
~Jangan lupa saling menghargai😉
🌹🌹🌹
Keadaan Apartemen Zehn sangat sunyi. Padahal didalamnya ada dua orang beda generasi yang hanya duduk bersebelahan. Keduanya sibuk dengan pikiran masing masing. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Zehn mengerutkan kening melihat Dirgo yang sedari tadi menekuk wajahnya. Tidak ada suara yang keluar dari mulut Dirgo sejak dia pulang.
"Lo kenapa Bang?. Ada masalah lagi!?."
"Hari ini gue sial banget Zehn," keluh Dirgo menekan kata 'sial'.
"Kayaknya nasib kita hari ini sama deh," sahut Zehn menatap langit langit sembari mengingat kejadian sore tadi bersama Tara.
"Tapi setelah itu gue bahagiaaa banget!," lanjut Zehn memancarkan senyum lebar membuat Dirgo bergidik ngeri.
"Bahagia kenapa?."
"Rahasia dong."
"Cih, pasti habis ngebucin kan lo! Ngaku nggak!?."
"Sok tahu!."
"Emang gue tahu."
"Kembali ke topik, ketiban sial apa lo bang?."
"Nih lihat Iphone kesayangan gue yang baru lahir dua bulan lalu rusak gara gara bocil setan, kesel nggak lo kalo jadi gue hah!?."
"Uppss santai bang nggak usah pakai kuah segala," sahut Zehn mengusap wajahnya.
"Shit lo Zehn. Nggak tahu gue lagi kesel sekesel keselnya hiihhh!!!."
"Itu hp udah rusak jangan tambah lo rusak bang," sahut Zehn melihat Dirgo meremas Iphone nya.
"Emang udah rusak ini bego! Kesel gue!."
"Sellow dong bang, emang lo nggak minta ganti rugi apa?."
"Udah lah, sampai berbusa mulut gue cuma mau minta ganti rugi!."
"Lah terus!?."
"Sialnya kenapa yang bikin Iphone gue kek gini orangnya malah bego bego giman gitu."
"Hah? Yang jelas jangan setengah setengah kalo cerita!."
"Lo tahu siapa yang bikin Iphone gue mati!?."
"Enggak lah."
"Dia anak dari polisi yang mergokin gue di kantor polisi dulu!."
"Maksud lo Pak Rendi!?."
Dirgo mengangguk lesu melihat malang Iphonenya yang baru saja dibeli dua bulan yang lalu.
"Terus?."
"Ya terus dia belum ganti rugi lah!."
"Terus?."
"Gara gara tahu bokap nya Om Rendi, yah gue nggak jadi bahas soal ganti rugi."
"Terus?."
"Terus gue langsung pulang."
"Terus?."
"TERUS TERUS LAGI GUE GOROK LO!!!."
"Ampun Bang," Zehn terkekeh, mengatupkan kedua tangan .
"Kena sial apaan lo!?."
"Jual muka gue gara gara adik lo!."
Dirgo mengernyit, menatap bingung Zehn.
"Maksudnya?."
"Tau ah malu gue kalo inget kejadian tadi," sahut Zehn beranjak dari duduknya.
"Oh ya bang!."
"Apa?."
"Makanan kesukaan Om Fariz apa?," tanya Zehn kembali duduk dengan air muka serius.
"Kenapa lo tanya makanan kesukaan bokap gue!?."
"Biasalah, calon menantu idaman," Zehn menaik turunkan alis dengan seulas senyum.
"Idih mau ngerayu bokap gue sama makanan?. Nggak bakal mempan!."
"Terus mempannya pakai apa?."
"Pistol!."
"Buset bisa bisa langsung dihadiahkan kembali ke gue. Sama aja memberikan senjata ke diri gue sendiri itu bang. Gila lo, yang bener aja dong. Bisa mati konyol gue!."
Dirgo tertawa puas melihat ekspresi Zehn.
Di sisi lain, Tara dan kedua orang tuanya sedang bersantai di depan televisi. Fariz fokus membaca koran sedangkan Tara dan Ratih setia menonton film dengan cemilan ditangan Tara.
"Ayah!."
"Hm!?."
"Cucus itu apa sih!?."
Tara memundurkan badan terkejut saat Faris menegakkan badannya menatap Tara tajam. Ratih pun ikut menoleh dengan wajah yang juga terkejut.
"Coba ulangi lagi!?."
Tatapan menghunus Fariz seakan membuat tubuh Tara meremang. Apa ada yang salah dengan pertanyaannya barusan?.
"Cu.. cucus itu apa?."
Tara memandang bundanya yang menggeleng pelan, dengan tatapan isyrat agar tak membahas soal yang sudah Tara lontarkan.
"Kenapa Tara tanya itu? Tahu dari mana?."
"Emang cucus itu apa?," tanya Tara semakin penasaran.
"Tahu dari mana Tara!?," tanya kembali Fariz dengan raut wajah yang semakin serius. Membuat Tara menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
'Jujur nggak ya?. Zehn sih bikin kepo aja.'
"Siapa yang ajak kamu cucus!?."
"Ha!?," cengo Tara menatap Fariz, kenapa Fariz bisa tahu ada yang mengajaknya cucus?.
"Tara jadi kepo. Emang cucus itu apa sih bun?," tanya alih Tara menatap bundanya.
