Zehntara

Zehntara
Chap 10 ( Saniya )



...Terkadang kita lupa arti dari sebuah hubungan...


...Sampai rasa yang tak seharusnya ada...


...Singgah tuk menyapa!!!....


...🌹🌹🌹🌹...


Zehn dan Dirgo tak bisa mengelak saat Tara sudah mulai curiga. Zehn tidak mungkin bisa pergi tanpa bantuan seseorang dalam kondisi kakinya yang belum pulih. Masih tetap memaksa, Tara langsung masuk mobil tanpa ba bi bu be bo. Sahabatnya juga tak paham akan situasi ketiga orang ini.


"Turun nggak Tara!!??," geram Dirgo mulai kehabisan kata menghadapi sang adik yang kekeh ingin ikut. Untuk mencegah rencana penyerangan Ziro.


"Percuma bang Tara nggak akan turun titik."


"Kalian itu kenapa ribut ribut sih??. Udah mau maghrib loh ini," sahut Ratih.


"Mau pergi kemana kalian berdua??," tanya Chika.


"Mau ngerampok!!!!. Udah lah Zehn masuk aja ntar kita turunin dia dipinggir jalan," sarkas Dirgo dibalas senyum kemenangan Tara.


"Gue ikut ya bang!?."


"Dasar caper lo May" sahut Geri.


"Hati hati Dirgo bawa mobilnya!!!," teriak Ratih. Mobil Dirgo melaju dengan kecepatan penuh, pasalnya alamat yang diberikan Zehn cukup jauh.


"Emang lo nggak punya nomor teleponnya Zehn?."


"Bisa sih gue minta nomor teleponnya, tapi kalau lewat telpon susah jelasin."


"Sebenarnya kalian mau kemana?."


"Diam aja lo!!!. Ngikut aja, udah kayak anak kucing."


"Tara tahu kok kalian mau cegah Zirokan?."


Dirgo dan Zehn menoleh kejok belakang dimana Tara dengan wajah awkward nya. Bagaimana tidak?, kedua orang didepannya spontan menatap Tara, ditambah mobil dalam keadaan gelap.


"B..benar kan?."


"Yaudah ngapain tanya lagi!??."


"Iya iya santai aja kali bang___sewot mulu dari tadi. Lagi PMS ya!?."


"Shit lo!!!."


Mereka memasuki pekarangan rumah yang cukup luas. Suasana disekitar sangat sepi, apalagi penerangan yang sedikit menambah kesan angker rumah bermodel jawa tepat dimana mereka berdiri sekarang.


"Lo yakin ini rumahnya bro?."


"Yakin bang, kita langsung masuk aja."


Tara menyelip ditengah tengah Dirgo dan Zehn, bulu kuduknya meremang sedari tadi. Rumah ini cukup bagus tapi suasananya begitu suram.


"Kenapa lo?__takut?."


"Haa takut??. Kenapa harus takut?."


"Bilang aja kalau takut mah," kekeh Dirgo.


Seorang perempuan paruh baya keluar membukakan pintu. Wajahnya terlihat lelah dan sedikit pucat. Dia memakai seragam pembantu bewarna biru.


"Selamat malam bi imah!!," sapa Zehn menyalami bi imah bergantian dengan Dirgo dan Tara.


"Astaga nak Zehn kenapa baru kesini malam malam?. Ayo masuk sekalian ajak temannya!!."


Tak disangka dalam rumah bermodel jawa ini sangat indah dan unik. Banyak barang barang mewah didalam. Saat melewati laci, Tara melihat tiga orang dalam bingkai foto. Tawa ketiganya menyentuh hati Tara.


'Gue nggak pernah lihat kalian tertawa seperti itu'


"Zehn!!!," panggil seseorang dari atas tangga. Matanya terlihat sayu ditambah wajah pucatnya.Tara melihat ke pigura kecil tadi dan yah itu dia. Perempuan yang bersama Zehn dan Ziro.


Dia berlari menuruni tangga dengan senyum bahagia tak lepas dari wajah pucatnya. Tara penasaran kenapa Zehn membawa mereka kesini?, apa rencana Zehn mencegah Ziro?.


"Non hati hati jangan lari!!!," teriak bi imah.


"Saniya berhenti!!!."


Ucapan Ziro menghentikan langkah gadis yang dipanggil Saniya itu. Dia berdiri ditengah tengah tangga menatap Zehn dengan mata berkaca kaca.


"Jangan lari Saniya!!."


Saniya. Ya, dia Saniya. Gadis cantik berambut panjang barpawakan tinggi itu mulai berjalan, menurut apa yang dikatakan Zehn.


Setelah menginjakkan kaki dibawah, Saniya kembali berlari memeluk Zehn. Getaran dari dada Tara melihat Zehn dipeluk gadis lain membuatnya sakit.Rasa itu baru ia rasakan, pertama kali.


