Zehntara

Zehntara
Chap 18 ( Mie Ayam )



Pukul enam kurang lima belas menit sudah mulai ramai lalu lalang para murid yang akan mengikuti bimbingan olimpiade. Tentunya para murid yang tergolong tinggi kemampuan otaknya. Termasuk Tara yang sudah duduk termenung menunggu masuknya kelas bimbingan.


"Pagi adek kelas!, kok sendiri aja?. Biasanya juga sama Zehn!?."


"Ouh jangan jangan kalian lagi marahan ya?, atau gara gara ada orang ketiga?," lanjut Sonya dengan cibiran yang membuat mood Tara semakin anjlok. Makhluk satu ini seperti ada masalah dengannya, selalu bisa membuat darah Tara mendidih.


"Pertanyaan ambigu!," sahut Tara menampilkan senyum remeh yang membuat alis Sonya berkerut.


"Hah, ambigu?. Tapi cukup jelas kan apa yang gue makhsud!?."


"Kasihan ya, belum apa apa udah patah hati!."


"Bangun gih!. Udah pagi masih aja ngigo."


"Lo tuh yang harusnya bangun!!!. Sadar diri dong, anak kemarin sore aja udah berani ngerebut milik orang. Nggak tahu aja lo gimana Zehn cinta mati sama Saniya, gue aja yang dekat dari dulu susah ambil hatinya. Apalagi lo, anak bau kencur!!!!," sentak Sonya menatap sengit Tara.


Tatapan siswa siswi teralihkan kearah mereka berdua, terutama sosok diambang pintu yang terdiam mengamati perbincangan keduanya.


"Berarti kita sama dong!?, kenapa lo repot repot urus masalah gue?. Terus kalau gue suka sama Zehn ada larangan gitu?, hanya karena Saniya masih cinta sama Zehn gue juga nggak boleh suka?. Berarti lo juga sama dong kayak gue!?."


BBRAKK


Suara pukulan meja membuat kaget penghuni laboratrium biologi. Sonya benar benar terpaut emosi mendengar perlawan dari Tara. Ternyata tidak semudah itu melawan gadis didepannya. Dia bukan lagi Tara yang polos, karena rasa sakit itu seketika mengubah mentalnya secara perlahan.


"Berani beraninya lo___"


"Ada apa ini!?," ucapan Sonya terpotong tak kala pak Huda datang. Sonya dan Tara lebih terkejut melihat sosok dibelakang pak Huda.


"Ada apa Sonya?."


"Tidak ada apa apa kok pak!," sahut Sonya beranjak kemejanya. Kedua manik mata Tara menatap netra Zehn, tidak ada ekspresi apa pun disana.


Semoga Zehn nggak dengar semuanya, batin Tara.


"Kamu kenapa masih berdiri Zehn?, cepat duduk!."


Zehn melangkah menuju meja yang ada dibelakang Tara. Mengamati wajah Tara membuat rasa aneh semakin berkecambuk didadanya.


Pelaksanaan olimpiade semakin dekat, dan hari ini adalah hari penyeleksian dan di ambil dua orang yang diikut sertakan. Wajah gugup para murid terlihat jelas saat pak Huda membagikan beberapa lembar kertas.


"Jawab dengan hati hati!!!. Nilai ujian kali ini akan menjadi penentu kalian mewakili sekolah Adi Bangsa di kejuaraan olimpiade nanti."


"Baik pak!," sahut serempak.


Satu jam berlalu mereka semua dspat menyelesaikan lima puluh soal sekaligus, benar benar tidak salah jika sekolah ini terkenal dengan bibit bibit unggul yang tidak pernah mengecewakan. Begitu juga bidang lainnya seperti Fisika, Kimia, dan Matematika pun sudah menyelesaikan ujian penyeleksian. Terutama Ziro, sudah selesai sebelum lima belas menit waktu berakhir. Dapat menyelesaikan terlebih dulu. Fisika adalah pelajaran yang sangat sangat mudah baginya, berkali kali dia mendapatkan juara satu. Dan pastinya kali ini Ziro akan lolos. Sedangkan Jez berada di bidang Kimia. Jangan lupakan sahabat Tara yang satu ini, Chika. Meski dia masuk Ips, jangan remehkan kemampuannya dibidang Matematika.


"Cukup hari ini sampai disini saja!. Pengumuman peserta yang lolos nanti sepulang sekolah. Dan yang tidak lolos jangan berkecil hati, tetap semangat untuk kejuaraan olimpiade selanjutnya!."


"Siap pak!," sahut para murid.


