
"DASAR BUCHIN!!!."
"Tahu lah kantin aja yok!!."
Ujar Twins dibalas anggukan Jez yang terlebih dahulu berjalan menuju kantin.
"Nih!," Zehn menerima botol air mineral dari Tara dan meneguk habis tanpa setetes air yang tertinggal.
"Kasihan banget sih!," gumam Tara.
Zehn menarik lengan Tara agar duduk, dengan spontan dia menaruh kepalanya di pangkuan Tara. Tidak ada penolakan dari sang empu, dia malah asyik memainkan rambut Zehn. Tanpa malu mereka berdua bersantai di pinggir lapangan. Menarik perhatian beberapa siswa yang berlalu lalang di sekitar.
Zehn memejamkan mata, elusan lembut dari Tara membuat nya ingin menyelami alam mimpi. Tanpa keduanya sadari, sedari tadi tiga orang mengamati dari balik pohon dekat tiang bendera.
"Teman kita sudah nggak polos lagi ya," ucap Gery.
"Jadi pengen punya pasangan deh."
"Ya ampun May, lo anggap apa selama ini makhluk di sebelah lo itu ha!?."
"Apa, dia!?," syok Maya menunjuk Gery.
"Nggak jelas lo Chik," sahut Gery langsung beranjak meninggalkan Chika dan Maya dengan wajah memerah.
"Sialan, mulut Chika pengen gue sobek juga tuh!," gumam Gery terus melangkahkan kakinya.
"Amit-amit dah Chik gue suka sama cowok modelan Gery pasta!."
"Halah May, apa sih kurangnya bang Gery dimata lo!?."
"Lo mau tahu dia kurang apa?," Chika mengangguk saja, ingin tahu kenapa satu sahabatnya ini tidak pernah mengerti akan perasaan Gery.
"Kurang ganteng, kurang pinter, kurang good loocking, kurang gentelmen, kurang kaya, kurang waras, kurang romantis, kurang pengertian. Pokok kurang semuanya!!!."
"NGEJOMBLO AJA KALAU GITU MAY!!."
"Yah kok lo malah sewot?."
Chika mengembuskan napas kasar, tanpa menghiraukan Maya dia beranjak dengan menghentakkan kaki kesal. Sudah pusing menangani kedua sahabatnya yang terjebak Frindzone, sama-sama tidak mau mengatakan perasaannya.
"Padahal gue tahu kalau lo juga suka May, tapi kenapa gengsi lo terlalu besar hah!?. Gedeg banget gye sama kalian. Apa gue bawa ke KUA langsung aja ya?" monolog Chika sambil mengelus dagunya.
kembali kepada dua Insan dipinggir lapangan, yang tidak elit untuk moment berduaan. Sunggu tidak ada urat malu diantara keduanya saat siulan para siswa siswa bersahutan melewati mereka berdua.
Entah sejak kapan rasa malu itu hilang dari dalam diri Tara, eh. Tunggu. Bukannya Tara sedikit tidak punya rasa malu?. Orangnya terlalu polos untuk merasakan apa itu 'malu'.
"Zehn!."
"Hm!?," Zehn membuka matanya, mendongak menatap Tara sampai pandangan mereka berdua bertemu.
"Semalam ayah bilang apa aja?."
"Nggak bilang apa-apa tuh."
"Bohong!. Kamu pasti kena ceramah ya!?, nggak usah dimasuki ke hati. Ayah emang gitu orangnya, kalau ngomong kadang bikin nylekit!," ujar Tara panjang lebar.
"Nggak diceramahin cuma di Interogasi aja," sahut Zehb santai.
"Apa bedanya coba!?," raut wajah Tara berubah kesal membuat Zehn mencubit pipi cabinya dengan gemas.
"Uluh uluh yang lagi khawatir bikin gemes deh!."
"Awhh sakit Zehn," Tara menjauhkan tangan Zehn dari pipinya.
"Tar!."
"Hm!?."
"Gimana?."
"Gimana apanya!?."
"Hubungan kita!?."
"HAH!?," Zehn spontan memejamkan mata saat terpaan angin dari mulut Tara menerpa wajahnya yang tepat dibawah wajah Tara.
"Kamu habis makan jengkol ya!?."
"Heheehee iya, kok tahu!?."
