
^^^25-04-2021^^^
Zehn POV
Aku tidak menyangka harus di posisi ini sekarang. Pagi hari yang seharusnya sudah kususun rapi menjadi kacau hanya karena dia. Entah dia itu siapa akupun tidak mengerti, tubuhku terasa kaku ketika pandangan ku dengannya saling bertemu.
Sepertinya dia juga sama sepertiku, terkejut. Bahkan beberapa kali aku mencoba mengucek mata, tapi nihil. Dia masih membeku memandangku tanpa eksspresi. Sampai suara seseorang membuyarkan lamunanku.
"Maaf mas, ini! Semuanya jadi dua ratus ribu," ujar mbak kasir memberikanku sebuah kotak kue ulang tahun untuk Tara.
"Ini mbak, terimakasih."
Setelah memberi dua lembar uang seratus ribuan, akupun kembali menoleh ke arahnya yang terlihat sibuk memilih beberapa macam kue. Pikiranku sudah kemana mana saat ini, apa yang harus aku lakukan? Menyapanya terlebih dahulu, lalu bertanya kenapa dia meniru wajah tampanku?.
Ahh sudahlah, aku memilih berjalan terlebih dahulu dimana motorku terpakir. Kutunggu dia sampai menyelesaikan pembayarannya. Dia terdiam sebentar menatapku dari seberang, lalu melangkah mendekatiku. Mungkin dia tahu apa yang sedang aku lakukan sekarang kalau tidak sedang menungggunya.
"Apa kau operasi plastik?," tanyaku spontan setelah dia berada didepanku. Sungguh aku tidak suka ada orang yang meniru wajah rupawanku ini.
Dia menggeleng.
Apa yang terjadi? Bagaimana bisa ada orang yang sangat mirip denganku?.
"Ahh sepertinya ada yang aneh disini," ucapku ketika dia hanya diam sedari tadi. Sifatnya sama seperti Jez, makhluk dingin yang irit bicara.
"Zehn!?," panggilnya lirih, apa? Dia baru saja memanggil namaku?.
"Ka..kau tahu namaku?."
Dia mengangguk.
Hai, ada apa ini? Aku semakin bingung, kenapa dia bisa tahu namaku? Aku saja baru kali ini melihatnya. "Ta..tahu dari siapa?."
"Pernah dengar dari ibuku."
Deg
Pikiranku mulai belayar sejauh mungkin, apa maksud- dari ibunya?
"Bisa aku bertemu dengan...."
".....Ibu mu?," tanyaku yang entah kenapa pertanyaan itu keluar begitu saja.
"Ikuti aku," ujarnya melangkah memasuki mobil. Akupun hanya mengagguk, lalu mengikutinya dari belakang.
Perasaanku mulai tidak enak, bahkan aku tak peduli sekarang jam berapa. Yang ingin aku tahu sekarang, hanya dia. Kenapa wajah kami snagat mirip. Dan ibunya, tahu namaku?.
"Ayo masuk," ajaknya memasuki rumah yang begitu megah.
Jantungku semakin berdetak kencang tak kala sosok wanita paruh baya menatapku dari anak tangga dengan tatapan yang sulitku artikan. Wanita itu seperti tidak asing bagiku. Yah, dia pernah aku temui di toko buku waktu bersama Tara dan Krezy. Wanita paruh baya yang tiba tiba pergi membawa seorang anak kecil yang pernah Tara temui di taman.
Langkah kakinya beranjak menghampiriku dan cowok disebelahku ini dengan mata berkaca kaca. "Apa dia ibumu?," bisikku sebelum tubuhku hampir saja terhuyung saat sebuah pelukan hangat menerjang.
"Anakku."
Deg
Jantungku serasa berhenti berdetak, apa dia bilang? Anak?. Tidak mungkin. Ku henyakkan pikiran pikiran aneh dari otakku. Berusaha tetap tenang meski banyak petanyaan yang ingin keluar sekarang juga.
Wanita itu terisak didadaku. Memelukku begitu erat, meski aku tidak membalas pelukannya. "Annakku," ucapnya lagi dengan suara begetar.
Kenapa hatiku terasa berdesir ketika dia mengatakan itu? Dan pelukan ini, terasa sangat hangat dan nyaman. "Mom," ujar cowok itu menarik pelan bahu yang kuyakini ibunya.
