
...Cemburunya seorang wanita itu...
...Bisa melebihi rasa cintanya....
...🌹🌹🌹...
Tidak hanya berdiam diri, Ziro bangkit dan membalas pukulan Zehn tak kalah kuat. Zehn tersungkur kelantai , pukulan Ziro yang begitu kuat membuat sudut bibirnya robek dan mengeluarkan cairan merah. Suasana sekitar menjadi hening jika leadar geng Heroz mulai berulah.
"Makhsud lo apa hah!??," tanya Ziro mencengkram kerah Zehn.
"Dasar ba**ngan lo!!!."
BBUGGHH
BBUGGHH
BBUGGHH
Beberapa pukulan, hantaman, tendangan, Zehn layangkan bertubi tubi membuat Ziro kewalahan. Selama ini Zehn tidak pernah membabi buta jika melawannya, bahkan Zehn hampir tidak pernah melawan jika Ziro mengajaknya duel.
"Zehn berhenti!!!," teriak Saniya.
Pukulan yang hendak dilayangkan Zehn terhenti tepat didepan wajah Ziro. Rahangnya mengeras menatap smirk diwajah Ziro.
Yah mereka semua melihatnya, terutama Saniya dan empat semprul. Wajah panik Tara dan Saniya begitu kental. Keduanya kembali panik saat Zehn akan melempar kursi kearah Ziro, sampai Tara dengan cepat menahan kedua tangan Zehn. Netra Zehn yang memerah penuh amarah membuat Tara yakin sesuatu itu telah diketahui.
"Jangan, Zehn!."
Tara menggeleng pelan, tak kuat lagi membendung pertahanannya sedari tadi. Cairan bening itu lolos membasahi pipi mungilnya.
"Ini bukan Zehn yang Tara kenal," lanjut Tara mengambil alih kursi dan segera Gery ambil alih dari tangan Tara.
Saniya syok melihat kedua sahabatnya kembali beradu tinju. Memory yang pernah dia lupakan kembali berputar cepat bagai kaset yang rusak. Isaknya mulai terdengar ditelinga Ziro yang tak jauh darinya.
Tatapan mata Saniya membuat ulu hatinya kembali perih. Tak ingin dia melihat Saniya menumpahkan air matanya, Ziro mendekat dan membawa Saniya kedalam pelukannya. Tidak ada perlawanan sedikit pun dari Saniya meski pelukan itu tidak dibalasnya.
"Maaf, Zehn pasti lagi kerasukan kayak dulu ja___"
"Nggak usah ngarang, nggak lucu!!!," potong Saniya melepaskan pelukan Ziro, menghapus air matanya kasar.
"Ada apa lagi hah?, Zehn nggak mungkin semarah itu kalau lo nggak bikin masalah!," marah sudah jika Saniya menggunakan kata 'Lo' 'Gue'.
Zehn kembali mendekati mereka berdua, mengambil tangan Saniya dalam genggamannya.
"Jangan kamu dekat dekat sama cowok kasar kayak dia San!!!."
Setelah mengucapkan beberapa kata Zehn membawa Saniya pergi, sebelum itu dia juga mengajak Tara untuk mengikutinya. Tapi tidak, Tara tetap diam ditempat menatap keduanya yang kian menjauh.
"Masalah apapun itu, lo masih aja ingat sama dia Zehn!," lirihnya.
Seperti benda tajam menusuk kedalam dadanya, sakit. Saat melihat tangan itu lebih menggenggam tangan lain dari pada dirinya.
"Tar, gue tau kok perasaan lo!," ujar Chika menepuk bahu Tara.
"Sabar ya, cinta itu memang rumit," sahut Gery mendapat tatapan tajam dari Chika dan Maya.
"Salah ya kalau gue nggak suka lihat mereka berdua dekat?."
"Lo nggak salah Tara. Itu wajar kok!!."
"Lo cuma lagi cemburu aja," lanjut Maya.
Ziro menatap Tara penuh kebencian, kilatan amarahnya semakin memuncak mengingat kejadian di restoran waktu itu. Jika saja Tara tak selancang itu, mungkin Ziro tidak sebenci ini.
"Semua ini gara gara lo tau nggak!!!!."
"Kalau nggak tahu apa apa tuh jangan sok bicara!!!," lanjut Ziro menunjuk nunjuk Tara yang mulai ketakutan.
"Heeh dasar iblis!!!, bisa bisanya ya lo bicara kasar sama sahabat gue!?. Sini kalau berani lawan gue aja, dasar beraninya cuma sama cewek!. Banci lo!!!."
Makian Chika membuat semua yang ada disana melongo. Bagaimana tidak?, baru kali ini didepan umum si leader Heroz yang paling ditakuti terkena makian dari murid kemarin sore?. Sungguh nyali Chika berkali kali lipat.
Tangan Ziro mengepal, rahang nya tercetak jelas menandakan amarahnya yang sudah dipuncak. Kepalan tangan sudah hendak dilayangkannya, tapi dengan segera Jez menahannya.
"Nggak kayak gini bro, banyak yang lihat!!!," ujar Jez.
