Zehntara

Zehntara
Chap 46 ( Jantung Yang Tak Lagi Berdegup )



...🦋RESAPI SETIAP KATA FRIENDS🦋...


...🌹🌹🌹...


"Lagi cari siapa Tar?," tanya Maya disaat sahabatnya itu sedari tadi celingukan, mengamati satu persatu murid yang keluar masuk kantin.


Tara menghela napas lesu sebelum pertanyaannya mendapat gelengan dari ketiga sahabatnya. "Kalian lihat Zehn nggak?."


"Beneran pada nggak lihat? Kemana lagi sih tuh anak, HP nya juga nggak aktif," gerutu Tara.


"Suka banget ngilang sih Do'i lo Tar," balas Gery dengan mulut penuh bakso.


"Cek aja ke kelas nya," sahut Chika dengan tangan fokus membuka satu persatu kuaci. Makanan amat kecil itu bisa membuat seorang Chika jatuh hati.


"Iya, siapa tahu nggak masuk kan," balas Maya.


"Apa dia sakit ya? Gara gara kemarin kehujanan sepulang dari rumah gue."


"Ya bisa jadi," balas Chika mengangguk anggukan kepalanya.


Tara mengamati lamat lamat Chika yang sedang asyik mengupas kulit kuaci. Chika yang menyadari itu pun langsung menaikkan satu alisnya. "Kenapa, mau?."


"Maauu," sorak Tara langsung mengambil beberapa kuaci yang sudah dikupas Chika sedari tadi.


"Ck paling sebel deh kalau gue lagi makan terus pura pura nawarin, eh kalian malah mau," sungut Chika kembali menarik kuaci nya dari Tara.


"Yhee dasar Chiki! Salah siapa tadi nawarin," balas Gery.


"Sedikit aja kali Chik," sahut Tara mengerucutkan bibirnya.


"Iya-iya ikhlas!," ujar Chika terpaksa. Susah susah ngupas, eh malah main minta. Butuh perjuangan loh, meski makanan kecil kecil seperti kuaci. Capek ngupas, eh nggak bikin kenyang.


"Tar itu kayaknya kak Gio deh, temennya kak Zehn," tunjuk Maya pada sekerumpulan cowok yang tak jauh dari meja mereka.


"Oh iya, gue sering lihat kak Zehn sama tuh cowok," sahut Gery.


"Beneran?."


"Iya, mau gue tanyain?," balas Gery mendapat anggukan mantap dari Tara.


"Oke, tunggu disini."


Gery beranjak menuju beberapa kumpulan kakak seniornya itu. Setelah sedikit lama berbincang dengan kak Gio, dia kembali kemeja sahabatnya yang sudah kepo. "Kenapa Ger?," seloroh Tara sebelum Gery mendudukkan pantatnya.


"Katanya sih sakit."


"Nah kan udah gue duga, pasti kemarin kehujanan. Kenapa nggak ngabarin sih, bikin orang khawatir aja."


"Yaudah nanti pulang sekolah lo ke apartemennya aja Tar," balas Chika.


"Iya deh nanti gue mampir."


"Lah kenapa lo nggak tanya sama bang Dirgo? Bukannya dia juga tinggal di apartemennya Zehn?," tanya Gery.


"Enggak, tadi malam bang Dirgo tidur dirumah."


"Udah habis tuh masa hukuman bang Gogo?," tanya Chika dibalas anggukan Tara.


"Iyalah udah habis, orang dianya mau nikah. Masa calon pengantin nggak ada dirumahnya sendiri, kayak pengantin kabur aja."


"Loh abang lo mau nikah Tar?," tanya Maya.


"Iya, dijodohin sama ayah."


"Hmm, masih ada aja ya perjodohan. Kayak jaman siti nurbaya aja," balas Maya lesu.


"Iya. Kayak gue contohnya," sahut Gery diakhiri kekehan yang terdengar pilu.


