Zehntara

Zehntara
Chap 26 ( Tanggal merah )



Dear Readers


Buat kalian yang nggak pernah like dan komen, Please mulai sekarang jangan gitu ya...


Aku dan penulis lainnya sampai begadang cuma buat nulis satu chapter aja. Apakah sesusah itu untuk klik tombol jempolnya?.


Percayalah, komen dan like dari kalian itu mood banget bagi penulis. bener bener bikin semangat untuk nulis next chapter.


Jadi mulai sekarang tolong like dan komen ya meskipun cuma ngetik 'lanjut'


Dan terimakasih banyak yang sudah like komen....


Karena saling menghargai itu mudah, tapi sangat sulit untuk dilakukan...


Sekian terimakasih


🌹🌹🌹🌹


Suara riuh para penghuni kantin Adi Bangsa semakin memekakkan telinga Tara. Mood nya yang tiba-tiba berubah lesu membuat ketiga sahabatnya saling bertukar pandang.


"Gini nih kalau habis keluar dari lab beracun ujung ujungnya kena syndrom PSG," celetuk Gery.


"Syndrom Puyeng Stres Gila!!!."


Tara menatap tajam Gery, enak saja mengatainya dengan istilah yang tidak jelas.


"Mau gue cingcang Ger!?."


"Sans dong Tar, lagian kenapa tuh muka ditekuk dari tadi?. Lagi ada tamu ya?."


"Iya, makanya jangan bikin darah gue naik!," ketus Tara menempelkan kepalanya diatas meja.


"Kan, udah gue duga. Kenapa sih cewek kalau lagi PMS tuh suka galak banget? Padahal nggak bikin masalah juga akhir-akhirnya gue yang kena. Kesel banget gue jadi satu satunya cowok paling ganteng disini," cerosos Gery dengan tampang pede nya menaikkan kedua kaki diatas meja.


"YAUDAH GANTI ALAT KELAMIN AJA SONO KALAU PENGEN TAHU RASANYA KEK GIMANA!!!"


"CARI AJA DI MBAH GOOGLE JAWABANNYA!!."


"EMANG DARI SANANYA BEGITU GOBLOK!!! DASAR GERY PASTA GILA!!!."


Krik krik krik


Ke empat manusia absurt itu langsung ngibrit begitu saja saat tatapan horor para penghuni kantin menyorot mereka. Lebih parahnya pak Buncit juga berada disana, dengan tatapan tajam yang selalu ditakuti.


Dasar cewek kalau sudah kesal, tanpa pikir panjang lebar sudah asal nyeplos. Untung pak Buncit lagi laper, kalau nggak mungkin ke empat anak itu sudah kena mental.


"Gila lo pada, mau bikin pamor gue anjlok apa gimana hah!?," geram Gery dengan napas yang masih memburu.


Mereka berempat masih mengatur napas, duduk dibawah pohon beringin yang berada diarea belakang sekolah.


PLAAKK


"Awwhh sakit Tar!," Gery mengelus kepalanya.


"Kalau ngomong tuh dikiri kira dong!."


"Lo tuh anak Ipa kok dodol sih Ger!?. Buka buku reproduksi lo lagi gih, biar pinter!!," sahut Chika.


"Ngeremehin gue lo? Belum tahu aja data berharga gue di hp udah segudang!!!."


"GILA LO GER!!!," sentak ketiganya menatap nyalang Gery yang hanya menggaruk kepala sambil nyengir kuda.


Disisi lain, di depan mini market dua orang beda generasi itu tak henti hentinya beradu mulut. Entah sudah berapa lama mereka terus bercekcok tanpa malu melihat sekeliling yang menatap mereka berdua aneh.


"Lo tuh keras kepala banget sih!?."


"Kepala kan emang keras."


"PERUMPAMAAN BEGO!!!."


Dirgo menggusar rambutnya kebelakang, geram dengan gadis yang masih memakai seragam SMA di depannya ini. Hari nya benar-benar di buat sial. Bagaimana tidak jika benda pipih canggih miliknya rusak gara-gara si culun itu menabrak hingga hp nya terlempar jauh.


"Lo tahu nggak harga hp ini itu sama dengan nyawa gue berbulan bulan," ujar Dirgo menekankan setiap kata.


"Hah kok bisa?. Itu kan HP bukan nyawa."


"Asal lo tahu, demi beli Iphone ini gue rela nggak jajan berbulan bulan!!!."


