukul dua belas hari Rabu adalah waktu pelajaran olahraga di kelas Tara. Waktu yang tidak tepat untuk pelajaran ini, bagaimana bisa semangat jika waktunya saja sudah membuat keringat becucuran lebih dulu sebelum pelajaran dimulai.
"Males banget gue kalau disuruh main voli panas panas kayak gini lagi," keluh Anna berjalan bersama Tara dan Saniya menuju lapangan khusus untuk Voli.
"Ya mau gimana lagi An? Udah jadi nasib kelas kita."
"Iya sih Tar. Tapi gue seneng bisa main bareng bareng kayak gini. Udah lama banget gue nggak ngerasain olahraga rame rame."
"Emang udah berapa lama lo nggak sekolah San?."
"Baru setahun sih An."
"Jadi lo lebih tua dari kita ya!?."
"Iya sih."
"San!."
"Apa Tar?."
"Lo yakin mau ikut olahraga!?."
"Yakin lah, emang kenapa sih?."
"Tara itu khawatir sama lo San. Kalau lo kenapa napa gimana?."
"Iya, lo kan habis sakit."
"Ya ampun gaes santai aja kali. Gue udah sehat kok."
"Kalau capek istirahat aja ya San. Jangan dipaksa!."
"Iya Tara. Siap laksanakan!," sahut Saniya memeluk Tara dari samping.
Sesampainya dilapangan Voli, para cewek membagi dua kelompok. Sedangkan para cowok bermain basket di lapangan yang berbeda.
"Yah kita nggak se regu," ujar Tara menatap Anna dan Saniya bergantian.
"Tenang aja Tar karena regu gue yang bakal menang, ya nggak San."
"Jahat lo An," sahut Tara mencebikkan bibir membuat kedua temannya terkekeh.
"Yaudah sono pergi sama regu lo!."
"Iya-iya," Tara beranjak dengan kaki yang dihentak hentakkan.
Permainan cukup panas ditambah cuaca yang semakin terik. Matahari tepat berada diatas mereka. Keringat bercucuran tak bisa menghentikan para ciwi ciwi bertarung di area.
"Woy Tar yang kenceng dong kalau mukul!!," teriak Cindy, teman satu regu Tara.
"Iya sorry," sahut Tara sedikit dongkol. Padahal tenaganya sudah cukup kuat, tapi selalu gagal melewati ring.
Dari kejauhan Zehn tak sengaja melihat sosok Tara yang sedang asyik bermain Volly dengan yang lain. Bibirnya terangkat membentuk senyuman, menatap gadisnya dari jauh saja sudah membuat hatinya berdegup kencang.
Rambut Tara yang dikuncir kuda dengan tubuh yang dibasahi keringat membuat Zehn sedikit khawatir. Pasalnya banyak para cowok dari kelas lain yang juga berolahraga sedang memperhatikan kelas Tara.
"Woy, ayok. Keburu pak Huda masuk kelas nih!," ujar Gio selaku teman dekat Zehn dikelas.
"Lo aja yang antar ke pak Huda, gue masih ada urusan!," sahut Zehn menyerahkan beberapa buku tugas ke Gio.
"Lah kok malah gue? Yang disuruh kan lo Zehn, urusan apa sih emang!?."
"Udah sono gih, cepet!!," sahut Zehn mendorong Gio agar cepat pergi dari hadapannya.
Zehn kembali mengamati Tara dari kejauhan. Dan sekian detik Zehn dibuat terkejut saat bola yang dipukul Tara tepat menghantam kepala Saniya. Dengan langkah lebar Zehn berlari mendekati kerumunan para cewek.
"Gu..gue ngg..nggak sengaja," lirih Tara gemetar menatap Saniya yang tergeletak.
"Permisi...permisi.."
