Zehntara

Zehntara
Chap 43 ( Taman )



...WARNING TYPO BERTEBARAN!...


...Jangan lupa saling menghargai😉...


...🌹🌹🌹...


"WOW JAWABAN YANG TEPAT!."


Air muka peserta Adi Bangsa juga para pendukung terlihat sangat senang, kecuali Jez yang masih terpaku ditempat. Bukan kaget karena jawabannya lah yang salah, tapi karena pelukan erat ia dapatkan dari gadis yang kini berteriak histeris di dada bidangnya.


"HUUWWAAAA AARGHHH BETULKAN JAWABAN GUE HIKKSSS AARRGHHH....."


Rekan lainnya cekikan melihat Chika yang masih memeluk Jez dengan sudut mata berair.


mereka ber-empat menahan tawa ketika melihat air muka Jez memerah dan tubuh membeku. Bagaiman tidak? Sedingin dinginnya Jez, dia hanyalah seorang pemuda normal jika sesuatu sensitif mengenai tubuhnya.


Tidak sadarkah Chika? Dia sudah terlalu erat memeluk Jez dengan menaik turunkan tubuhnya. "Tar," panggil Zehn mengalihkan pandangan Tara.


"Hm?."


"Aku juga pengen," balas Zehn menampangkan wajah semelas mungkin. Tara mengernyit, tak paham apa yang dimakhsud cowok disampingnya itu.


"Pengen apa?."


"Tuh kayak mereka, peluukkk!," balasnya manja yang langsung kena pelototan dari Tara.


"Nggak mau! Dasar mesum!," sungut Tara membuat wajah Zehn semakin memberenggut.


"Lepasin!," ujar Jez dengan suara beratnya.


Chika melotot, sadar dengan apa yang dilakukannya segera dia melepas pelukan itu. Wajahnya berubah canggung, menatap rekan lainnya yang juga menatap dia seperti sedang kepergok melakukan sesuatu.


"Eekhhmmm....kurang dua soal lagi gays," ucap Chika mengalihkan kecanggungan.


"Untung tadi lo yang jawab, kalau lo ikutin jawaban gue sama Jez-."


"Nggak tahu lagi deh," lanjut Zehn yang dibalas senyum lebar Chika.


Tara mengalihkan pandang ke arah penonton, melihat sosok yang dikenalinya sedang menjulurkan lidah dengan senyum penuh kemenangan. Pandangan Tara terhenti pada sosok gadis berkepang dua yang memasang wajah masam juga menatap abang-nya.


"Lihat apa Tar?," tanya Zehn mengikuti arah pandang Tara.


"Datang juga tuh orang, kirain nggak bakal mau datang ke acara ginian."


"Jadi kamu yang suruh bang Dirgo ke sini?," Zehn mengangguk.


Hendak Tara bersuara, bertanya siapa perempuan yang berinteraksi dengan abangnya kepada Zehn. Namun suara ketukan mix membuat niatnya urung.


"Oke para peserta, kita lanjut ke soal kedua!."


"Pertanyaannya...."


"......BAGAIMANA CARA MENGIDENTIFIKASI KEBERADAAN UNSUR C DAN UNSUR H DALAM SUATU SENYAWA!?."


Tiiittttt


Tiiittttt


"YAK SMA PELITA!."


"Aarrghhh....," teriak Jez kesal, tak hanya dirinya- rekan lainnya juga menghela napas kasar. Kalah cepat, adalah hal yang paling menyebalkan.


Senyum lebar dari Manda membuat hati Dirgo memanas.


"Adik bimbing Manda," ujarnya bangga tanpa suara yang dapat ditangkap Dirgo.


"BAIK, MARI KITA DENGAR JAWABAN DARI SMA PELITA!."


Zeano, mengambil mix yang berada ditengah tengah. Sebelum mengeluarkan suara, dia menatap jauh ke arah Manda yang mengarahkan dua jempol kepadanya. Tatapan sinis Dirgo layangkan melihat interaksi Manda dengan juniornya itu.


