
...Cukup kali ini saja...
...aku tidak ingin secercah luka...
...Menghantam!...
...Cukup kusakiti jiwa dan raga...
...tak akan kubiarkan cinta...
...Menyiksa! ...
...🌹🌹🌹🌹 ...
Udara sore ini menghembus dingin, sampai menusuk kedalam jiwanya yang terasa hilang. Tidak ada lagi secercah harapan. Tidak ada lagi kata yang ingin diutarakan, semua bagai benalu yang tiba tiba singgah dibenaknya. Memori akan cintanya yang begitu dalam terasa hangus ditelan kenyataan. Suara Saniya terus terngiang bagai lagu pahit yang harus didengar.
Hancur saat kata kata tajam setajam tajamnya menusuk hati Tara. Tidak disangka, bahkan Saniya bisa mengutarakan kepadanya.
"Tar, kalau gue bilang masih cinta sama Zehn menurut lo gimana!?."
Tangan Tara berhenti saat ingin mengambil buku, raganya ingin bergerak tapi jiwanya masih belum sinkron dengan keadaan. Ingin dia menepis pikiran pikiran aneh yang sudah melayang diotaknya.
Tara berdehem, berusaha menetralkan sikapnya.
"Sejak kapan lo cinta sama Zehn?," lirih Tara tidak berani menatap Saniya. Tangannya fokus memilah milah buku, tapi khayalannya mengajak untuk berterbangan.
"Waktu SMP gue sadar kalau gue punya perasaan lebih dari sekedar sahabat ke Zehn."
"Apa dia juga tahu!?," ditatapnya mata Saniya, dia enggan mendengar jawabannya tapi mulut sudah tidak bisa mengontrol.
Saniya mengangguk kuat kuat dihiasi senyumnya yang begitu manis, dan berhasil membuat redup aura wajah Tara.
"Bahkan kita sempat pacaran hampir tiga tahun!!."
Jantung Tara memompa lebih cepat, merambat keseluruh badannya yang terasa lemas.
'Kenapa rasanya lebih sakit dari yang kemarin.'
"Tapi sayang, gue putus satu tahun yang lalu!."
"Dan keputusan itu hanya keterpaksaan. Padahal gue sama Zehn masih saling cinta!," lanjut Saniya melirik Tara dengan aura tersembunyi.
"Ke..kenapa lo putus!?."
"Karena gue tahu perasaan Ziro!."
Tara mengerjap bingung, memohon penjelasan Saniya dari tatapannya.
"Hubungan kita bertiga pernah hancur. Semua itu karena perasaan gue sama Zehn yang udah buat Ziro benci saudaranya sendiri, mungkin sampai sekarang."
"Dan gue tahu semua itu, mereka masih sama!."
"Makhsud lo, Ziro juga suka__."
Ucapan Tara berhenti saat Saniya mengangguk pelan seakan tahu isi pikiran gadis didepannya.
'Jadi hubungan mereka hancur gara gara ini?.'
"Tara!."
Saniya mengambil genggaman Tara, membawa pandangan mereka saling bertemu. Detak jam seakan menjadi sound diantara ketegangan hati Tara.
"Gue mohon jawab dengan jujur ya!!!."
"Apa lo punya perasaan sama Zehn!?."
Deg
Segera dia mengalihkan pandangannya kesembarang arah. Pertanyaan ini lagi yang Saniya lontarkan, apa Saniya tahu perasaan sebenarnya Tara sejak awal?.
"Jujur aja Tar!."
'Gue nggak mungkin nyakitin Saniya'
"Gue____nggak ada rasa kok sama Zehn. Gue anggap dia sama kayak abang sendiri!."
Wajah Saniya berseri bahagia, hatinya bersorak ingin terbang lebih tinggi. Sesungguhnya ada rasa takut jika Tara akan menjadi boomerang baginya.
Saniya menghembuskam napas lega, "Syukurlah kalau lo nggak ada apa apa sama Zehn. Gue takut aja nanti kalau lo bakal kecewa, makanya gue jujur sama lo sebelum semuanya tambah kacau!."
Tara mengangguk dan tersenyum hambar. Sekuat tenaga menahan bendungan yang kapan saja siap meledak keluar.
"Tar!."
"Kalau lo berubah pikiran, jangan sampai lo suka sama Zehn. Dan gue mohon hapus perasaan itu jika ada!!!," ucap Saniya menusuk netra Tara yang semakin memanas.Saniya melangkah pergi meninggalkan Tara dalam kesunyian merenggut perasaannya perlahan. Mencambuk hatinya setiap hitungan detik. Meratapi nasib yang belum diukir disetiap waktu.
Tubuh mungilnya merosot kebawah, bersandar rak buku yang menjulang tinggi. Lolos sudah pertahanannya, kian deras aliran bening itu meluncur diiringi isak yang terdengar begitu pilu. Dadanya bagaikan diremas remas, tak ada jiwa yang ingin hidup dihatinya lagi.
Otaknya melayang mengingat ucapan Chika, apakah selalu benar jika cinta pertama tidak akan pernah bersatu?. Bahkan sekarang dirinya belum melangkah, tapi kenyataan pahit itu tiba menghantam.
Buku buku disekitanya bahkan bisa meraskan kepiluan cinta pertama Tara yang menyakitkan. Suara tangisnya seakan membuat detak jam semakin lambat dan menghentikan waktu untuk memberi ruang hati Tara.
"Gue nggak nyangka sakitnya patah hati lebih sakit daripada omelan ayah hikkss..."