Semuanya terdiam, entah kenapa rasa canggung tiba tiba menyelimuti.


"Ekhhmm...ke kelas aja yuk, udah mau bel masuk nih," ajak Tara beranjak dari duduknya.


"Eh Tar itu kalung bagus banget, dari siapa?," tanya Chika penuh binar menangkap sebuah kalung bertengger cantik dileher Tara.


"Dari-," jeda Tara dengan  senyuman malu malu.


"Halah pasti dari Kak Zehn kan? Ngaku nggak lo!," seloroh Gery menambah gurat merah dikedua pipi Tara.


"Enak banget jadi lo Tar, udah kayak dijadiin ratu. Yang penting perasaan lo juga nggak bertepuk sebelah tangan," sahut Maya dengan nada yang sulit diartikan.


"Apaan sih, udah ah ayok ke kelas!."


🌹🌹🌹


Ting


Lift terbuka, langkah kaki itu berjalan pelan menuju pintu apartemen yang sudah lama tak ia datangi. Dengan sebelah tangan menenteng kresek berisikan buah buahan juga bubur ayam yang dibelinya tadi.


Setelah dua kali menekan bel, sosok yang diharapkan membuka pintu tak kunjung muncul. Selang beberapa menit, akhirnya pintu terbuka.


Sosok tinggi dengan celana boxer juga kaos oblong warna putih terpampang didepannya. Seyum lebar dari Tara tak bisa ia senyumbunyikan. Perasaan lega menyelimuti hatinya sekarang.


"Hai, kenapa nggak kasih kabar kalau sakit? Pasti kemarin nggak neduh dulu ya? Kan udah aku bilang kalau hujan neduh dulu, jangan main nerobos Zehn. Susah banget dibilangin, jadinya ginikan," cerocos Tara.


Tangannya terangkat mengecek suhu dikening Zehn, keningnya berkerut saat suhu Zehn tak terasa panas. "Loh kok nggak panas? Katanya kamu sakit, apanya yang sakit?," tanya Tara kembali cemas.


Sosok didepannya ini hanya bisa diam, mendengarkan setiap ocehan Tara. "Zehn!?," gertak Tara ketika melihat respon Zehn yang hanya diam mematung.


"Ah..iya udah turun demamnya tadi," balas Zehn.


"Beneran udah nggak apa-apa? Udah minum obat belum? Atau badan kamu masih meriang, hm? Kita cek ke-."


"Udah aku nggak apa-apa," potong Zehn ringan. Wajahnya yang terlihat datar membuat Tara heran, namun tak mempersalahkannya. Toh, saat ini Zehn sedang tak enak badan. Mungkin karena itu, respon Zehn terlihat seperti orang linglung dan tidak merespon Tara dengan suka cita.


"A..aku ganggu istirahat kamu ya?," tanya Tara, takut takut jika dia mengganggu Zehn yang sedang tidur.


"Nggak kok, ayo masuk."


Tara mengekori tuan rumah sampai didepan ruang tv keduanya mendudukkan diri. Aura canggung yang Tara rasakan membuatnya aneh sendiri. Padahal baru saja semalam dia dan Zehn seperti orang yang sudah lama dekat. Tertawa lepas tanpa peduli sekitar, bahkan mereka berdua sudah melakukan itu. Ciuman pertama keduannya.


"Ekkhhmm...mau minum apa?," tanya Zehn berusaha mengalihkan keadaan canggung itu.


"Nggak usah lah, aku bisa ambil sendiri kalau haus...."


"....Oh ya ini aku beli buah sama bubur ayam, mau aku siapin buburnya?."


"Nggak per-."


"Udah nggak ada alasan, harus makan yang banyak biar cepet sembuh. Aku suapin ya?," seloroh Tara membuka bungkusan bubur Ayam. Beranjak duduk disebelah Zehn.


"Ayo Aaaakkk...."


