
~Jangan lupa saling menghargai😉
🌹🌹🌹🌹
Gery memutar bola matanya malas. Mendengar ocehan Tara yang tidak jelas membuat gendang telinganya memanas. Masih dalam kondisi ruang kelas sangat ricuh tak terkendali. Banyak yang melakukan konser dadakan dikelas Tara, bahkan banyak meja yang sudah tidak berada ditempatnya. Melihat kekacauan ini membuat Tara memijit keningnya yang terasa nyut nyutan.
"Ayolah Chik nyanyi lagi, nggak seru lo!," ujar Gery dengan sapu ditangannya seperti memegang gitar.
"Males gue, ada yang lagi PMS jangan diganggu," sahut Chija melirik Tara.
"Oh ya tar kemarinkan lo tanya apa itu cucus, ya nggak?."
Tara merubah posisinya menjadi tegap mengahadap Maya, air mukanya berubah serius. " Iya, bener. Lo tahu May apa itu cucus?."
"Tar, lo tahu dari siapa sih kata kata cucus itu?," tanya Maya dengan raut wajah kesal. Gery, Chika, dan Anna mendekat agar lebih jelas mendengarkan perbincangan yang mulai menarik.
"Pokoknya adadeh, yang penting gue mau tahu cucus itu apa?."
Maya mengembuskan napas kesal, menatap sahabatnya bergantian. "Asal kalian tahu saking keponya gue apa itu cucus gue sampai kena amukan dari bokap," ujar Maya mencebikkan bibir.
"Lah kenapa kena amukan? Emang artinya apaan sih May!?," tanya Gery.
"Tunggu, pas gue tanya sama bokap juga gitu. Malah gue dapat pelototan lagi, ihh serem!," sahut Tara.
"Bentar deh, kalian ngomongin apa sih. Cucus? Hah?," tanya Anna dengan tampang beo nya.
"Isshh dengerin dulu kata Maya guys," lerai Chika.
"Sebenarnya cucus itu dalam bahasa sunda artinya..."
Semua mata membulat dengan mulut menganga sempurna tak kala Maya memperagakan dua kuncupan tangan saling bersatu.
Glek
"Lo...lo serius May?," gagap Tara.
Brakk
"Bahkan lebih dari itu!!!," sahut Maya menggebrak meja.
"What? Jadi cucus itu..." Gery memonyongkan bibirnya yang langsung kena tampar Chika.
"Najis tahu nggak."
"Gaes, pertanyaannya kenapa Tara kita bisa tahu kata sunda cucus itu?," semua mata mengarah kepada Tara yang sudah seperti ikan tanpa air.
"LO TAHU DARI SIAPA TARA?."
"SIAPA YANG NGAJAK LO GITUAN HAH?."
"LO MASIH POLOS KAN TAR?."
"Gu.. gue nggak tahu mau ngomong apa," sahut Anna tiba tiba dengan cengirannya menatap ketiga sahabat Tara.
"Sumpah jangan salah paham dulu. Gue nggak ngelakuin apa apa kok, beneran."
"Terus lo tahu itu dari siapa?," tanya Maya.
"Da.. dari-"
Dering ponsel Tara membuat ucapannya terhenti. Segera dia menggeser tombol hijau saat nama 'calon suami' tertera di layar pipihnya. Oh ya, jangan mengira Tara yang memberi nama kontak Zehn dengan nama samaran. Siapa lagi kalau bukan ide dari Gery, jika Tara berani menggantinya pasti sahabatnya itu tak henti henti memanggil Zehn sebagai suami Tara. Benar benar keterlaluan emang.
"Gue angkat telepon dulu, bye!," Tara ngibrit keluar kelas tanpa peduli teriakan interogasi dari manusia manusia aneh itu.
"Tar tolong," suara serak Zehn yang pertama Tara dengar.
"Kenapa? Minta tolong apa? Kamu di mana?," cerca Tara berjalan menjauhi lorong kelas.
"Lab Biologi."
"Oke aku kesana."