"Ekhhmmm...jawabannya adalah, dilakukan dengan percobaaan sampel organik yang mengubah C menjadi CO2 berdasarkan sifat mengeruhkan air kapur. Sedangkan unsur H akan menjadi H2O jika kertas kobalt yang mengubah warna kertas kobalt dari biru menjadi merah muda," jawab Zeano sangat sangat santai.


"WOW JAWABAN YANG TEPAT!."


Suara gemuruh tepuk tangan mengisi ruangan, senyum cerah terbit di kalangan tim Pelita.


"Masih ada satu kesempatan, dan ini yang terakhir kali menentukan siapa pemenangnya-."


"Kita bisa! Adi Bangsa pasti bisa!," lanjut Zehn memberi semangat kepada rekannya. Semua mengangguk, meski dalam hati sudah tak karuan.


"Fokus Fokus dan Fokus! Paham!?."


"Paham!," jawab mereka serempak, Zehn mengulum senyum membalas energi yang mulai tumbuh dari temannya.


"Oke, apapun yang terjadi...langsung tekan bel! Mungkin habis ini Biologi, jadi tanpa menghitung langsung tekan bel aja!."


"Kamu aja Zehn yang tekan, biar nanti nggak tumpang tindih," sahut Tara.


"Oke, semangat! Adi Bangsa!?."


"PASTI BISA!."


"WOWW SATU SAMA, DAN SOAL KALI INI ADALAH PENENTU SIAPA YANG AKAN MEMBAWA PIALA KEMENANGAN!."


"KITA MULAI SAJA.... SOAL KEDUA ADALAH...."


"....MENGAPA DIFUSI TERMASUK TRANSPOR PASIF, SEDANGKAN POMPA NATRIUM KALIUM TERMASUK TRANSPOR AKTIF!?."


Tiiittt


Tiiitttt


"YAK ADI BANGSA!."


"Difusi termasuk transpor aktif karena perpindahan molekul atau ion tanpa menggunakan energi sel. Pompa natrium kalium termasuk transpor aktif karena perpindahan molekul atau ion menggunakan energi dari sel itu!," sahut Zehn cepat.


"BAGAIMANA DEWAN JURI? APAKAH BENAR ATAU SALAH!?."


Deg


Deg


Deg


Suasana semakin tegang tak kala juri saling berbisik menimang jawaban dari Zehn. Ke enam peserta Adi bangsa saling merapalkan doa dalam hati. Rasa cemas, takut, gelisah, semua menjadi satu. Ini akhir dari kisah perjuangan mereka. Jawaban dari juri adalah penentu babak final ini.


Tara meraih tangan Zehn yang saling bertaut, menggenggamnya erat seakan memberi kekuatan bahwa kita akan menang.


"Jawaban kamu benar kok, tenang aja! Aku jamin," ujar Tara dibalas senyum manis Zehn yang malah membuat hatinya berdegup tak karuan.


"YAK, JAWABAN TIM ADI BANGSA-."


"BENAR!."


"WOOOOWWWW....."


Sorak sorai kemenangan memenuhi ruangan. Spontan Zehn memeluk Tara erat yang juga dibalas sang empu. Kali ini Chika tak lagi memeluk Jez, beralih menghampiri Iren yang berada disamping Jez.


"Kasian, ada yang kalah nih! Jangan nangis yaa...."


Manda terperanjat kaget, ketika suara mengejek itu berada tepat disampingnya. Sangat menyebalkan!.


"Dasar kakak nggak punya hati!."


🌹🌹🌹


"Woy udah dong, itu gue beli buat Ziro bukan buat monyet kayak lo!," teriak Saniya berkacak pinggang kepada duo twins yang dengan santai memakan buah apel.


"Cuma dua aja San, Bos juga nggak keberatan tuh!," balas Adit.


"Enak San, besok ganti bawa salad buah ya? Lebih enak itu kayaknya," request Aditya dengan tampang tak berdosanya sudah membuat dua tanduk muncul diatas kepala Saniya.


