
~Maaf kalau typo bertebaran, ini habis ngetik langsung Up jadi belum sempet ngoreksi~
🌹🌹🌹
Suara derum motor memasuki pekarangan rumah Tara. Langkah pendek membawanya masuk ke dalam rumah tanpa mengajak seseorang yang sudah terheran heran. Bagaimana bisa dirinya sebesar itu tidak digubris sama sekali?.
"Cewek kalai lagi PMS emang beda ya ngab," monolog Zehn menggaruk kepalanya bingung.
"Loh kok sebentar keluarnya sayang?," tanya Ratih ketika Tara melewati dua orang paruh baya diruang tamu.
"Ada pengganggu bun."
"Pengganggu siapa? Terus Krezy nya mana kok nggak disuruh masuk?,"sahut Fariz kembali meletakkan koran yang ia baca.
"Krezy-."
"Krezy turunin Tara di jalanan Om. Gila banget nggak sih tuh anak, untung ada Zehn. Kalau nggak mungkin Tara udah diculik," potong Zehn datang dari belakang. Mata Tara membelalak mendengar pengakuan dusta Zehn.
"Eng-."
"Iya kan Tar!?," Tara bergidik saat Zehn mengedipkan satu matanya.
"Bener Tara Krezy turunin kamu dijalan?," tanya Ratih terheran heran.
Tara menatap Zehn yang juga menatapnya dengan sebuah senyuman penuh arti.
"I..iya bun," balas Tara.
"Kok Krezy kayak gitu? Emang dia nggak bilang sama kamu mau kemana? Kenapa main tinggalin kamu dijalanan?," cerocos Ratih hanya dibalas cengiran dari Tara.
Zehn beralih menatap Fariz yang juga menatapnya horor. Apa aktingnya kurang bagus? Apa Fariz tahu kalau mereka berdua sedang berbohong? Ah sudahlah itu hanya akan membuat Zehn semakin gugup. Membalas dengan senyuman manisnya mungkin bisa meluluhkan hati sang komandan kali yak.
"Selamat malam Om," sapa Zehn disertai bibirnya yang melengkung keatas.
"Anak saya udah sampai rumah kan?."
"Udah Om dengan selamat sentosa tanpa lecet sedikit pun," balas Zehn beserta senyuman bodohnya terus tersungging.
"Udah Zehn pulang aja gih," bisik Tara menarik narik ujung kaos cowok disampingnya.
"Bentar, masih berusaha mendapatkan restu ini. Kamu berdoa aja, biar kita cepat dapat restu," balasnya juga berbisik.
"Ekkhhmm..."
Keduanya seketika tegap menghadap kedua orang tua Tara. Air muka satunya terlihat gugup bercampur panik, sedangkan cowok disebelahnya seperti orang gila. Senyuman terus tersungging dengan mata berbinar.
"Terus ngapain masih disini?," tanya Fariz tanpa ekspresi.
"Ih ayah, biarlah duduk sebentar minum teh atau kopi dulu gitu," sahut Ratih.
"Dirgo aja nggak ayah bolehin datang kerumah tanpa ijin sampai masa hukuman selesai. Apalagi dia yang bukan anak ayah?," balas Fariz ringan, mampu membuat sosok tinggi tegap dengan susah menelan salivanya.
"Ah ayah emang orangnya gini Zehn. Harap maklum ya nak?."
"Iya bun Zehn udah maklum semklum maklumnya dari kemarin kemarin bahkan. Tapi kalau gini udah bukan maklum namanya tapi terpaksa," sahut Zehn lirih diakhir kalimat.
"Zehn cuma mau ambil tas kok yah, habis itu juga pulang," ujar Tara.
"Kenapa tas nya ada di kamu?."
"Ya ampun ayah kita bukan penjahat jangan di interogasi mulu," geram Tara.
"Siapa yang lagi interogasi kalian?."
"Ayah, jangan gitu ah! Udah cepat ambil tasnya Zehn Tara, nanti keburu singanya ngamuk lagi," lerai Ratih diangguki Tara dan segera melangkah menuju kamar.