"Lo kira gue takut sama cewek!?. Sama sekali nggak!!."
Setelah mengatakan itu, Ziro and the gengs beranjak meninggalkan kantin. Sedangkan Chika sudah melemparkan semua barang yang dilihatnya kesembarang arah, Gery hanya melompat lompat tak jelas sambil mengumpati kelakuan orang yang dikiranya bak malaikat.
"Dasar banci tuh orang!. Pengen gue penyet penyet terus gue buang ke samudra hindia, biar dimakan paus sekalian!!!."
"Halah kayak lo berani aja Ger, ngomong aja udah gemeteran!."
"Sekali aja deh May, bela sahabat lo sendiri. Selalu gue mulu yang lo tindas!."
"Iya gue bela, tapi pengecualian buat lo!."
"Dasar ya mayangsari, gue jadiin pacar baru tahu rasa lo!!!."
"Idihh gelay tahu nggak. Bayangin aja udah nggak sanggup gue, mending jomblo seumur hidup daripada punya pacar kayak lo!!!."
"Woyy bisa diam nggak sih kalian?, tambah pusing nih kepala gue!!!."
"Tuh kan Tara jadi ngilang!," lanjut chika menggusar rambutnya.
Dua insan yang masih bergelut dengan pikirannya masih enggan membuka suara terlebih dulu. Dengan telaten Saniya mengobati luka disudut bibir Zehn.
"Kenapa kamu lakuin itu Zehn?," tanya Saniya membuyarkan lamunannya.
"Dia yang salah San!."
"Lalu apa harus dengan kekerasan ka___"
"Kekerasan harus dibalas dengan kekerasa juga!!!."
Saniya mengernyit tak paham, dia rasa saat memasuki sekolahan yang sama akan membuat keduanya lembali akur. Tapi nyatanya tak sesuai dengan ekspetasi.
"Makhsudnya?."
"Tara ditampar sama dia!!!," ucapan Zehn membuat Saniya membelalak tak percaya.
"Ziro nampar Tara?, kenapa?."
"Gara gara gue!."
🌹🌹🌹🌹
Sore hari yang indah tak membuat gadis itu merasakannya. Dari atas rumah pohon inilah dia bisa melihat jelas pemandangan danau dan taman disekitar. Sepulang sekolah tak ada niatan untuk pulang lebih dulu. Biasa, rasa malas bertemu orang disaat hatinya sedang kacau.Rasa aneh yang bercampur aduk ini membuatnya benar benar frustasi.
"Gue nggak tahu kenapa rasanya sakit banget. Seharusnya gue seneng dia bela gue segitunya, tapi___" ujar Tara sambil mengelus bulu kucing yang dibawanya dari jalanan.
"Aahh gue nggak tahu harus apa sekarang, bantuin gue cari solusi dong kitty jangan diam aja!."
Meong  Meong  Meong
"Apa gue ya yang terlalu lemah!?."
"Apa habis ini hubungan mereka bertiga tambah kacau gara gara gue?."
Meong
Ketika berbalik ingin kembali turun, suara Tara mengintrupsinya dan berhenti melangkah.
"Zehn!?.
"Saya!?," tanya nya balik. Tara mengerjap bingung mendapati pertanyaan dari orang didepannya.
"Kak ayo pulang, mom udah dirumah!," teriak anak kecil laki laki tak jauh dari mereka berada. Dengan cepat dia menuruni anak tangga yang terbuat dari kayu, membiarkan Tara memanggil manggil nama Zehn.
"Apa gue yang halusinasi ya!?.
Meong
"Iya benar Kit, gue halusinasi!."
Telepon Tara begetar, dengan sangat malas dia mendial warna hijau. Suara nyaring dari seberang membuatnya menjauhkan benda pipih itu.
"KALAU MAU MINGGAT ITU BILANG DULU JANGAN BIKIN ORANG RUMAH KHAWATIR BEGO!!!!."
'Sial, punya abang kok gini amat ya'
"Dari kapan minggat harus bilang dulu hah??, yang ngomong gitu dia yang bego!," kesal Tara.
"KALIAN INI BICARA APA!?."
Suara tegas yang terdengar asing membuat keduanya susah payah menelan salivanya.
"Eh ayah, kapan pulang yah?, udah makan belum?. Nanti Dirgo pijetin ya sama bersihin pistol kesayangan ayah gimana?," ujar Dirgo dengan senyum rayuan andalannya.
'Mati gue, kenapa di speaker segala sih'
"Bunda disana kan?, habis ini Tara balik kok!."
"Kamu ini kemana sih Tar, udah mau jam 6 kok belum pulang."
"Iya bun Tar___"
"Dua ratus push up buat Dirgo!!!, Seratus push up plus cuci mobil seminggu buat Tara!!!."
Skakmat
Dahlah
"Aaa___Siap!!!," ujar Dirgo dan Tara bersamaan, hampir saja mereka ingin bernego, jangankan bernego jika membantah saja sudah tidak berani. Bisa bisa hukuman ditambah lagi. Ini nih susahnya hidup bersama didikan militer. Salah berucap sedikit sudah kena hukuman, apalagi jika tindakan sudah diluar batas. Bagaimana nasib Dirgo nanti jika jalurnya diketahui sang ayah?.
