Zehntara

Zehntara
Chap 14 ( Murid Baru )



Dua cowok berbadan tinggi dengan mata elangnya saling menusuk dinetra lawan pandangnya. Berdiri didepan pintu bertuliskan 'ruang kepala sekolah'.


"Anggap kita lagi akting sinetron!."


"Cckk___kalau bukan karena Saniya gue ogah deket sama lo," sengit Ziro.


Zehn tersenyum miring, andai bukan karena Saniya ada disisi mereka mungkin dia dan Ziro tidak akan berjalan bersama, bahkan berbicara langsung seperti ini.


Ceklek


"Udah selesai, yuk ke kelas 10 ipa 4!."


"10 Ipa 4??," ujar Zehn dan Ziro bersamaan.


"Iya 10 Ipa 4, kenapa emang?."


"Tara juga dikelas itu!," sahut Zehn disambut wajah berseri Saniya.


"Wahh kebetulan banget, jadi nggak canggung lagi deh kalau ada Tara."


Dari balik dinding, sebelah ruang kepsek dua makhluk mengintip mereka bertiga. Mata takjub keduanya menatap Saniya penuh kagum, wajah cantik Saniya tak kalah dengan paras manis nan imut Tara.


"Jadi itu yang namanya Saniya?," bisik Maya yang berada diatas punggung Gery dengan posisi mengintip.


"Sembilan puluh persen dia orangnya___udah cantik dikelilingi dua cowok tampan lagi, gimana Tara bisa menang ini!?."


Plakk


"Aawhh sakit May!!!."


Maya segera membekap mulut Gery dan segera menariknya menjauh saat ketiga orang menoleh kearah persembunyian mereka berdua.


"Siapa?," tanya Saniya dibalas gelengan 2Z.


Dilain sisi Tara muak dengan ocehan sahabatnya satu ini. Sepanjang perjalanan tak henti henti dia berbicara ini itu sampai rasanya ingin pecah gendang telinganya. Menyusuri koridor koridor tak luput membuat Chika diam.


"Gue tuh sebel banget sama makhluk kek dia.kok ada gitu cowok nyebelin parahnya sampai ke puncak gunung himalaya plus dingin banget lagi omongannya itu loh Tar pedes nylekit sampai ke ulu hati emang ya orang kalau nggak punya hati itu suka ngomong seenaknya tanpa mikir dua kali padahal dia tuh jarang ngomong loh tapi ya gitu kalau udah buka mulut iihh sebell!!!!."


Tanpa koma tanpa titik Chika nyerocos sepanjang jalan, Tara hanya bisa menutup kedua telinganya. Bahkan Chika tidak peduli dengan tatapan tatapan aneh yang mengarah pada dirinya. Suara cempreng khas Chika berhasil membuat suasana sekitar teralihkan.


"Gara gara Korek Jez gue jadi pulang angkot, udah pulang sore sore kena apes lagi!."


"Lo dengerin gue nggak sih Tar??. Gue tuh lagi kesel banget tahu!!."


"Iya Chika sayang gue dengerin kok, tapi bisa nggak ceritanya ntar aja waktu dikelas biar gue nggak malu dilihatin banyak mata," ujar Tara menatap sekililing begitupun juga Chika.


"Apa lo lihat lihat!?. Nggak tahu Singa kalau lagi kelaparan ya, hah??____gue colok juga tuh mata!."


Semua murid langsung melangkah menjauh daripada mendengarkan ocehan Chika yang tak jelas.


"Dasar lo Chik, suka banget bikin gue malu," ujar Tara masih menutup wajahnya dengan buku yang dia ambil dari tangan Chika.


"Cih, nyindir diri sendiri ya lo!?. Sering juga lo Tar yang bikin muka gue anjlok!."


"Udah ah gue mau ke kelas."


"Eh Tar gue belum selesai cerita ini!."


Chika mulai mengejar Tara yang sudah mempercepat langkahnya menuju kelas. Didepan terlihat Maya dan Gery sedang berjalan mondar mandir didepan kelas Tara.


"Lo pada ngapain disini?, mondar mandir nggak jelas lagi," ucap Chika diangguki Tara. Gery tiba tiba menarik Tara, sedangkan Maya menarik Chika menjauh tepatberhenti didekat gudang yang cukup sepi.


"Ngapain sih kalian berdua ajak kita kesini?."


"Iya serem tahu!," sahut Tara.


"Gue bawa berita ter uptudate and ter hot and__"


"Stop Ger!!!. Gue dari tadi udah pusing dengerin ocehan Chika dan sekarang lo juga mau ngoceh?, kalau nggak penting gue capcus!!!."


"Cewek yang lo cerita-in kemarin masuk kelas lo Tar!!!," langkah Tara terhenti mendengar ucapan Maya.


"Ouh Saniya, terus?."


Ekspresi Maya dan Gery cengo yang hanya mendapat respon sangat sangat biasa dari Tara, sedangkan Chika menautkan alis kurang paham apa yang mereka berdua bicarakan.


