
Kaki panjang itu melangkah keluar membiarkan beberapa perawat menangani pasien yang kini mulai hilang kesadaran. Tatapan panik semua orang diruang tunggu hanya mendapatkan ekspresi kosong darinya.
Sebuah serpihan puzzle baru saja dia temukan. Dan entah kenapa hatinya tidak terlalu merespon, seperti mati rasa. Enggan senang juga enggan sedih.
"Ziro kenapa Zehn!?," tanya Saniya panik melihat beberapa perawat masuk tergopoh gopoh.
Sang empu tak merespon, beralih menatap pria paruh baya yang juga menatapnya penuh arti.
"Zehn jawab!," kembali Saniya menggoyang lengan Zehn. Namun hanya dibalas senyuman terpaksa.
"Tenang aja, its okey!."
Ada yang aneh dari gelagat Zehn,pikir Saniya.
Indira tahu akan situasi sekarang ini. Pasti putra semata wayangnya sudah menceritakan sebuah kebenaran. Dengan lembut ia raih bahu Zehn dalam dekapannya. Mengelus punggung lebar Zehn sembari terisak pelan.
"Kamu akan selalu jadi anak kecil mama nak."
"thank you so much for taking care of Zehn all this time."
' terimakasih banyak sudah merawat Zehn selama ini.'
Indira semakin mengeratkan pelukannya yang juga dibalas Zehn. Hatinya terasa perih disaat Zehn mengucapkan ucapan terimakasih itu. Bagaikan selama ini dia merawat Zehn hanya karena sesuatu alasan. Tidak, Indira benar benar tulus memganggap Zehn sebagai anak kandungnya.
Aryo tak tahan membendung genangan yang sudah menggenang dipelupuk mata. Saniya dan tiga trio itu hanya mengamati, penasaran sih iya.
"Ini kenapa pada mellow?," bisik Adit kepada Jez disampingnya.
Jez hanya meliriknya tajam, menyuruh satu anak itu untuk diam sejenak. "Ziro nggak sekarat lagi kan?," tanya kembali Adit, namun kepada kakak sepuluh menitnya.
"Suuttt, diem aja deh lo Dit!."
"Bingung gue kok pada nangis sih? Kan seharusnya seneng Ziro udah sadar."
"Pegangan kalau bingung."
"Anjir, serius gue," geram Adit memberenggut.
Dua sepasang Netra saling pandang seperkian detik. Sampai Zehn memutuskan sepihak. Beralih menatap Saniya.
"Gue titip Ziro San, kalau ada apa-apa langsung kabarin. Gue pulang dulu ya."
"Loh kok langsung pulang?."
"Besok gue harus bangun pagi. Persiapan terakhir buat Olimpiade."
"Jez juga ikut kan?," tanya Saniya beralih menatap cowok dingin itu yang dibalas anggukan Zehn.
"Papa mau bicara sebentar Zehn," seloroh Aryo.
"Nggak perlu. Zehn masih ada urusan," balasnya ringan.
"Hati-hati nak," ujar Indira ketika langkah itu mulai beranjak meninggalkan keheningan.
🌹🌹🌹
Jalan yang cukup lenggang membuatnya leluasa menancap gas menerobos angin malam. Seperkian detik dia ingat akan sesuatu. Membelokkan motornya disebuah toko roti yang masih buka.
"Tara suka roti apa?," gumam Zehn masih duduk diatas motor.
Tak ingin pikir panjang dirinya menekan tombol panggil ke nomor Dirgo.
"Ada apa Zehn?," sahut Dirgo saat sambungan terhubung.
"Tara suka roti rasa apa?."
"Rasa kacang."
"Okey thanks!."
"Eh tunggu, lo serius mau kesana? Udah jam sembilan loh ini!?."
"Iya serius, tapi nggak lewat pintu."
Suara kekehan Dirgo terdengar, sambungan pun di putus Zehn lebih dulu. Melangkah memasuki toko kue yang lumayan sepi.
Setelah mendapat apa yang diinginkannya, Zehn kembali menancap gas menuju tujuan.
Dan benar saja, rumah Tara terlihat sepi. Bahkan kompleks sekitar juga tidak terlihat satu orang pun.
"Semoga nggak ketahuan deh," gumam Zehn sembari membuka pagar perlahan tanpa menimbulkan suara.
Pikirannya bahkan secepat itu teralihkan dari masalahnya. Hanya karena seorang Tara yang tak ada kabar. Apakah ini yang dinamakan power of love?.
Balkon yang menuju kamar Tara cukup tinggi sekitar enam meter dari tanah. Alhamdulillah nya didekat tiang balkon terdapat pohon mangga yang bisa menjadi acuan Zehn sebagai tangga. Senyum lebar itu terpampang ketika tangannya mulai meraih pagar balkon.
"Perfect!," lirih Zehn menepuk nepuk tangannya.
Dari dalam seorang gadis cukup was was ketika suara aneh terdengar dari arah balkonnya. Dan yah, bayangan seseorang mampu membuat suara Tara tercekat.