"Sini duduk dulu Zehn."
"Zehn tunggu di luar aja tante," balas Zehn sembari mengambil punggung tangan Ratih untuk dicium. Bergantian dengan punggung tangan Fariz.
"Permisi, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," sahut keduanya.
"Ayah jangan keras-keras dong sama Zehn."
"Nggak apa-apa bund. Sekalian ayah mau nge-tes keseriusan dan rasa bertanggung jawabnya."
Setelah sampai depan teras, Zehn mengusap wajahnya kasar. Cobaan hidup emanglah berat, sabar dan sabar adalah kunci agar kita kuat. Tapi kalau gini caranya, kesabaran Zehn juga bisa habis.
"Susah amat hidup gue, cuma sebuah kata restu aja susah banget keluar dari mulut."
"Gue nggak bisa biarin Krezy deket sama Om Fariz. Bisa bisa gue kecolongan nih sama anak bau kencur."
"Istighfar Zehn, jangan gila cuma gara-gara nggak dapat restu," sahut Tara yang tiba dengan wajah cemas melihat Zehn berguman sendiri.
"Astaghfirullah siap-."
"Nah gitu istighfar, aku nggak mau kamu gila duluan sebelum kita resmi," potong Tara membuat raut wajah Zehn memerah.
"Ya ampun Tara siapa yang gila? Aku masih seratus persen waras kok. Serius!."
"Ya alhamdulillah kalau gitu, nih tas kamu!."
"Tunggu, tadi kata kamu resmi apa!?," tanya Zehn menaik turunkan alisnya.
"Resmi? Resmi apa?."
"Ditanya kok balik tanya?."
"Yah makhsud kamu resmi apa?."
"Lah tadi kan kamu yang bilang 'sebelum kita resmi'. Nah resmi apa?."
"Resmi-."
Tara mencindongkan badannya lebih dekat ke telinga Zehn. Sang empu menahan napas saat harum lavender menyeruak indera penciumannya.
'Jangan sampai khilaf Zehn.'
"Jadi istri kamu," bisikan Tara mempengaruhi detak jantung Zehn yang semakin cepat tak beraturan, begitu juga dengan Tara, langsung masuk menutup pinta tanpa melihat wajah Zehn yang sudah memerah bak kepiting rebus.
"Nih anak suka banget bikin anak orang jantungan," gumam Zehn sembari menyentuh dadanya yang berdetak tidak normal.
"Tenang aja Tar, habis lulus kita nikah kok. Kalau belum ada restu, gue ajak lo kawin lari. Okey?."
🌹🌹🌹
"Tidak ada yang menarik hari ini," teriak Gery memasukki kelas X Ipa 4. Situasi sebelumnya yang riuh mendadak sepi ketika dua sejoli memasukki kelas sahabatnya, Tara.
"Si receh datang nih bos," sahut Nando memeluk Gery dari samping. Maya berjalan malas ke arah bangku Tara dan anna yang sudah memasang raut wajah tanpa ekspresi. Kedatangan dua sejoli ini pasti tidak ada niat yang tidak tersembunyi.
"Masalah apa lagi Maya es teh enti?," tanya Anna.
"Lo nggak sakit kan May?," balas Tara menempelkan punggung tangannya kedahi Maya.
"Sakit hati obatnya apa Tar?," tanya balik Maya.
Jreng
Jreng
Jreng
Petikan demi petikan gitar yang dimainkan Gery mengalun indah. Penghuni kelas sepuluh Ipa empat hanya memangku tangan sembari memandang wajah muram Gery.
"SAATNYA KITA KONSER GAYS!," teriak Nando disambut tepuk tangan beserta siul-an lainnya.
"Kalian berdua kenapa lagi sih? Kayaknya tuh beban rumah tangga kalian lebih berat deh dari gue," ucap Tara membuat Anna tercengang, busa busanya Tara bicara tentang hal absurd seperti itu. Sedangkan Maya hanya mengagguk lemas.
