Zehntara

Zehntara
Chap 44 ( Happy Birthday )



...Note : Hai berjumpa lagi, lama tak jumpa, jumpa lagipun tak lama hmm_ Harap baca dengan sepenuh hati ya Friends, tolong dihayati setiap kataNya_ Author lama nggak Update datang" langsung Ending, xixixixii☺...


...🦋KUATKAN HATI KALIAN SAMPAI AKHIR KISAH🦋...


...JANGAN LUPA KOMEN DISETIAP CHAPTER FRIENDS...


...EKSPRESIKAN PERASAAN KALIAN DI KOLOM KOMENTAR...


...🌹🌹🌹...


Tatapan jengah itu menghunus netra hitam pekat-Nya. Sudah satu jam lebih suara Zehn bagaikan asap yang mengudara, tak pernah di indahkan oleh gadis yang kini masih mengeringkan rambutnya dengan handuk. Bahkan tatapan aneh pengunjung lainnya tak dihiraukan keduanya. Dengan Tara yang masih memasang wajah kesal, juga Zehn yang senantiasa membujuk dan merayu gadis itu.


Satu jam sudah setelah mereka berdua berhasil main basah basahan didalam Danau, sampai menghibur pengunjung lain yang dengan senang hati menyunggingkan senyum hanya karena dua orang dengan satu kapalnya yang terbalik. Dan, naas keduanya kini sama sama basah. Masih untung mereka bisa berenang, kalau tidak entahlah apa yang terjadi. Pasalnya kedalaman Danau itu tidak main-main, sangat dalam apalagi mereka tepat berada ditengah tengah Danau.


"Sini aku bantu keringin," ujar Zehn lembut mengambil alih handuk ditangan Tara.


Rasa sebal terhadap cowok disamping-Nya ini masih menggerogoti hati Tara. Awalnya yang ingin bersenang senang karena seumur hidup Tara tidak pernah naik kapal, tapi kesempatan itu berakhir menjadi sebuah tontonan. Memalukan.


Seharusnua momen ini adalah momen romantis bagi keduanya, tapi salah. Semesta belum mendukung keduanya, entah kapan semesta akan memberi mereka waktu yang tepat.


"Jangan ditekuk mulu itu muka," ujar Zehn sembari mengeringkan rambut Tara dengan telaten. Sang empu hanya diam dengan bibir sedikit monyong. Tak sangka malah membuat Zehn ingin mengecap bibir yang terlihat manis itu.


Astaga Zehn apa yang sedang kau pikirkan? Ingat, ini tempat umum. Ada kalanya kau akan merasakan nanti. Author kan baik, sedikit lah kita coba.


"Biarin!," judes Tara. Aahhh hari ini benar benar hari dimana  keberuntungan dan kesialan muncul menjadi satu.


Zehn terkekeh, melihat gadisnya dengan wajah memerah, pipi menggebung, mulut maju kedepan, sangat sangat di sukainya. Kesan imut Tara semakin bertambah, dan itu yang selalu ingin Zehn lihat setiap hari. Jika Semesta mengijinkan.


"Menyebalkan! Seharusnya tadi aku ikut ajakan Krezy makan makan daripada disini,"   tangan Zehn terhenti ketika ucapan itu lolos dari mulut  Tara. Seperti ada hawa panas menyelimuti tubuhnya mendengar nama 'Krezy'.


"Oh," balas Zehn sedatar datarnya tanpa ekspresi.


Seakan tak mengerti keadaan, Tara kembali berucap yang menambah kekesalan Zehn. " Kita kesana aja yuk, makan makan sama yang lain juga."


"Oke!."


Balasnya singkat padat dan jelas. Beranjak mendahului Tara, meskipun perasaannya sekarang sangat sangat tidak baik sejak nama itu terdengar.


"Ihh tunggu Zehn," teriak Tara mensejajarkan langkahnya mengikuti Zehn.


"Marah ya?-."


"Iya iya, aku cuma bercanda kok," lanjut Tara meraih jari jemari Zehn dalam genggamannya.


Seperkian detik, wajah itu masih sama. Tanpa ekspresi.