"Iya, gue bakal bawain salad buah tapi LO HARUS KETABRAK KERETA DULU!."


Ziro mengulas senyum melihat wajah dua sahabat kembarnya tersedak. Gila, demi salad buah harus mengorbankan nyawa dulu?. "Ck, sadis banget lo San!," balas Adit.


"Jelek jelek gini kalau gue berdiri di rel kereta api pasti semua orang teriakin gue, biasalah fans," sahut Adit dengan bangganya menepuk dada.


"Idih, ngapain teriakin orang jelek kayak lo! Pantesan jomblo."


"Nyidir diri sendiri ya San?," sindir Ziro dibalas gelak tawa duo twins membuat Saniya kincep.


"Dasar Jombang!," sahut Saniya melirik ketiga cowok itu.


"Apaan tuh?."


"JOMBLO MELULU BAHAGIA JUGA KAGAK!."


"Hiyyaakkk!!!."


"Aahh udah stop ketawanya, sakit kepala gue," balas Ziro seraya memegang kepalamya yang terasa nyut nyutan.


Ceklek


Mereka menoleh ke arah pintu, sosok tinggi berwajah dingin itu mengawali beberapa orang yang mulai memasuki ruang inap Ziro. Mata Saniya menyipit tak kala senyum lebar menghiasi wajahnya. "Wah wah wah ada tamu nih, gimana olimpiade-nya?," cerca Saniya.


Ya, mereka adalah enam orang yang baru saja menerima piala besar kemenangan. Air muka yang terlihat memancarkan kebahagian itu langsung ditangkap Ziro.


"Selamat, kalian hebat!," ujar Ziro sebelum sepatah kata keluar.


"Kemenangan ini buat lo, Ziro!," balas Zehn memberikan souvenir berupa boneka kecil lucu dan bucket bunga berukuran sedang.


Sekian detik, pandangan dua saudara itu saling beradu. Memancarkan semua kata yang tak bisa di keluarkan. Perasaan campur aduk itu tidak bisa didefinisikan.


"Terharu gue, ini kan perjuangan kalian. Kenapa langsung kesini, pakai kasih ini segala lagi."


"Lo juga bagian dari kita," balas Jez.


"Cepet sembuh Ro, gue kangen berantem sama lo!," ucapan Zehn dibalas cubitan kecil di lengan dari Tara.


"Ck, sekarang juga gue ladenin kalau lo mau."


🌹🌹🌹


"Masih ingat taman ini Tar?."


"Masih..."


".....jadi waktu itu kamu yang kasih aku coklat?."


"Iya, anak kecil yang dulu cengeng cuma gara-gara nggak di bolehin naik kapal-."


"Sekarang dia udah gede, cantik lagi."


Wajah Tara bersemu merah, angin sore menerpa wajahnya yang sedang dalam mode bahagia. Mengingat kembali masa kecil, dimana waktu pertama kali dirinya bertemu Zehn. Taman ini, taman yang pernah ia lupakan. Sosok anak laki laki juga anak perempuan kecil itu kini kembali dipertumukan dalam satu hati.


Pantas, Tara tak lagi asing dengan wajah sosok yang kini memeluk dirinya dari samping. Menikmati suasana sore yang indah ini. "Sejak kapan kamu tahu kalau itu aku?."


"Sejak di rumah sakit, gara-gara lihat wajah Om Fariz aku jadi ingat kalau kamu anak kecil yang aku kasih coklat."


"Jadi kamu ingat gara-gara lihat ayah?," heran Tara. Bagaiman bisa Zehn tidak bisa langsung mengenalinya sebelum melihat wajah Fariz? Apakah sesulit itu melupakan wajah ayah Tara.


"Iya, aku masih ingat wajah ayah kamu."


"Ck, aneh! Nggak ingat wajah aku malah ingat wajah ayah," ujar Tara mencebikkan mulutnya. Sedikit merasa kalah dengan sang ayah yang tak dilupakan Zehn.


