Zehntara

Zehntara
Chap 27 ( Sial )



~Jangan lupa saling menghargai😉


🌹🌹🌹


Zehn sudah berada didepan toilet dengan satu keresek besar ditangannya. Sedari tadi dia hanya bolak balik didepan pintu. Tidak mungkin dia menerobos masuk, pasalnya kamar mandi itu khusus untuk perempuan.


"Ini gimana kasihnya?," geram Zehn mengacak rambut frustasi.


Zehn merogoh saku celananya, dan mengetikkan beberapa kata dilayar genggam.


^^^Anda^^^


^^^Tara, aku udah didepan^^^


^^^Ini gimana ngasihnya!?^^^


Calon pacar


Masuk aja Zehn!


^^^Anda^^^


^^^Jangan ngada-ngada kamu,^^^


^^^Mau aku digetok gayung hm?^^^


Calon pacar


Ya terus gimana ih!?


^^^Anda^^^


^^^Posisi kamu dimana?^^^


Calon pacar


Di kamar mandi


^^^Anda^^^


^^^Astaghfirullah, iya tahu Taraaaa^^^


^^^Anda^^^


^^^Maksudnya bilik kamar mandi sebelah mana!?^^^


Calon pacar


Oh..paling pojok


"Ngimpi apa gue semalem!?," gumam Zehn memijit pelipisnya.


"Mbak mbak permisi!!!," ucap Zehn menghentikan langkah perempuan yang berumur lebih tua darinya.


"Iya mas?."


"Boleh minta tolong nggak?," tanya Zehn kikuk.


"Emm minta tolong apa ya?."


"Di dalam ada cewek saya, nah bisa tolong kasih ini?," sahut Zehn mengangkat keresek warna hitam.


"Oh iya boleh," ujar mbak mbak berbaju merah dengan seulas senyum.


"Bilik paling pojok ya mbak."


"Siap mas," setelah menerima keresek dari Zehn,  perempuan itu masuk kedalam.


Zehn bernapas lega, tubuhnya luruh kelantai dengan tangan menutupi seluruh wajah. Tubuhnya ia senderkan pada tembok.


"Kalau kayak gini gue harus tahu tanggal haidnya Tara nih. Buat jaga-jaga bawa roti!," gumam Zehn.


Sungguh sangat romantis bukan??. Jangan ketawa!.


Beberapa menit Tara keluar membawa keresek hitam tadi. Wajah Tara tidak bisa didefinisikan Zehn, sangat lucu. Benar benar lucu.


"Kenapa itu muka?."


Tangan Tara terulur mencubit perut Zehn, membuat sang empu meringis kesakitan.


"Aawwrghh sakit Tar...lepasin!!!."


"Biarin, salah siapa kamu beli ginian banyak banget hah??."


"Aku nggak tahu ukuran kamu berapa, jadi aku borong semua ukuran deh," sahut Zehn mengelus bekas cubitan Tara yang masih terasa nyeri.


"Ya dikira kira dong Zehn. Terus kalau kayak gini buat apa coba? Mana mungkin aku pakai."


"Disimpan aja lah Tar!."


"Nggak mau!."


"Udah nih kamu aja yang pakai!," Tara menyerahkam keresek besar itu didepan dada Zehn dan berlalu meninggalkan sang empu yang menatap Tara cengo.


"Gila!? Gue disuruh pakai ginian!?."


Zehn menyusul Tara sampai langkahnya sejajar. Menatap dari samping wajah Tara seketika membuat kekesalannya hilang. Senyum pun terbit diwajah tegas Zehn.


"Tega banget kamu Tar!," ujar Zehn setelah berhenti disamping motor.


"Aku udah taruhin muka aku cuma buat beliin semua itu. Tapi apa? Kamu malah cuek!," raut wajahnya ia buat semelas mungkin.


'Iya juga sih, Zehn udah bela belain beli kayak ginian buat gue.'


"Iya iya makasih, Zehnnya Tara baik banget deh," sahut Tara dengan nada manja.


Woahh gadis polosnya komandan sudah tidak berlaku lagi jika sudah bersama Zehn.


"Nggak cukup cuma kata makasih doang!."


"Terus maunya apa?."


Zehn mendekatkan wajahnya ketelinga Tara.


"Maunya cucus!."


"Apa itu cucus?."


Zehn tersenyum miring, Tara yang ditatap seperti itu membuatnya bergidik ngeri.


"Mau tahu?."


"Maulah!."


"Nanti ya, kamu juga bakal tahu kok."


🌹🌹🌹


Didepan sebuah rumah yang cukup luas Dirgo mengembuskan napas kesal. Waktunya sudah terbuang sia sia karena cewek bernama Manda yang sekarang berjalan didepannya memasuki pekarangan rumah.


"Ini beneran rumah lo!?."


"Iya ini rumah Manda."


"Masuk aja kak, kayaknya dirumah nggak ada orang."


"Lah terus lo bawa gue kesini ngapain coba kalau nyokap sama bokap lo nggak ada? Mau minta uang ke siapa?."


"Jangan marah marah mulu kak nanti cepat keriputan loh."


Dirgo mengangkat tangannya dengan gaya ingin menerkam Manda yang terlewat dodol, tulalit, oon, entahlah.


