Zehntara

Zehntara
Chap 22 ( Mellow )



~Jangan lupa saling menghargai😉


🌹🌹🌹


Jarum jam sudah menunjukkan pukul enam lebih lima belas menit. Keadaan horor mencekam di dalam ruangan minimalis, tetapi terlihat mewah. Dua orang duduk di sofa panjang dengan tampang pasrahnya mendengar satu kaum hawa berdiri sambil berkacak pinggang.


"JADI SETELAH ITU!?."


Dirgo menatap sendu manik mata Tara, meminta sedikit kelembutan dari sang adik yang biasanya bersikap polos-polos nyebelin.


"Ayah datang____dan semuanya terbongkar!."


"ABANG KEBANGETAN TAHU NGGAK!?."


"ABANG TAHU PERASAAN AYAH SEKARANG!?."


"Tara!."


Panggilan lembut dari Zehn mengalihkan tatapan tajam yang sedari tadi dia layangkan ke Dirogo.


"Jangan terlalu emosi!!!."


"Ingat asma kamu," lanjut Zehn berhasil memacu jantung Tara dan semu merah di wajahnya.


"Ta..tara numpang kamar mandi!."


"Mau kemana Tar?," tanya Dirgo menghentikan langkah Tara.


"Kamar mandinya di sebelah sana!," sahut Zehn menunjuk pintu di sebelah dapur, sedangkan Tara melangkah hendak ke arah pintu keluar apartemen.


Tara tak menjawab, langsung ngacir begitu saja. Malu, sangat malu. Jangan sampai dua cowok itu menyadari wajah bersemu Tara. Perkataan Zehn yang tidak terlihat biasa saja bagi orang lain, tapi sangat luar biasa baginya.


"Adik gue bisa salting juga ya!?," kekeh Dirgo.


"Tapi, gue baru lihat Tara semarah ini bang."


"Gue aja baru pertama kali di marahin sama dia, lebih parahnya gue nggak ngelawan sama sekali. Bodoh memang!."


"Ya iyalah lo nggak berani ngelawan, emang lo yang salah!."


"Nggak lagi deh gue main bohong-bohongan lagi!. Kapok gueah di usir dari rumah!."


"Bang!."


Keduanya menoleh ke arah suara, di mana Tara sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Tara boleh benci nggak sama abang?," ujar Tara dengan suara serak.


Dirgo beranjak mendekati adiknya, setetes buliran bening berhasil lolos dari kelopak mata Tara. Dirgo menatap dalam netra yang sudah basah oleh air yang terus keluar.


"Tara boleh benci sama abang!."


"Tapi, Tara nggak bisa!,"  sahut Tara yang semakin terisak. Dirgo membawa sang adik dalam pelukan, mencoba menenangkannya. Tidak ada niatan sedikit pun membuat Tara menangis seperti ini.


"Maaf!."


Zehn meringis melihat dua saudara yang saling menguatkan dalam dekapan. Melihat itu, semua kenangan seakan berputar kembali di otaknya. Memaksa untuk mengenang, dan hanya untuk di kenang.


"Abang tahukan kalau ayah paling nggak suka di bohongi hikss...Apalagi abang selama ini berbohong melakukan hal yang ayah paling benci!."


"Apa bang Dirgo pernah berpikir bagaimana perasaan ayah saat tahu semua!?."


"Asal abang tahu, Tara paling benci lihat ayah sedih. Tara lihat sendiri ayah terisak di pundak bunda, itu pertama kalinya Tara lihat ayah rapuh."


Tara terus meracau dalam pelukan Dirgo dengan suara tersenggal senggal.


"Semua karena bang Dirgo!!!," teriak Tara terus memukul dada Dirgo. Tidak terasa cairan mulai keluar dari kelopak matanya, mendengar pengaduan Tara membuat hatinya perih.


"Maaf dek!! Maaf!! Maaf!!."


Zehn mematung ketika melihat Dirgo mengecup kening Tara, tidak hanya sebentar tapi cukup lama sampai suara intrupsi Zehn mengalihkan pandangan kakak beradik itu.


"Gue juga pengen bang, coba sedikit dong!."


"Nggak bakal lama kok, janji!," lanjut Zehn langsung kena layangan sepatu dari Dirgo, tepat sasaran mengenai kening Zehn.


"SAKIT ANJROT!!!!."


"NGOMONG APA!? GUE PATAHIN JUGA LEHER LO!!!."


Zehn mengatupkan kedua telapak tangannya sambil membungkuk berkali kali. Tara yang masih tidak tahu maksud perkataan Zehn hanya menatap Dirgo kesal. Enak saja main timpuk gebetannya.


"ABANG!!."


Dirgo hendak berteriak kembali, geram dengan suara Tara yang membuatnya terkejut. Tapi urung saat melihat pelototan sang adik.


"Why? Apa lagi!?."


"Abang nggak sopan tahu main nimpuk Zehn pakai sepatu. Udah di bolehin numpang juga, nggak tahu malu!."


Protes Tara membuat Dirgo melotot, yang benar saja. Dirgo yang sudah membela Tara dari nafsu buaya, eh dia yang kena semprot.


"Untung lo adek Tar!. Udah mellow mellow malah bikin kesel!."


Zehn tersenyum puas melihat Dirgo terkena amukan Tara.


"Aduh sakit Tar!," rengek Zehn mengusap keningnya. Tara mendekati, mengelus lembut kening Zehn dan seketika membuatnya mematung. Bulu kuduknya  meremang di saat Tara mulai meniup kening yang sudah berubah menjadi merah jambu.