Wanita itu menangkup wajahku, tatapannya tergurat rasa rindu yang teramat dalam. Menatapku begitu sendu, seakan mengatakam sebuah penyesalan disana. "Maafkan Mommy nak."
Keningku berkerut, sudah cukup drama pagi ini. Apa yang terjadi sekarang sudah hampir membuatku gila. "Apa yang anda maksud, dan siapa dia? Kenapa wajahku sangat mirip dengannya. Lalu kenapa dia bisa tahu namaku dari anda?," cecar ku.
Seulas senyum terbit diwajahnya yang sudah tak muda lagi."Anak Mommy-."
"Kamu anakku sayang."
Aku hanya bisa diam mencerna perkataan yang baru saja keluar. Anak? Apa mungkin dia benar benar ibuku?
"Zehn, anakku kau sudah sebesar ini."
Lagi lagi sentuhan tangannya membuat hatiku menghangat. Layaknya seorang ibu pada anakknya. "Pasti Aryo merawatmu dengan baik kan?."
Mataku melebar, bahkan dia tahu siapa nama papa. Tidak mungkin benarkan? Dia- ibuku.
Mataku memanas tak kala dia menunjukkan sebuah foto dari dompetnya. Sebuah foto anak bayi kembar dengan sepasang suami istri. Dan itu adalah papa bersama wanita didepanku ini. Ohh, kenyataan yang sangat lucu. Aku tidak pernah berpikir bahwa aku mempunyai saudara kembar, kukira dia sengaja mengubah wajahnya agar mirip denganku.
Bibirku begetar, ingin mengeluarkan suarapun sangat susah. Dia kembali memelukku erat, seakan tak mau membiarkan ku pergi. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Senang atau merasa sedih?.
"Ke..kenapa anda meninggalkan ku?," lolos sudah pertanyaan yang sedari tadi kupikirkan.
Dia melepaskan pelukannya, lagi lagi tatapan itu menjeratku. "Papa mu lebih memilih harta daripada keluarganya sendiri, nak."
Ingin sekali aku tertawa mendengarkan penjelasannya yang sangat lugas. Ya, benar. Aku percaya dia mengatakan alasan bahwa papa akan memilih harta, karena papa yang aku kenal adalah sosok yang ambisus dengan harta.
Seulas senyum miring tercetak diwajahku. Keluarga yang selama ini hampir membuatku gila, ternyata keluarga yang telah melukai seorang wanita yang kini berdiri dihadapanku. Pantas saja, mama waktu itu memanggil Ziro sebagai adikku. Yang bahkan aku tahu selama ini Ziro adalah kakakku.
"Ini ibu nak! Ibumu," ujarnya lagi menggoyangkan lenganku.
Tak kusangka setetes cairan berhasil keluar dari pelopak mataku. Rasanya ingin tak percaya, tapi ini adalah kenyataan. Orang yang patut aku benci saat ini bukanlah dia yang sudah meninggalkanku sejak bayi, bukan. Tapi orang yang bersalah adalah dia yang memisahkan seorang anak dengan ibunya. Papa, dialah orang yang tak kusangka lebih memilih harta daripada istri dan anaknya.
"Mommy," panggilku lirih, ahh apa aku baru saja memanggil wanita didepanku dengan sebutan ibu?.
"Iya ini Mommy nak," balasnya masih dengan air mata yang terus mengalir.
"Maafkan Momny yang tidak pernah ada untuk mu."
"Maaf nak, maaf."
Tidak, bukan dia yang harus minta maaf. Bukan.
"Bukan salahmu," ujarku lirih, membawanya kedalam dekapan. Kali ini aku yang memeluknya begitu erat, sungguh aku sangat merindukan pelukan seorang ibu yang selama ini tak pernah aku berpikir untuk mencarinya. Bahkan aku baru tahu dari Ziro bahwa papa Aryo adalah ayah kandungku, setahuku Papa Aryo dan Mama Indira mengadopsiku dari panti asuhan sejak bayi. Karena itulah yang mereka katakan padaku, sampai suatu saat membuat Ziro membenciku hanya karena masalah cinta. Dan berakhir akulah yang beranjak keluar dari sangkar emas Aryo.
"Aku rindu Mom!."