Mau tak mau Zehn membuka mulutnya, menerima suapan demi suapan dari tangan Tara. Sejak tadi, suara yang paling sering keluar berasal dari Tara. Biasanya yang paling antusias mencari topik pembicaraan itu Zehn, tapi kenapa dia sedari tadi banyak diam?.


"Kamu kenapa Zehn? Kok dari tadi diam, ada yang salah ya?."


"Engg..enggak kok, cuma lagi serak aja," balas Zehn dengan seulas senyum tipis.


"Ya ampun pasti mau flu itu, aku bikinin wedang jahe dulu ya."


"Nggak usah, nanti juga sembuh sendiri kalau udah minum obat."


"Ck, udah deh nggak usah bandel kalau dibilangin. Ini habisin dulu buburnya," balas Tara menyuapi sesendok bubur.


Tara menatap Zehn dengan tatapan yang sulit diartikan cowok itu. Entah kenapa sorot netra Zehn yang dilihat Tara kali ini berbeda, biasanya detak jantungnya akan berpacu lebih cepat, tapi kali ini kenapa berbeda?.


"Ada apa?," tannya Zehn merasa heran dengan tatapan Tara.


"Ah enggak. Aku kedapur dulu ya," sahut Tara beranjak kedapur membuatkan wedang jahe untuk Zehn. Meski pikiran dan hatinya sedang berperang saat ini, entah kenapa rasa aneh itu terus membuat hatinya tak tenang.


Rasa cemas, gelisah dan tak enak entah karena apa.


Netra Tara menangkap gawai yang semalam ia geledah, dan anehnya gawai itu kini sudah tak beraturan bentuknya. Tangannya tergerak mengambil gawai yang berada diatas meja makan itu.


Segera dia kembali dimana Zehn berada dengan gawai yang layarnya retak, hampir memenuhi semua layar benda pipih itu.


"Ini HP kamu kenapa Zehn!?."


Satu ekspresi Zehn yang dapat ditangkap Tara, terkejut. Sama halnya seperti dirinya yang melihat kondisi gawai itu.


"Kenapa bisa rusak kayak gini? Bukannya kemarin masih baik-baik aja ya? Ini kamu apain kok kayak gini,  hah?."


"Itu..."


"....jatuh waktu hujan kemarin."


"Hah, kok bisa?."


"Waktu jatuh dibelakang ada motor, jadi kelindes deh."


"Ya ampun, pantes kamu nggak kasih kabar. Terus, nggak bisa dibenerin lagi ya ini?."


Zehn menggeleng.


Pandangan Tara teralihkan, menatap heran rambut Zehn yang berbeda dari semalam. Kini rambut cowok itu sangat tertata rapi dengan model ala ala orang korea, juga warna rambutnya yang sedikit cokelat.


"Kok ada yang aneh ya sama rambut kamu?," tanya Tara masih mengamati rambut Zehn.


Tangan cowok itu refleks menyentuh rambutnya. Wajahnya pias tak kala Tangan Tara spontan menjatuhkan HP dalam genggamannya. "Ehh sebentar ada telepon," ujar Tara mengambil gawainya dari saku. Berjalan menjauhi Zehn yang bernapas lega.


"Untung," gumamnya mengelus dada.


"Iya, halo Chik ada apa?," tanya Tara ketika sambungan telepon terhubung.


"Heh Tara lo tau nggak kalau hari ini  si Saniya itu operasi?," heboh Chika.


"Hah, operasi? Operasi apa? Yang jelas dong Chik."


"Iya, gue lihat dari storynya kak Adit. Minta doanya buat kelancaran operasi Saniya gitu."


"Bentar deh gue tanya Zehn dulu, jangan di matiin."


Zehn yang melihat Tara mendekat kembali duduk tegak. "Zehn kamu tahu kalau Saniya hari ini operasi?."


"Iya, katanya Saniya mau operasi. Emang operasi apaan? Apa mungkin operasi ginjal?."


