
...WARNING TYPO BERTEBARAN...
...Jangan lupa saling menghargai😉...
...HAPPY READING...
...🌹🌹🌹...
Ke enam orang yang kini memakai jaket warna hitam biru dengan tulisan Adi Bangsa dibelakangnya sedang dalam keadaan sangat sangat gugup. Bagaimana tidak jika yang mereka lihat saat ini adalah gedung tinggi dengan banyaknya siswa siswi memakai berbagai macam atribut senada tiap regunya. Juga didampingi beberapa keluarga yang akan menyaksikan disaat akhir final kemenangan.
Tangan yang saling meremas, dengan keringat dingin, napas memburu sudah mereka rasakan sebelum masuk ke dalam gedung.
"Hei hei hei....ini kenapa pada gugup sih?," intrupsi dari pak Huda membuat mereka menelan ludah susah payah.
"Gimana nggak gugup pak, mereka semua pasti anak-anak ambis. Keren-keren lagi tampangnya," sahut Chika memelas diangguki Iren. Pak Huda menghela napas panjang, belum saja di mulai sudah berpikiran negatif.
"Kok banyak orang sih pak? Tara kan jadi gugup," sahut Tara melihat keadaan sekitar yang bertambah banyak. Bus bus sekolah mulai berdatangan satu per satu.
"Ya pasti banyak orang lah Tar. Yang ikut lomba kan nggak cuma kita, dari puluhan sekolah malahan. Kalau sepi mah dikuburan," balas Krezy diakhiri kekehan.
Tara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, iya juga ya? Pasti banyak orang. Ini kan olimpiade nasional, bukan lomba kaleng kaleng.
Chika, Iren, dan Pak Huda terkekeh, kecuali Zehn yang melirik sinis Krezy. Oh, apakah itu lucu?, batin Zehn.
"Oh ya, nanti keluarga kalian ada yang datang?."
"Lah emang harus datang ya pak orang tua kita?," tanya balik Chika.
"Ya enggak sih, cuma yang mau lihat nanti di akhir final its okey."
Chika manggut manggut beralih menoleh kesamping, Tara yang masih kentara rasa cemas, gugup, takut, dan apalah itu rasa kecemasan semuanya bercampur.
"Udah nggak usah gugup, yakin aja dulu sama kemampuan kita!."
"Ini juga di usahain Chik buat nggak gugup," balas Tara sedikit ngegas, membuat makhluk disampingnya terkekeh.
Telapak tangan besar itu terangkat mengelus puncak kepala Tara. Sang empu mendongak, seulas senyum terbit dibibir merah alaminya.
"Tenang, ada aku. Nanti kalau ada yang nggak kamu ngerti, tanya aja! Lagian kita kan se-ruangan," ujar Zehn masih setia menempelkan tangannya diatas kepala Tara.
"Nanti model ruangannya gimana ya pak?," seloroh Krezy mengalihkan pandangan keduannya. Zehn berdecak pelan, apapun yang keluar dari mulut Krezy entah kenapa membuat telinga nya terasa panas.
"Gini, nantikan ada tes pertama untuk menentukan sekolah mana yang akan masuk ke babak Finalkan!?," semua mengangguk mendengar baik-baik apa yang dijelaskan pak Huda.
"Nah di situ ruangannya ada tiga untuk semua bidang. Ruang pertama di isi bidang Biologi, ruang kedua bidang Fisika, dan ruang ketiga bidang Kimia sama Matematika-."
"HAH?...."
Pak Huda mengernyit menatap heran Chika yang tiba-tiba berteriak. "Kenapa? Masih bingung?."
"Bukan gitu pak, ini kenapa bidang Matematika sama Kimia satu ruangan?," cerca Chika.
"Iya, kan diantara semua bidang hanya Matematika dan Fisika yang di ambil satu orang. Jadi nanti kamu sebangku sama Jez."
Jez yang sedari tadi santai bersender di sisi mobil dengan kedua tangan ia masukkan ke dalam saku seketika berdiri tegak. Menatap tak suka ke arah pak Huda. "Kenapa Jez? Belum paham juga?."
"Bukan pak."
"Terus?."
"Saya nggak mau satu ruangan apalagi satu bangku sama dia!."
Chika melongo sembari melebarkan matanya. Enak saja, dia kira Chika juga mau sebangku dengan dirinya?.
"Woy, lo kira gue juga mau duduk sebangku sama lo! Ogah kali gue duduk bareng patung hidup kayak lo, korek Jez!."
"Udahlah Chik, emang kenapa sih kalau lo duduk sama kak Jez kan malah enak, nanti bisa tanya ke dia kalau lo nggak tahu," balas Tara.
"Udah-udah, kenapa malah debat? Kalian itu disini adalah tim! Jangan pada egois ya, harus dijaga kekompakannya," lerai pak Huda membuat Chika semakin memberenggut.
"Pak, ayo langsung masuk aja. Udah banyak yang di dalam," sahut Krezy.
"Iya, ayo masuk! Jangan lupa berdoa ya!?."
Semua mengangguk, mulai melangkah masuk kedalam gedung. Langkah Tara melambat ketika tarikan di ujung jaketnya membuat sang empu refleks mundur kebelakang.
"Kita sebangku," bisik Zehn dengan wajahnya yang berseri seri, sedangkan gadis disampingnya menampilkan raut wajah cemberut.
"Nggak enak tahu Zehn, kalau aku duduk disebelah kamu malah nggak konsen."
