Zehntara

Zehntara
Chap 31 ( Donor darah )



~Jangan lupa saling menghargai😉


🌹🌹🌹🌹


Suara ambulan menggema di jalan raya menuju lokasi kecelakaan. Sudah banyak kerumunan wartawan juga polisi yang sibuk mengamankan lokasi. Darah bersimbah dimana mana. Satu truk menabrak trotoar dekat lampu merah, dua korban yang berada di dalam truk tidak separah korban lainnya, yaitu Ziro.


Helm yang dikenakannya terlempar sampai jarak lima meter dari tempatnya. Darah mangalir deras dari kepala Ziro, membuat beberapa orang disekitar merasa pilu. Bahkan motornya terlempar cukup jauh darinya.


Napas itu masih ada, tapi entah kenapa jiwa dan raganya seperti mati. Suara riuh disekitar masih bisa Ziro dengar walaupun samar. Tapi mata dan tubuhnya sudah tidak bisa dirasakan. Memori ingatan mengajaknya kembali ke masa lalu.


Masa masa dimana kebahagiaan keluarga dan persahabatannya masih baik baik saja.  Di saat dia tertawa lepas bersama Zehn. Tertawa bahagia bersama Saniya. Moment dimana dirinya menjadi egois hanya karena masalah perasaan berputar bagaikan kaset rusak, begitu cepat dan tidak jelas. Setetes air mata berhasil jatuh dari sudut mata Ziro.


Silauan dari flesh kamera saling bersahutan. Para wartawan berlomba lomba mengambil jepreran kecelakaan tragis ini meskipun sudah dihalau banyak petugas polisi. Siaran langsung pun sudah ditayangkan.


Suara sirine ambulan mulai mendekat membelah kerumunan para wartawan. Dengan sigap mereka menurunkan brankar dan segera memasangkan alat penyangga dileher Ziro sebelum diangkat.


"Keadaannya semakin kritis cepat beritahu pihak rumah sakit agar segera menyiapkan ruang operasi," ujar salah satu tenaga medis kepada rekannya.


"Baik!."


Mobil ambulance kembali melesat dengan kecepatan penuh. Petugas medis tadi berusaha menghentikan pendarahan dikepala Ziro. Sedangkan tiga lainnya dengan cepat menempelkan beberapa alat medis ditubuh Ziro, terutama oksigen. Tidak peduli dengan tangan mereka yang penuh cairan merah kental yang terus keluar dari beberapa luka ditubuh pasien.


"Tidak bisa lebih cepat lagi?? Denyut jantungnya semakin melemah!!!!," ujar panik perawat perempuan ber name tag Sarah.


Bapak sopir dengan tekad kuatnya menancap gas penuh membuat mau tidak mau para pengendara yang didepan kalang kabut menepi.


Siaran langsung di beberapa chanel berita malam tersiar. Banyak yang merasa pilu melihat beberapa foto tempat kejadian dipubhlis.


Kedua kembar nakal yang tak lain sahabat Ziro sedang asyik menonton berita yang kini heboh dibeberapa siaran tv. Tak luput dari pengawasan mereka berdua mengamati beberapa gambar remuk sebuah motor ninja juga truk.


"Tragis banget Dit," ujar Adit bergidik melihat truk yang disorot kamera.


Aditya menyemburkan kopi yang semula diminumnya saat layar televisi menampakkan motor yang dikenali. Begitupun Adit yang semakin mendekatkan wajahnya dilayar berbentuk persegi itu.


Saat pembawa berita menyebutkan nomor plat pengendara motor kedua twins saling pandang dengan mata yang sudah membulat sempurna.


"Nggak, nggak mungkin!," ucap Aditya menggeleng pelan.


Mereka berdua kembali melihat layar ketika wartawan yang berada dilokasi memberitahukan helm full face yang terlempar jauh dari posisi korban.


Tak bisa dipercaya degup jantung duo twins berpacu lebih cepat dengan air muka yang berubah panik. Pasalnya, helm itu tidak banyak dimiliki. Helm berlogo Heros itu hanya milik sang leader Heros, yaitu Ziro.


"BOS JANGAN MATI DULU UTANG GUE BELUM LO BAYARIIINNN!!!."


PLAK


"JANGAN MALU MALUIN LO!!!.


"HUWAAAA BOSS HIKKSS..."


"KE RUMAH SAKIT SEKARANG JIR!!!."


Aditya ngacir mengambil jaketnya yang  berada diatas sofa. Sedangkan Adit masih bingung mencari gawainya. Aditya kembali menutup pintu saat adik sepuluh menitnya itu masih kebingungan.


"ANJIR CEPETAN CIL!!!."


"BENTAR HP GUE MANA??."


"DITANGAN LO ITU APA BEGO!?."


Geram Aditya melihat tingkah konyol kembarannya. Masih bisa bisanya menggoblok disituasi seperti ini. Adit menyengir melihat hp yang sedari tadi dicari ternyata ada ditangannya.


"Maap maap namanya juga orang panik."


"Mau apa sih?."


"Mau kabarin Jez lah!."


Setelah mengetikkan beberapa kata, keduanya menaiki motor menuju rumah sakit menurut berita siaran langsung.


Disisi lain kedua cowok beda generasi itu juga membulatkan matanya. Rokok dimulut Dirgo jatuh seketika, juga gawai yang dipegang Zehn terlepas dari tangannya.


Keduannya saling pandang dengan air muka tak beraturan.