"Hah cuma gitu tanggapan lo Tar??. Lo nggak takut gitu atau cemburu hah?."


"Ngapain gue cemburu sih Ger!?.Saniya bukan tandingan gue lagi, " senyum berseri Tara mengingat perkataan Zehn kemarin sore.


"Wait!!__kalian lagi bahas apa sih?. Saniya, saniya siapa?," tanya Chika mendapat hembusan napas dari ketiga sahabatnya.


"Dasar ratu kepo telat info!!!," serempak ketiganya membuat mulut dan mata Chika melebar.


"Wah gini ya sekarang, mentang mentang gue nggak sefrekuensi lagi lo pada main rahasia rahasia-an ya!!!___oke gue bisa cari tahu sendiri!!!," teriak Chika saat tiga raga hilang ditelan belokan.


Bel berbunyi nyaring diseluruh penjuru sekolah Adi Bangsa. Tara sedang menunggu murid baru didalam kelasnya. Suara riuh para kaum adam menggosip tentang anak baru yang sudah tersebar akan kecantikan wajahnya.


"Kalau beneran cantik bakal gue masukin daftar list calon istri nih!," ujar cowok disamping bangku Tara.


"Yakin lo dia bakal ngelirik hah??, tampang kayak panci gosong aja gaya gayaan deketin bidadari gue."


"Idih bidadari kepala lo!?. Udah deh nggak usah pada ngehalu, nanti pada nyesel lagi kalau dapat pajak jadian dari gue."


"Pajak jadian?. Pajak hutang lo tuh di mak Ser udah setumpuk, nggak modal banget jadi cowok!."


Perbincangan para cowok disebelahnya membuat Tara dongkol, dia tidak suka jika Saniya terlalu dipuji puji apalagi Tara masih takut jika Saniya akan jadi saingannya memikat hati Zehn arialdo.


Suara desas desus itu terhenti saat wali kelas mereka Pak Tirto datang.


"Diam semuanya, kembali ke tempat duduk kalian!!!."


Diluar kelas Saniya meremas tangannya grogi, dia takut jika nanti tidak bisa akrab dengan teman barunya apalagi jika mengingat umur Saniya yang sudah diatas mereka.


"Tenang aja San, semua anak anak disini baik kok," ucap Zehn mengelus puncak kepala Saniya. Ziro mengisyaratkan Zehn agar menurunkan tangannya.


'Cckk masih cemburu aja lo, dasar!'


"Disini juga ada Tara kan, jadi jangan khawatir santai aja!," sahut Ziro.


"Oh ya kamu udah bawa obat kan?."


"Udah kok Ro."


Suara panggilan dari dalam mengalihkan pandangan mereka bertiga. Anggukan dari Zehn dan Ziro membuat Saniya mantap melangkah masuk kedalam. Ruangan kelas seketika hening saat Saniya berjalan diatas panggung lantai.


Rahang para murid cowok maupun cewek jatuh melihat sosok Saniya bak model berjalan didepan mereka. Netra Tara dan Saniya saling bertemu, senyuman manis Tara lemparkan membuat grogi Saniya berkurang.


Saniya mengangguk, menarik napas sedalam mungkin. Menatap mereka yang akan menjadi teman barunya, seperti mimpi Saniya bisa berdiri disini. Jika tidak karena Ziro membujuk sang Dady pasti dia tidak akan disini sekarang.


"Hai nama gue Saniya anggraina bisa dipanggil Saniya. Mohon bantuan kalian semua, semoga kita bisa berteman dengan baik!."


"Boleh minta nom__"


"Gue harap kalian perlu tahu. Kalau nyali lo masih secuil sama si leader Heroz mending mundur aja deh. Sayang, Saniya udah ada yang punya!," ujar Tara memotong ucapan cowok disebelahnya.


Saniya menahan tawanya, tak disangka Tara akan berbicara seperti itu. Trik yang cukup bagus agar dirinya bisa hidup tenang tanpa gangguan para kaum buaya darat. Mata penghuni kelas memancarkan raut tak percaya jika Saniya milik Ziro, leader geng Heroz. Benarkah itu?.


"Lo serius Tar?," tanya Anna diangguki Tara.


Suara helaan napas terdengar bersamaan, membuat Tara merasa puas.


"Ya udah kamu boleh duduk dibelakang Tara nak!!!."


Saniya berjalan kearah Tara tanpa lupa menerbitkan senyum manisnya.


"Thanks Tar, lo tahu banget apa yang paling gue nggak suka!."


"Siapa dulu, Tara gitu!."


Anna terheran melihat keduannya yang sudah akrab. Jiwa kepo Anna sudah meronta ronta, tak tahan ingin bertanya apa benar Saniya milik Ziro?. Kalau benar, patahlah hati seorang Anna:(.