"Terus apa hububgannya sama aku?."


"DASAR BOCIL OTAK TEMPE LO!!!."


Cukup sudah emosi Dirgo menguap sedari tadi. Percuma jika yang diajak bicara saja sudah tidak sejalur.


"Apes banget gue hari ini," guman Dirgo.


Gadis didepannya menundukkan kepala sembari menarik narik ujung roknya seperti anak kecil. Bahunya juga mulai gemetar, suara isakan pun mulai terdengar.


"Nggak usah nangis, tinggal ganti rugi apa susahnya sih?. Kan lo juga yang salah, jalan nggak pakai mata."


"Jalan bukan pakai mata kak tapi pakai kaki."


"MASIH BISA JAWAB LO!?."


"HHUUWAAAAA MAMAAAAHHHMMPPPP......"


"Diam atau gue unboxing lo!?," lirih Dirgo membekap mulut gadis itu.


"Cengeng banget sih, anak mami ya lo!?."


"Hikksss...Manda anaknya mama Hanum."


"Nggak penting, sekarang lo harus ganti HP gue titik nggak pakai penolakan!!!."


"Ta.. tapi Man..manda nggak punya uang hikss... harganya pasti mahal."


"Huuffttt.... bisa stres gue kalau gini caranya."


"Manda bakal ganti kok kak," sahutnya menatap Dirgo dengan puppy eyes juga hidung memerah.


"Gimana caranya!?. Katanya nggak punya uang."


"Minta sama mama dulu."


"Ya udah gih minta, mana nomor hp lo!!."


Gadia  bernama Manda itu merogoh saku rok nya lalu menggeledah tas saat benda pipih yang dicarinya tidak ada.


"Yah Manda lupa," keluhnya menepuk jidat.


"LUPA APALAGI HM?."


"HP Manda ketinggalan di rumah."


"Ingin ku membunuhmu!!!."


"Kakak kasar banget sih. Kalau kakak bunuh Manda nanti mama sama papa sedih terus nggak ada yang jagain mereka lagi dong."


"Anj~.."


Dirgo mengelus dadanya, berusaha tidak mengumpat depan anak dibawah umur.


"Ternyata ada yang lebih parah nyebelin dari adek gue ya!?."


Manda mengerucutkan bibir, matanya kembali berkaca kaca saat pelototan Dirgo menusuk netranya.


"Jangan nangis lagi kayak bocah lo!!."


"Makanya jangan melotot kak, serem tahu!."


"Kelas berapa hah!?."


"Kelas dua belas!."


"WHAT!?."


🌹🌹🌹🌹


Suara bel pulang sekolah menggema diseluruh penjuru Adi Bangsa. Tara sibuk mengemas barang barangnya dengan air muka kesal saat notip dari abangnya muncul.


"Terus lo pulang sama siapa?. Kalau gue bawa motor sendiri sih bisa gue barengin, tapi gue juga dijemput," ujar Anna.


"Chika juga ada ekstra lagi. Pulang sama siapa gue?."


"Bukannya lo harus latihan Olimpiade ya?."


"Hari ini libur. Pak Huda lagi keluar kota."


"Tara, tuh!," Tara mengikuti arahan dagu Anna, sosok cowok yang ingin dia hindari sekarang sudah berada di ambang pintu.


'Aish gue masih malu banget sama kejadian kemarin malam, kenapa dia kesini sih?.'


"Gue duluan Tar!."


" Ahh iya hati-hati!."


Zehn melangkah mendekati Tara dengan senyum yang tak pernah luntur. Sedangkan Tara meremas tangannya sendiri, malu dengan keadaan semalam yang tak pernah ia kira. Berdebat hanya karena masalah hubungan? Oh sungguh memalukan. Toh, juga tak membuahkan hasil.


"Bang Dirgo suruh aku antar kamu pulang."


"Zehn!."


"Hm?."


"Jangan panggil aku kamu dong, nggak enak didengernya!."


"Maka dari itu harus dibiasakan supaya nanti nggak canggung lagi kalau udah resmi jadi pacar aku, hm!?."


"Tapi kan malu kalau nanti yang lain dengar."


"Yang lain siapa?."


"Yah sahabat sahabat aku."


"Nah itu kamu sendiri udah panggil aku kamu," Tara menutup mulutnya kaget, bisa bisanya dia keceplosan.


"Ah~.."