"Namun ternyata pada akhirnya, tak mungkin bisa kupaksa. Restunya tak berpihak pada kita," lirik lagu mulai dinyanyikam Gery beserta iringan gitar yang dipetik.
"MUNGKIN-KAH AKU MEMINTA~," sahut seluruh siswa dikelas., dan konser dadakan pun terjadi karena ulah hati yang sedang patah.
"Kisah kita selamanya," lanjut Maya memberikan seulas senyum penuh arti pada Geri yang juga memandangnya dari kejauhan.
"TAK TERLINTAS DALAM BENAKKU," sambung para murid sepuluh Ipa empat.
"Bila hariku tanpamu," lanjut Tara.
"SEGALA CARA TELAH KU COBA."
"Pertahankan cinta kita...Selalu ku titipkan dalam doaku," sambung Maya dan Gery bersamaan.
"TAPI KU TAK MAMPU MELAWAN RESTU~."
Jreng....
"SEMUANYA KELUAR MENUJU LAPANGAN!!!."
Deg
"Matilah kau, tuh orang ngapain disini?," bisik Anna pelan.
Seluruh penghuni kelas Ipa empat dengan susah payah menelan salivanya menatap sosok guru killer berada diambang pintu.
"Kita kan lagi pelajaran pak kenapa disuruh ke lapangan?," bantah Nando.
"PELAJARAN APA HAH? KONSER NYANYI DILAPANGAN SANA! CEPAT!!."
"ASYIKK, GASPOLLL!!!," teriak semuanya berlari menuju lapangan tanpa menerobos Pak Buncit hingga benar benar keluar.
"KURANG AJAR, SAYA SURUH LARI SEPULUH PUTARAN BUKAN KONSER!."
"Lah kata bapak tadi disuruh nyanyi dilapangan, yah mereka pada nurut pak. Kok kita lagi yang kena?," tanya polos Tara. Maya dan Anna yang masih dibelakang menahan tawanya melihat air muka sang guru killer berubah menjadi merah padam. Sedangkan yang benar saja, antek antek Nando ditambah satu tetangga sebelah mengadakan konser ala kadarnya ditengah lapangan. Mempersembahkan lagu kang ghosting.
"Lo ikut gue!."
Tara menoleh mendapati Sonya beserta dua cewek dibelakangnya.
"Tar ayo!," ajak Maya ketika Tara menghentikan langkahnya.
"Ada apa ya kak?," kini Anna bertanya sembari memicingkan matanya melihat tiga kakak senior yang sering membuat onar sepengetahuannya.
"Bukan urusan lo, gue cuma mau ngomong sama nih anak," sahut Sonya menunjuk Tara dengan dagunya.
"Tapi-."
"Udah An, sebentar kok. Kalian ke lapangan aja dulu."
"Bener nggak apa-apa?."
"Iya May, tenang aja. Ntar gue nyusul."
"Oke, gue duluan," finish Maya melirik Sonya sebelum melangkah pergi bersama Anna.
"Mau ngomong apa kak?."
"Bawa dia!."
"Eh mau kemana?," tanya Tara ketika kedua tangannya ditarik paksa kedua teman Sonya.
🌹🌹🌹
HOLA HOLAA👋
Apa kabar kawan? Akhirnya Update juga, maaf mungkin udah mengecewakan huhuhuhuðŸ˜
Doakan biar bisa Update lagi setelah ini, aamiin😌
Yuk ramaikan kolom komentar biar Miki tambah semangat double Update hari ini😉
...JANGAN LUPA LIKE...
...KOMEN ...
...VOOTEEE...
...POOOIIINNN...
...LOVE U ALL GAES...
...SEE U NEXT CHAP😘...
...☠...
...🖤...
...👽...
...
...
...HAI FRINDS BANTU MIKI VOTE COVER YAKK😉...
PILIH YANG ATAS ATAU BAWAH NIH!?