"Emang benar ada yang ajak Tara cucus?," tanya balik Ratih yang akhirnya di angguki Tara.
"SIAPA YANG AJAK KAMU KAYAK GITU HAH!?."
Deg
'Mati gue kalau ayah tahu Zehn yang bilang'
"Bukan siapa siapa yah!," Tara langsung ngibrit meninggalkan Fariz yang masih berteriak memanggilnya.
Setelah berada di kamar Tara segera mengambil gawai dan menakan tombol panggil di nomor Zehn.
"Halo Zehn cucus itu apa?," seloroh Tara saat telepon tersambung.
"Haa?."
"Jawab Zehn cucus itu apa!?."
"Huufftt gimana aku nggak kepo kalau tadi ekspresi ayah serem ba~."
"Apa?? Jangan bilang kamu tanya ke ayah?."
"I..iya aku tanya sama ayah tadi."
"Kamu nggak bawa bawa nama aku kan?? Terus ayah jawab apa?? Kamu bener nggak ngomong hal hal yang aneh kan Tara!?."
"Iihh kok malah kamu yang panik??."
"Jawab dulu Tar!."
"Gimana aku mau jawab kalau itu kamu, muka ayah aja udah kayak mau makan aku mentah mentah. Kamu sih pakai bilang cucuscucus apalah itu ha!?."
"Ya kamunya kenapa tanya ke ayah? Kan udah aku bilang nanti kamu bakal tahu sendiri."
"Namanya juga kepo Zehn. "
"Iya iya , tapi janji dulu jangan bilang ke ayah kalau itu aku, hm!?."
"Hm!."
"Marah!?."
"Enggak."
"Iya deh maaf ,besok aku kasih tahu apa itu cucus tapi jangan marah lagi hm!?."
"Hm!."
"Tara saendria putri."
Tut
"Salah siapa coba main rahasia rahasia an ihhh!!," kesal Tara melempar hp kesembarang arah.
🌹🌹🌹
Tara end the gengs sedang asyik duduk dibawah pohon beringin, tempat biasa mereka bersantai dibelakang sekolah.
Bel masuk belum berbunyi, mereka menyempatkan berkumpul sejenak sebelum sibuk dengan kegiatan masing masing.
"Gaes gue mau tanya dong!."
"Tanya ajalah Tar," sahut Maya.
"Kalian tahu cucus itu apa!?."
Ketiganya saling pandang dan beralih menatap Tara yang salah tingkah.
"Ke..kenapa natap gue gitu?."
"Cucus!?," tanya ketiganya bersamaan.
"I..iya."
"Cucus itu bukannya kue tradisional ya?."
"Kayaknya bukan yang itu deh Chik."
"Terus apa dong Tar!?."
"Lah kalian pada nggak tahu?."
Chika, Maya, dan Gery sama sama menggeleng.
"Sama aja!," kesal Tara mencabut rumput didepannya.
Duduk bersila dibawah pohon memang menjadi tempat faforit empat semprul.
"Lah lo kenapa bisa tanya apa itu cucus??."
"Hmm tahu dari mana?," sahut Gery.
"Lupakanlah!."
"Yheee..."
"Gaess!."
"Gue mau tayamum," lanjut Gery membuat ketiga cewek itu mengerutkan kening.
"Ngapain lo tayamum!?," sahut Chika.
"Ya ampun masa lo nggak tahu tayamum sih?."
"Tahu Gery, tapi ngapain lo pagi pagi tayamum?."
"Ada air juga ngapain tayamum!?."
"Ya ampun gaes itu loh yang nggak pacaran tapi langsung nikah! Goblok banget sih lo pada!," geram Gery. Ketiga sahabatnya membuka mulut lebar lebar, menatap Gery cengo.
"ITU TA'ARUF GERY PASTA!!!,"sahut para ciwi bersamaan.
"Lah udah ganti ya!?."
"Pala lu yang ganti emang dari dulu gitu anjir!," sewot Chika menggeplak kepala Gery.
"Lo tuh yang goblok," sahut Tara.
"Serius lo mau ta'aruf!?."
Tanya Maya dengan wajah yang sulit di artikan. Gery hanya diam menatap mereka semua bergantian.
"Ekhhmm... lo pasti bohong kan Ger," ujar Chika menyenggol lengan Gery.
"Iya lah pasti, Gery pasta kan nggak pernah serius orangnya," lanjut Tara.
"Gue serius!."
Mereka sama sama terdiam, entah apa yang ada dipikiran masing masing.
"Lo nggak apa apa kan May?," tanya Tara.
"Emang gue kenapa?."
"Kita kan cuma BASEMAN," lanjut Maya tersenyum manis menatap Gery yang juga menatapnya.
"BASEMAN!?."
"Bahagia Sekedar Teman."
Hiiyyaakkkk
🌹🌹🌹
HOLA HOLAAA👋
Maap nggak update kemarin, biasalahh☺
Jaga kesehatan ya gaes, kesehatan paling penting di era pandemi seperti ini....
Oh ya yang minta visualnya ayah Tara sama Korek Jez di Chap slanjutnya ya😉
...JANGAN LUPA SPAM KOMEN...
...LIKE...
...VOTE...
...POIN...
...SEE YOU NEXT CHAP...
...LOVE U ALL GAESS😚...
...☠...
...🖤...
...👽...