"Lah, kok malah gitu?."
"Iyalah, aku itu kalau deket sama kamu bawaan-nya grogi mulu! Ditambah nanti harus mikir lagi, bisa-bisa nggak fokus ke soal malah fokus ke kamu," jelas Tara panjang lebar disambut kekehan Zehn.
"Ya udah, nanti kalau kamu gugup pegang tangan aku aja biar nggak grogi aawhhh..." rintih Zehn tepat saat cubitan kecil mendarat dilengannya.
"Bukan tenang malah bikin aku sport jantung Zehn, iihhh kesel!."
"Iya-iya sayang," gemasnya mencubit hidung Tara.
"WOY JANGAN PACARAN DI SINI...."
"......TAHU TEMPAT DONG!."
Dua sejoli itu langsung berhenti dan mengalihkan pandangan ke segalah arah.
Ckckck, Chika emang nggak tahu diri jadi sahabat Tara. Lagi enak- enak berduaan, eh malah dipergoki. Pura pura nggak lihat kek, kan Zehn Tara malu jadi sorotan rekannya dan pak Huda. Tidak hanya mereka, beberapa orang disekitar mengalihkan fokus hanya karena suara Chika yang terlampau cempreng.
🌹🌹🌹
"Tar, jangan gugup! Nanti hilang semua loh yang udah kamu pelajari," bisik Zehn, tangannya masih bergerak menyalurkan kertas ujian ke belakang.
Tangan Tara terlihat sangat jelas gemetar. Tak meladeni ucapan Zehn dia terus fokus membagikan kertas itu ke bangku belakang.
"Zehn, agak sana!."
"Hah? Kenapa?."
"Jangan dekat dekat, aku tambah grogi...."
"......sama jangan lihatin aku ya, fokus sama kertas ujian kamu aja. Okey?."
Zehn menahan tawanya, mau tak mau dia menggeser sedikit meja dan kursinya agar tidak berdempetan dengan Tara.
Lucu sekali, seharusnya kan Tara gugup karena ini ujian bukan karena dekat dengan Zehn.
"Jangan nyesel tar, kalau aku jauh jauh nanti kamu bakal susah nyari cowok sebaik aku loh!."
"Apaan sih, gajelas!."
Di lain ruangan kedua manusia yang saling bertolak belakang juga dalam mode 'ribut'. Tatapan tidak suka terpancar jelas dari netra keduanya.
"Agak sono-an!."
"Lo aja yang geser!."
"Dasar korek Jez keras kepala! Geser bangku lo lagi!."
"Ini udah gue geser, lo mau gue keluar baris hah!?."
"Geser cuma se-centi aja lo! Geser lagi nggak!?."
Bisik-bisik keduanya semakin terdengar, hingga lawan dibelakang mereka merasa risih. Pasalnya sudah tiga kertas ujian masih tersimpan diatas meja keduanya.
Dorongan dikursi keduanya membuat mereka menoleh ke belakang dengan tatapan tajam saling menghunus.
"APA?," spontan suara keras Jez dan Chika mengalihkan tatapan satu ruangan.
"Kertasnya!?," ucap cewek yang duduk dibelakang Chika penuh penekanan.
"Apa ada masalah?," tanya pengawas.
"Oh nggak ada pak," sahut Chika cepat.
Kertas ujian yang semula menumpuk mulai tersalurkan kemeja belakang.
Jarum jam terus berputar bersamaan dengan otak peserta olimpiade yang dituntut untuk berputar. Di luar ruangan, lebih tepatnya ruang untuk final sudah dipenuhi para guru juga keluarga peserta yang datang.
Tempat paling pojok adalah tempat yang paling disukai gadis berkepang dua itu. Dengan senyum sumringah langkah kaki membawanya ke kursi paling pojok.
Sekelibat matanya menatap sosok tak asing sedang duduk sendiri dibagian belakang. Entah kenapa hatinya bergerak untuk mendekati sosok itu. "Boleh duduk di sini nggak?."
Kepala itu menoleh, menatap cengo gadis yang kini tersenyum lebar menatap dirinya. Bahkan senyum semanis itu malah membuat bulu kuduknya meremang, bergidik ngeri.
"Kenapa ada setan di siang bolong!?."
"Mana setannya?."
"Sial, ngapain lo di sini!?."
🌹🌹🌹
HOLAA HOOLLAAA👋
PENTING : Hai friends, sebelumnya author mau kasih tahu nih_ Di chapter sebelum sebelumnya author udah kasih beberapa clue yang akan ber-kesinambungan di akhir akhir cerita, author beri pertama kali clue nya itu di chapter waktu Tara patah hati, entah chapter keberapa author lupa, pokoknya waktu Tara di rumah pohon! dan juga ada di beberapa chap slnjutnya, ada yg nyadar nggak sih??. ini penting ya soalnya bakal nyatu sama akhir cerita, takut ada yg nggak paham.
~Coba kasih tau apa yg udah kalian tangkep dari beberapa clue yg author kasih🤗 jadilah pembaca yg crmat yaa friends!
Dan setelah chapter olimpiade ini, banyak clue yang akan author beri karena Zehntara udah mau ke ending👏
...SPAM KOMEENNNNN...
...POOIIINNN...
...VOOTEEE...
...*SEE YOU NEXT CHAP🤗...
...LOVE U ALL GAES😘...
...☠...
...🖤...
...👽*...
...INFO...
...☝️...
...Lebih jelasnya langsung Cek IG @naokimiki12🤗...