Raut wajah Zehn sangat panik. Tanpa perintah, segera dia menggendong Saniya ala bridge style. Sebelum benar benar pergi, tatapan Zehn dan Tara bertemu. Seakan akan Tara mengatakan 'aku nggak sengaja Zehn'. Gelengan kepala Tara sudah tak bisa dilihat Zehn yang sudah pergi membawa Saniya.
Entah kenapa tubuh Tara serasa lemas, tubuhnya luruh ke tanah dengan rasa sakit didadanya. Anna mengelus punggung Tara seakan akan berkata 'tidak apa apa'.
"Gue takut An," lirih Tara.
"Lo nggak sengaja Tar."
Netranya memandang punggung lebar yang semakin menjauh. Dadanya kembali sakit seperti ditusuk jarum, melihat sosok itu yang semakin hilang dari pandangannya.
"Gue nggak sengaja An."
"Iya lo nggak sengaja Tar," sahut Anna memeluk Tara yang semakin begetar.
🌹🌹🌹🌹
Di depan ruangan pintu warna hijau kini Dirgo berdiri. Jangan ditanyakan lagi tubuhnya yang sudah gemetar. Rapalan doa terus dia keluarkan, rasa rasanya sudah tidak enak lagi jika dirinya dipanggil ke ruangan ayahnya sendiri. Padahal fase hukumannya juga belum berakhir.
"Kenapa jadi nggak enak banget perasaan gue. Tumben banget ayah panggil gue kesini," monolog Dirgo.
"Masuk nggak ya!?."
"Masuk!!!."
Dirgo melototkan matanya saat suara dari dalam mengintrupsi.
"Woahh ada kamera cctv nya apa yak, tahu aja kalau gue didepan," ujarnya mengamati langit langit sekitar.
Ceklek
"Eh ayah apa kabar yah!?," cengir Dirgo saat sang ayah membuka pintu.
"Masuk!!."
Glek
Susah payah Dirgo menelan salivanya. Aura Fariz membuat bulu kuduknya meremang.
'Gila, ini bokap gue atau bukan ya? Galak banget, padahal anaknya imut imut kek gini turunan siapa coba? Jangan jangan gue anak pungut lagi?.'
Batin Dirgo yang masih terdiam di ambang pintu.
"Ekhhmm..."
Dirgi terperanjat, segera menutup pintu lalu duduk di kursi depan ayahnya.
"A..ada apa ayah panggil Dirgo kesini!?."
"Skripsi kamu sudah selesai!?."
'Ngapain ayah tanya skripsi gue?.'
"Hm!?."
"Ah itu kurang sedikit kok yah habis ini juga selesai," ujar Dirgo se yakin mungkin.
'Boro boro mau selesai, cari bahannya aja belum.'
Fariz manggut manggut masih dengan wajah serius.
"Umur kamu sekarang berapa!?."
"Hah? Em.. bulan depan udah dua puluh tiga yah."
"Sudah cukup!."
"Maksudnya cukup!?."
"Cukup untuk ayah jodohkan!."
"APA AYAH BILANG!?."
Dirgo spontan berdiri dengan mata melotot juga mulut menganga. Menatap Fariz tak percaya.
"Duduk!!!."
"Yah, please dong jangan jodoh jodohin Dirgo. Dulu ayah janji nggak bakal bahas soal perjodohan!," keluh Dirgo kembali duduk.
"Itu dulu, bukan sekarang!."
"Tapi kan-"
"Nggak ada bantahan!!!."
"Ini-."
Fariz mengeluarkan foto kecil dari sakunya, menyerahkannya pada Dirgo.
"Itu calon tunangan kamu."
Lagi lagi Dirgo dibuat sport jantung sampai mata nya ingin keluar dari tempat.
"BOCIL SETAN!?."
🌹🌹🌹🌹
Sampai sepulang sekolah Tara tidak berani menunjukkan diri dihadapan Zehn. Setelah kejadian tadi sepertinya Zehn membawa Saniya pulang. Dan sampai saat ini dirinya seperti orang gila, lontang lantung dipinggir jalan. Sialnya abang Dirgo juga tidak bisa menjemput.