"Udah ayok pulang!."


Tara menggembungkan pipinya, kebiasaannya saat sedang kesal.


Diperjalanan ibu kota sekarang ini cukup padat. Banyak orang pulang dari aktivitasnya masing-masing. Zehn merasa aneh, sedari tadi Tara terus bergerak hingga membuatnya tidak bisa fokus.


"Tar kamu kenapa?."


"APA NGGAK DENGAR!??."


"KAMU KENAPA KOK GERAK GERAK MULU!?."


"AKU BERDARAH!."


Ccciiiiitttttttttt


Zehn mendadak berhenti, untung saja dia berada di pinggir jalan dan tidak ada pengendara lain dibelakangnya.


"APANYA YANG BERDARAH!?."


"Eh.. maksudnya Tara lagi tanggal merah, ini kayaknya tembus deh."


Zehn membulatkan matanya juga mulut yang sudah membentuk huruf 'O'.


"Terus gimana!?," panik Zehn memandang sekitar.


"Cari pom bensin dulu yuk!."


"Ah itu ada pom bensin," tunjuk Zehn diujung jalan agak dekat dari tempatnya sekarang.


Mereka berdua kembali menjalankan motor menuju pom bensin yang ada diseberang jalan. Sesampainya disana, Tara langsung berlari menuju toilet umum. Dan benar saja, mata Zehn menangkap warna merah di rok belakang Tara.


"Oh tidak," gumam Zehn mengusah wajahnya.


Tidak lama kemudia suara notifikasi muncul dilayar genggam Zehn.


Calon pacar


^^^Anda^^^


^^^Gawat kenapa?^^^


Calon pacar


Aku lupa bawa rotinya


^^^Anda^^^


^^^Roti apaan sih?🙄^^^


Calon pacar


Pembalut Zehn pembaluutttt😬


^^^Anda^^^


^^^Haaa??? Terus gimana???^^^


Calon pacar


Tolong kamu beliin ya☺


"APA!?."


Zehn menggusar rambutnya kasar, bagaimana mungkin dia harus membelikan barang spesial milik perempuan itu?.


^^^Anda^^^


^^^Harus aku ya Tar?^^^


Calon pacar


Terus siapa lagi? Ini udah aku bersihin


Calon pacar


Oh iya, jangan lupa beli daleman sama celana ya


Calon pacar


Cepat Zehn!!! Udah nggak nyaman ini


Zehn memejamkan mata dan menarik napas dalam dalam, berusaha tidak melampiaskan kepada benda sekitar.


"Anggap ini sebagai tes menjadi calon pacar... Semangat Zehn!!!," ujarnya meninju udara.


Zehn kembali mengetikkan pesan untuk Tara sebelum dia melenggang mencari toko terdekat.


^^^Anda^^^


^^^Oke tunggu sebentar jangan kemana mana^^^


Zehn berhenti disalah satu mini market yang tak jauh dari pom bensin tadi. Dengan langkah mantap dia masuk kedalam.


"Ekkhmm lo pasti bisa Zehn!!!."


Setibanya di rak yang dituju, Zehn memijat pangkal hidungnya, pusing harus pilih yang mana.


"Buset banyak bener macemnya."


Zehn kembali melihat pesannya dengan Tara dan membuatnya ingin mencubit pipi calon pacarnya itu. Tunggu, calon pacar? Emangnya ada ya?. Seharusnya kan calon istri, ini kenapa ada calon pacar juga?.


...Satu pesan belum terbaca...


Calon pacar


Mau kemana emang? Aku aja udah telanjang


kayak gini, gimana sih!?🙄


^^^Anda^^^


^^^Iya-iya. Terus ini aku harus pilih yang mana?^^^


^^^Anda^^^


^^^Banyak banget variannya^^^


Calon pacar


Yang ada sayapnya warna ungu


Zehn manggut manggut sembari mencari pesanan Tara. Setelah matanya menangkap persis benda itu, dia mengambil dengan senyum lebar terbit diwajah.


"Kakak suka lasa blubely?."


Zehn menoleh menatap bingung anak kecil yang tinggi hanya sampai selututnya. Alis Zehn menyatu saat anak laki laki berusia sekitar empat atau lima tahun itu mengambil benda yang sama dengan dirinya cari, bedanya anak itu mengambil warna orenye.


"Kalau aku mau beli lasa jeluk aja," ujarnya cadel.