Langkah kaki Tara terhenti tepat disamping motor. Pandangannya terus mengikuti gerak gerik Zehn. Ada rasa aneh saat mendapati perlakuan dingin cowok itu, mungkin Tara tidak tahu ucapan sepele itu bisa membuat rasa tak nyaman untuk Zehn.


Zehn menyodorkan helm, namun ssng empu hanya menatap helm itu tanpa menerimanya. "Ngambek beneran ya?," tanya Tara.


Wajah Zehn kini bukan raut hangat yang selalu ditunjukkan. Dingin, itu yang Tara lihat sekarang. Entah kenapa hatinya terasa seperti dicubit saat tatapan yang terlihat asing itu menghunus netranya.


"Naik!," satu kata keluar berhasil membuat Tara menggela napas pasrah.


🌹🌹🌹


^^^25-04-21^^^


"Ekhmm...ada yang lagi bete' nih," ujar Chika dengan kedua tangan menumpu dagunya.


"Ck, yang lagi ulang tahun kok malam masam. Semangat dong, gue aja semangat nih pesen makan lagi."


"Yhee lo mah maunya traktiran doang, nggak pernah kasih PU," sahut Maya dibalas cengiran dari Gery.


Ya, hari ini. Tepat tanggal 25 april adalah hari kelahiran Tara.


Sepertinya cuaca sore yang indah ini tidak membuat hati Tara membaik. Bagaimana tidak, jika sejak tadi pagi tidak ada kabar sama sekali dari Zehn. Apa sekarang cowok itu mau balas dendam kepada dirinya gara gara kejadian roti kacang itu? Menghilang tanpa kabar?.


Apa Zehn tidak tahu hari ini adalah hari ulang tahun Tara? Ahh seharusnya dia tidak membuat cowoknya itu ngambek kemarin, pasti sekarang dia sedang have fun merayakan ulang tahunnya bersama Zehn.


"Lagi berantem kenapa lagi sih Tar?," tanya Maya menyuapkan satu bola bakso kedalam mulutnya.


Tara hanya menggeleng sebagai tanggapan. Malas membahas hal hal yang tambah membuat dirinya bad mood. "Palingan juga lagi bikin surprais buat lo, makanya sengaja nggak nongol," celetuk Gery.


"Serius?," tanya Tara dengan mata berbinar, bisa saja kan apa yang dikatakan Geri pasta ada benarnya?


"Iya tuh bisa jadi, tunggu aja nanti malam Tar."


"Nanti panggil gue ya Tar kalau ada surprais dirumah lo! Gue ngidam kue tart banget nih," sahut Chika.


"Yaelah, miskinable banget lo! Tinggal beli aja nunggu gratisan."


"Hehh! Lihat diri sendiri dong, lo aja sukanya gratisan! Dasar Gery pasta!."


Ketika semuanya sibuk sendiri, Tara memgamati sekeliling Cafe yang begitu indah dengan interior khas anak jaman now. Banyak spot spot foto yang memanjakan pengunjung. Pandangan Tara tertuju pada salah satu titik, matanya sedikit menyipit tak kala dia sangat familiar dengan sosok itu.


"Itu Zehn bukan sih?."


Ketiga temannya itu mengikuti arahan telunjuk Tara. Tepat di bagian pintu menuju dapur Cafe, seseorang dengan pakaian kemeja putih membelakangi mereka ber empat.


"Iya, kayak Zehn deh," sahut Maya.


"Coba panggil Tar," ujar Maya dapat balasan lesu ketika sosok tadi masuk kedalam dapur.


"Yahh kok malang ilang, itu Zehn atau bukan sih? Kok main masuk dapur?," seloroh Chika.


"Bukan kayaknya, Zehn kok pakai kemeja. Aneh!," balas Gery.


Tara hanya mengangguk lemah, apa mungkin karena dia terlalu memikirkan Zehn? Sampai mengira orang lain adalah cowok itu.


"Udahlah Tar jangan cemberut mulu, nih makan! Happy lahiran kok malah kecut tuh muka."


"Happy lahiran pala lu! Lo kira Tara lahiran? Udah beda arti bego!," sangut Chika menempleng kepala Gery.