🌹🌹🌹🌹


Ruangan kerja berdomin warna hijau seketika hening, padahal dua sosok sedang duduk didalam dengan pikiran masing masing.  Aura mereka sangat kental membuat deru napas saling terdengar.


"Kalau tujuan mu kesini karena masalah malam itu, lebih baik kau pulang saja!!!."


Suara bariton memecah keheningan, laki laki ber Jaz hitam mendongak menatap sayu lawan bicaranya.


"Itu bukan tugasmu Yo, itu kesalahan anak mu. Jadi biarkan dia sendiri yang datang kepadaku!!!," lanjut Fariz.


"Meski begitu aku juga merasa bersalah Ris!."


"Sudahlah, anggap ini tidak pernah terjadi!."


Ya, Aryo. Papa Ziro datang mewakili anaknya yang sudah berani menampar putri sahabatnya. Merasa malu, bersalah, semua bercampur. Fariz juga merasa kesal, tapi tidak dengan sahabatnya Aryo.


"Kalau boleh tahu kenapa putriku bisa bicara seperti itu?. Tara tidak pernah lancang jika tidak dalam situasi hatinya yang buruk, apa putriku mengenal putramu?."


Netra hitam lekat itu menatap Fariz, ada lubang kesedihan disana. Wajah yang sudah tak muda lagi, usia yang sudah tak mampu mengendalikan kondisi keluarga yang semakin rumit.


"Mungkin putrimu tahu sesuatu!."


Aryo merogoh sakunya dan menyimpan satu foto diatas meja. Fariz mengernyit saat mengenali satu sosok lainnya, dua foto cowok yang masih memakai seragam SMP terlihat bahagia menaiki motor sportnya.


"Mereka berdua sudah tumbuh besar Riz."


"D..dia putramu?," tanya Fariz menunjuk foto Zehn dibalas anggukan Aryo.


'Pantas Tara semarah itu kemarin'


"Jadi dia anak laki laki yang kamu adopsi dulu?."


"Dia sidah besar kan Riz?__tapi aku gagal mendidik mereka berdua!."


"Keluarga ku sudah mengenalnya, dia senior Tara disekolah!."


"Pantas Tara tahu kalau hubungan kami tidak sedang baik," ujar Aryo dengan mimik sedih.


Anak adopsi bagi mereka yang tidak tahu kebenarannya.


'Maafkan papa Zehn'


"Asal kamu tahu Yo, sebelumnya putamu Ziro juga pernah membuat Tara celaka."


"Makhsudmu?."


"Ziro pernah mengajak Tara bermain basket sampai asmanya kambuh," sahut Fariz membuat kening Aryo semakin berkerut, tak habis pikir kelakuan buruk anaknya yang tidak bisa hilang.


"Maaf Ris, aku udah nggak tahu harus gimana lagi merubah sifat Ziro yang liar. Sejak Zehn keluar dari rumah sifat Ziro juga mulai berubah."


"Yang sabar Yo, mereka pasti bisa akur lagi kayak dulu. Tinggal menunggu waktunya saja!."


...Sebuah kenangan buruk akan selalu menghantammu...


...Meski kau sudah berusaha melupakannya...


...Tapi bekas luka itu tidak akan bisa dihilangkan....


Tawa Saniya kembali terbit mendengar setiap ocehan sahabat Tara, siapa lagi kalau bukan empat semprul. Mereka berlima menikmati beberapa cemilan disatu meja, dengan sifat Saniya yang hummble membuatnya mudah untuk menyesuaikan diri.


"Iya bener San, dulu tuh Maya cupu banget sebelum kenal sama kita!."


"Udah udah jangan gitu!, kasihan tuh  mukanya Maya kayak kepiting rebus," sahut Saniya dengan sisa tawanya.


"Emang gitu San Geri sama Maya, kalau nggak jahilin Maya mah nggak tenang hidupnya," sahut Tara.


"Kebalik kali Tar, Maya tuh yang reseknya kebangetan."


"Lo bilang gue resek?, lo pikir lagi deh Ger!?. Dasar!."


"Iya iya tuan putri yang salah itu pangeran Gery," sahut Chika disambung gelak tawa para remaja dimeja paling pojok diarea kantin.


Dari kejahuan rombongan Heroz menuju kantin, sedangkan Zehn yang baru saja mematikan sambungan telepon segera beranjak menuju kantin. Hanya satu nama disetiap langkahnya Zehn yang ada diotak.


Memasuki hiruk pikuk kantin, pandangannya meneliti wajah setiap sudut. Saat netra biru alami Zehn menangkap sosok yang dicarinya, dengan langkah lebar ia menghampiri.


BBUUGGHH


Satu pukulan yang begitu keras membuat para penghuni kantin teralihkan, tak hayal beberapa orang dimeja itu langsung berdiri.


"Zehn!?."


🌹🌹🌹🌹


~Sekarang up-nya satu hari sekali ya, insya allah kalau udah nggak repot baru bisa double up😉


...~Jangan lupa saling menghargai...


...Saniya anggraina...