
...ZEHNTARA KEMBALI LAGIIII🙌...
...💕💕💕...
Rinai hujan diluar tak lagi menenangkan. Beberapa hari sudah ia lalui dengan segudang luka. Luka yang semakin menganga lebar tiap detik berlalu. Bahkan, dulu....hujan pernah membuatNya sangat nyaman. Nyaman akan melodi yang yang ia sampaikan kepada bumi dan seisiNya. Namun, sejak rinaiNya jatuh diwaktu yang tidak tepat. Kini, gadis itu tidak lagi menyukai suara itu. Suara gemercik air yang seakan menyayat hatiNya. Menghantan ingatan ke sebuah luka yang tak pernah bisa ia sembuhkan. Meski, Semesta mencoba menenangkan hati yang sudah ia patahkan itu. Semua bagai mimpi buruk yang tak bisa dihindari. Berulangkali menyangkal, semakin membuat sesak yang tak berujung.
Ruangan yang menjadi saksi betapa hancurNya hidup gadis itu, kini sangat menyakitkan. Ruangan itu tak bisa menghalau suara guntur juga gemercik air yang terus turun begitu deras membasahi bumi. Meringkuh disudut ruangan, dalam hening dan dalam pelukan kelam. Suram, kamar itu juga bisa merasakan sang tuan yang tak lagi punya warna. Semua gelap. Sejak beberapa hari lalu, Semesta menorehkan luka sedalam dalamNya. Hati, jiwa, ragaNya pun ikut pergi bersama raga yang sudah menyatu bersama tanah.
Beberapa kali suara ketukan dari luar tak membuatNya beranjak dari dekapan dingin yang menyakitkan. Ya, dingin disekitar, hening, gelap....mereka sudah menjadi teman yang selalu menemaniNya. Teman baru, yang tak pernah ia rasakan.
"Tara, buka pintuNya nak!."
Suara lembut Ratih teredam oleh derasNya hujan. Entah, belakangan ini hujan seakan tak mau kalah dengan hati yang sedang sakit itu. Jatuh setiap sore hingga malam, persis saat malam merenggut nyawa SemestaNya.
Semesta yang selalu dia inginkan kehadiranNya kini hanya sebatas ilusi.
"Nak, ayo makan malam. Kamu belum makan dari tadi siang," ujar Ratih lagi. Namun, sama. Tak ada sahutan dari dalam. Bahkan hanya sekedar bergerak, gadis itu tak mampu. TubuhNya terasa kaku.
CETAARRRR
Lagi dan lagi, tubuhNya menegang tak kala suara petir menembus gorden balkonNya. Kilat yang paling menusuk rasa sesak di dadaNya.
"Tara, Bunda mohon nak-."
"Buka pintuNya, kalau kamu nggak mau makan bareng dimeja...Bunda bawain makananNya kesini," suara itu berubah purau.
Didalam, begitu hening. Air mataNya terus mengalir meski tak ada isakan yang keluar. TanganNya memeluk erat kedua kaki, menenggelamkan wajah diantara ceruk kakiNya.
Hancur, sudah hancur.
Dunia tak lagi bisa ia dekap. Seakan berhenti bersama kepergianNya. Tak ada kata yang bisa menjelaskan seberapa hancur hidupNya sekarang. Menyendiri, yang ia habiskan selama ini. Didalam kamar, ditemani sepi.
"Tara, buka pintuNya!."
Suara itu berubah tegas, bukan Ratih. Melainkan Fariz. Percuma, seberapa kali mereka mengetuk, seberapa kali mereka memanggil. Raga itu tetap pada posisiNya.
"Sebentar aja, kamu harus makan. Jangan seperti ini terus, keluar!."
Nada tegas itu tak lagi ia hiraukan. Semua mengubah keadaanNya dalam sekejap. Seperti Semesta mengambil milikNya secara paksa.
"Kalau Tara nggak mau buka, ayah dobrak!."
Lima detik berlalu, Fariz menetapkan ancang ancang bersama Dirgo. Dan suara keras dari pintu yang terdorong paksa melawan suara hujan yang tak bisa diredam.
Fokus tiga orang dewasa itu tepat mengarah pada tubuh yang terlihat menurun drastis. Meringkuk disudut kasur. Melihat itu, hati mereka seperti dicubit begitu ngilu. Sakit yang gadis itu rasakan, seakan bisa mereka rasa.
