Zehntara

Zehntara
Chap 7 ( Nyali Tara )



~Jangan lupa saling menghargai😉


🌹🌹🌹🌹


Chika menurunkan Ziro didepan rumah bak istana. Dia tidak menyangka bahwa Ziro sekaya ini. Masih dalam mengamati mension megah Ziro, Jez mengintrupsi agar cepat jalan. Dengan bersungut sungut Chika keluar dari mobil.


"Kenapa keluar??."


"Gantian lah lo yang nyetir. Enak banget ya udah numpang juga gue yang jadi supir," ucap Chika pindah dijok sebelah kemudi.Dengan terpaksa Jez pindah.


Disepanjang perjalanan Chika berpikir bagaimana cara membuka suara Jez agar menjawab pertanyaannya. Chika tahu tidak segampang itu Jez mengeluarkan suaranya.


Sempat berpikir apakah bicara itu ada dendanya ya?.Kenapa si korek Jez selalu irit bicara??.


"Eeheemmm..."


"Emm sejak kapan lo kenal Ziro??."


Jez tetap fokus kedepan tak berniat menjawab pertanyaan Chika. "Lo tuli ya???."


Masih sama


"WOY KOREK JEZ!!!!."


Ciiittt


" Awwhh...," kening Chika mendarat mulus kedepan.


"Lo bisa nyetir nggak sih!!??," Jez menatap kesal Chika. Gadis ini benar benar membuat suasana hatinya memburuk.


"Nama gue Jez lawiens bukan korek Jez. Paham!?."


"Terserah dong gue mau manggil nama lo siapa. Itu kan hak gue!."


"Oh gitu ya?. Okey," Jez menancap gas dengan kecepatan penuh.


'Korek jez sialan'


"Korek Jez berhenti nggaakk!!??," teriak Chika . Jantungnya serasa akan copot saat ini juga. Jez sungguh menyebalkan, dia malah menambah kecepatannya.


"Kalau pengen mati jangan ajak ajak dong!!!___mati sendiri aja sono!!!."


"Dasarr gillaaa!!!!."


Chika semakin mengeratkan pegangannya disaat Jez menyalip beberapa mobil. Bahkan Chika tidak bisa melihat dengan jelas jalan yang dilaluinya.


"Panggil gue kak Jez!!!," ujarnya santai.


"Nggak!!!."


BRREEMMM


"KAK JJEEZZZ..." teriak Chika pasrah. Dia tidak ingin mati sia sia karena orang gila disampingnya ini. Napasnya tak beraturan menatap jalan yang sudah terlihat jelas.


'Gue sumpahin nggak ada yang mau sama lo'


Heeyy awas Chika jangan sampai lo kemakan omongan sendiri.


🌹🌹🌹🌹


Tara menghampiri wanita paruh baya yang masih terlihat cantik. "Cari siapa ya bu?," tanya Chika, dia kira wanita itu guru disekolah inikah??. Tidak tahu saja dia kalau wanita didepannya ini mungkin akan jadi calon mertunya.


"Cari anak ibu nak," ujarnya tersenyum ramah.


"A..anak ibu siapa?."


"Dibelakang mu."


Deg


Mata Tara mendelik menoleh kearah Zehn yang juga menatapnya tapa ekspresi. Dia bicara seakan kenapa kakak nggak bilang?, hanya menggunakan mimiknya.


"Ah hahahah maaf tante saya kira guru disekolah ini."


"Tidak apa__ tante ngganggu kalian?."


"Oh sama sekali nggak kok tan."


Isshh giliran nyokapnya aja nggak ganggu, eh giliran perempuan lain aja dibilang ganggu. Dasar Tara.


" Kalau gitu Tara keluar dulu ya tan."


"Iya nak. Maaf jadi ganggu kalian berdua."


"Nggak perlu tante."


"Nama kamu siapa??."


"Panggil aja Tara tan."


"Ya sudah tan Tara permisi!!," ujar Tara meninggalkan keduanya seperti orang asing.