"Mulut kamu bau jengkol!," sahut Zehn diakhiri tawa kecil, seketika membuat Tara mencium aroma mulutnya sendiri dan ikut terkekeh dengan wajah mememerah menahan malu.
'Bego lo Tar kenapa nggak cuci mulut dulu tadi, malu banget gue.'
Hey, ayolah kenapa nggak bisa romantis sedikit!?.
Zehn bangkit duduk menghadap Tara, beberapa detik mereka hanya saling pandang. Sampai Tara dibuat mati kutu saat Zehn mengacak rambutnya gemas.
"Aish jadi berantakan kan rambut gue!," kesal Tara mencebikkan bibirnya.
"Tambah lucu tahu kayak Bayi."
"Tara udah gede Zehn!."
"Tapi lo tetep jadi bayi gede gue!."
"Zehn, lo suka-."
"Suka apa!?," tanya Zehn saat kala Tara tak kunjung melanjutkan ucapannya.
"Nggak jadi," elak Tara menggelengkan kepalanya.
"Oke, kalau gitu gue boleh ngomong sesuatu?."
"Ngomong aja!."
"Gue suka sama lo!."
Deg
Tatapan Zehn menghunus kedalam netra Tara, membuat jantung sang empu tak terkontrol. Baru pertama kalinya Zehn mengucap secara terang terangan. Walaupun Zehn pernah mengajaknya pacaran langsung, dan itu Zehn juga tidak mengatakan perasaan yang sebenarnya.
"Serius!?."
"Lo lihat mata gue!," Tara menurut, menatap Zehn begitu dalam.
"Apa ada kebohongan disana!?," Tara menggeleng, tidak. Dia tahu di dalam sana tidak ada kebohongan.
"Gue serius Tar!."
"Se..sejak kapan lo suka sama gue!?," ujar Tara tergagap.
"Sejak masih kecil."
Alis Tara bertaut menandakan ketidakpahaman apa yang di maksud Zehn. Sejak masih kecil?. Maksudnya?.
"Nggak usah dipikiran, nanti juga bakal ingat sendiri. Sekarang masalahnya lo suka nggak sama gue!?," lanjut Zehn menaikkan satu alisnya dengan lekungan dibibir.
"Jawabannya ada di Ayah!," balas Tara terenyum jahil, sebelum pergi dia menoel hidung Zehn yang kelewat mancung. Zehn benar benar dibuat mabuk oleh gadisnya yang sudah besar sekarang.
"KALAU BERANI DATANG LANGSUNG KE RUMAH KOMANDAN!!!," teriak Tara berlari mundur memandang Zehn dengan senyum lebarnya.
🌹🌹🌹🌹
Di sinilah Chika dan Tara berada, ruangan penuh dengan kerangka manusia. Laboratrium, kini di huni dengan enam murid yang akan mewakili sekolah Adi Bangsa dalam perlombaan Olimpiade.
"Kabar Saniya gimana?," bisik Zehn pada Ziro di sebelahnya.
"Keadaan Saniya bukan urusan lo!!!," lirih Ziro melirik tajam Zehn.
Suara Zehn tercekat ketika pintu terbuka menampakkan sosok Pak Huda, jangan lupakan kaca mata yang selalu bertengger dipangkal hidungnya.
"Selamat sore anak-anak!."
"Sore pak!!!."
"Langsung saja kita mulai. Hadir semua!?."
"Siap, hadir semua pak!," sahut antusias Chika.
Mereka berenam duduk melingkar di satu meja panjang, sedangkan pak Huda duduk di meja yang berada ditengah tengah papan tulis.
"Oke, saya jelaskan cara belajar kalian dan juga aturan Olimpiade kali ini!."
"Kalian semua harus saling membantu, karena tema Olimpiade kali ini campuran. Jadi nanti dalam soal mandiri yang harus kalian kerjakan ada semua mata pelajaran Sains. Kecuali saat menjawab pertanyaan secara berkelompok, kalian menjawab bagian dari bidang yang kalian bawa masing-masing. Tapi lebih baik jika kalian mengerti dan paham, bisa saling bekerja sama. Paham!?."
"Paham pak!!!," sahut mereka bersamaan.
"Kurang satu minggu lagi hari 'H', waktu kalian tidak banyak.Jadi gunakan waktu sebaik baiknya!."