"Jangan seperti ini, nak," ucap Fariz sembari mengelus lembut puncak kepala Tara yang enggan mendongak. Menyembunyikan wajah saat ini adalah yang terbaik, dia tidak ingin dunia tahu kalau diriNya sedang tidak baik-baik saja. Dan pada kenyataanNya memang benar, dia selemah itu.
Ratih terisak didalam dekapan Dirgo. Cara apalagi yang harus mereka lakukan? Agar gadis, yang kebahagiaanNya baru saja direnggut garis takdir kembali ceria seperti dulu.
"Ayah tahu, rasa sakit yang Tara rasakan tak akan pernah bisa menguap begitu saja...tapi ayah mohon, nak-."
"Jangan lupakan kami yang selalu ada untukmu, jangan pernah merasa sendiri. Hidup kamu masih panjang, nak."
Suara Fariz memecah hening yang cukup panjang. Sampai kepala itu mendongak, aura wajahNya yang begitu sayu. Tidak ada lagi cahaya disana. Tatapan itu sudah tak bernyawa, luka yang Semesta tumpahkan begitu kejam.
Satu menit, hanya sebuah tatapan yang teramat pedih. Luka itu begitu nyata, hanya dari siratan dua iris itu. Hingga suara yang hampir seperti bisikan keluar dari mulutNya yang terasa kelu.
"Tara ingin bangun, tapi....mimpi buruk ini nggak mau Tara bangun."
"Gimana cara biar Tara bangun Yah, Bun...gimana?."
Hanya ada luka disana. Dalam tatapan kosong yang begitu kelam, logikaNya kembali menarik untuk melawan kenyataan.
"Bangunin Tara dari mimpi buruk ini," bisikan itu bagai sayatan yang menusuk direlung hati ketigaNya. Fariz, Ratih, dan Dirgo terdiam ditempat. Merasakan pedih yang menyelimuti suasana tamaram kamar Tara.
Mimpi? Tapi kenapa mimpi ini terasa menyakitkan, dan...terasa nyata.
Hembusan panjang dari Fariz mengisi hening yang cukup lama menemani. Sampai derap langkah menjauhi kamar yang tak lagi bernyawa itu. Fariz keluar, tanpa sepatah kata. Tapi membawa separuh luka yang Tara rasakan. Tentu, tidak hanya gadis itu yang merasa kehilangan. Setetes air mata jatuh membasahi pipi Fariz. Ya, rasa kehilangan itu ternyata sesakit ini.
"Bun, kapan Tara bangun? Tara nggak mau mimpi kayak gini. Bangunin Tara Bun."
Suara purau itu kembali mengisi keheningan. Air mataNya terus mengalir tanpa disuruh. Luruh dengan derasNya membasahi pipi yang kini begitu tirus. Tidak ada lagi pipi cabi yang dulu menjadi korban kejahilan, dia.
Lelah, lelah menganggap kenyataan hanya sebuah mimpi belaka. Apakah setelah ini takdir akan bersekongkol dengan Semesta lagi? MemberiNya kejutan yang tak pernah ia pikirkan sebelumNya.
...////
...
"Hai, apa kabar?-."
"Dua tahun telah berlalu, meninggalkan luka yang teramat dalam. Apa kau puas, menghukum ku dengan cara selicik ini? Semesta."
Bibir itu melengkung, bukan senyuman yang indah. Melainkan senyum kepalsuan yang selama ini ia tunjukkan kepada Semesta. Mungkin benar, sejak itu apapun yang ada didalam diriNya telah ikut pergi bersama kepergianNya.
"Maaf, aku udah berusaha buat bahagia. Tapi, apa kau tahu...memaksa kebahagiaan itu lebih menyakitkan. Membuatku tersiksa setiap ingat kata bahagia yang tak pernah kau berikan lagi, sejak kau membuatku untuk meraih kebahagiaan itu sendiri."
"Apa kau lupa? Bahwa kebahagiaan ku itu kamu?."
Tepat dua tahun kepergianNya. Sekarang, sore yang akan membawa detik-detik kejadian itu seakan kembali terekam. Senyum getir itu menatap kebawah, banyak lalu lalang kendaraan besar disana. Mungkin, cara yang ada diotakNya kali ini akan selalu gagal. Entah, apa yang membuatNya berpikir untuk mengakhiri semuaNya. Tapi, seperti ada magnet yang menarik kembali akal gila yang terlintas itu.
