Zehntara

Zehntara
Chap 23 ( Hukuman )



HAI GAEESS BERTEMU LAGI BERSAMA ZEHNTARA😉


SETIAP HARI SENIN BAKAL DOUBLE UPDATE, SYARATNYA KALIAN HARUS NGE-VOTE.


VOTE BERTAMBAH, UPDATE PUN BERTAMBAH


YUK YANG BELUM SEGERA YA KAWAN🤗



...~Jangan lupa saling menghargai😉...


...🌹🌹🌹🌹...


"Iya Om, saya cuma mau bawa Tara ketemu sama bang Dirgo aja!."


"DENGAN MEMBAWA ANAK SAYA PULANG LARUT MALAM, IYA!?.'


"Tidak bermaksud Om, maaf!," sahut Zehn menundukkan kepalanya. Sungguh ngeri melihat Fariz tersulut emosi.


"Ayah!," Tara memegang lengan Fariz, mencoba menenenangkan.


"Kamu masuk!!!."


"Tapi yah!?."


"Masuk Tara!!!."


Zehn mengangguk sembari tersenyum agar Tara tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya. Meski tubuh Zehn sedikit ngilu merasakan aura dingin ayah Tara.


Mau tidak mau Tara masuk ke dalam, meninggalkan dua orang beda generasi itu.


"Jadi sekarang dia tinggal di rumah kamu!?."


"Maksud Om, Bang Dirgo?."


"Hm."


"Iya Om."


Beberapa saat Fariz hanya diam menatap kosong ke depan, seperti menerawang sesuatu.


"Maaf sekali lagi Om!."


"Kamu ikut geng motor!?," tanya Fariz tanpa mengindahkan permintaan maaf Zehn.


"Tidak Om!."


"Lalu kenapa kemarin ikut tawuran!?."


"Itu.."


Zehn menjeda ucapannya, bingung mau menjawab seperti apa. Takut jika melenceng sedikit akan berakibat fatal.


"Itu apa!?."


"Cuma mau bantu bang Dirgo Om!.'


"Bantu!?. Berarti kamu sebelum nya sudah tahu kalau Dirgo ikut geng motor?."


"Zehn baru tahu nggak lama ini Om!."


"Dan kamu bertarung melawan saudaramu sendiri, iya!?."


'Udah kayak maling aja gue, di interogasi mulu, tetap sabar dia calon mertua lo zehn."


Zehn tak lagi menjawab, hanya diam sembari menatap semut yang ada di tanah. Kurang kerjaan memang.


"Sana pulang!!!."


"Baik Om!," Zehn menurut, mengambil tangan Fariz untuk di cium lalu segera menaiki motornya.


"Untung nyawa gue masih aman," gumam Zehn setelah berbelok di pertigaan. Sedangkan Fariz mengulas senyum tipis setelah Zehn benar-benar hilang dari pandangannya.


🌹🌹🌹🌹


Tara berjalan di koridor dengan heansead terpasang dikedua telinganya. Sambil mulut berkomat kamit mengikuti lirik lagu 'you are the reason'.


"TARA!!!."


"Astaga!!!," kaget Tara saat pundaknya di tepuk oleh Maya. Kedua orang beda jenis itu masih tersengal sengal dengan wajah memerah.


Tara melepas heanseadnya, jika sudah seperti ini pasti apa adanya, eh ada apanya.


"Ada apa lagi hm!?."


"Chika mana!?."


"Di kelas lah."


"Lo harus lihat sesuatu Tar!," ujar Gery membuat satu alis Tara terangkat.


"Lihat apa sih?. Heboh banget kalian berdua."


"May lo ke kelasnya Chika!."


"Siap!!!."


Maya melesat menuju kelas Chika. Tara yang belum siap dengan tarikan Gery yang tiba tiba membuat heansead nya terjatuh.


"WOYLAH GER, HEANSEAD GUE TUH!!."


"UDAH NANTI GUE GANTI, GAMPANG!!!."


Teriak mereka berdua dengan Gery yang masih berlari menarik tangan Tara.


Mereka berdua berhenti di tepi lapangan upacara. Seketika mata Tara mengerjap agar pandangannya lebih jelas lagi. Di saat itu juga mata dan mulutnya terbuka lebar.


"Suami lo kenapa Tar!?."


BUGH


"Arghh sakit ogeb!!!," ringis Gery mengelus kepalanya yang terkena timpukan tas Tara.


"Suami?, enak aja lo kalau ngomong!."


"Aamiin kek Tar. Suami masa depan, nggak salah kan!?."


"Pikirin aja tuh nasib lo sama Maya!."


Tara kembali memandang sosok Zehn sedang berdiri hormat di bawah tiang bendera. Dan jarak satu meter di samping Zehn, ada empat anggota geng Heroz. Siapa lagi kalau bukan Ziro, Jez, Adit, dan Aditya.


"Pasti gara-gara tawuran kemarin," gumam Tara yang masih bisa di dengar Gery.


"What??, apa lo bilang?."


"OMG TARA!?."


"Yah, ratu kepo!. Datang-datang bikin heboh!," sahut Geri memutar bola matanya malas melihat Chika yang sudah berada di samping Tara.