"Bisa bisanya lo kelas dua belas. Paling mak lo dulu geger masukin ke SD ya!? gedenya jadi kek gini deh!," heran Dirgo menatap tak percaya Manda dari atas sampai bawah.


"Ngomong apa kak?."


"Nggak!."


Dirgo duduk disofa panjang yang terlihat elegan. Mengamati sekeliling dengan takjub. Barang barang dirumah ini tidak bisa diremehkan.


"Woahh rumahnya bagus banget tapi kok yang punya dodol, bego, cupu, tulalit, oon, sampe gedeg gue lihatnya."


"Ini kak diminum!," ujar Manda menyimpan teh hangat diatas meja.


"Kapan nyokap bokap lo pulang?."


"Kalau mama hari ini malam pulangnya, tapi kalau papa bentar lagi juga pulang."


"Ternyata lo orang kaya ya, tapi ganti rugi HP gue aja harus cari masalah dulu."


"Manda bukan orang kaya kak. Yang kaya itu mama sama papa manda."


"Bab~"


Dirgo kembali mengatupkan mulutnya. Dia harus bisa menjaga ucapan  didepan perempuan. Itu cukup membuatnya frustasi jika terus ia patuhi didepan gadis bernama Manda ini.


"Bisa nggak lo diem aja kalau gue ngomong!?."


Manda mengangguk mengerti. Keduanya sama sama terdiam sampai Dirgo kembali membuka suara.


"Jam berapa sih bokap lo pulang?. Lama banget nggak pulang pulang."


Manda hanya menatap Dirgo yang juga menatapnya dengan alis berkerut.


"Kalau ditanya itu jawab!!!."


Manda mengerjapkan mata dua kali, persis seperti bocah kecil.


"Ternyata selain otak lo yang bermasalah, mulut lo juga bisu ya!?."


"Manda nggak bisu kok. Kan tadi kakak yang suruh diem!."


"Tabahkan hati hambamu ini ya tuhan, lapangkanlah hati hamba menghadapi manusia jadi jadian seperti dia," Ucap Dirgo dramatis sembari mengangkat kedua telapak tangannya.


Mata manda berbinar melihat langkah tegap menghampiri mereka berdua. Dirgopun mengikuti arah pandang Manda, dan seketika membuat rahangnya jatuh dengan mulut  menganga lebar. Bola matanya juga hampir keluar dari tempat.


"Papaaa..."


'Sial, apes lagi gue'


"Hai sayang muacchh.."


Pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu mencium kening Manda. Tatapannya beralih ke Dirgo yang sudah panas dingin.


"Loh Dirgo ya!?."


"Papa kenal sama kakak galak itu?."


"Iya, dia anak teman papa TNI Angkatan Darat!."


"Halo Om Rendi, apa kabar?," sapa Dirgo dengan senyum terpaksa.


"Baik-baik, kalau kamu gimana kabarnya?."


"Ohh baik kok Om. Baik banget malah," ucap lirih  Dirgo penuh penekanan diakhir kata, sambil melirik tajam Manda yang berada disamping Rendi. Ya dia Rendi papa nya Manda, seorang polisi yang memergokinya waktu itu.


"Ngapain disini?."


"Itu ayah Manda tadi~"


"Antar Manda pulang Om. Iya tadi dia nyasar terus Dirgo bawa pulang deh heheehee..."


🌹🌹🌹🌹


"Pelan pelan aja masukinnya Zehn."


"Iya ini udah pelan pelan."


"Aarrghh sakit," rintih Tara menjambak rambut Zehn.


"Jangan jambak dong!."


"Makanya pelan-pelan, kalau nggak bisa nggak usah dipaksa."


"Iya ini sempit banget. Bentar lagi Tar, nanggung ini udah mau masuk!."


"Aargghh sakit!!!."


"Tahan sayang, bentar lagi masuk!."


"Aargghh sakit anjir!!!."


"Astaghfirullah, your mouth!!!. Siapa yang ngajarin kayak gitu, hm?," ucap Zehn meninggikan volume bicaranya.


"Gery."


"Dasar Geri pasta!."


"Nah kan udah masuk."


"Sakit tahu, kamu sih belinya kekecilan."


"Ya kan aku nggak tahu ukuran jari kamu."


"Tapi pas kok. Cantik lagi!,'" sahut Tara mengulas senyum sambil mengelus cicin yang sudah menempel indah dijari manisnya.


Hayoloo siapa yang udah trevelinggg^)


Keduanya saling pandang, suasana sore hari ditaman membuat mereka terlelap akan waktu. Cicin emas bermotif berlian warna ungu bertengger indah dipergelangan jari Tara.


"Makasih buat cincinnya," ujar Tara tersenyum malu.


"Hm!."


"Pulang yuk, udah sore."


"Ayok!."


"Tapi~"


"Tapi apa?," tanya Zehn.


"Pakai cincin doang tapi nggak pacaran."


Hiiyaakkk kasinannn🤣🤣🤣


🌹🌹🌹


HOLA HOLAAA👋


Sesuai janji nih, double up😉


Gimana nih perasaan kalian setelah baca Chap ini!?


Tulis dikolom komentar Gaesss🤗


Visual siapa nih yang mau kalian rekomen?


...JANGAN LUPA SPAM KOMEN...


...LIKE...


...POIINNN...


...SEE YOU NEXT CHAP GAES...


...LOVE YOU ALL😚...


...☠...


...🖤...


...👽...