Deg


Ingatan itu melintas diotak Zehn, senyum kecutpun terukir diwajahnya. Sekarang dia tahu, siapa yang dimaksud Tara.


"Iya, operasinya udah selesai."


"Hahh?? Udah selesai?," kaget Tara. Begitupun Chika yang ikut mendengar.


"Serius Zehn, Kapan? Operasi apa?."


"Tadi pagi-."


"Saniya baru dapat donor ginjal," lanjut Zehn terlihat sendu.


"Syukurlah, aku ikut senang Saniya udah dapat donor ginjal," balas Tara dengan senyum cerianya.


Zehn yang melihat itu, membalas dengan tatapan pilu. Terlihat goresan luka disana. Entah apa yang dirasakannya saat ini.


"Yaudah ya Chik gue matiin teleponnya, bye."


Tut


"Oh ya, Saniya dapat donor ginjal dari siapa?," pertanyaan spontan Tara membuat Zehn terhenyak.


Tara mengerutkan keningnya menunggu jawaban yang tak kunjung keluar dari  cowok didepannya ini. "Nggak tahu," lirih Zehn mengalihkan muka kearah lain.


"Eemm nggak penting sih siapa pendonor. Biasanya sih dapat dari orang yang udah meninggal, ya nggak?."


Deg


Lagi lagi raut wajah Zehn pias seketika, ucapan Tara bagaikan belati yang semakin menusuk hatinya. Ingin sekali berteriak sekencang mungkin,  namun mengeluarkan suara saja seakan tercekat ditenggorokan.


"Gimana kalau kita jenguk Saniya, hm!?."


"Je..jenguk?," tanya Zehn memastikan.


"Iya, kamu nggak pengen tahu gitu keadaan Saniya? Sekalian kita jenguk Ziro."


"Ah iya...ayo."


🌹🌹🌹


Suara jeritan bercampur tangis histeris terdengar sampai ruang tunggu ICU. Tara yang baru saja ingin membuka pintu ruang inap Saniya terkejut tak kala sosok Ziro yang begitu memilukan dengan Jez mendorong kursi roda. Rambut acak acakan, raut wajah sendu, kelopak mata menghitam, baju warna hitam yang dikenakan sangat lusuh. Membuat Tara terheran, kenapa penampilan Ziro sebegitu kacau dengan pakaian seperti dalam keadaan duka?.


"Tara," panggil Ziro lemas. Netranya beralih menatap cowok disebelah Tara dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Saniya kenapa Ro?," tanya Tara sembari mengintip beberapa dokter sedang menangani Saniya yang masih meracau tak jelas.


Ziro tak menjawab, hanya diam dengan kedua tangan menutupi wajahnya. "Masuk aja! Gue bawa Ziro balik kekamarmya dulu," ujar Jez diangguki Tara.


Satu persatu dokter dan perawat keluar dari ruangan, perlahan langkah Tara memasuki ruangan yang penuh dengan alat alat medis. "San, ini gue Tara," ucap Tara mengambil telapak tangan Saniya untuk digenggamnya.


Pandangan Saniya terlihat kosong menatap langit langit, meski sudah tak meracau tapi mulut itu tak berhenti mengatakan kata 'aku benci hidup'  berulang kali.


Tara merasa heran dengan perkataan Saniya, bukannya dia harusnya senang dan bersyukur bisa mendapat kan donor ginjal. Setelah ini aktifitasnya akan kembali normal seperti lainnya yang memiliki ginjal lengkap.


"San," panggilan Tara kali ini membuat Saniya menoleh.


"Aku benci tubuh ini Tar," gumam Saniya menatap sayu Tara.


Tatapan Saniya beralih menatap sosok dibelakang Tara, saat itu juga setetes cairan berhasil keluar dari pelopak matanya.


"Jangan beri aku hidup jika yang kamu beri, sebagian dari hidupmu. Zehn," lanjut Saniya.


