Zehntara

Zehntara
Chap 20 ( Kawin lari )



"Haa?, pak Fariz siapa ya yang Bapak maksud!?," elak Dirgo senetral mungkin.


"Udah bang, jangan banyak tipu-tipu. Ingat dosa lo udah selangit, cukup sampai di sini!."


"Sialan lo Zehn!."


"Saya ingat loh kalau kamu anak nya teman saya. Faris ginanjar TNI Angkatan Darat itu kan!?."


"Jadi dia anak nya teman Pak Rendi TNI Angkatan Darat!?."


"Iya pak Hendro, ingatan saya nggak mungkin salah."


"Pantas dari tadi alasan mulu, tapi alasan kamu sungguh keterlaluan!," sahut pak Hendro, sedangkan Dirgo hanya menggaruk tengkuknya sambil menyengir.


"Mati dah lo bang!."


"Lo juga mati!. Gue yakin ayah bakal nggak suka lo dekat sama Tara lagi kalau tahu kelakuan lo sekarang," ucapan Dirgo berhasil membuat Zehn susah payah menelan salivanya.


🌹🌹🌹🌹


Mata Fariz menyotot tajam penuh amarah, menatap putranya yang menduduk sedari tadi. Di belakang, bulu kuduk Zehn meremang saat beradu pandang dengan Fariz. Sorot mata Fariz seakan ingin menerkam siapa pun yang di lihatnya. Apa ini awal boomerang bagi Zehn untuk memghadapi rintangan mendekati Tara. Belum juga mempunyai status lebih  dengan Tara, dirinya sudah berhasil mencari perhatian lebih dengan Bokapnya. Lebih mengerikan.


"Ayah benar-benar kecewa sama kalian berdua. Terlebih kamu Dirgo!!!."


"Jangan pulang ke rumah sebelum ada perintah dari saya!," lanjut Fariz membuat Dirgo membelalak tak percaya. Tamat sudah riwayatnya, Fariz sungguh naik pitam jika mengeluarkan kata Saya dengan sang anak. Pikiran Dirgo hanya satu, apakah Fariz akan mngeluarkan dia dari kartu keluarga??. Oh tidak.


"Kamu sudah membuat saya malu!."


"Dan kamu!," tunjuk Fariz dengan dagunya ke arah Zehn.


"Jawaban saya, tidak setuju!."


Deg


Kini Zehn yang membelalak, runtuh sudah keyakinannya untuk mendapatkan Tara.


"Bagaimana kamu bisa menjaga putri saya jika kamu tidak bisa menjaga dirimu sendiri!!!."


"Tapi___," ucapan Zehn terhenti saat Dirgo menginjak kakinya.


"Jangan ngebantah kalau ayah lagi marah!," bisik Dirgo membuat mulut Zehn mengatup rapat, tak ingin membuat keadaan semakin kacau.


Fariz berbalik mendekati pak Hendro dan pak Rendi yang tak jauh dari tempatnya. Dengan sopan Fariz membungkukkan badan, melihat itu hati Dirgo seperti tercubit. Sakit.


"Maaf kan kelakuan anak saya. Jika di perbolehkan, saya mohon biarkan mereka berdua bermalam di sini!."


"Sebenarnya kami sudah bisa mengijinkan mereka pulang, tapi kalau Pak Fariz yang meminta akan kami laksanakan!," sahut Pak Hendro.


"Terima kasih!."


Faris beeranjak meninggalkan kantor polisi dengan rasa kecewa teramat besar. Tidak di sangka putra sulung nya akan berbuat hal yang tidak pernah dia ajar kan, apalagi Fariz baru mengetahui bahwa Dirgo leader dari geng Reveal.


"Bang, gimana nasib gue sama Tara!?."


"Kawin lari aja sana!."


"Masih sayang nyawa gue bang!."


Dirgo dan Zehn terkekeh di balik jeruji, menikmati masa-masa langka ini. Sedangkan Ziro masih menatap nyalang keduanya.


Semalaman Tara di buat cemas dengan keadaan sang ayah yang tidak seperti biasanya. Sepulang entah dari mana, suasana hati ayah nya sungguh mencekam. Tidak ada satu pertanyaan yang mampu Tara keluarkan.


"Tara!?."


"Ha?, oh ada apa San?."


"Ngelamun aja dari tadi."


"Nggak kok, cuma kepikiran hasil seleksi Olimpiade aja."


"Yakin cuma itu?."


"Hmm!."


"Oh ya, lo tahu nggak Zehn sama Ziro ke mana?. Tumben mereka nggak nongol di depan gue."


'Sepertinya hubungan meraka memang sangat dekat, nggak seperti yang gue bayangin'


"Enggak tahu San."


"Aneh, gue tadi tanya teman sekelas Ziro katanya dia sama Jez nggak masuk dari pagi. Terus Zehn juga gitu."


"Hey kawan, ada apa gerangan!?," sahut Gery diikuti Maya dan chika duduk di seberang.


"Udah mirip anak kembar kalian berdua."


"Kok bisa!?," sahut Tara dan saniya.


"Tuh, ngomong aja barengan!."


"Aneh lo Ger!."


"Dari dulu Tar, baru nyadar lo kalau si curut nih agak miring otaknya!?," sahut Maya.


"Sebelum kalian berdua mulai perang gue mau tanya dulu. Lo tahu nggak Zehn, Ziro sama antek anteknya pada ke mana?, biasanya kan lo Ger yang paling uptudate!."