"Silahkan duduk!!!," wanita bernama Indira itu mendekat. Dari wajahnya terlihat jelas akan kerinduan yang teramat dalam. Bagaimana tidak sudah tiga tahun mereka jarang bertemu. Indira juga tidak bisa memaksa anaknya untuk tinggal bersama lagi, dia tidak ingin rumah tangganya semakin hancur jika terlalu memaksakan keadaan.


"Bagaimana kabar mu nak?."


"Baik," ujar Zehn menahan air mata yang siap meluncur. Dia juga rindu sosok perempuan tangguh dihadapanya sekarang. Tak pernah terpikir dia bisa berjauhan dengannya.


"Kamu tidak kangen sama mama?," ujar Indira dengan suara serak. Air matanya sudah tak terbendung lagi. Melihat Indira menangis membuat Zehn tak kuat untuk tidak memeluk sang mama. Rasa itu sudah sedikit terbayar saat hangatnya pelukan sang ibu menjalar.Dalam kesunyian diruangan ini hanya tangisan rindu yang tersisa.


"Pulanglah nak!!!," dua kalimat yang selalu diucapkan Indira selama ini. Tak ada kata lain selain menyuruh sang anak untuk kembali.


"Mama sudah tahu jawabannya!!."


"Mama mohon kali ini. Pulanglah!!."


"Tidak mah."


"Apa kamu menunggu mama meninggal dulu baru mau pulang, iya??," suara Indira mulai meninggi. Tidak tahu lagi cara membujuk Zehn.


"Mama kok bicara gitu sih?."


"Lalu mama harus apa??," keduanya saling menghembuskan napas lelah. Entah sampai kapan mereka bertemu secara diam diam seperti ini.


"Jangan pikirkan Ziro__dia urusan mama!!!," Zehn tersenyum miring.


"Mama sudah benar kok. Dengan cara ini mama membuktikan bahwa Ziro anak kandung mama, bukan Zehn."


"Kamu juga anak mama Zehn," sahut Indira penuh penekanan.


Dari luar Tara mendengarkan semua ucapan dua orang didalam. Keadaan sekitar yang sudah sepi membuatnya dengan jelas mendengar suara.


'Apa makhsudnya ini? kak Zehn bukan saudara kandung Ziro gitu'


"Kak!!!."


Zehn menoleh menatap Tara diambang pintu. Mata Zehn masih berkaca kaca. Tara yakin Zehn habis menangis tadi, dia bisa merasakan bagaimana perasaan Zehn sekarang.


"Kita pulang aja yuk!!," lanjut Tara dibalas anggukan Zehn.


Matahari berganti bulan. Malam hari adalah tempat para penguasa jalan beraksi. Terutama Ziro and the gengs yang sudah berada ditempat biasa mereka mengadakan balapan liar.


"Mana dia?."


"Bentar boss masih dijalan," sahut Adit.


"Jez gimana udah lo urus??."


"Sudah bos, ntar malam siap."


Dari jauh terlihat motor sport merah mendekati lokasi balapan. Banyak sorak sorai penonton. Inisial D yang menantang Ziro memasuki area, segera dia berhenti tepat disebelah Ziro.


"Siap broo??," tanya Ziro dibalas anggukan.


Seorang cewek berpakaian seksi berdiri didepan mereka berdua dengan mengangkat sapu tangan.


" Okey boys__ one..."


"Two.."


"Tunggu!!!," ujar Ziro dan D secara bersamaan. Mereka merogoh saku jaketnya.


"Ada apa bro??," tanya Aditya.


"Sorry gue mundur ada urusan mendadak."


"Sama gue juga," sahut Ziro.


"Loh kok bisa samaan??__ada apa emangnya bos?," tanya Adit.


"Nggak perlu tahu."


Ziro dan D meninggalkan lokasi membuat sorakan tak terima dari para penonton. "Kok bisa samaan ya?," ucap Jez menaikkan satu alisnya.


Ziro sampai didepan sebuah restoran disusul orang tadi. Cowok berinisial D. Mereka berdua saling menaikkan alis setelah melepas helm masing masing.