Zehn POV End
🌹🌹🌹
Hari yang penuh kejutan bagi Zehn. Tidak disangka dia akan bertemu ibu dan saudaranya tepat dihari ulang tahu Tara. Seharusnya tadi pagi dia memberi kejutan untuk gadis itu disekolah, tetapi karena kejadian tadi dia harus bolos sekolah. Sampai kejutan itu berakhir pada malam hari.
Bahkan dihari yang sama ini, kebahagiaannya bertambah berkali kali lipat karena berada didekat Tara. Malam yang indah untuk dua orang yang sedang dimabuk asmara. Senyum indah Tara, tawa lepas Tara, wajah malu malu Tara, seakan menghipnotis Zehn dalam sekejap. Membuatnya melupakan kejadian tadi pagi.
Tapi kenapa rasa takut kehilangan Tara kini tiba tiba menyelimuti hatinya? Rasa gelisah itu kembali datang, memikirkan alur hidupnya selama ini yang penuh teka teki.
"Aku ngantuk Tar."
"Tidur aja dulu, tapi jangan lama-lama."
"Kenapa?," tanya Zehn membuka kembali kelopak matanya yang teras berat.
"Takut, masa aku sendirian disini? Kamu malah tidur."
"Ya udah tidur bareng aja disini."
"Apaan sih nggak jelas," balas Tara mendengus pelan.
Zehn menghela napas kasar, pikiran dan hatinya sekarang sesang gelisah. Tidak tahu karena apa, ke khawatirannya semakin bertambah tak kala melihat wajah Tara.
"Tar, aku capek."
Lelah akan semesta yang terlalu memberikan banyak kejutan. Lelah akan hidup yang terasa hampa, jika saja gadis yang kini berada didekatnya tak datang, meski hanya sebentar.
"Capek banget ya, gara-gara nyiapin kejutan seharian?."
"Hhmm," balas Zehn yang tak sinkron dengan hati juga keadaan pikirannya sekarang.
Bukan capek akan kegiatan fisiknya, tapi capek batin dan pikirannya. Lelah akan takdir semesta.
"Pengen pulang, tapi nggak tahu mana rumah yang sebenarnya."
Iya, Zehn ingin pulang ke rumah yang benar benar bisa membuatnya nyaman, dan bisa memberi kebahagian yang utuh. Tapi dia tidak tahu sekarang mana rumah yang akan memberikan kebagaian itu
"Pulang ke rumah Om Aryo aja Zehn, jangan ke apartemen-."
"Kasian tante Indira, dia pengen banget kamu pulang le rumah."
"Hmm, rumah? Entahlah," balas Zehn diselingi kekehan yang terasa menyayat hati Tara. Apa dia salah bicara?
Rumah? Rumah yang mana? Apakah sebuah rumah bagi Zehn saat ini bisa membuat luka dihatinya membaik? Sejak dia beranjak pergi dari rumah, disaat itulah Zehn tak lagi menganggap apa itu arti sebuah rumah. Baginya rumah hanyalah sebuah neraka dikehidupannya saat ini.
Zehn beranjak duduk menghadap Tara, menggenggam kedua tangan gadis itu. "Aku boleh berharap padamu, Tar?."
"Be..berharap apa?," gugup Tara menaikkan satu alisnya. Tangan Zehn sangat dingin dengan tatapan serius menusuk netranya.
"Berharap, untuk jangan pernah tinggalin aku apapun itu keadaannya. Seburuk itu kenyataannya, sesingkat itu kenyataannya, bahkan mungkin lebih menyakitkan," kata demi kata yang terlontar begitu saja keluar dari mulut Zehn. Tatapan serius kini berubah menjadi tatapan sendu. Seakan Zehn paling rapuh tanpa adanya Tara saat ini dan sampai kapanpun itu.
Iya, karena hanya Tara lah satu satunya yang bisa Zehn percaya menjaga hatinya. Takut, takut jika suatu saat Tara akan meninggalkannya.
"Ka..kamu ngo..ngomong apa sih?."
"Jawab Tar!-."
"Iya, aku juga nggak mau jauh dari kamu Zehn," balas Tara sembari melingkarkan kedua tangannya diperut Zehn. Mendekap tubuh cowok itu sangat erat, enggan melepas. Berharap waktu berhenti sejenak, membiarkan keduanya terlelap dalam dekapan.