Tut
Segera Tara berlari menuju lokasi Zehn saat ini. Entah kenapa hatinya diselimuti kekhawatiran. Suara Zehn berbeda dari biasanya.
Tara membuka pintu laboratrium pelan pelan, netranya langsung menangkap sosok Zehn yang sedang menempelkan kepalanya diatas meja.
"Zehn, kamu kenapa?."
Dengan gerakan cepat Zehn menarik Tara aga duduk dikursi sebelahnya. Kepalanya ia tenggelamkan dipaha dengan tangan melingkar memeluk Tara.
"Zehn lo demam?," tanya Tara menempelken punggung tangannya dikening Zehn.
"Hm."
"Kita ke UKS aja ya?."
"Nggak mau," sahutnya lirih masih memejamkan mata.
"Udah minum susu dicampur telur belum? Kan kamu habis donor darah jadi perlu minum jamu itu, hm!?."
"Udah, tapi aku nggak mau."
"Hah? Gimana sih? Aku buatin dulu ya dikantin?."
"Nggak mau Tar, nggak enak," tolak Zehn mengusap usap kepalanya diperut Tara.
"Ya udah minum obat penambah darah aja ya sama penurun demam?."
"Enggak mau."
"Terus maunya apa? Orang sakit itu ya minumnya obat Zehn."
"Maunya cuma kamu."
"Ishh apaan sih nggak jelas," meskipun terlihat kesal wajah Tara tetap terlihat semburat merah.
"Ayolah makan dulu habis itu minum obat. Mau nggak turun demamnya? Nantikan kita latihan Zehn."
Zehn tidak menyahut, posisinya sudah terlihat nyaman sekarang. Dengan tubuh memeluk perut Tara dan badan lurus bertumpu jejeran kursi.
Tara mulai mengelus lembut kepala Zehn, perlahan terdengar dengkuran halus dari sang empu.
"Cepet banget tidurnya. Pasti kecapekan gara gara semalem nggak tidur," gumam Tara memandang setiap pahatan diwajah Zehn.
Di lain sisi Chika dan Maya berjalan menuju kantin. Tapi berbalik arah saat Chika menarik tangan Maya mengikuti tiga orang cowok menuju rooftoop.
"Mau kemana sih Chik?."
"Mau balas dendam," sahut Chika terus menaiki tangga satu persatu.
"Balas dendam apa? Jangan aneh aneh ya lo!."
"Udah lo tinggal ikutin gue aja, oke!?."
"Tapi jangan aneh aneh!."
"Iya iya bawel!."
Mereka berdua sampai dipintu paling atas rooftoop. Air muka Maya sudah terlihat cemas ketika melihat tiga cowok populer Adi Bangsa, dan juga Chika dengan senyum maut nya.
"Lo mau apa sih Chik!?."
"Lo tunggu disini!."
"Aduh itu anak mau bikin ulah apa lagi sih?," gumam Maya.
"WOY KOREK JEZ!!!."
Tiga cowok yang tak lain adalah Jez, Adit, dan Aditya itu menoleh menatap Chika dengan alis tertaut.
"Wihh ada adkel nih. Cantik juga," sahut Adit menatap Chika dari atas sampai bawah
"Apa lo lihat lihat?? Gue colok juga tuh mata!!!."
"Idih cantik cantik galak ternyata."
"Diem lo dit!," sahut Aditya.
"Mau apa lo kesini!?," tanya Jez masih dengan raut wajah khasnya. Datar.
"MAU BALAS DENDAM SAMA LO LAH!!!!."
"kalau lo nggak mau cari masalah mending out aja deh. Daripada nanti nagis, ya nggak Jez?," ujar Aditya.
"Urusan gue bukan samo lo berdua, jadi diem aja lo pada!!!."
Dibalik pintu Maya semakin meremas tangannya, takut jika serangan maut yang biasa Chika gunakan keluar.
"Seumur hidup gue nggak ada ya yang ngatain kalau gue itu bodoh. Dan lo dengan seenak jidat bilang kalau gue itu bodoh!?. Enteng banget lo ngomong kayak gitu!!!."