"SUAMI LO KENAPA???. WHY Tara??."


"WOYLAH GLEDEK BANGET MULUT LO CHIK!!."


"GERI PASTA MINTA DI MAKAN YA!?."


"AP___"


"STOP!!!.'


"Jangan berdebat di sini, okey??," lanjut Maya menengahi.


Tara lelah, lelah mendengar suara cempreng sahabatnya. Kenapa Tara yang polos nan imut ini bisa berteman dengan Chika dan Gery yang notabenya pembawa rusuh?. Hanya Maya yang agak waras di antara mereka berdua.


"Kembali ke topik!. Itu suami sama kakak ipar lo kenapa bisa di hukum Tar!?."


" Bisa nggak jangan bilang Zehn itu suami gue?. Geli tahu!."


"Ckk bulshit lo tar!."


"Tahu tuh bilang aja seneng!."


"Nggak ya!!!."


"Ihh udah, jawab dulu tar kenapa!," sahut Maya.


"Mungkin karena tawuran kemarin!."


"APA TAWURAN!?," Jawab ketiganya bersamaan.


"Biasa aja dong!!!. Bisa pecah gendang telinga gue lama lama sama kalian."


"Kok bisa tawuran sih Tar, gimana ceritanya?."


"Panjang ceritanya May."


"Pokok lo harus cerita sama kita. Titik!!!."


"Kenapa gue harus cerita kalau kita aja punya Mr. Update. Gimana tuh sama gelar yang selalu di junjung, hm?."


"Ohh iya, benar juga lo Tar!," sahut Chika melirik Gery yang sedang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Lo kutuan ya Ger?."


"Hah enggak kok!."


"Lah tuh kenapa garuk-garuk?," lanjut Maya.


Chika menarik pelan lengan Tara untuk beranjak menjahui tokoh Frindzone di dalam Empat semprul itu.


"Nggak sengaja," jawab acuh Gery.


"Hilih, kutu an itu pasti!!."


"SIAPA SIH YANG KUTUAN HAH!?," geram gery.


"YA LO LAH MASA GUE!?."


"Tahu ah!. Nah kan mereka berdua ilang!."


"Ckck, bye!!!."


"Woy, tungguin!!!. Gitu aja ngambek," sahut Gery mengejar langkah Maya.


"Kalau Saniya terus kekeh deketin Zehn, gimana nasib gue?," gumam Tara.


"Apa Tar??. Lo ngomong apa tadi?," tanya Ana yang sedikit mendengar suara Tara.


"Enngak ngomong apa-apa gue, salah dengar kali!."


"Masak!?."


"Sayur Sop!."


"Nggak usah melucu, nggak lucu!."


"Au ah An, bye!."


"Mau kemana?."


"Rahasia, nggak usah ikutin gue!."


"Siapa juga yang mau ikutin lo!."


Tara melambaikan tangan sebelum keluar meninggalkan Anna yang sedang menye-menye.


Di lapangan basket keringat mengucur deras membasahi tubuh lima orang yang masih setia di depan tiang bendera. Banyak murid yang berbisik ketika melewati lapangan, bagaimana tidak jika sang Dewa Adi Bangsa sedang menjadi trending topik di sekolah. Dengan judul topik sang Leader Heroz menjadi tawanan, woah sangat hebat para updating Adi Bangsa. Karena baru kali ini Ziro dan kawan-kawannya berurusan dengan polisi.


"AARGGHH CAPEK GUE ANYEENGG!!!!."


Teriak Adit sambil merosotkan badannya, telentang tepat di bawah terik matahari yang berada di atasnya. Sudah sejak jam enam mereka hormat di depan sang saka merah putih.


"Bisa-bisa kulit gue hangus nih kalau gini caranya!," sahut Aditya yang ikut melentangkan badan tanpa peduli panasnya lantai  lapangan.


"Apes banget gue dari kemarin. Udah tidur dalam sel, banyak nyamuk, sekarang di jemur udah kayak ikan asin aja. Bisa turun nih pamor goodboy and goodloocking gue!."


"Depresot beneran gue kalau kayak gini!."


"Bisa diam nggak!?," sahut Jez berhasil membuat Adit dan aditya kincep.


Kedua twins 'A' sama-sama menghela napas, lalu kembali berdiri.


"Habis ini lo traktir kita Jez!!," ujar Adit dibalas anggukan Aditya.


"Hm!."


"Ro, Saniya tadi telepon gue!," lanjut Jez.


"Kenapa dia telepon lo!?."


"Katanya Hp lo nggak aktif."


"Oh, lupa. Baterai gue habis."


"Dia sakit!."


"APA!?."


Zehn menoleh saat tak sengaja ucapan Jez terdengar. Aura kedua 'Z' berubah cemas. Saniya memang mudah sekali jatuh sakit, karena dia hanya punya satu ginjal sejak ginjal satunya di angkat.


"Bro mau kemana!?," teriak twins bersamaan. Ziro tak menghiraukan teriakan temannya, bahkan suara pak buncit tidak diindahkann. Hanya ada Saniya dalam pikiran Ziro saat ini.