"Sekarang kalian boleh mempelajari buku yang ada dimeja!."
Mereka segera mengambil buku bidang masing-masing, dan tanpa bersuara lagi pikiran semuanya terfokus dengan apa yang dibaca.
Suasana begitu hening, hanya suara detak jarum jam yang menjadi backsound. Begini lah aura anak ter-ambis. Sangat mengerikan.
Satu jam sudah mereka lalui, hingga tak terasa matahari mulai terbenam ke ufuk barat.
"Sampai di sini saja latihan hari ini. Kita lanjutkan besok!."
"Siap pak!!!."
"Selamat sore. Hati-hati di jalan!," ujar Pak Huda yang sudah beranjak keluar.
"Huuufftt.... Capek juga ya. Padahal cuma diam-diaman dari tadi, mana nggak ada yang masuk di otak lagi yang gue baca," keluh Chika menempelkan kepalanya di meja dengan tangan sebagai tumpuan.
"Gimana mau masuk di otak kalau buku lo aja kebalik goblok!!," sahut Ziro terlewat kesal.
Seluruh ruangan penuh tawa, kecuali Jez dan Chika yang hanya menggaruk kepala nya. Benar omongan Ziro jikalau sedari tadi buku Chika terbalik, dan apa yang dia baca tadi?. Mungkin sedari tadi Chika tidur, entahlah.
"Gimana sih lo Chik, ngelamun apa dari tadi?," sahut Tara dengan sisa tawanya.
"Chika Chika ada-ada saja," ujar Iren menepuk pundak Chika.
"Ya gimana lo aja pada heran. Apa lagi gue!?."
"Bisa-bisanya ikut Olimpiade. Dasar bodoh!," sinis Jez lirih, semua menatap Jez heran. Sungguh manusia irit bicara, tapi jika sudah bersuara pasti menusuk sampai relung hati. Air muka Chika sudah memerah, tangannya mengepal kuat menatap Jez tajam.
"APA LO BILANG!?."
"Udah Chik kita pulang aja!," ajak Tara menarik lengan Chika.
"Tunggu dulu Tar!."
"DASAR MULUT CABE. GINI-GINI GUE ITU PINTER YA ENAK AJA MAIN HINA ORANG SEENAK JIDAT!!!."
Jez tersenyum miring, lalu beranjak keluar tanpa peduli omelan yang memekakkan telinganya.
"WOY MAU KEMANA LO!?," Chika buru-buru keluar mengejar langkah Jez. Tara lelah jika harus menghadapi sahabatnya yang sudah tersulut emosi.
"Nggak lo kejar Tar?."
"Nggak usah Ren. Capek gue kalau ngadepin mereka berdua, udah kayak tom and jerry."
"Mau gue antar pulang!?."
Deg
Benarkah ini?. Jantung Iren terasa berdisko mendengar ucapan Ziro, apa ia tidak salah dengar?.
Zehn tersenyum tipis melihat kepergian Ziro dan Iren. Kelakuan Ziro memang tidak bisa di tebak. Ada kalanya Ziro sebagai makhluk yang paling benci sama yang namanya perempuan, bahkan bisa sangat kejam. Dan ada kalanya sifat Ziro sebagai Playboy muncul mendadak.
"Zehn!."
"Hm!?."
"Udah gue bawa tuh barang-barangnya bang Dirgo,"tunjuk Tara pada tas gunung yang biasa digunakan saat pergi memuncak.
"Oke thanks, gue antar pulang ya!?."
Tara berpikir sejenak lalu mengangguk menyetujui.
🌹🌹🌹🌹
**HOLA HOLAA👋
APA KABAR GAESSS??? JANGAN LUPA JAGA KESEHATAN YAAA🤗
YUK BISA DILIHAT VIDIO KLIP ZEHN DAN TARA DI IG @naikimiki12
SUDAH AUTHOR UP YAAA, JANGAN LUPA LIKE AND FOLLOW😉
YUK CHEKIDOOTTT!!!!
...SPAM KOMEN...
...LIKE...
...VOTE...
...POOOIIINNNN...
...SPAM...
...SPAM...
...SPAM...
...LOVE YOU ALL GAESS...
...SEE YOU NEXT CHAP👋...
~Jangan lupa saling menghargai😉
...HAY DAPAT SALAM NIH DARI ZEHNNYA TARA**
...