Denting jam terus berdetak seiring dengan langit yang mulai bertabur bintang. Ke empat pemuda itu mulai melangkah meninggalkan cafe, menyisakan pandangan penuh tanda tanya dari arah pintu dapur. Parasnya yang tak terlihat asing itu, menyorot salah satu anggota empat semprul dengan kening berkerut. Tanpa pikir panjang, ia kembali masuk ke dalam dapur dengan sebilah pisau ditangannya.


"Oke, sampai jumpa besok Tara ku sayang....muaacchhh!."


"Idih najis tau nggak Chik," balas Tara bergidik melihat tingkah Chika.


"Yheee gitu ya lo! Kalau sama Kak Zehn aja pasti udah bhlus tuh pipi," goda Chika yang masih duduk dimobilnya.


Tara memalingkan wajahnya malas, mendengar nama Zehn sedikit membuat hatinya tak karuan. Antara kesal dan rindu menjadi satu. "Au ahh sono pulang, bye!."


"Oke bye bye Beb," sahut Chika melambaikan tangan lalu melajukan mobilnya memasukki pekarangan rumah yang hanya berjarak lima meter. Tara memasuki halaman rumahnya yang terlihat sangat sepi dan gelap. Tumben rumahnya terlihat muram hari ini, biasanya jika Tara belum pulang sang ayah akan menunggu diteras sembari minum kopi ala ala orang tua dengan koran menutupi wajah.


Langkahnya terhenti tak kala menangkap sepasang sepatu yang amat dikenalinya. Senyum pun mengembang seketika, dia tahu sekarang kenapa rumahnya begitu sepi.


"Ck, kurang persiapan banget sih, masa hal sekecil ini bisa ketahuan. Dasar Zehn!," gumam Tara mulai membuka handle pintu secara perlahan. Takut jika tiba tiba suara ledakan membuatnya terkena serangan jantung mendadak.


Nah kan benar dugaannya, seisi rumah gelap gulita. Ide cerdik dari otak Tara tiba tiba datang, seru kali ya jika dia mengerjai balik orang orang?.


"AYAHH GARASI KEBAKARAN KEBAKARAN!!!.....APIII...."


"HAA KEBAKARAN? DIMANA??...."


"KELUARR KELUARR KEBAKARAN..."


Ceklik


Ruangan yang semula gelap gulita kini menjadi terang benderang. Dan kini dengan jelas Tara melihat berbagai aksesoris menempel disetiap dinding rumahnya, banyak balon berserakan dilantai. Juga menampangkan wajah kalut para generasi berbeda itu, melihatnya Tara pun langsung cekikikan tanpa sadar sang ayah sedang berkacak pinggang melihat kekacauan saat ini.


"AYAHH API...AYAH APII...KEBAKARAN..."


"KAKAK GALAK MANDA TAKUTT!!..."


"DIRGO JANGAN NAIK NAIK MEJA DONG!."


"ZEHN KAMU NGAPAIN DISITU!?."


"API TANTE API...KEBAKARAN!...."


"BWAAHAAAHAHHAAHAA....."


Ledakan suara tawa membuat ke lima orang didalam mengalihkan pandang ke arah Tara yang masih diambang pintu. Bagaimana tidak terbahak tak kala dirinya berhasil menggagalkan acara surprise dihari ulang tahunnya sendiri? Ahh seharusnya Tara senang saat mendapat kejutan seperti ini, tapi tidak. Kata senang tidak bisa mewakili hatinya sekarang, mungkin sangat sangat sangat bahagia. Itulah yang Tara rasakan.


Zehn mengintip Tara dari belakang sofa tempat persembunyiannya dengan wajah memerah, sial. Dia telah terkena jebakannya sendiri. Sedangkan Dirgo yang entah kenapa berada diatas meja ruang tamu melotot tajam ke arah adiknya yang tak ada akhlak itu, berani beraninya membuat heboh diacaranya sendiri. Gagal sudah acara surprise yang dibuatnya bersama Zehn. Dan satu makhluk yang masih terlihat panik itu meracau tak jelas dikolong meja makan, tak luput dari penglihatan Tara.


Tara yang masih tertawa puas tak sangka suara ledakan dari arah belakang membuatnya berteriak kaget.