Keadaan yang rumit membuatnya ingin berjalan, entah kemana langkah kaki membawa. Tara mempercepat langkahnya saat inderanya menangkap sebuah taman yang tak jauh.
Tara duduk di salah satu bangku taman, suasana cukup ramai sore hari ini. Mengingat kejadian tadi membuat rasa bersalah semakin menggerogoti hatinya, meski ada sedikit rasa aneh melihat Zehn menggendong Saniya.
"Gue bingung sama perasaan lo Zehn," gumam Tara menatap layar hpnya yang sudah berganti foto Zehn.
"Kakak cantik kenapa sedih!?," ujar anak laki laki berwajah kebule bulean.
"Kakak nggak sedih kok," sahut Tara mengulas senyum memperlihatkan lesung pipinya.
"Kakak kok punya foto kakak aku?," tanyanya saat tak sengaja melihat foto walpaper Tara.
"Kakak pacalnya kakak aku ya!?."
Alis tara menyatu, entah apa maksud anak kecil yang berusia sekitar lima tahun ini.
"Maksudnya!?."
"Iya dia kakak aku," tunjuknya kearah layar genggam milik Tara. Semakin dibuat bingung dengan celotehan tidak jelas, Tara hanya tersenyum mengangguk.
"Jadi benel kakak cantik pacalnya kakak aku?."
"Ihh kamu itu masih kecil kok udah tahu soal pacar sih, hm?," gemas Tara mencubit pipi cabi bocah kecil yang sudah duduk disampingnya.
"Oh ya kamu kok sendirian?."
"Aku sama kakak tapi lagi beli es klim disana!."
Tara mengikuti arah telunjuk yang mengarah ke kerumunan orang.
"Nama kamu siapa?."
"Nama aku Pen kak."
"Nama kakak Tara. Emm Pen kakak lihat lihat muka kamu kok campuran ya?," tanya Tara sedikit kikuk.
"Iya kak, aku dali Jelman. Papa aku olang jelman kalau mama olang indonesia."
"Oohh pantesan. Terus sekarang di Indonesia menetap?."
"Nggak tahu deh kak," sahut pen dengan gelengan kepala.
"Emm kamu kakak tinggal sendiri berani kan?. Soalnya udah sore kak Tara harus pulang."
"Belani dong kak."
"Ya udah kak Tara pulang dulu ya!."
"Eh kak.. nggak mau ketemu sama kakak aku dulu?."
"Kapan kapan kalau ketemu lagi. Bye Pen!!!"
"Bye kakak cantik," sahut pen melambaikan tangan ke arah Tara yang mulai menjauh.
"Wo schaust du hin pen?," ujar seorang cowok dengan dua es kriem di tangannya.
'Lihat apa pen?.'
"ja Bruder spät."
'Yah kakak telat.'
"spät warum?."
'Telat kenapa?.'
"Die neue Freundin des Bruders ist gegangen."
'Pacar kakak baru pergi'
"Freundin!?."
'Pacar!?.'
🌹🌹🌹
HOLA HOLAAA👋
Maap gaes agak telat Up nya🙏
Jangan lupa Vote yaaa, hari seninnn double up jika syarat terpenuhi
NAMBAH TIGA VOTE, LANJUUUTTTT!!!
...JANGAN LUPA SPAM KOMEN...
...LIKE...
...VOTE...
...POOIINNN...
...SEE YOU NEXT CHAP...
...LOVE YOU ALL GAESS😘...
...Ini visual ayah Tara kalau lagi pakai Jaz yaa😉...
...Entah cocok atau tidak sama ekspetasi kalian, agak sulit sih cari yang pakai baju tentara....
...Ini Visualnya Jez ya gaes, semoga sukaaa😊
...
...Mau visualnya siapa lagi, hm?...