"Ngapain lo ngikutin gue??," tanya Ziro.


"Idih kepedean___siapa juga yang ikutin lo."


"Terus ngapain lo disini??."


"Urusan gue lah."


"Kepo banget lo," lanjut D mulai memasuki restoran.


Dari kejauhan lambaian tangan membawa D mendekat.


"Lama banget bang darimana aja?," bisik Tara. Yah inisial D adalah Dirgo.


Selain sang adik dimeja juga ada nyokap , bokap, dan sepadang suami istri seumuran dengan orang tuanya.


"Ehmm.."Tara tak terkejut siapa yang baru saja datang, tidak dengan Dirgo.


Wajahnya panik. Yah paniklah, si Ziro tahu apa yang dilakukan Dirgo diluar tadi. Bisa gawat jika Fariz ginanjar mengetahui kelakuan putranya diluar sana.


'Mati gue'


"Ini dia anak saya Riz. Yang waktu bayi kamu adzani."


"Wah nggak nyangka sekarang udah gede aja, cakep lagi Ar kayak bokapnya," ujar Fariz.


"Bisa aja kamu."


Ziro dan Dirgo duduk berseberangan membuat keduanya dengan mudah memahami isyarat dari mulut tak bersuara. Dirgo memberi isyarat mengatakan...


' Jangan sampai lo bilang kalau gue mau balapan tadi'


' Gue bakal bilang ke bokap lo'


' Sial lo__awas aja sampai bocor gue hajar lo!!!'


Ziro mengeluarkan smirk andalannya membuat Dirgo menendang tulang kering Ziro.


"Aawwwhhh sakit bego!!!," sentak Ziro terlalu keras, semua beralih ke arah Ziro yang tak peduli situasi sama sekali. Tendangan Dirgo sangatlah kuat, tidak tahu dia bahwa Dirgo adalah murid dari Fariz ginanjar.


"Kamu kenapa Ziro?," tanya Aryo selaku papa Ziro.


'Biasalah si kunyuk bikin heboh sendiri'


"Orang gila nendang kaki Ziro pah."


"Hahh?? Jangan ngada ngada deh."


"Eemm ini udah pesan makanan belum ya??. Dirgo lapar banget ," potong Dirgo.


"Bikin malu aja sih banng," bisik Tara.


"Ohh ya ampun iya sampai lupa," para orang tua tertawa ringan.


Kedua orang tua Tara dan Ziro memang berteman sejak SMA dan baru kali ini setelah anak anak tumbuh dewasa baru bisa ketemu. Sebenarnya Tara malas ikut karena ada si kunyuk Ziro, tapi dia tidak bisa membantah sang ayah.


"Hayy!!!__ternyata takdir berpihak sama gue nih," suara pelan Ziro kearah Tara. Sang empu tak menganggap nya ada.


'Ayah gimana sih katanya nggak boleh dekat sama Ziro, eh ini malah diajak ketemuan, bisa bisanya sahabat ayah punya anak kek dia.'


"Oh ya bukannya kamu punya dua anak ya Dir," pertanyaan Ratih membuat suasana hening.


"Iya bun. Tante Indira punya dua anak."


"Tapi sayang saudaranya terlalu jahat buat dia. Nggak punya hati!!!," lanjut Tara tanpa gentar sekalipun. Entah dapat nyali dari mana Tara langsung pergi begitu saja setelah membuat semua orang terkejut.


Ziro ikut berdiri menyusul Tara yang semakin jauh. Dengan mata berapi api Ziro menarik kuat tangan Tara . Tak kalah tajam tatapan Tara menusuk dalam manik mata Ziro.


"Ulangi kata kata lo tadi!!!."


"LO NGGAK PANTES BUAT JADI SAUDARANYA ZEHN!!!."


PPLLAAKK


🌹🌹🌹🌹


Yuuhhuu!!!, udah Crazy Up nih masa masih sepi:


...Spam komen kalau mau lanjut hihihihi!!!!...