Zehntara

Zehntara
Chap 11 ( Oke!!! )



Suara motor sport menggema memasuki pelataran rumah Saniya. Dengan tergesa gesa ia masuk kedalam rumah tanpa melepas helmnya.


Ceklek


"Kita kerumah sakit sekarang!!!," ujarnya hendak menggendong gadis yang sedang tidur dibalik selimut tebalnya.


"Ehh Ziro turunin nggak!?."


"Aduh nak Ziro itu non Saniyanya mau diapain?, turunin sekarannh nakl bahaya!," sahut bi Imah yang baru masuk.


"Turunin Ziro!!," Ziro menurut, perlahan menurunkan Saniya yang masih menatapnya dengan tawa geli.


"Apa?."


"Itu!!!," Saniya menunjuk helm yang masih menutupi kepala Ziro.


"Dasar masih aja pelupa!!!."


Ziro menyimpan helm full face nya dimeja sebelah ranjang. Dia menatap wajah Saniya yang masih saja sama. Dengan wajah pucatnya, tetap membuat cantik diwajah Saniya tak luntur.


Zehn, Ziro, dan Saniya adalah sahabat sejak kecil. Mereka sudah layaknya saudara kandung. Tapi hubungan itu terlalu kuat sehingga membuat tali takdir tak kuat lagi menahannya, hingga sampai akhirnya mereka harus saling membohongi satu sama lain.


"Nak Ziro marahin tuh non Saniya, dari tadi siang nggak mau makan jadi drop deh."


"Iya bi aku tuh nggak mau makan kalau nggak ada yang suapin," manja Saniya melirik Ziro yang masih mematung berlutut disebelahnya.


"Saniya, aku masih ada yang harus diurus ja.."


"Ohh kamu mau pulang lagi?? Oke sana pulang tapi jangan salahin aku kalau nanti kamu balik lagi cuma mau lihat jasad gu.."


"Saniya!!!."


"Kali ini sorry aku nggak bisa lama lama dan keadaan kamu juga nggak terlalu dikhawatirkan jadi tolong nurut sama bi Imah ya!?,"lanjut Ziro. Ziro berbalik dan kembali berhenti diambang pintu saat Saniya bersuara.


"Kamu udah berubah Zir!!!."


"Semua sama aja___udah nggak ada yang sayang sama gue. Lo, Zehn, mama, papa, semua!!! Kalian sama aja!!!," teriak Saniya dengan isaknya. Dadanya terasa sakit. Sesak, bahkan napasnya mulai tidak teratur. Ini bukan akting dari rencana awalnya bersama Zehn, entah kenapa rasa ini benar benar nyata. Sakit. Keadaan tidak bersamanya seperti dulu, disaat sebelum ginjalnya diangkat satu. Dan sejak kejadian itu___kejadian yang tak pernah ia bayangkan.


"Ya ampun non Saniya!!!___tenang non, tarik napas pelan pelan!!."


"Kita kerumah sak..."


"Nggak Ro___gue bilang nggak mau ya nggak mau!!!!," bentak Saniya menampik tangan Ziro yang lagi lagi mau menggendongnya.


Ada rasa bersalah saat melihat Saniya kesakitan. Entah ini yang ke berapa kali dia melihat Saniya menangis karena ulahnya.


"Oke kamu tenang sekarang!!!."


"Aku nggak bakal pergi!," ujar Ziro seraya memeluk Saniya, berusaha menenangkannya.


"Jangan tinggalin aku lagi ro, please!!!."


Dilain sisi keadaan bascamp Heroz sangat riuh. Para antek antek Ziro sudah siap dengan segala peralatan perangnya, tapi sang bos tak kunjung datang.


"Ini gimana sih Ziro kok nggak ada kabar?," teriak Adit frustasi. Sudah sejam lebih mereka menunggu. Ponsel Ziro juga tidak aktif.


"Nggak kayak biasanya Ziro kek gini."


"Bener Jez!!, apa ada masalah ya sama..."


Perkataan Aditya yang menggantung membuat mereka bertiga saling lempar pandang.


"Mungkin!!!."


Jigar tersenyum memandang sekelilingnya yang tampak kacau, banyak yang sudah bosan menunggu disini.


' Pasti ini rencana Zehn '


🌹🌹🌹🌹


Mentari menembus melalui celah tirai kamar gadis yang sedang terlelap. Jam beker disebelahnya berbunyi membuat sang empu terbangun.


"Ahh gue kira itu mimpi!."


"Tar bangun woy Zehn udah jemput nih!!!," seru Dirgo membuat mata Tara melek sempurna.


"What!?. Nggak mungkin, pasti gue masih dialam mimpi!," ujarnya menepuk pipinya berkali kali.


"Yaelah nggak sakit apa pipi lo?, sana cepat mandi kasian Zehn udah dibawah noh!!!," Ucap Dirgo yang tiba tiba nongol dibalik pintu.


"Hahh Zehn disini bang?? Seriuss??."


"Yaudah kalau nggak percaya gue suruh pulang aj.."


"Ehh iya bang Tara mandinya cepat kok suruh tunggu sebentar!!," ujar nya sembari bergegas masuk kedalam kamar mandi.


"Ckk dasar ABG!!!."


