
Mata sayu itu tak henti hentinya mengeluarkan cairan bening. Entah sudah berapa lama dirinya bersimpuh didepan gundukan tanah yang masih basah. Tatapannya kosong dengan suara isakan yang masih bisa terdengar. Wajahnya terlihat pucat dengan seragam sekolahnya yang sudah terlihat kucel.
Matanya sembab, sudah berjam jam dirinya berdiam ditemani semilir angin yang terasa menyakitkan. Hatinya serasa ditusuk berkali kali, rasa sesak menghimpit dadanya sampai ke relung hati.
Hati dan pikirannya berusaha menolak, namun kenyataan yang ada didepan matanya saat ini benar benar menyakitkan. Ternyata rasa ini sesakit itu, tak pernah terbayangkan olehnya.
Didepan nisan bertuliskan nama Zehn arialdo bin Aryo 25-04-2021, kini hatinya benar benar hancur. Dunianya seketika ikut mati bersama kepergiannya.
"Iya sayang?."
"Ihhh jangan panggil kayak gitu, geli tahu Zehn!."
"Iya, ini panggilan yang terakhir kalinya kok."
"Kamu jahat, panggilan terakhir kali? Arrghhh enggak Zehn...enggak, panggil aku sayang lagi Zehn hiikkkssss...jangan pergii!."
"Keabadian, seperti?."
"Cinta kita akan selalu abadi Tara."
Ya, mungkin yang dimaksud Zehn adalah keabadian untuk selama lamanya. Membawa kisah cinta mereka di keabadian, menuliskan sejarah kisah mereka berdua pada dunia yang berbeda.
Memory akan malam indah itu terus menjadi bayang bayang, setiap perkataan Zehn seperti isyarat. Seakan dia sudah lelah, menyerah mungkin pilihan yang terbaik.
"Jika kamu tidak ada, lantas aku menceritakan siapa? Aku tidak akan bisa bercerita. Karena kamu tokoh utamanya, Zehn," ujar Tara begitu memilukan hati.
"Aku ngantuk Tar."
"Tidur aja dulu, tapi jangan lama-lama."
"Kenapa?."
"Takut, masa aku sendirian disini? Kamu malah tidur."
"Ya udah tidur bareng aja disini."
"Aku suruh kamu tidur sebentar Zehn, bukan untuk selamaNya," suara serak Tara. Tangannya meremas tanah begitu kuat, menahan air mata yang lagi lagi ingin menerobos keluar.
"Tar, aku capek."
"Capek banget ya, gara-gara nyiapin kejutan seharian?."
"Hhmm," balas Zehn yang tak sinkron dengan hati juga keadaan pikirannya sekarang.
"Pengen pulang, tapi nggak tahu mana rumah yang sebenarnya."
"Pulang ke rumah Om Aryo aja Zehn, jangan ke apartemen-."
"Kasian tante Indira, dia pengen banget kamu pulang le rumah."
"Hmm, rumah? Entahlah."
"Aku bilang pulang ke rumah Om Aryo Zehn. Bukan rumah TUHAANNN..."
CEETARRRRR
Jeritan Tara diiringi suara petir dengan rintik air hujan yang mulai turun membasahi bumi. Sepertinya semesta tahu, bahwa hatinya sedang tidak baik baik saja.
Langit sore mulai tertutup awan hitam. Rintik air hujan semakin deras, tak peduli dengan tubuh ringkih itu yang masih setia menemani gundukan tanah.
"Jika aku tahu malam itu malam terakhir dari kisah kita, tak akan aku biarkan kau pergi meninggalkan ku sendiri dengan segudang penyesalan, Zehn."
"Kenapa kau memilih pergi tepat dihari usiaku bertambah, Zehn? Kenapa?."
"Kau sudah membuatku benci dengan kelahiranku sendiri! Kau sudah bawa pergi hidupku bersama mu, Zehn."
"Jangan pernah tinggalin aku, ya!?."
"Iya, aku juga nggak mau jauh dari kamu Zehn."
"Kamu ingkar janji Zehn, kamu sendiri suruh aku janji buat nggak tinggalin kamu-."
"Ta..tapi apa?? Kamu yang pergi terlalu jauh, sampai aku nggak sanggup meraih tanganmu lagi."
"Kenapa Zehn? Bilang kalau kamu udah capek, boleh istirahat kok..."
"....Tapi jangan lama lama."
"Aku tidak akan menyesali pertemuan kita yang pada akhirnya disatukan oleh perpisahan, sama sekali tidak. Sungguh, aku beruntung bisa menemukan sosok yang berhasil mengubah kisah hidupku menjadi lebih berarti. Mengerti apa itu arti bahagia yang sesungguhnya. Thanks you so much Zehn, I love you."
"Aku menyesal, tidak pernah mengungkapkan langsung perasaanku kepadamu. Maaf, Zehn."
"Jangan merasa sepi, aku selalu disini. Tidur yang tenang ya, Zehnnya Tara."
Memiliki kenangan indah itu bukanlah sebuah takdir baik. Semakin indah kenangan itu, makin sakit pula rasanya saat kehilangan. Relakan dan ikhlaskan dia pergi, meski nyatanya sesulit dan sesakit itu.
🌹🌹🌹
...Diary Tara...
...(Surat kecil untuk semesta)...
...Hai, Semesta ku...
...Udah puas tidur-Nya?...
...Udah capek banget ya? Sampai nggak mau buka mata lagi?...
...Udah lupa sama janji kamu untuk Semesta?...
...Dari banyaknya cara meninggalkan, kenapa yang kau pilih kematian?...
...Kau semestinya tahu bahwa bagiku kaulah semestaku...
...Namun, semesta senang sekali bercanda...
...Ia mendatangkan suka tanpa aba aba, lalu...
...Mendatangkan luka dengan tiba tiba...
...Kini aku tahu, sekuat apapun kamu menjaga...
...Yang pergi akan tetap pergi...
...Iya, semesta suka sekali mempermainkan kita...
...Dengan cara selucu itu...
...Dirimu adalah semesta, tempat aku ingin berkelana...
...Hatimu adalah rumah, tempat aku tinggal selamanya...
...Namun semesta hanya ingin kita bertemu...
...Tidak untuk bersatu...
...Semesta yang tahu, saat rindu ini menjelma menjadi doa doa...
...Yang selalu kupanjatkan kepadaNya...
...Mungkin kita mempunyai tujuan yang sama...
...Tapi semesta tak mengizinkan kita untuk jalan bersama...
...Mungkin semesta sedang bercanda dikala...
...Mempertemukan kita yang saling terluka...
...Entahlah, belakangan ini semesta sedang tidak ramah padaku...
...Menghantam begitu keras seolah memaksaku untuk kalah dan menyerah...
...Kini, berdamai dengan semesta adalah hal terbaik menyembuhkan luka....
...Meskipun singkat, kenangan itu tak akan pernah hilang Semua telah tersimpan baik dalam sejarah hidupku Perpisahan terindah yang akan selalu ku kenang...
...Aku yakin, semesta akan mempersatukan kita kembali....
...Karena sejatinya kita di pertemukan untuk bersatu, meskipun dikehidupan selanjutnya...
...Kau dan alam semesta adalah sebuah keindahan yang tak bisa kugapai hanya dengan sebuah kata...
...Selamat jalan kekasih abadi ku...
...Ku relakan kau pergi meski terasa berat...
...Aku mencintaimu, Zehn...
...Cinta abadi...
...ZehnTara...
🌹🌹🌹
YUK RAMAIKAN KOLOM KOMENTAR!