Jez masih santai dengan kedua tangan ia masukkan kedalam saku celana.
"Dan gue benci banget orang lancang kayak lo. Main bawa mobil orang tanpa ijin lagi, dasar pencuri. Yang terakhir lo juga punya dendam kan sama gue hah? Sampai lo anak tirikan gue di ekstra Drama!!!."
"Udah ngocehnya?."
Tangan Chika mengepal kuat, rahangnya benar benar mengeras sekarang. Perlahan dia berjalan mendekati Jez dengan mata yang tak lepas menghunus netra lawannya.
"DASAR MANUSIA GILA RASAKAN INI!!!."
"HIIYYAAKKKK......"
"AARRGGHHH..."
Jes meringkuk dilantai dengan tangan memegang aset masa depannya yang sangat berharga. Menahan rasa linu diarea selangk*ngan menjalar disetiap tubuhnya. Jez berguling guling agar mengurangi rasa sakit yang teramat sakit.
"RASAKAN TENDANGAN MAUT GUE. MAMPUS LO!!!."
"Dasar Chika!."
Adit dan Aditya spontan menutupi area selangk*ngan, menatap Chika dengan tubuh sedikit gemetar.
"Jangan lagi lagi bikin masalah sama gue!."
"Lo juga, paham nggak!?."
"Paham!!!," teriak duo twins bersamaan.
"Fu*k you!," ujar Jez menatap nyalang Chika yang dibalas tawa nyaring.
"Udah capek gue ketawa, bye para manusia gila."
"Sakit nggak bro?," tanya Adit meringis.
"Sakit lah njing!!!."
"Santai Jez, awas ilang nanti telur lo..."
"Mulut lo pengen gue cingcang Dit!."
"Kunci pintunya May!."
"Apa?."
"Lama lo," Chika mengunci pintu rooftoop lalu turun meninggalkan Maya yang masih terbengong.
"Ini kenapa jadi dunia terbalik?. Bukannya senior bully junior, ini malah kebalikannya," gumam Maya.
🌹🌹🌹🌹
Hari mulai beranjak sore, suara dering bel pulang sekolah terdengar diseluruh penjuru Adi Bangsa. Peserta olimpiade sudah duduk anteng di dalam ruang laboratrium. Tinggal menunggu pak Huda selaku pembina.
"Udah nggak pusing lagi kan?," tanya Tara pada Zehn yang duduk disebelahnya.
"Udah mendingan, makasih ya obatnya."
"Hemm," angguk Tara tersenyum pepsoden.
Disamping kiri Zehn ada Jez dengan air muka tak bersahabat. Menatap nyalang Chika yang tepat duduk didepannya. Sedangkan Iren berada disamping kiri Chika.
"Apa lo lihat lihat? Mau gue colok tuh mata!?."
"Seharusnya sih lo nggak disini, kenapa bisa keluar hah!?," Jez hanya memutar bola matanya, malas meladeni ocehan Chika.
"Chik," panggil Tara dengan gelengan kepala, agar tidak berbuat rusuh.
Ceklek
"Selamat sore anak anak."
"Sore pak!!!."
Pak Huda berdiri dipanggung lantai, dengan gaya khasnya tak lupa kaca mata bertengger dipangkal hidung.
"Sebelumnya kalian pasti tahu keadaan Ziro sekarang bagaimana. Dan hasil rapat para guru tadi pagi menyatakan Ziro harus di diskualifikasi karena kondisinya yang tidak memungkinkan. So kita sudah punya pengganti raja Fisika tahun ini."
"Siapa pak!?," tanya Iren.
"Silahkan masuk!."
Semuanya menoleh kearah pintu, sosok betubuh atletis dengan pedenya masuk dan berdiri disebelah pak Huda.
"Dia yang menggantikan posisi Ziro, anak dari kepala sekolah."