TanganNya meremas kuat dada yang kembali terasa sesak. Udara disekitar seakan menjauh dariNya, memberikan ruang yang semakin menenggelamkanNya pada kubungan luka.
Suara deritan pintu terbuka membuatNya tersadar. Derap langkah semakin mendekat, disusul tepukan yang mendarat dibahuNya.
"Gue tahu lo disini! Jangan gila Tar, please...oke?!."
Tara menoleh dengan seulas senyum, senyum yang Chika akui hanya sebuah kehampaan.
"Gue udah gila kali Chik."
Suara helaan napas Chika sangat dominan dengan hembusan napas dari atas rooftoop sekolah ini. Padahal, senja sudah menampakkan diri diufuk barat. "Mau gue temenin?."
Hening sejenak. Sampai anggukan lemah mengembangkan senyum tipis dibibir Chika. "Berangkat sekarang, ya? Keburu malam."
"Hari ini, ya, Chik?-."
"Masih sama, seperti mimpi yang terasa nyata."
"Tar, gue nggak tahu mau ngomong apa lagi. Tapi yang harus lo tahu, hidup ini terus berputar...ada atau tidak adaNya dia!."
Tara terkekeh, terdengar seperti ejekan. "Tapi nyataNya, hidup gue udah berhenti bersama kepergianNya...lo, tahu itu kan Chik."
"Udah, gue nggak mau bahas ini daripada lo makin gila nanti! Kita cabut sekarang!."
Langkah Chika mendahului kepergian mereka. Meninggalkan hening atap itu.
Disinilah dua pasang kaki itu beranjak, didepan banyakNya gundukan tanah yang dilapisi rumput hijau. Menatap dua orang beda genre yang sedang bersimpuh di depan makam yang menjadi tujuanNya. Tidak ada niatan Tara dan Chika untuk mendekat, berdiri dengan jarak empat meter dari dua insan itu.
"Udah dua tahun, ya...Zehn."
"Gimana, nyenyak tidurNya?."
Suara serak itu, milik Saniya. Dengan Ziro disisiNya yang setia memeluk dari samping. Mencoba memberi ketenangan untuk gadis itu. "Lo tahu nggak, gara-gara lo....gue berhasil hidup, tapi serasa mati."
Tara dan Chika merekam itu semua. Apa yang ada didepanNya, mereka juga sama. Terluka, atas kepergianNya yang tak pernah diinginkan.
"Tara?," panggilan Ziro mengalihkan lamunan Tara. Dua orang itu mendekat, menatap penuh kata yang tak bisa tersampaikan. Sampai senyum penuh kepalsuan itu Tara perlihatkan. Seakan memgatakan bahwa dia baik-baik saja.
"Kangen ya? Sama kok...aku juga."
Saniya dan Ziro saling tatap, tanpa kata lagi mereka berdua melangkah pergi meninggalkan dua cewek itu bercengkrama dengan Semesta yang telah pergi.
"Hai, apa kabar? Udah lihat kan, gimana luka yang kamu beri, gimana rasa sakit yang kamu tinggalkan begitu saja, tanpa pamit," gumam Tara, menatap kosong, taganNya terulur mengusap nisan itu. Lalu meletakkan bunga yang ia beli tadi. Seperti biasa, bunga mawar putih. Kesukaan, dia.
"Hai, Kak! Sorry, gue nggak kangen sama lo...tapi, gue kangen sama cara lo bikin sahabat gue ketawa. Gara-gara lo, gue nggak bisa lihat tawa lepasNya lagi, kak," ucap Chika diakhiri tawa kecil yang terdengar pilu.
Setetes cairan berhasil keluar membasahi pipi Tara. Lagi dan lagi, tangisan itu tak bersuara. Tak ada isakan maupun getaran di bahu. Hanya cairan yang luruh semakin deras tanpa disuruh.
"Thanks, udah berhasil hancurin dunia ku...Zehn."
...////...
...HALOO FRIENDSS👋...
...Nggak tahu mau bilang apa,...
...So, Happy reading frinds🤗...
...See You Next Chap...
...Jangan Lupa Like & Komen...