"Pppfftthh..."  tawa  tertahan Dirgo melihat ekspresi Zehn, dengan wajah memerah dan tubuh kaku nya memandang Tara tanpa kedip.


"Rasain!. Sakit kan?, sakit lah masa enggak!!," Dirgo kembali tertawa lepas dengan tangannya memegangi perut yang terasa kram.


"Su..su..sudah Tar!," ujar Zehn sambil melangkah mundur menjaga jarak aman. Takut jika terus seperti ini, si dedek akan terbangun.


"Loh, sini bentar itu masih merah!," sahut Tara melangkah mendekati Zehn yang terus melangkah mundur .


"Udah nggak sakit lagi Tar, sumpah!!."


Dirgo kembali terjungkal jungkal melihat dua jari terangkat dari tangan Zehn. "Tara!!."


"APA!?."


"Idih sewot!."


"Kalau Zehn bilang sudah ya sudah. Jangan di teruskan!. Bahaya!," lanjut Dirgo.


"SALAH ABANG TAHU, KASAR!!!."


"Au ah pusing gue!."


"Gara-gara lo akting mellow gue jadi cut!," lanjut Dirgo menatap Zehn sebelum hilang di telan pintu kamar.


"Woylah, kalau mewek mah mewek aja nggak usah gengsi."


"Gue antar pulang sekarang ya?," lanjut Zehn dibalas anggukan Tara.


"STOP!!!."


Suara gesekan antara ban motor dan aspal begitu nyaring, dan jangan salahkan Zehn jika jantung Tara kembali berulah. Bahkan kali ini jantung Zehn juga ikut berlomba menuju Finish.


'Ada hikmahnya juga ternyata'


Zehn menatap tangan Tara yang melingkar di pinggangnya, membuat lekungan di bibir merah alami Zehn. Hampir saja nyawanya melayang karena serangan suara petir dari Tara. Tapi tidak apa, jika berakhir manis seperti ini. Toh kapan lagi Tara akan memeluknya.


Saat tahu tangannya masih memeluk Zehn, segera Tara menjauhkam tangan juga tubuhnya yang terlalu menempel.


"Lo enggak apa-apa kan?."


"Ah iya, baik kok."


"Kenapa teriak, hm!?."


"Itu udah kelewat."


Zehn menatap sekeliling, hingga kekehan halus keluar, membuat Tara ikut tersenyum.


"Ngantuk ya?," Tara sedikit memiringkan kepala sampai terlihat wajah Zehn yang sama sama menoleh hingga tatapan keduanya bertemu.


"Nggak ngantuk kok."


"Terus kenapa bisa kelewat?."


"Lagi mikirin lo!."


"Kenapa mikirin Tara?."


Ini nih, kepolosan gadis yang selalu bisa membuat Zehn merindukannya. Tara mengangkat satu alis menunggu jawaban dari Zehn yang hanya tersenyum memandanginya.


"Mau tahu gue pikirin apa?."


"Pikirin apa sih!?," geram Tara saat Zehn malah menggodanya dengan satu kedipan mata.


"Mikirin gimana cara dapat restu dari ayah kamu!."


Mata Tara melotot, dan jangan lupakan bahwa setiap dia berada dekat dengan Zehn pasti penyakit jantung dadakannya akan kambuh.


"Udah jangan di pikir terlalu keras!," lanjut Zehn kembali menyalakan motor dan berbalik. Perut Tara sudah seperti lahan bunga yang di hinggapi banyak kupu kupu.


'Zehn bilang apa tadi, kamu? Ahh bunda anak mu lagi depresot, nggak kuat.'


"Tar!."


"Haa?."


"Nggak mau turun?."


"Ah iya," kaget Tara saat melihat rumahnya sudah di depan mata.


"Nggak mau mampir dulu?," tanya Tara sambil memberi helmnya pada Zehn.


"Nggak usah, udah malam juga."


"Sudah berani membawa pulang anak orang larut malam, ya!?."


Suara pelan nan mengerikan membuat bulu kuduk Zehn meremang. Fariz membuka pagar tanpa lepas mengamati gerak gerik Zehn.


"Maaf Om!."


"Ayah..." ucapan Tara terhenti tak kala Fariz mengangkat tangannya. Raut wajah Fariz sangat beda dari biasanya yang suka ramah dengan Zehn, membuat Tara sedikit gugup.


"Dari mana!?," suara lirih Fariz terdengar begitu tegas dengan wajah datar menatap tajam Zehn.


"Dari apartemen saya Om."


"BERANI NYA KAMU MEMBAWA ANAK SAYA KE APARTEMEN HAH!!??.'


'Woylah, mulut gue nggak tepat banget'


"Ayah kita nggak berbuat macam-macam kok, sumpah!!!," sahut Tara panik saat rahang Fariz mulai mengeras.


🌹🌹🌹


HOLA HOLAAA👋


...SPAM KOMEN...


...VOTE...


...POIN...


...LIKE...


...BIAR BISA NEXT CHAPTER...


...SPAM...


...SPAM...


SCROLL SCROOLLL YUKKKK!!!!


THANKS BUAT HARI INI GAESS, SEE YOU NEXT CHAP😉


...☠...


...🖤...


...👽...


...Tara si polos, kadang nyebelin, Imut imut, moodbosternya Raja Biologi^...




...Zehn kakak senior yg paling Tara sayang eaakkk:^), Good boy, Good loocking, perhatian lagiii:)...




...Ziro si leader Heroz yang paling kejam^, Si Dewa Adi Bangsa, Si playboy, bisa jinak bisa ganasss;^




...