Pak Huda meninggalkan laboratrium membawa setumpuk kertas ujian. Satu per satu meninggalkan ruangan, kecuali dua orang. Netra keduanya saling membeku, seperti enggan beralih kedalam isyarat yang sulit keluar.


"Gue mau ke kelas!," ujar Tara lirih menunduk kebawah dengan iringan jantungnya yang semakin berpacu.


"Bisa kita bicara sebentar!?."


"Tapi___."


Tak sempat berkata kata, tangan Zehn sudah menarik Tara keluar. Tidak ada perlawanan, raganya enggan untuk menolak. Sampai mereka berdua duduk disalah satu bangku taman belakang .Tidak ada banyak para murid yang berlalu lalang.


Keadaan tidak seperti biasanya, aura canggung diantara keduanya membuat angin bisa merasakan dan kian menghembus dingin. "Ada yang ingin lo tanyakan!?."


"Maksudnya?."


Tara diam sejenak, kemudian menggeleng pelan. Ucapan Saniya terus terngiang, membuatnya ragu hanya sekedar membalas tatapan Zehn. Dia tidak ingin membuat hatinya semakin sakit saat bayang bayang kenyataan itu terus menghantamnya.


"Kalau gitu boleh gue yang tanya!?."


Tak ada jawaban dari Tara yang terus menduduk membuat Zehn mengehela napas . Dari samping bisa dilihat wajah gugup Tara.


"Diam, berarti iya!?."


"Waktu diperpustakaan kemarin, apa ada yang dibicarakan Saniya?. Kenapa lo tiba tiba pulang!?," lanjut Zehn mengubah mimik Tara. Tangannya saling bertautan begitupun dengan degup jantungnya yang tak lagi normal.


"Nggak ada apa apa kok. Kemarin gue agak pusing, jadi pulang duluan deh!."


"Yakin!?."


"Hmm, yakin!."


"Oke!, nanti sepulang sekolah ikut gue ya!?."


"Kemana?."


"Kemana mana," sahut Zehn lalu beranjak meninggalkan Tara yang masih ke loading.


"Kemana mana kemana?," monolog Tara, mendongak keatas.


****


Pemandangan jalan yang dipenuhi lalu lalang kendaraan terpampang jelas diindera Tara. Suasana yang cukup bising tidak terlalu membuat keadaan diantara dia dan Zehn canggung. Dilengkapi suasana senja, menjadikan tempat makan dipinggir jalan lebih terasa alami.


Warung Mie Ayam, pertama kali Tara makan dipinggir jalan. Lebih bahagia disaat dia datang bersama cowok disebelahnya kini. Tidak seperti pemuda pemudi lainnya, yang suka berduaan ditempat romantis. Zehn, lebih memilih makan dipinggir jalan. Rasanya juga tidak kalah dengan mie ayam restoran, mungkin direstoran belum tentu ada.


Perasaan kalu Tara sekejap hilang, hanya karena perlakuan kecil dari Zehn. Tidak disangka bahwa Zehn akan mengajaknya makam dipinggir jalan berdua, apalagi Mie Ayam adalah makanan Favorit Tara.


"Kenapa nggak pernah makan langsung?."


"Ya nggak apa apa, cuma nyaman aja kalau makan dirumah. Tapi kali ini Tara lebih suka makan diwarungnya langsung!," kebahagiaan tercetak jelas diwajahnya, membuat Zehn hanyut oleh senyuman Tara.


"Tapi lo suka gue ajak kesini?."


"Suka, pakai banget banget banget!!!!!," keduanya terkekeh. Lucu jika dilihat, hanya mereka berdua yang memakai seragam SMA. Kebanyakan yang ada disana sudah membawa buah hati. Dasar, memang benar anak muda jaman now sekarang lebih memilih ketempat yang lebih romantis. Kafe, mungkin.


Dengan lahap Tara menikmati makanan favoritnya, tanpa mengetahui Zehn sedari tadi menatapnya dengan seulas senyum.


"Tar!," Tara hanya berdehem.


"Lo suka___?."


"Suka banget."


Wajah Zehn berbinar, belum juga dia utarakan makhsudnya. Tapi Tara sudah memahaminya. Zehn membawa tangan Tara kedalam genggaman. Membuat sang empu mati kutu, jangan ditanyakan lagi detak jantungn Tara yang memompa lebih cepat.


"Kalau gue nembak lo sekarang aja, gimana!?."


What?, Apa gue salah tanggap tadi!?.


🌹🌹🌹🌹


......Love you all gaes......


...Thanks, udah suport Miki dari awal😗...


Masih banyak keseruan yang tak terduga loh🙃