"Gimana ingat wajah kamu kalau perbadaan kamu semasa kecil sampai sekarang  aja udah hampir 98% beda."


"Oh iya juga sih," sahut Tara manggut manggut. Ada benarnya juga.


"Jadi sekarang aku mau naik kapal, boleh kan?," lanjut Tara memasang puppy eyes, membuat Zehn mau tak mau menanggukkan kepalanya.


Tak jauh dari mereka duduk terdapat sebuah danau yang terdapat banyak kapal berjejer. Sore hari yang indah, banyak sepasang pemuda yang menghabiskan waktu mereka di taman ini. Tak terkecuali Zehn Tara yang kini sudah berada ditengah tengah danau.


Senyum itu tidak bisa disembunyikan Tara, bibirnya selalu melengkung ke atas. Menatap tampang rupawan di hadapannya ini selalu membuat dadanya bergemuruh. Seperti ada kupu kupu berterbangan diperutnya.


"Jangan senyum mulu Tar, aku nggak kuat lihatnya."


"Ekhhmm...Siapa yang lagi senyum," balas Tara menetralkan wajahnya. Zehn terkikik geli melihat semburat merah di muka Tara.


"Kapan kamu ngomong sama ayah?," tanya Tara mengalihkan ke gugupan yang mulai menyeruak kembali.


"Ngomong apa?," tanya Zehn. Padahal sebenarnya dia sudah tahu arah pembicaraan Tara akan kemana.


Gadis itu mengela napas panjang sebelum membuka suaranya.  " Minta ijin ke ayah buat kita jadian," balasnya malas.


"Kalau itu  sih emmm.....mungkin tunggu sampai bang Dirgo pulang ke rumah aja ya? Karena kata ayah kamu kalau bang Dirgo udah boleh pulang berarti udah di maafin."


Nah kan, sudah Zehn duga seperti apa respon Tara. Wajah gadisnya itu kini memerah bukan karena salah tingkah, tapi karena menahan kesal. Wajahnya ditekuk sempurna dengan bibir manyun ke depan, sungguh membuat Zehn ingin mencubit kedua pipi Tara.


"Basi tahu Zehn!."


"Ya gim-."


"Kamu tahu nggak ada tiga hal yang tidak bisa dihitung di dunia ini?," seloroh Tara.


"Hah?," cengo Zehn yang merasa bingung dengan pertanyaan aneh gadisnya itu.


"Tahu nggak!?," sungatnya spontan membuat Zehn menggelengkan kepala.


"Yang nggak bisa di hitung di dunia ini itu-"


"Banyaknya bintang dilangit, banyaknya pasir dipantai, dan banyaknya alasan laki laki!."


"Dan kamu termasuk golongan ke-tiga!."


Skakmat


Rahang Zehn jatuh kebawah, ternyata gadisnya itu bisa marah juga ya? Sampai menyindir hingga menohok hati kecilnya.


"Bukan alasan Tar....."


".......tapi emang iya sih, aku takut sama ayah kamu."


"SAMA AJA BO'ONG ZEHN IIIHHHH KESEL!!!!."


"Ehhh ehh Tar jangan gerak ger-."


BYUR!


🌹🌹🌹


HOLA HOLAAA👋


Maaf ya sekarang Update nya selalu ke-maleman


Sabat ya gays, buat teman mau tidur hehehee😁


Gimana nih sapa Chap ini?? Komen yuk!


Like tiap komen ya friends, itu juga termasuk dukungan loh🤗


MAMPIR DI KARYA BARU AUTHOR! TEKAN PROFIL AJA_ ANGKATAN GENG HEROS SELANJUTNYA_


...JANGAN LUPA LIKE...


...SPAM KOOMEEN...


...VOTE...


...POOIINN...


...See You Next chap...


...Love You All Gays😘...


...Ini Author kasih Visual Duo Twins yang belum sama sekali...