"Bwahaahhaaa jangan ketawa mulu Tar, kasiann deh kaget kan!?," suara cempreng Chika muncul dari arah belakang.


"DASAR ADEK NGGAK ADA AKHLAK! SINI GUE MUTILASI SEKARANG JUGA LO!."


"AMPUN BANG AMPUN!..."


Seulas senyum yang begitu manis menyorot wajah bahagia Tara malam ini. Hatinya terasa damai, tenang, nyaman, dan sangat senang saat melihat orang yang dicintainya tertawa lepas seperti selarang ini. Hanya itu yang ingin dia lihat dari wajah gadisnya, selalu bahagia. Keinginan yang entah akan mudah untuk ia kabulkan atau mungkin akan sangat sulit.


Zehn melangkahkan kakinya ke arah kue yang sempat ia letakkan kembali gara gara keisengan Tara. Langkah lebarnya mendekati dua adik kakak yang kini sedang bergulat.


"Tara," panggil Zehn lembut.


Senyum Tara mengembang begitu indah dimata Zehn. Ia mendekat kearah sosok yang seharian membuat dirinya galau, ahh apa saat ini dia masih bisa marah kepada cowok itu? Tara tidak akan sanggup, karena hanya Zehnlah yang bisa membuat hatinya berbunga bunga, kata bahagia dan senang tidaklah tepat menggambarkan keadaan dirinya saar didekat Zehn. Di mata gadis yang kini berusia 18 tahun itu, sosok Zehn lah yang paling sempurna dihatinya. Hanya ada nama Zehn dilubuk hatinya yang paling dalam.


"Happy Birthday Baby Ra," ujar Zehn di akhiri senyum tulus yang kini berhasil membuat detak jantung Tara tak lagi normal. Wajahnya sudah bersemu merah dengan keringat dingin mengalir dipelipis.


"Uhukk uhukkk......gatel banget tenggorokan gue..."


Tara memutar bola mata malas melihat drama abang satu satu nya itu, sangat merusak suasana. Dasar, calon pengantin resek.


"Jangan ganggu elah bang," sahut Chika menimpuk Dirgo dengan balon berbentuk huruf T.


"Selamat bertambah umur sayang, semoga cita cita Tara tercapai juga kebahagiaan selalu menyertaimu," ucap Ratih mengelus lembut rambut Tara.


"Ahhh makasih Bunda, sayang deh sama bunda," balas Tara sembari memeluk Ratih.


"Selamat ulang tahun putri kecilnya ayah, doa terbaik untukmu nak," sahut Fariz memeluk kedua perempuannya itu.


"Teletabis berpelukaannnn," teriak Dirgo sembari ikut memeluk mereka.


"Selamat hari keluar dari kandungan adikku tersayang, semoga dimasukkan lagi ya bund. Meresahkan soalnya," lanjut Dirgo langsung dapat sikutan diperut dari Tara.


Nyaman dan hangat yang dirasakan Tara saat ini. Ulang tahunnya kali ini sangat berbeda dari yang telah lalu, entah karena apa. Tapi Tara yakini, karena ada sosok yang ia akui akan menjaganya sampai hari nanti. Yaitu Zehn.


Tak ingin membuang buang monent ini, Chika mengambil Hp nya dan memotret kebahagiaan yang tercetak jelas dihadapannya.


"Mequis dulu Tar," potong Zehn sebelum Tara meniup lilin.


"Ah iya!."


"Eh tunggu," potong Dirgo celingukan. Seperti ada yang kurang sekarang, tapi apa?.


"Bun, si bocil setan udah pulang ya?."


"Astaga Manda," ucap Ratih segera berlari kearah meja makan yang tak jauh dari ruang tamu dengan diikuti Dirgo dari belakang.


"Astaga sayang, kamu ngapain masih disitu? Ayo keluar nak!," ujar Ratih mengulurkan tangannya kearah Manda yang masih meringkuk dibawah meja dengan isakan kecil.


"Ck, ngapain sih lo ngumpet dikolong meja hah? Emang ada gempa apa? Dasar bocil!," cerocos Dirgo geleng geleng kepala.


"Manda takut, katanya ada kebakaran," ujarnya lesu dalam pelukan Ratih.