"Aku beruntung bisa bertemu denganmu, Baby Ra."
"Aku juga, merasa paling beruntung bisa mengenal sosok sepertimu Zehn."
Malam yang terasa singkat bagi Zehn. Tetapi juga malam yang sangat indah bagi kedua pemuda itu. Dia tidak bisa menyangkalnya, bahwa hatinya berdegup kencang tak kala bibir itu benar benar bisa ia gapai.
Zehn tersenyum miring melihat wajah Tara yang memerah akibat ulahnya.
"Terima kasih untuk first kiss-Nya, Baby Ra."
"Kening dan bibir itu sudah menjadi milikku selamaNya."
"Love you, See you TaraNya Zehn!."
Zehn sangat puas mengerjai gadisnya itu, tanpa menunggu balasan dari Tara yang masih membeku, Zehn menancap gas membelah kegelapan malam yang terasa sunyi.
Setetes demi tetes air membasahi jaket yang dikenakan cowok itu. Tanpa peduli dia tetap melajujan motornya membelah rintikan air yang semakin deras.
CEETAAARRR
Kilatan petir juga sorotan lampu dari arah kiri membuatnya terkejut hingga membanting setir kearah kanan. Tapi naas saat sorot cahaya menyorotnya dari depan.
Satu dalam pikiran Zehn saat ini, hanya ada wajah dan nama gadis itu. Tara.
Dentuman keras memecah suara hujan yang begitu lebat. Bahkan suara pecahan kaca terdengar mengerikan. Tubuhnya terlempat begitu jauh dari motor, helm yang dikenakan pun sudah terlempar entah kemana. Tubuhnya melewati mobil yang baru saja menghantam motornya dari depan.
Seakan akan kejadian yang baru saja ia lewati dengan gadisnya kembali berputar layaknya kaset rusak. Meski tubuhnya terus berguling bersama sisa sisa kesadarannya.
Darah terus keluar dari kepala juga hidungnya. Suara teriakan histeris beberapa orang disekitar masih bisa dia dengar. Tubuhnya serasa mati sekarang.
"Ta..tara...ma..maaf..."
🌹🌹🌹
Disinilah kedua saudara kembar itu berada, ruangan yang dipenuhi alat alat medis. Tubuhnya sudah dipenuhi alat bantu penunjang hidup, sungguh miris melihat sosok didepannya. Zweit, saudara kembar Zehn hanya bisa diam dengan segala kekhawatiran yang menyelimuti hatinya. Tidak, dia tidak ingin melihat saudaranya seperti ini. Air mata itu kembali menetes melihat Zehn yang masih dengan gigih menulis kan beberapa kata. Padahal, kondisinya sendiri sudah sangat tak baik.
"Ja..jangan nangis Zweit," ujar Zehn lirih. Tangannya masih terus menari diatas kertas yang entah bagaimana rupa tulisan itu.
Zehn memaksa dokter agar diberi waktu sebentar agar dia bisa mengatakan sesuatu, sesuatu untuk Tara. Meski badannya terasa amat sakit, tubuhnya terasa mati, dia hanya butuk waktu sebentar sebelum semua kata yang ingin diutarakan ikut terbang tinggi bersamanya, sebelum kata itu sampai kepada sang pemilik hati.
"Jangan dipaksa," ucap Zweit, suaranya terdengar purau. Zehn tersenyum, masih berusaha menggerakkan tangannya.
"Ja..jaga Tara bu..buat gue Zweit..."
"....Bu..buat di..dia ja..jatuh cinta sama lo."
Zweit mendongak agar cairan itu tak lagi jatuh menetes. Dia hanya diam, suaranya serasa tercekat ditenggorokan.
"Ja..janji lo ba..bakal jaga dia...ja..jangan beri tahu se..sebelum dia..ta..tahu sendiri.."
Zweit mengangguk lemah.
"Udah ya, lo harus operasi," ujar Zweit lemah.
"Lo ka...kasih surat ini ke..dia," ucap Zehn menyerahkan selembar kertas dengan tangan begetar.
Zweit mengusap wajahnya kasar. "Lo harus bertahan, Zehn!."
Zehn mengulas senyum, menatap dalam manik saudara kembarnya yang baru saja dia temui. "Sa..satu lagi.."