Tara menoleh kearah Zehn yang menatap datar Saniya. Entah apa yang terjadi sekarang, Tara benar benar bingung. Perkataan Saniya yang membuat dirinya harus berpikir keras untuk mengerti, tapi yang Tara tangkap saat ini hanya lah satu. Perasaannya tidak baik baik saja sekarang.


"Aku benci, ketika melihat diriku sendiri."


"Jangan ngomong kayak gitu San, seharusnya lo bersyukur dapat donor ginjal," sahut Tara menghenyakkan pikiran pikiran yang mulai berkecambuk.


"Bersyukur?...."


".....untuk apa?."


"Dia udah nggak ada disini lagi, Tara."


"H..hah?."


🌹🌹🌹


Sepulang dari rumah sakit, perasaan kalut masih menghantui pikiran Tara. Beberapa kali mata itu ingin terpejam, tapi bayang bayang sosok Zehn selalu datang bagaikan layar lebar yang memenuhi penglihatannya.


Sudahlah, tak bisa dijelaskan lagi perasaan apa yang Tara rasakan saat ini. Semua seperti bercampur, ingin menolak mengenyahkan perasaan tidak enak itu tapi percuma. Perasaan dan pikirannya tidak bisa menghalaunya.


"Aaarghhh sebenarnya ada apa sih?," teriak Tara menghentak hentakkan kakinya dikasur.


"Ada yang aneh sama Zehn," gumam Tara.


Setelah lelah bergelud dengan hati dan pikirannya, gadis itu mulai terlelap. 


Esok hari yang cerah tak bisa menutupi raut wajah gadis yang kini termenung disalah satu bangku taman sekolahnya. Tepukan dari arah belakang membuatnya terperanjat. "Ngelamun aja lo," seru Anna mendudukkan pantatnya disebelah Tara.


"Oh ya Tar,  ya ampun lo harus dengar cerita gue. Seharusnya sih kejadiannya kemarin, tapi gue lupa cerita sama lo," lanjut Anna menggebu nggebu.


"Cerita apa?."


"Inget nggak kemarin kalau nggak salah tanggal 25 hari minggu kan hujan deras banget tuh?."


"Heemm," balas Tara menggaguk.


"Astaga nggak tahu deh gue mimpi apa itu malemnya, enak enak neduh diemperan toko eh tiba tiba dengan mata kepala gue sendiri, gue lihat adegan aawwhhh ngeri banget Tar..."


"Yang jelas dong An, ihh lihat apa?."


"Ada kecelakaan tragis motor sama mobil!."


Deg


Hati Tara mencelos, tak tahu kenapa jantungnya semakin berdebar. Badannya serasa lemas, padahal ia tidak mengenal dan melihat kejadian tragis itu.


"Kalau lo lihat sih mungkin udah pingsan ditempat. Lo tahu nggak si korban yang naik motor sampai melayang, terlempar, terjungkal, ter ter tertragis pokoknya lah....ihhh gue kalau inget kejadian malam itu merasa ngilu sendiri. Ditambah hujan lagi, genangan airnya aja sampai berubah merah."


"Te..terus keadaannya gimana?," tanya Tara, suaranya terdengar begetar.


"Nggak tahu sih jelasnya gimana, tapi langsung dibawa ambulan kerumah sakit kok."


"Eh kak Zehn tuh Tar," lanjut Anna menunjuk cowok yang masih menggendong tasnya.


"Samperin gih!," ucap Anna menyenggol lengan Tara yang tak kunjung merespon.


"Ah nanti aja waktu istirahat, udah mau masuk juga. Yuk ke kelas," balas Tara beranjak mendahului Anna.


Beberapa jam telah dilewati hingga bel istirahat berbunyi. Namun sejak pelajaran setengah hari tadi, pikiran Tara tidak pernah fokus. Dan perasaan aneh itu masih ia rasakan. Bahkan sekarang dia merasa sangat merindukan Zehn, tapi aneh ketika melihat Zehn tadi pagi seperti tak ada rasa seperti biasa hatinya yang membuncah.