"Udah Manda tenang ya, nggak ada kebakaran kok. Sekarang kita mau tiup lilin, kedepan yuk!."


Manda mengangguk, mulai melangkah menuju ruang tamu dimana ketiga orang itu menunggu mereka.


"Dia siapa bun? Kok Tara kayak pernah lihat ya?," tanya Tara.


"Dia ini calon kakak ipar kamu Tar," sahut Fariz  mendapat keterkejutan dari Tara.


"WAAHH ABANG MAU KAWIN!?."


"DIEM LU SETAN!!!."


"Dirgo!?," ucapan penuh ancaman keluar dari mulut Fariz.


"Iya Tara ingat, kamu yang kemarin di acara olimpiade kan?."


"Iya, kok kamu tahu?," tanya Manda merasa heran.


"Iya, Tara pernah lihat kamu lagi ngomong apa gitu sama bang Dirgo."


"Bisa nanti aja nggak ngobrolnya? Sekarang tiup lilin dulu," seloroh Chika merasa bosan. Lama lama tuh lilin bisa habis meleleh di kue tart yang amat menggiyurkan cacing cacing diperutnya.


"Ahh iya iya, mequis dulu Tar."


Tara mengatupkan kedua tangannya, tidak banyak yang ia pinta saat ini. Hanya satu keinginannya, selalu bahagia bersama orang orang yang dia sayangi.


Wuusshh...


"Yeeyyy...happy birthday sahabatku muachh muachh...," keduanya cipika cipiki.


Tatapan Tara terhenti tepat dimanik indah itu, mata yang selalu ingin dilihatnya. Netra indah milik Zehn. "Doa ku hanya satu Tar-."


"Selalu bahagia untukmu, Beby Ra!."


"Thanks Zehn, terimakasih untuk semuanya."


Pandangan juga senyuman keduanya seakan akan terkunci satu sama lain, tanpa mengindahkan tatapan malas dari sekelilingnya. Dengan tidak sabaran Chika mengambil alih kue tart dari tangan Zehn. "Oke oke kalian nikmati saja malam ini, belum tentu esok masih bisa sebahagia ini kan? Gue izin potong kue nya ya, Tara," cerocos Chika membawa kue coklat itu keatas meja.


"Makan aja sepuas lo!," balas Tara.


"Manda juga mau dong," sahut Manda mengikuti Chika duduk dilantai mengiris kue menjadi beberapa bagian.


"Baik kakak ipar! Saya potongkan dulu ya," balas Chika mendapat senyuman lebar dari Manda.


"Nggak usah panggil kakak ipar segala lo!," sungut Dirgo menunjuk Chika.


"Sudah jangan berisik berisik, nggak enak sama tetangga!," ujar Ratih menengahi.


"Kita siapin makan malam aja yuk bun, biar mereka nikmati kuenya dulu," balas Fariz diangguki Ratih. Kedua orang tua itu beranjak menuju dapur.


"Kedepan yuk Tar!," ajak Zehn mengambil jari jemari Tara untuk digenggamnya. Begini saja sudah berhasil membuat Tara salah tingkah. Ayolah siapa yang tidak salah tingkah jika berada dekat dengan crushNya?.


"Ihhh itu punya Manda kak!."


"Ambil lagi noh masih banyak! Jangan kayak nggak pernah makan kue lo!," sungut Dirgo menghindari tangan Manda yang masih ingin mengambil kuenya.


"Ck, dasar kalian berdua! Udah mau pada nikah juga masih kayak anak kecil!."


"Hehh Chiki, jangan ikut campur lo! Siapa juga yang mau nikah sama BOCIL kek dia!."


"Awwhhh...awwwhhh...lepasin bego sakit!," teriak Dirgo ketika cubitan kecil mendarat dilengannya.


"Biarin, salah siapa ngatain Manda Bocil! Manda itu udah mau lulus SMA tahu!."


"SERAH LU-."


"BOCIL SETAN!."


🌹🌹🌹


...AWAS AJA KALAU NGGAK KOMEN DISETIAP CHAPTER🙁...


...Jangan lupa Like...


...Vote...


...Poooiinnnm...