Ampun deh Tar:(
🌹🌹🌹🌹
Ratih memandang wajah sendu Tara diambang pintu. Sepulang sekolah tidak ada sesuap nasi yang masuk, hanya ada raut sedih yang terlihat diwajah putrinya. Tak banyak kata yang dikeluarkan, bahkan saat Dirgo menjahili pun sama sekali tak direspon. Sebagai seorang ibu, Ratih juga bisa merasakan apa yang dialami putrinya.
Dengan perlahan Ratih mendekat, mengusap lembut punggung Tara yang sedang melamun menatap kosong bunga bunga didepannya. Senyum lembut Ratih pancarkan menatap netra Tara yang terlihat sembab.
"Tumben putri bunda ngelamun sendiri, biasanya paling heboh kalau dirumah!," ujar Ratih mendaratkan tubuh disamping Tara.
Tara memeluk Ratih dari samping, dia ingin mengeluarkan benda berat yang serasa menimpa dadanya. Sungguh dia ingin mengadu semuanya ke sang bunda, tapi rasanya kelu hanya sekedar untuk membuka mulut.
"Lagi kenapa sih anak bunda ini!?, kok cemberut aja dari tadi?," ujarnya mengelus kepala Tara.
"Bunda!?."
"Hhmm?."
Hening, tak mampu dia berkata kata. Hanya isakan yang mulai terdengar, Ratih semakin membawa Tara dalam pelukan hangat seorang ibu. Bahunya semakin begetar tak kala kejadian siang tadi terus memutar dimemorinya.
"Ada yang jahat sama Tara hmm?, bilang sama ayah!!!. Biar nanti ditembak mati sekalian yang suka jahat sama anak bunda yang cantik ini!," gurau Ratih malah membuat Tara semakin meracau.
"Sakit bun, Tara nggak pernah ngerasa sesakit ini!, Tara nggak kuat bun hikkkss...."
"Bunda tau kok tanpa Tara cerita, bunda tahu nak!."
Mata Ratih juga mulai berkaca kaca, melihat putrinya yang beranjak memasuki masa masa remaja. Dalam benak Ratih hanya satu yang dia takutkan, putrinya yang akan mulai mengenal apa itu cinta dan bubuk bubuk cinta patah hati. Dia tidak ingin Tara terjerumus dalam masalah perasaan yang bisa membuatnya kelewat jalur, dia tahu masa muda sekarang sangat rawan. Mereka belum tahu seutuhnya rasa cinta yang sesungguhnya, rasa cinta yang begitu menyakitkan.
Jika kau berani mencintai, kau juga harus berani tersakiti.
"Jangan terus masuk kedalam kubangan rasa yang hanya menyakitimu, ikhlas kan sayang!!!. Jangan membuat jiwa mu terluka, jangan dipaksakan ya!."
Tara melepas pelukan sang bunda, menghapus air matanya menatap Ratih yang juga tersenyum kearahnya.
"Bunda emang tahu apa!?."
Ratih terkekeh, " Bunda juga pernah muda nak!."
"Terus bunda tahu masalah Tara?," Ratih mengangguk mengulas senyum.
"Bunda beneran tahu?, emang Tara kenapa bun?."
"Tara anaknya bunda lagi patah hati kan?."
Wajah Tara memerah, mengalihkan tatapan jahil dari sang bunda.
"Emang Tara udah pacaran!?, kok bunda nggak tahu?."
Dengan cepat Tara menggeleng, " Tara nggak pacaran kok bun!."
"Oh berarti Tara lagi ditolak ya cintanya!?," Tara semakin mengerucutkan bibirnya. " Katanya bunda tahu, kok masih salah aja tebakannya!?."
"Lah terus apa dong, katanya lagi patah hati!?."
"Yah pokoknya Tara nggak lagi pacaran juga nggak lagi ditolak bun!."
"Kalau gitu ceritanya Tara nggak patah hati dong!," goda Ratih menoel hidung Tara.
"Terus apa dong namanya?, hati Tara sakit banget bun. Pokoknya nggak bisa dijelasin!."
Sakit tak berdarah, yah ini nih!!!.
"Ya nggak tahu deh apa namanya, tanya aja sama bang Dirgo tuh!. Dia kan ahlinya soal sakit hati," Ratih terkekeh melihat reaksi Tara yang semakin terlihat kesal.
"Apaan sih bunda!!!."
Malam hari suara deringan ponsel genggam itu tak kunjung berhenti. Ingin mengangkat, tapi pikirannya menolak untuk meladeni. Dari dalam apartemen, seseorang dilanda rasa khawatir sejak tadi siang. Berkali kali dia menghubungi nama yang ada diotaknya, tapi tak kunjung dibalas.
"Kenapa perasaan gue nggak enak ya?."
Zehn menghembuskn napas kasar, lelah sedari tadi memikirkan Tara yang tak ada kabar sejak pulang sekolah. Bahkan Tara tidak pulang bersamanya, saat terakhir bersama Saniya dia tidak bisa menemukan Tara yang tiba tiba hilang.
"Kata bang Dirgo udah pulang, tapi telepon dari gue kenapa nggak diangkat?."
Tara menenggelamkan wajahnya diatas bantal, rasa kalut benar benar dirasakan pertama kali hanya karena cinta. Kata cinta yang sudah membuatnya ingin terjun kelaut dalam. Sungguh lama lama bisa gila jika seperti ini.
🌹🌹🌹🌹
...~Jangan lupa saling mengahargai😉...
Gimana sama chap17 ini hmmm?? 🙃
Jangan lupa pantau IG @Naokimiki12 ya:)