"Thanks San, emang gue sih yang paling ter uptudate. Tapi kalau soal Zehn dan Ziro bersama bala tentaranya gue kurang tahu."


"Memang mereka nggak masuk?."


"Iya Chik."


"Kok bisa kompak ya?," tanya Maya dibalas gelengan Saniya.


"Tara!?."


"Gue pinjam Tara dulu ya gaes!."


"Udah bawa aja, kasian dia nggak ada yang mau," sahut Gery yang langsung kena tabok.


"Nah ini nih, gara-gara lo kasar pada menjauh mereka!."


"Bodo amat!," sahut Tara dan beranjak meninggal kan ketiga sahabatnya.


Di sisi lain, lebih tepatnya di halaman parkir kantor polisi Zehn dan Dirgo sedang di rundung ke galauan. Bagaimana tidak, ini adalah awal masalahnya, bukan akhir dari semua masalah yang telah di perbuat.


"Gue tinggal di mana ini?. Pusing gue, udah kayak gembel aja!."


"Yaelah bang, tinggal di apartemen gue aja lah. Daripada lontang lantung di jalan nggak jelas."


"Wah serius lo!?," tanya Dirgo dengan wajah berbinar.


"Masa gue bohong, gini-gini lo kan calon kakak ipar gue di masa depan."


"Jangan halu dulu lah, belum apa-apa aja udah kena tilang dari Bokap!."


"Itu yang di namakan perjuangan.Kalau nggak ada rintangannya mah nggak seru."


"Iya-iya yang lagi bucin mah, tahu gue!."


"Udah yok ke apartemen lo!," lanjut Dirgo bergegas melajukan motornya.


Padahal baru kemarin Tara di buat sakit hati oleh orang di hadapannya ini, siapa lagi kalau bukan Saniya. Tapi karena sifat Tara yang terlalu polos dia enggan untuk membenci seseorang walau sedetik. Meski dia tahu Saniya masih menyukai Zehn, tapi dia yakin bahwa cinta Zehn tidak akan pernah salah.


"Mau bicara apa San ?," tanya Tara setelah mendaratkan bokongnya ke kursi taman belakang sekolah.


"Tar!," sahut Saniya menarik tangan Tara ke dalam genggamannya.


"Lo tahu kan kalau gue punya penyakit?."


"Gue tahu kok."


"Gue nggak tahu sampai kapan gue bisa bertahan dengan kondisi satu ginjal yang udah nggak berfungsi."


"Lo ngomong apaan sih San!?. Gue nggak suka lo negatif tingking kayak gini!."


"Gue yakin lo akan dapat pendonor secepat mungkin," lanjut Tara yang kini berganti menggenggam tangan Saniya, berusaha menyalurkan kekuatan yang dia punya. Bahkan dia tidak tahu niat terselubung Saniya.


"Memang itu kenyataannya Tar, gue nggak tahu sampai kapan gue bisa bahagia bersama kalian lagi. Dan sebelum tuhan ambil nyawa gue, apa gue boleh minta satu hal dari lo!?."


"San lo___"


"Please Tar, gue hanya perlu jawaban lo itu aja!."


Tara terdiam sejenak, perasaannya mulai tidak enak jika Saniya sudah seperti ini. Apa dia yang akan menjadi tumbal antara hubungan Saniya dan Zehn. Tara juga berhak bahagia, tidak perlu menurut apa kata orang lain jika dirinya sendiri saja belum bisa bahagia.


"Apa itu?."


"Jauhi Zehn!."


Tara tersenyum manis, bukan raut kaget yang dia tunjukkan. Bukan. Tara tahu apa tujuan Saniya, tapi tidak. Dia tidak sebodoh itu merelakan apa yang ingin dia jaga.


"Maaf San,  gue bukan pengecut yang mau-maunya menuruti kata orang kayak lo!."


"Maksud___"


"Gue udah tahu maksud lo San!," potong Tara dengan menegakkan badan tanpa gentar menatap Saniya.


"Kalau lo menggunakan penyakit sebagai alasan, gue nggak akan menjauh dari Zehn. Kecuali perintah itu keluar langsung dari mulut Zehn."


Saniya tersenyum miring, matanya menyorot tajam. Sifat aslinya sudah mulai muncul di permukaan. Tanpa ragu Saniya ikut berdiri, mendekat didepan wajah Tara dengan tatapan menusuk.


"Gue tahu sekarang, lo suka kan sama Zehn!?."


"Kalau gue jawab iya, lo mau apa?."


"Ternyata lo nggak sepolos yang gue kira!."


"Ternyata lo juga nggak sebaik yang gue kira Saniya anggraina!," sahut Tara tak kalah sengit.


"Oke, kita bersaing secara sehat!."


Saniya beranjak pergi setelah menantang Tara. Tidak habis pikir jika Saniya mempunyai sifat di luar nalarnya.


"Gue yakin, Zehn udah berpaling dari lo San."


🌹🌹🌹


HOLA HOLAAA👋


...TEKAN JEMPOL GRATIS KOK NGGAK BAYAR, JADI JANGAN LUPA TEKAN JEMPOL YA GAEESSS. SEMOGA DIBALAS YANG LEBIH BAIK LAGII🤗...


...MANA SUARANYA NIH??...


...BOM LIKE...


...VOTE...


...KOMEN...


...~JANGAN LUPA SALING MENGHARGAI...


...☠...


...🖤...


...👽...