"Itu hukuman buat kalian yang sudah bicara diluar jalur, dan juga buat Tara yang tidak ijin untuk pulang terlambat. Cepat pulang Tara!!!."
"Siap yah, laksanakan!."
Tut
"Aahh Kitty, kepala gue mau pecah!!!."
Suara kicauan burung gagak menjadi sound dimalam hari. Seputik rokok dinyalakan dan perlahan hisapan rasa manis menyentuh indera perasa Ziro. Menikmati langit malam dari balkon kamar membuat suasana hatinya lebih baik, daripada mengingat kejadian siang hari ini.
PPYAARRR
"Papa itu kepala rumah tangga yang seharusnya menjadi panutan!!!. Tapi apa pah?, selama ini masih aja papa nggak bisa bawa pulang Zehn."
"Mama pikir papa cuma diam aja selama ini?, nggak mah!."
"Lalu kenyataannya sekarang hubungan keluarga kita tambah hancur kan?, dan foto siapa ini hah?."
Dari dalam kamar senyum miring menghiasi wajah Ziro. Sudah hafal dia jika kedua orang tuanya akan beradu mulut saat malam hari.
"Seharusnya mama salahin anak kamu yang satu itu. Zehn keluar juga kan karena dia!."
"Kenapa papa malah salahin Ziro??, mau ngubah topik?. Ini foto siapa pah!?."
"Mama pengen tahu itu foto siapa?, dia korban dari perjodohan ini!!!."
Hening sejenak, keduanya saling pandang dengan segala pikiran yang berkecambuk. Bahkan Ziro mencoba memahami situasi dibawah, sampai suara keramat itu kembali terdengar ditelinganya.
"Kita cerai aja Mah!."
"Ohh mama ngerti sekarang!, selama ini papa emang nggak pernah anggap keluarga ini ada. Okey kalau itu keputusan papa, mama terima!."
"Nih aku kasih dia sama kamu lagi, semoga bahagia!," ujar Indira membuang foto itu tepat diwajah Aryo.
Genggaman tangan Ziro membuat buku buku kuku nya memutih. Tidak hanya disekolah saja, tapi dirumah pun bagai neraka. Mengambil kunci motor diatas meja dan jaket yang berada diatas kasur. Segera dia menuruni tangga tanpa peduli teriakan dari Aryo.
"Jangan pulang sekalian kamu, sama saja seperti mama mu!!."
Semakin sesak yang dirasakan Indira, hanya bisa menangis dibawah guyuran sower untuk menghilangkan suara tangisannya. Rumah tangganya yang selama ini dia bangun ternyata sudah diujung tanduk, hanya karena sebuah puzzle yang mulai tersusun.
"Aku tahu pah kalau kamu punya hubungan darah sama Zehn. Dan apa yang aku lakuin selama ini kurang berarti buat kamu?. Jika orang lain, mungkin tidak akan bisa menerima anak dari hubungan gelap suaminya sendiri!," pilu Indira membayangkan apa yang selama ini Aryo sembunyikan. Bahkan dirinya tidak bilang jika dia sudah tahu semuanya, dan menganggap Zehn sebagai anaknya sendiri.
"Aku sudah mengira pah kalau wanita difoto itu dia, tapi aku nggak nyangka kalau kamu masih menyimpannya!."
Di jalan raya yang cukup lenggang, motor merah itu melesat cepat membelah kesunyian malam. Hidup yang dianggapnya tidak adil sungguh membuatnya berada didalam kegelapan.
Memasuki pekarangan rumah bermodel jawa, Ziro merogoh saku dan mengeluarkan benda pipih berwarna silver.
"Halo!," suara dari seberang telepon yang selalu bisa menghangatkan hatinya.
"Aku didepan San!."
"Hah ngapain?, gue masih marah sama lo!."
"Please San!!!," suara Ziro yang tidak seperti biasanya membuat Saniya mau tak mau turun ke bawah.
Ceklek
Tubuh tinggi itu memeluk Saniya tanpa aba aba, hangat yang langsung dirasakan jiwa Ziro.
'Aku tahu kamu Ro'
"Kenapa lagi?, cowok yang tadi siang kayak jagoan kenapa sekarang jadi kayak bayi?."
Ziro semakin mengeratkan pelukannya, lebih menikmati kehangatan tubuh Saniya.
"Badan kamu dingin Ro, masuk aja yuk!."
"San!?."
"Hmm?."
"Penyakit kamu buat aku aja ya?."
"Ckk kalau bisa sih dari dulu aku ikhlas kasih penyakit ini ke kamu!."
Keduanya teekekeh, kesalah pahaman yang tak kunjung terbukti, terkadang membuat ketiganya saling menutupi keganjalan masing masing.
🌹🌹🌹🌹
~ Yuk SCROL SCROL dulluu, semoga bisa double up😉
...~Jangan lupa saling menghargai...
...Love You All Gaess!!!...