'Sebenarnya apa hubungan mereka?'


"Kenapa kamu baru kesini??."


"Maaf!!!."


"Ziro dimana?, dan siapa mereka?," tanya Saniya melepaskan pelukan.


"Nak Zehn sebelumnya kesehatan non Saniya lagi memburuk, jadi...."


"Aku baik baik aja kok bi, kan udah ada Zehn disini," potong Saniya tersenyum manis. Dan itu membuat hati Tara semakin takut, takut jika dia terlalu berharap.


"Kamu sudah makan??."


"Non Saniya dari tadi siang belum makan nak. Dia terus tanya kamu dan nak Ziro."


"Kenapa belum makan?___nggak ingat sama janjimu dulu?."


"Maaf Zehn," sahutnya menundukkan kepala.


"Bro kita nggak punya waktu lagi," bisik Dirgo diangguki Zehn.


Pandangan Tara dan Saniya saling bertemu, dengan hangat Saniya memberikan senyumnya pada Tara. Namun entah kenapa Tara hanya bisa mengalihkan pandangannya.


"Yaudah bibi kebelakang dulu ya. Zehn jangan lupa bujuk non Saniya makan!."


"Pasti bi."


Saniya mendekati Tara, gadis itu menggenggam tangan Tara yang saling bertaut.


"Nama kamu siapa?."


"T..tara!!."


"Cantik, sama kayak orangnya!!!."


"Temannya Zehn?," lanjut Saniya. Tara menarik tangannya dan hanya menjawab dengan anggukan.


"Saniya kita bisa bicara berdua dulu??."


Saniya menurut, mengikuti Zehn berjalan lebih dulu kearah belakang. Dirgo menatap adiiknya yang sedang memperhatikan Zehn dan Saniya dengan tatapan aneh.


"Jangan kayak gitu dek. Positif tingking aja!!!."


"Apaansih bang nggak jelas banget!."


Saniya duduk sambil menikmati udara menatap bintang bintang dilangit. Hatinya bertabur bunga bisa kembali melihat wajah Zehn.


Saniya anggaira, sahabat dari kecil Zehn dan Ziro. Tak pernah terpikir hubungan mereka akan sekacau ini. Rahasia hubungan Zehn dan Ziro ada pada Saniya. Tak ada lagi yang mengetahui selain mereka bertiga.


Saniya hanya berharap selagi dia masih hidup, hubungan mereka bertiga kembali seperti dulu.


"Kali ini masalah apalagi yang dibuat Ziro?."


"Ceritanya panjang, sekarang cuma kamu harapan satu satunya San!!!."


"Lalu aku harus apa sekarang??."


"Biar bibi yang telpon Ziro. Kita bikin scenario seakan akan kamu lagi drop dan butuh Ziro."


"Apa ini ada sangkut pautnya sama teman kamu tadi??."


"Iya!!."


"Oke aku mau, tapi kamu harus janji sering main kesini!!!," ucapan Saniya dibalas senyuman dari Zehn. Sudah lama Zehn tidak pernah main kesini.Bukan karena sengaja, itupun karena dia tidak ingin mencari masalah dengan Ziro.


"Oh ya satu lagi___kalian nggak berantem kan selama aku nggak ada??."


Zehn terdiam, dia tidak pernah sedikitpun menceritakan semuanya dari Saniya. Sudah cukup apa yag Saniya dapatkan darinya dan Ziro.


"Kita masih sama, tapi nggak sampai berantem kok!!."


"Syukurlah. Emm yaudah gih bilang sama bi Imah!!!."


🌹🌹🌹🌹


Sepanjang perjalanan pulang keadaan dimobil sangat dingin. Tidak ada percakapan apapun, atau hanya perasaan Zehn yang merasakan aura aneh dari Tara?.


Pertanyaan Dirgo sedari tadi tak pernah dihiraukan sang adik. Apa dia pura pura tak mendengar atau memang tidak mendengar ucapan Dirgo??.


"Dek!!!," teriakan Dirgo kali ini membuat Tara terkejut.


"Apa sih bang??___lo pengen gue jantungan ya!??," sengit Tara.


"Habisnya dari tadi gue tanya nggak lo respon. Gue takut  lo ketempelan dedemitnya pohon beringin tadi!."


"Nggak jelas banget pikiran lo!."


"Santai dong dek, kok lo sih yang sewot??."


"Lo lagi sakit ya Tar kok diem aja dari tadi?," tanya Zehn menengahi kedua adik kakak ini.


"IYA GUE LAGI SAKIT, SAKIT BANGET MALAH!!!!."


🌹🌹🌹🌹


...~Jangan lupa saling menghargai😉...