"HEI MAU KEMANA KAMU!??."


"HUKUMAN BELUM SELESAI. KEMBALI!!!."


"Waduh Pak Buncit!," ujar Aditya langsung kembali tegap.


"KALIAN BEREMPAT!."


"Iya pak!?," sahut Adit


"ZIRO MAU KE MANA!?.'


"MAU KE RUMAH SANIYA PAK!!!."


"Shit, mulut lo Dit!," geram Aditya ketika mulut Adit asal nyeplos.


"APA!?."


"WOYLAH SANS DONG PAK CIT!!!."


"ADIT, BERANI KAMU MEMBENTAK SAYA!?."


"BAPAK JUGA NGGAK BISA SANTUY. GURU ITU MENJADI PANUTAN, JELAS LAH SAYA MENIRUKAN GAYA BICARA BAPAK!."


Ketiga cowok di samping Adit menepuk jidatnya, pasti setelah ini hukuman mereka pasti akan bertambah. Dasar Adit, suka asal ceplos tanpa berpikir.


"Kebiasaan lama nggak pernah berubah," gumam Zehn.


"PUSH UP SERATUS KALI!!!."


"NOW!!."


Hendak Adit membuka suaranya kembali, tapi naas saat suara Pak Buncit kembali menguar.


"BERTAMBAH SERATUS KALI DALAM SATU DETIK. NOW!!!."


Adit melotot, mau tidak mau Adit segera turun dengan umpatan terus dilayangkan.


"KENAPA KALIAN MASIH BERDIRI!?."


Sudah menjadi kebiasaan Pak Buncit jika bicara tidak pernah santai. Selalu memakai tenaga dalam, sampai ingin memecahkan gendang telinga. So, harus ekstra sabar jika bersama Pak Buncit.


"Loh kita juga pak!?," sahut Aditya


"IYA DONG. CEPAT TURUN!!!."


"Kita kan nggak ikut ikutan pak!,' sahut Zehn yang sudah kelewat depresot.


"TURUN SEKARANG!!!."


"SIALAN LO DIT!."


"MATI AJA SONO LO!!!."


"TUNGGU PEMBALASAN GUE DIT!."


Serangan ketiga cowok yang juga terkena sasaran terus memaki Adit yang hanya terkekeh geli melihat ekspresi ketiganya.


"TAMBAH SERATUS KALI!!!."


"ANJROT!!."


Kena mental nggak tuh!?


"KALIAN___."


"Pak Buncit di cari Bu Rike!!," potong Tara yang tiba tiba datang.


"Ada apa!?."


"Nah gitu dong pak, selow aja!!," sahut Adit dengan wajah tanpa dosa.


"DIAM KAMU!!."


"Sewot lagi," gumam Adit.


"Kamu saya beri tugas mengawasi mereka berempat. Ingat hukuman mereka dua ratus kali Push Up, paham!?."


"Paham pak!," sahut Tara memberi hormat. Pak Buncit melototi ketiganya yang langsung mempercepat Push Up, tidak ingin di tambah lagi. Mungkin kalau Tara tidak datang hukuman mereka akan bertambah karena ulah Adit yang terus menjawab ucapan sang guru killer.


Sehilangnya pak Buncit dari pandangan, mereka bertiga menyerang Adit bertubi tubi tanpa peduli sang empu berteriak meminta ampun. Kejadian seperti ini, mengingatkan Zehn akan masa lalunya bersama Heroz.


"Kak!."


Zehn mendekati Tara, membiarkan Jez dan Aditya mengeroyok Adit.


"Thanks, lo udah dateng tadi," ujar Zehn tersengal sengal.


"Capek ya!?."


"Hm!."


Tangan Tara terulur mengusap keringat di wajah Zehn. Bibir Zehn terangkat membentuk lekungan, memandang wajah Tara sedekat ini membuat tubuhnya terasa panas dingin.


Tatapan keduanya bertemu beberapa detik saat Tara memaksa menjauhkan tangan dan pandangannya. Tidak di sadari ketiga cowok di belakang menatap malas keduanya.


"DASAR BUCHIN!!!."


🌹🌹🌹🌹


HOLA HOLAAAA👋


DOUBLE UPDATE KAN, APA SIH YANG ENGGAK BUAT KALIAN😚


ADA KABAR NIH BUAT PARA READERS TERCINTA,


BESOK SELASA SEHABIS UPDATE BISA CHEK IG @naokimiki12


AUTHOR POST VIDIO ILUSTRASI ZEHN DAN TARA DISANA, BISA CHEK SETELAH AUTHOR UP YAA GAESSS. JANAGN LUPA LIKE😉


DISINI NGGAK BISA UPLOAD VIDIO SOALNYA, JADI POST DI IG


...JANGAN LUPA SPAM...


...KOMEN...


...LIKE...


...VOTE...


...POOOIIINNNN...


BISA LANJUT PAGI PAGI ASALKAN KOMEN MELESAATTT


...SEE YOU NEXT CHAP GAESS👋...


...THANKSS🤗...


...☠...


...🖤...


...👽...