Berbeda.


Tara dan Anna berjalan santai memasuki area kantin. Hiruk pikuk siswa siswi yang sedang mengantri memenuhi ruangan yang cukup menampung semua murid Adi Bangsa. Sekejap pandangan Tara mengarah pada sekumpulan cowok, dan salah satu diantara mereka adalah Zehn.


"Kalau berani samperin dong Tar, diajak makan bareng," seru Anna mengerti arah pandang Tara.


Tara tak menghiraukan, ia menajamkan penglihatannya ketika sesuatu baru saja masuk kedalam mulut Zehn. Yah, makanan yang baru saja dimakan Zehn membuat mata Tara melotot. Secepat kilat dirinya berlari menghampiri Zehn.


"Kamu apa apaan sih Zehn!?," teriak Tara sembari merampas roti kacang yang baru saja masuk kedalam mulut Zehn.


"Muntahin nggak!?," ucap Tara panik sambil memukul mukul leher Zehn.


Kelima cowok yang ada dimeja itu terlihat bingung dengan apa yang dilakukan Tara. Zehn hanya diam dengan ekspresi datarnya.


"Ada apa?," Dua kata tanya yang keluar dari mulut Zehn seketika membuat Tara terhenyak. Ada apa? Apakah itu pertanyaan yang harus keluar dari mulut Zehn? Oh dia pikir sekarang Zehn lupa ingatan, sampai berani membunuh nyawanya sendiri.


"Ada apa?....."


".....Kamu mau mati kalau makan roti kacang itu," lanjut Tara lirih, memandang tak percaya sosok dihadapannya yang kini seperti orang linglung.


"Hh..haahh?."


"Tatap mata aku Zehn," ucap Tara dengan suaranya yang serak.


Siapapun, tolong jauhkan pikiran aneh yang dipikirkan Tara sekarang. Dia tidak ingin apa yang ada dipikiran dan hatinya saat ini benar adanya. Melihat Zehn yang kini ia tatap terasa asing baginya.


"TATAP MATA AKUU!!!."


Teriak Tara histeris membuat beberapa pasang mata mengalihkan pandangan mereka kearahnya. Buliran bening sudah menggenang dipelopak matanya, tangannya menggenggam erat berusaha menenangkan diri meski kini rasa cemas itu semakin membuncah.


Keduanya saling pandang. "Kenapa kamu makan roti kacang?," tanya Tara lirih. Tatapannya menghunus kedalam netra itu, mata yang sudah membuat Tara sadar. Bukan netra indah milik Zehn yang selama ini ia kenal.


Zehn terdiam. Suaranya terasa tercekat, menelan salivanya saja susah payah ia lakukan. Melihat mata sayu Tara yang membuat rasa bersalah itu semakin menjadi.


"Kamu tahu-."


"Zehn yang aku kenal itu, alergi kacang," lanjut Tara. Matanya memanas hingga penglihatannya mengabur.


Dari kejauhan, ketiga sahabatnya juga Anna masih diam mengamati apa yang terjadi. Ingin mendekat, namun langkahnya terasa berat. Membiarkan apa yang akan dilakukan sahabatnya itu.


"Kamu siapa!?."


"Aku Zehn, Tara."


"Bukan. Kamu siapa!? Dimana Zehn!?," ujar Tara yang tak terasa buliran bening mulai mengalir dipipinya.


Setetes demi setetes cairan terus keluar dari pelopak matanya. Tangannya semakin mengepal kuat hingga buku buku kukunya memutih. Bahunya mulai begetar diiringi isakan pilu, menatap lekat cowok yang kini memandangnya dengan raut iba.


"Kamu bukan Zehn!."


🌹🌹🌹


Huhuhuhuu nggak kuat nulis Chapter ini sampai akhirr😭