"It..itu bukan motornya Ziro kan?," gagap Dirgo mengerjapkan mata dua kali.


Zehn menyahut kunci motor diatas mejanya, beranjak keluar meninggalkan Dirgo yang masih terbengong.


"WOI ZEHN GUE IKUT!!!."


🌹🌹🌹 🌹


Zehn dan Dirgo sampai diruang operasi setelah bertanya kepada resepsionis, sudah ada Indira, Aryo, Jez, Adit, dan Aditya. Suara tangisan Indira mengisi lorong ruang tunggu. Aryo masih setia memeluk Indira yang masih sah menjadi istrinya, meski rasa takut, khawatir, gelisah juga dirasakan.


Raut sedih ketiga sahabat Ziro sangat kental, Jez terduduk lesu menyenderkan punggungnya ditembok dengan tangan menutupi wajah. Sedangkan Aditya berusaha menenangkan Adit yang meraung raung seperti anak kecil.


Zehn berdiri mematung tidak jauh dari mereka. Dirgo juga  merasakan pilu melihat situasi saat ini. Warna lampu operasi masih hijau menandakan operasi masih berlangsung.


Zehn mendekati Indira, memeluk dari  belakang seorang ibu yang selama ini merawatnya. Tangis Indira semakin menjadi saat tahu Zehn  memeluknya. Mereka berdua terduduk dengan tangis pilu yang tak henti.  Dirgo menghentikan Aryo yang terus meninju tembok.


"Ziro Zehn... anak mama hikkss...,," isak Indira yang semakin lemah.


"Ziro yang Zehn kenal orangnya kuat mah," sahut Zehn mengelus punggung Indira.


Zehn tidak bisa menyembunyikan air matanya yang sudah tumpah sedari tadi. Meski sudah lama hubungannya tidak baik dengan Ziro, tapi rasa kasih sayang sebagai saudara tidak akan pernah hilang.


"Mohon maaf dengan keluarga pasien?."


"Iya sus saya papanya, gimana keadaan putra saya!?."


"Anak saya baik baik saja kan sus!?."


"Mohon maaf sebelumnya pak bu, apa disini ada golongan darahnya B positif? Karena pasien membutuhkan stok darah yang banyak sedangkan rumah sakit hanya memiliku empat kantong darah B positif."


"Saya sus, golongan darah saya B positif ambil darah saya saja!."


"Nggak pah, papah punya gejala penyakit jantung sama hipertensi. Biar Zehn aja pah, ambil darah saya sus!. Golongan darah saya juga B positif."


"Baik mari ikut saya!."


"Zehn!," ujar Indira mencekal tangan Zehn.


"Makasih banyak nak," lanjut Indira dengan tatapan penuh ketulusan.


"Sudah sewajarnya mah."


Zehn beranjak mengikuti suster setelah tersenyum menenangkan Indira.


'Gue nggak mau lo pergi begitu aja Ro. Lo harus selamat.'


Didalam ruangan operasi, darah Zehn langsung mengalir ketubuh Ziro. Melihat Ziro dari celah celah para dokter membuat hati Zehn terasa tersayat. Dalam hatinya terus merapalkan doa agar Ziro bisa selamat.


'Seburuk buruknya hubungan kita, lo tetep saudara gue. Please bertahan, seenggaknya buat Saniya.'


"Lo ngapain?," tanya Aditya saat melihat Adit terdiam memainkan ponselnya.


"Ngabarin Saniya," sahutnya masih sesenggukan. Jez yang semula menunduk mendongak menatap Adit yang berada diseberangnya.


PLAK


"SAKIT JIR. SUKA BANGET LO BULLY ADIK SENDIRI!," teriak Adit mengelus kepalanya.


Indira dan Aryo pun mangalihkan fokusnya ke Adit yang menyengir menggaruk tengkuknya.


"Lagian ngapain lo ngabarin Saniya hah?," sahut Aditya memelankan suaranya.


"Ya emang kenapa? Saniya juga berhak tahu keadaan Ziro."


"Kalau Saniya drop gimana? Waktunya belum tepat Dit!!!," geram Aditya seolah olah ingin mencakar Adit dengan tampang tanpa dosanya.


"Ohh iya ya," sahut Adit menggaruk kepalannya yang tidak gatal.


"Dasar, kebanyakan makan pipa rucika gobloknya mengalir sampai jauh."


Duo twins melongo menatap Jez. "Tega banget lo Jez sama gue."


"Emang bener goblok!."


Bunyi pesan yang dikirim Adit benar benar membuat Saniya syok. Sampai keseimbangan tubuhnya goyah hingga menyenggol gelas yang berada diatas nakas.


Tanpa banyak pikir dia berlari mencari kunci motor yang selama ini tidak pernah dipakai. Dengan air mata yang sudah berhasil lolos, dirinya berlari menuju garasi. Otaknya memutar setiap perkataan Ziro sebelum pamit pulang beberapa jam lalu.


'Lo jaga diri baik baik ya San. Jangan nakal kalau gue nggak ada. Gue pergi dulu!.'


🌹🌹🌹🌹


HOLA HOLAAA👋


Gimana gimana?? yuk curhat dikolom komntar yakk😉


...JANGAN LUPA SPAM KOMEN...


...LIKE...


...VOTE...


...POOOIIIINNN...


...SEE YOU NEXT CHAP...


...LOVE U ALL GAESS😘...


...☠...


...🖤...


...👽...


...Nih visualnya leader Reveal🤗...


...Masih unyu unyuuu yak😁...