"Apa lagi Zehn!? Lo harus operasi sekarang!," teriak Zweit frustasi. Lihatlah saudaranya yang keras kepala ini, diwaktu yang sangat tipis masih bisa menyampaikan pesan pesan aneh yang tak bisa masuk diotaknya.
"Ka..kalau gue nggak ba..bangun lagi-.'
"Kasih gin..jal gue bu..buat Saniya," lanjut Zehn susah payah. Napasnya serasa berat, pasokan udara disekitar seperti habis secara perlahan. Dadanya juga terasa sangat berat, namun matanya berusaha untuk tidak tertutup saat ini.
Zweit lagi lagi hanya mengangguk, tak kuasa mengeluarkan kata kata. Melihat wajah yang tadi terlihat baik baik saja, kini sudah terlihat sangat memilukan. Sangat pucat, ditambah jaket yang dikenakan sudah berubah menjadi warna merah.
"Maaf kita harus lakukan operasi sekarang!," tegas Dokter dan beberapa perawat yang datang.
Zehn tersenyum kepada Zweit sebelum mata itu perlahan tertutup sempurna. "Lo kuat, Zehn."
Lampu operasi menyala, beberapa perawat dan Dokter mulai sibuk dengan tugasnya. Zweit mondar mandir dengan perasaan gelisah. Sudah satu jam berlalu, lampu operasi itu masih berwarna hijau.
"Dokter detak jantungnya menurun drastis," ucap salah satu perawat.
"Ambilkan alat pemacu jantung!."
Keadaan semakin panik ketika tiga kali alat pemacu jantung itu menarik dada Zehn yang tak kunjung membaik.
Setetes cairan berhasil keluar dari sudut mata Zehn beriringan dengan suara nyaring monitor juga garis lurus dilayar persegi.
Ttiiiitttttttt
Para tenaga medis itu menghela napas pasrah. Tatapannya terlihat sendu disertai senyum tipis melepas kepergian pasien yang tak bisa mereka tolong.
Berhenti.
Berhenti sudah detak jantung itu. Mungkin dia sudah lelah menghadapi dunia, lelah akan semua yang terjadi.
"Tanggal 25 april 2021 pukul duapuluh tiga lebih limabelas menit, pasien dinyatakan meninggal."
Senyuman tipis menghiasi wajahnya yang teramat pucat, sudut matanya masih terlihat basah. Selesai sudah kisah cerita hidupnya. Meski semesta tak pernah memberinya waktu untuk merasakan apa arti kehidupan yang bisa membuatnya berarti. Meski, semesta telah mendatangkan gadis yang amat ia cintai.
🌹🌹🌹
Dear Tara
...Hai Baby Ra......
...Jangan nangis dong, nanti cantiknya ilang loh...
...Mungkin aku udah nggak ada lagi saat kamu baca surat ini...
...Maaf, aku nggak bisa nulis banyak...
...Sakit , Tar ...
...Aku cuma mau bilang ...
...Terima kasih...
...Atas malam yang terasa singkat, namun sangat indah ini...
...Aku tidak tahu kalau malam ini adalah akhir bab dari kisah kita ...
...Kamu ingat, dulu aku pernah bilang bahwa aku punya dua impian...
...Dan, sepertinya satu impian ku akan segera terwujud...
...Mencari pendonor ginjal buat Saniya, dan mungkin pada akhirnya aku sendirilah yang akan mendonorkan ginjalku... ...
...Tapi, satu impian ku belum bisa terwujud...
...Dan impianku itu ada di kamu, Baby Ra....
...Aku selalu ingin melihatmu bahagia...
...Jadi, tolong tetap bahagia untukku ...
...Jangan lupa tersenyum......
...Bantu aku wujudin ya, sayang ...
...Maaf, aku menyerah begitu saja...
...Mungkin cukup sampai disini kisah kita berdua ...
...Setiap hidup adalah cerita...
...Terimakasih telah menjadi bagian dari ceritaku ...
...Ya, pada akhirya kisah kita hanya sesingkat ...
...hai dan sampai jumpa ...
...Aku mencintaimu Tara,...
...Akan aku bawa cinta ini di keabadian ...
...Boleh sedih, tapi jangan lama lama ya...
...Aku nggak suka lihat kamu nangis...
...Selalu bahagia, sayang ...
...Love You...
...Baby Ra ...
From ZehnNyaTara