"Cil, lo mau beli itu?."


"Iya!."


"Buat apa?," tanya Zehn sedikit kikuk.


"Di makan lah kak"


"Wwooaahh hebat lo cil, gue aja sampai nggak mampu!!!."


Zehn menekankan setiap kata yang keluar dengan wajah tak percaya.


"Emang lo kira itu apa?."


"Pelmen kan?."


"Pppfffttt...."


Tawa tertahan Zehn membuat anak kecil itu mengerjapkan mata dua kali.


"Udah gue mau bayar dulu, kasihan cewek gue nunggu lama."


"Eh kak.."


"Sekalian bayalin dong, nanti kalau mama alka tahu beli pelmen bisa dimalahin."


"Ingin ku berkata kasar padamu nak!."


Mau tidak mau Zehn menurut, membawa anak kecil itu kekasir bersama dirinya.


"Ekhhmm.... buat cewek saya kok mbak."


Mbak kasir itu mengulas senyum geli, melihat wajah Zehn yang cukup terlihat merah menahan malu. Setelah selesai membayar, Zehn membawa Alka agak jauh dari tempat kasir.


"Nih punya lo!."


"Makasih, kakak baik banget deh."


"Itu bener mau lo makan!?."


"Iya!."


"KAMU BERI APA ANAK SAYA HAH!??."


"Hah itu~"


"Mama, Alka dipaksa buat nelima  pelmen dali kakak ini."


Tudung Alka membuat Zehn melotot menatapya. Dasar anak kecil kelewat pintar emang.


"NGGAK GITU CERITANYA YA CIL!!!."


"KAMU BENTAK ANAK SAYA?."


"BERANINYA YA KAMU BERI ANAK SAYA GINIAN!?."


Suara keras ibu ibu itu berhasil membuat perhatian dari pengunjung mini market.


"Sial, ribet ini kalau udah berurusan sama the power of emak emak!," gumam Zehn.


"Kabur aja lah... Awas aja lo cil sampai ketemu lagi gue pites mulut lo!!!," teriak Zehn berlari keluar begitu saja meninggalkan wanita paruh baya mengomel tak jelas.


'Dasar bocil setan.'


Napas Zehn masih tersenggal senggal, sekarang dia berada di toko baju. Tinggal satu misi lagi yang harus dilakukannya. Hendak masuk kedalam toko, dering telepon membuatnya berhenti.


"KEMANA AJA KOK LAMA BANGEEEETTTT!!!."


Zehn menjauhkan benda pipih itu, mengusap telinganya yang hampir saja bermasalah.


'Gila, cewek kalau lagi pms udah ngalahin amukannya singa ya?.'


"Iya Tara tunggu sebentar lagi ini udah dijalan kok."


"Dijalan kok bisa angkat telepon hah!?."


"Udah dulu aku tutup, bye!."


Setelah menutup telepon, Zehn segera berlari masuk menuju kasir. Tidak ingin membuat Tara semakin marah.


"Mbak tolong ambilin dalaman sama celana dong, cepat!!!," panik Zehn.


"Pilih sendiri dong mas, kan saya nggak tahu selera sama ukuran mas berapa!."


Wajah Zehn memerah, tangannya mengepal menahan teriakan yang ingin meledak. Mbak kasir itu juga menatapnya geli.


"Maksudnya bukan buat saya mbak tapi buat cewek!!!."


"Owhh buat pacarnya ya!?."


"Nggak usah banyak tanya mbak cepat ambilin!!!."


"Buru-buru amat mas, berapa ukurannya!?."


"Hah ukuran?," Zehn menggaruk lehernya yang tidak gatal, mencoba berpikir cepat tanpa membuang waktu.


"Bungkus semua ukuran aja, cepat!!!."


"Oke tunggu sebentar!."


🌹🌹🌹


HOLA HOLAA👋


Maaf kemarin nggak update, gegara kurang enak badan hehee


Tapi tenang ya, hari ini bakal double update. Ditunggu yaaaa....


Gimana sama Chap ini, hm?


Sekedar Info, Bisa dilihat blurb Zehntara yang ada didepan atau awalan novel ya. Blurb Zehntara author ganti, bisa dilihat..


...JANGAN LUPA SPAM KOMEN...


...LIKE...


...POOIINNN...


...SEE YOU NEXT CHAP...


...LOVE YOU ALL GAESS😚...


...☠...


...🖤...


...👽...