"Halo, kenalkan nama gue Krezyano afskar, bisa dipanggil Krezy. Pakai 'K' ya guys bukan 'C'. Dari kelas sepuluh Ipa satu."
"Iya, sudah beda arti ya!?," sahut pak huda dengan kekehan.
Zehn menatap satu persatu cewek yang ada disana, tak lepas mereka bertiga memandangi Krezy.
"Ternyata ada yang lebih tamvan dari Dewa Heroz," gumam Chika.
"Emang benar, diatas langit masih ada langit," sahut Iren.
"Iya," lanjut Tara seketika membuat Zehn melotot tanpa disadarinya.
"Oke oke semoga kalian bisa beradaptasi secepatnya, karena medan perang sudah didepan mata."
"Kamu boleh duduk disamping Iren," lanjut Pak Huda menunjuk bangku disamping Iren, otomatis tepat didepan Tara.
Ketiga cewek yang bukan lain adalah Tara, Chika, dan iren masih setia terbengong mengikuti gerak gerik Krezy yang tak luput dari pantauan seorang Zehn arialdo.
'Dasar mata keranjang, lihat yang bening dikit aja udah gelagapan.'
Zehn melototi Krezy ketika pandangan mereka saling beradu. Krezy hanya membalas dengan senyuman. Bahkan pandangannya berganti kearah Tara yang juga membalas senyumannya. Zehn yang melihat kejadian itu semakin melirik sinis Krezy.
"Ekhhmmm...dimulai sekarang aja pak," ujar Zehn.
Memang kenyataannya seperti itu, tampang seorang anak kepala sekolah Adi Bangsa ini tidak bisa diragukan.Â
Dua jam berlalu, disinilah Tara dan Zehn berada. Tempat parkir sekolah yang sudah sepi. Tara menyadari sikap cuek Zehn sejak tadi.
"Masih pusing ya? Kok diem aja dari tadi!?."
"Nggak pusing tapi pengen muntah," tekannya diakhir kata.
" Muntah kenapa?," panik Tara memukul mukul punggung Zehn yang segera ditepis sang empu.
"Muntah lihat kamu senyum ke orang lain!."
"Hah?."
"Ngapain tadi senyum senyum sama kresek!?," tanya Zehn masih dengan nada sewot.
"Kresek? Maksudnya?."
"Kresek sok sibuk itu!."
"Ohh Krezy?."
"Iya si Kresek, muka bekas operasi plastik aja bangga, Sok kegantengan cihh."
"Emang ngganteng kok."
"TARA!?," geram Zehn melotot.
"Ihh kok sewot sih dari tadi, hm?," goda Tara menaik turunkan alisnya.
"Siapa suruh kamu main curi pandang sama kresek sok sibuk itu hah!?."
"Krezy.. Krezy Zehn namanya pakai 'K' bukan Kresek sok sibuk."
"Nggak penting!."
"Cembukor ya!?," Tara kembali menyenggol lengan Zehn.
"Apa itu cembukor? Nggak ada ya!."
"Ngaku aja deh!."
"Tau lah, yang penting jangan tebar senyum ke orang lain selain aku. Ngerti!?."
"Iyain aja deh."
"Ohh ya aku harusnya lagi marah sama kamu," lanjut Tara.
"Marah kenapa?."
"Soal permintaan cucus kamu aku udah tahu artinya."
"Syukurlah kalau udah tahu."
"Mau sekarang!?," lanjut Zehn menaik turunkan alisnya.
🌹🌹🌹🌹
HOLA HOLAA👋
Maap nih kemarin nggak update, Ini juga telat lagi Up nya hehee😅Mood lagi naik turun🙃
Gimana sama Chap 33 ini gaes?? Curhat dikolom komentar yaaakkk
Mau apa lagi ini!?
...JANGAN LUPA SPAM KOMEN...
...LIKE...
...VOTE...
...POOOIIIINNN...
...LOVE U ALL GAES...
...SEE U NEXT CHAP😘...
...☠...
...🖤...
...👽...
...Nih yang lagi kangen sama Zehn🤗...