Sedangkan diruang tamu Zehn asyik berbincang dengan Fariz. Sudah terlihat jelas seperti mertua dan menantu saja heheeehe.


"Gimana dia bisa lupa kalau hari ini ada bimbingan olim, ckk dasar anak siapa sih kok pelupa banget!!."


"Anak nya Fariz lah siapa lagi," sahut Dirgo dan bergabung menyeruput kopi teh milik Zehn.


"Kamu itu nggak sopan, punyanya tamu kok malah diminum!."


"Ya anaknya Fariz lah siapa lagi?," sahut Fariz disambung gelak tawa mereka bertiga. Dasar anak dan ayah sama recehnya. Zehn suka suasana rumah Tara, penuh kehangatan keluarga.


"Ya beginilah Zehn bokap gue, jadi nggak usah malu malu ya!!."


"Iya bang," sahut Zehn menampilkan deretan giginya.


"Oh ya Zehn kok udah nggak pakai tongkat?."


"Iya om ini udah mendingan jadi bisa jalan tanpa tongkat lagi."


"Wah cepat juga ya, padahal kata dokter sebulan baru bisa lepas gipsnya."


"Tara udah siap kak ayok!!!," teriaknya menuruni satu persatu anak tangga.


"Kamu itu dek kok bisa lupa___kalau Zehn nggak kesini pasti deh telat."


"Hehee maaf yah namanya juga lupa."


"Saya pamit dulu om!!," Zehn mencium tangan Fariz begitupun Tara.


"Eh tunggu dulu Zehn!!!. Ayok sarapan dulu nak!."


"Ih bunda nggak sempat ini aja udah mau telat!."


"Salah siapa bangun kesiangan hah??."


"Ini masih pagi bunda__biasanya Tara juga bangunnya jam segini."


"Ya kalau ada kelas pagi itu jamnya di alrm lebih pagi lagi lah nak!!."


"Ya kan Tara nggak sampe' situ mikirnya heheee.."


"Dasar lo telmi," sahut Dirgo menoyor kepala sang adik.


Zehn terseyum kecil mendengar perdebatan Tara dan Ratih.


"Udah biarin bunda biar nanti mereka makan dikantin aja. Udah sana berangkat nggak malu apa kamu sama Zehn?."


"I...iya Tara berangkat dulu," ujarnya sambil menggaruk tengkuknya menatap Zehn yang masih menahan tawanya.


"Thanks bro!!!. Berkat lo semuanya teratasi!!," bisik Dirgo dibalas anggukan dari Zehn.


Sesampainya di Laboratrium Biologi mereka berdua menjadi pusat perhatian. Tara hanya menunduk dibelakang Zehn, dia malu. Sangat malu. Tara benar benar benci menjadi pusat perhatian. Padahal jika dilihat, mereka lebih memperhatikan Zehn dibanding dirinya. Tatapan kagum para kaum hawa akan paras Zehn membuat Tara risih. Kecuali mereka yang sudah mengenal Zehn.


"Maaf pak saya telat!!."


"Iya jangan diulangi lagi, cepat duduk!!!," ujar pak Huda selagi pengajar yang bertanggung jawab dibidang Biologi.


"Terimakasih pak!."


Zehn dan Tara duduk bersebelahan, dan disebelah Tara ada tatapan tak suka melihat keduanya saling lempar senyum.


"Anak bau kencur aja udah berani langkahin gue," lirihnya yang masih dapat didengar Tara.


"Hai kak Sonya!!!," sapa Tara dengan tatapan tak kalah remeh.


Dilain tempat Saniya memandang Ziro yang sedang asyik menyuapinya. Dia berhasil membuat Ziro tetap berada disampingnya. Rindu, ya rasa itu ada.


"Gue boleh minta bantuan kamu ro?."


"Nggak usah ijin San, bilang aja mau apa??."


"Janji apa yang aku mau kamu harus turutin!!."


"Nggak!!. Kalau udah kayak gini pasti minta yang macam macam."


"Aku cuma ada satu permintaan ro!!."


"Aku pengen sekolah lagi."


Ziro menyimpan kembali sendok dan menatap lekat netra Saniya yang juga menatapnya dengan mata berkaca kaca.


"Kamu udah tahu jawabannya San. Nggak untuk yang ini!!."


"Tapi Ro gue pengen rasain gimana itu masa muda sebelum gue nggak bisa lihat dunia ini lagi," nada dan cara panggilan Saniya berubah, itu menandakan bahwa dia sedang kesal. Permintaannya hanya satu, ingin melakukan kegiatan seperti manusia normal lainnya. Bersekolah, menikmati masa muda bersama teman temannya.


"Kenapa sih??, emang gue nggak berhak bahagia seperti orang lain??. Gue bukan robot ro yang selalu patuh sama aturan rumah sakit, gue juga pengen ngerasain rasanya sekolah, main sama temen temen, pergi ke mall bareng lagi sama lo, Zehn juga!!!!."


" Oke!!!."


Lekungan bibir Saniya melebar, matanya berbinar. Spontan dia memeluk Ziro yang masih menatap kosong kedepan.


'Sebentar lagi bakalan ada drama nih'


🌹🌹🌹🌹


...~Jangan lupa saling menghargai😉...


Yuk beri miki hadiah biar tmbah smngaattt!!!!


Love you all gaess:)