Tok
Tok
Tok
"Si..siapa?," tanya Tara bergetar. Kedua tangannya sudah memegang erat sapu yang siap sedia sebagai senjatanya.
"Ssuutt!!!."
Suara dari luar membuat Tara semakin parno. Bayangan lambaian tangan membuatnya mengernyit.
"Ini aku Tar, buka dong pintunya."
"Zehn?."
"Iya ini aku Zehn. Please bukain," balas Zehn sedikit berbisik.
"Hallo! Pangeran udah dateng nih," ujar Zehn beserta senyum sumringah. Dasar bucin!.
Masih sama, berdiri diam tanpa ekspresi. Tak berniat menjawab maupun membuka pintu untuk cowok pemanjat pohon mangga demi bertemu dengannya.
Zehn merasa ada yang aneh kembali mengetok pintu agar sosok didepannya kembali tersadar.
"Kamu denger suara aku kan Tar? Aku khawatir banget sama kamu, kenapa nggak ada kabar sama sekali seharian, hm?."
"Mending lo pulang aja!."
Hati Zehn mencelos mendengar balasan Tara. Dan dia memanggil Zehn apa tadi?.
"Kok gitu? Aku bawain roti kacang kesukaan kamu nih!," sahutnya tanpa negatif thinking sembari mengangkat kresek hitam berisi roti kacang.
"Buat Kak Zehn aja."
Lagi lagi alis Zehn menyatu. Tara kembali memanggilnya dengan panggilan kakak dan lo gue?. Apa ini maksudnya, batin Zehn mulai cemas.
"Kamu kenapa Tar? Kok jadi kaku, panggil 'kak' segala lagi."
Masih dibatasi kedua pintu kaca, mereka saling bersitatap.
"Kamu lagi marah? Salah aku apa Tar? Kalau ada salah aku minta maaf, aku nggak tahu masalahnya apa," cecar Zehn.
"Kakak nggak salah kok," balas Tara menundukkan pandangannya, tak ingin menatap Zehn terlalu lama. Bisa bisa pertahanannya luruh saat ini juga.
"Terus kenapa kamu cuek kayak gini? Buka pintunya dulu Tar!."
"Kakak mending pulang aja, nanti kalau ayah tahu bisa bahaya," masih sama, tanpa ekspresi dan enggan bersitatap dengan Zehn.
"Kamu marah ya gara gara kemarin malam ngajak kamu bohong ke ayah karena diturunin si gila dipinggir jalan, iya?."
Tara menggeleng.
"Apa gara gara aku terlalu over protektif?."
Tara menggeleng.
"Apa karena ayah ngelarang kamu buat deket sama aku?."
Tara menggeleng lagi membuat Zehn menjambak rambutnya frustasi.
"Terus kamu marah kenapa?," tanya Zehn selembut mungkin. Menyentuh kaca pembatas, berharap bisa merengkuh gadis yang kini mulai terisak.
"Tara nggak marah."
"Kalau gitu bukain pintunya dulu Tar. Aku udah rela relain manjat buat ngasih roti kesukaan kamu doang loh. Masa nggak mau dimakan sih?," bujuk Zehn memelaskan wajahnya.
Tara mendongak, matanya mulai berkaca kaca membuat Zehn berpikir berat apa yang sudah ia lakukan sampai Tara menangis?.
"Aku salah ngomong ya? Maaf, jangan nagis Tar!."
"Makasih udah beliin Tara roti kacang. Tapi maaf, gue nggak bisa terima. Kakak makan aja biar nggak mubazir."
"Gimana caranya biar kamu mau maafin aku Tar?."
Tara menggeleng.
"Kak Zehn nggak salah!."
"Terus kenapa kamu berubah?."
"Tara nggak berubah."
"Oke, lo nggak mau roti ini? Kalau aku yang makan supaya nggak mubazir seperti yang kamu mau-."
"Aku bakal makan roti ini Tar, meski nyawa aku jadi taruhan," lirih Zehn diakhir kata.
"Tapi maafin aku ya, jangan marah lagi," lirih Zehn menatap sendu Tara.
Hatinya bagai tersayat benda tajam, sangat perih mendapati perlakuan Tara yang super dingin.
Tanpa menunggu jawaban dari Tara, Zehn mengambil salah satu roti kacang dan membuka bungkusnya.
Sejenak menatap Tara yang masih menundukkan kepalanya. Beralih menatap roti kacang yang sudah menjadi pantangannya selama ini.
"Gue makan Tar. Jangan marah lagi."
Segigit roti kacang berhasil masuk kedalam mulut Zehn.
🌹🌹🌹
HOLA HOLAAA👋
Yeyy Double Update huhuhu senangnyaaa😋
Bagaimana Chap slanjutnya nih!?? Apa yg terjadiiiii!????
...JANGAN LUPA SPAM KOMEN...
...LIKE...
...VOTE...
...POOIIINNN YG BANYAAAKKK...
...LOVE U ALL GAES😘...
...SEE U NEXT CHAP🤗...
...☠...
...🖤...
...👽...