Zehntara

Zehntara
Chap 42 ( Final )



...WARNING TYPO BERTEBARAN...


...Jangan lupa saling menghargai😉...


...🌹🌹🌹...


Dirgo menatap tajam makhluk yang ingin dia lenyapkan suatu saat nanti, sampai menemukan waktu yang tepat. Wajah polos bercampur tolol yang selalu di lihat Dirgo dari gadis yang kini tersenyum lebar kepada-nya. Oh, sungguh buatlah Dirgo hilang sekarang juga! Dia tidak ingin bertemu sosok itu, tidak akan pernah ingin.


"Lagi mendampingi adik kelas Manda buat lomba."


"Kakak sendiri ngapain disini?," lanjut Manda, ya dia. Orang yang ingin Dirgo singkirkan dari planet bumi tempatnya tinggal. Semenjak pertama kali bertemu gadis mungil itu, hidup-nya terasa porak poranda. Manda bagaikan bom atom yang siap sewaktu waktu menghancurkan kehidupannya yang tentram sejahtera.


"Bukan urusan lo! Jangan sok kenal!," sungut Dirgo tak melunturkan senyum di bibir mungil Manda.


"Manda emang kenal kakak kok. Kakak udah lupa sama Manda ya? Baru beberapa hari kok udah lupa sih!?."


"Manda duduk sini ya?,"selorohnya kembali sebelum Dirgo membuka mulut. Dan kini disampingnya terdapat setan berwujud manusia.


"Gue nggak kenal sama lo! Dan gue nggak mau kenal sama lo!."


Setelah mengatakan kata-kata yang penuh peringatan itu, Dirgo bergeser sampai delapan kursi dari tempatnya semula. Manda memberenggut kesal, saat dirinya ingin berdiri mendekati Dirgo sebuah tatapan tajam juga ucapan tak bersuara mengatakan 'Duduk disitu! Jangan pindah!'-membuatnya kembali duduk tanpa mengalihkan pandang dari kakak galak yang membuatnya penasaran kali ini.


Waktu semakin berkurang, menit-menit terakhir membuat salah seorang diruangan ujian kalang kabut. Keringat dingin mengalir diwajahnya tanpa hambatan. Pikirannya terus berproses, tapi pandangan itu tak lepas dari jam dinding yang terus berdetak.


Kurang dua soal lagi yang harus dikerjakan, dan itu benar-benar sulit. Sangat sulit. Soal yang tak pernah ia pelajari. Bisa saja dia menjawab asal, tapi tidak. Semua sudah diperkiraan, dia harus benar setidak nya 98%. Dan kesempatan itu tergantung pada dua soal ini.


Melihat rekan tim disampingnya seperti kesusahan, membuat cowok itu tersenyum mengejek. Tidak membantu seperti rekan lainnya, dia malah senang melihat gadis disampingnya susah payah mencoret coret kertas sedari tadi.


Merasa seperti di perhatikan, gadis itu menoleh kesamping dengan wajah yang sudah memucat saking gugup.


'Sial,' umpat Chika melihat Jez tersenyum miring ke arahnya. Yups, dia Chika ananta. Yang kini kembali fokus menyatukan rumus rumus yang entah itu benar atau tidak.


Deg


Lima belas menit lagi, waktu selesai.


Chika memijit keningnya yang terasa nyut nyutan. Tidak, dia tidak akan menyerah. Dia harus berhasil untuk membawa nama baik sekolah.


"Kenapa nggak ketemu jawabannya sih dari tadi!?."


"Ini soalnya yang salah atau gue yang salah ngitung?," gumam Chika.


Bahkan jaket yang ia kenakan sekarang sudah sangat kucel karena keringat dingin, padahal ruangan ini ber-AC. Dia menatap Jez yang dengan santai menempelkan kepala diatas meja membelakanginya. Beralih menatap peserta lainnya yang sibuk dengan rekan sebangku untuk saling membantu.


Tidak, oh jangan sampai Chika berpikir untuk meminta bantuan kepada cowok dingin itu. Bisa anjlok martabat yang ia junjung di depan Jez selama ini.


'Tapi gue nggak mau salah hanya karena gue nggak tahu rumusnya,' batin Chika yang terus menimang apa dia bertanya saja kepada Jez? Toh Jez juga rekan satu tim-nya.


Dengan memantapkan hati juga menarik panjang napasnya, Chika menusuk nusuk pinggang Jez menggunakan pensil. Sang empu menegakkan tubuh sembari menaikkan satu alis menatap Chika.


"Huuhh oke, kali ini gue harap lo ngerti situasi seka-."


"Nggak usah banyak bacot!."


Seloroh Jez memotong ucapan Chika yang sudah ia tebak akan minta bantuannya. Dengan cepat Jez mengambil alih kertas ujian Chika.


Gadis itu sedikit terhenyak, tak bisa dipercaya kalau Jez bisa mengerti dan langsung membantunya. Ia pikir akan ada drama sebelum itu. Bersyukur, itu yang harus Chika ucapkan saat ini.


Sepuluh menit.


Yah, mata Chika melotot ketika hanya butuh waktu sepuluh menit untuk Jez menyelesaikan soal yang membuat kepalanya ingin pecah.


Jez mengembalikan kertas ujian diatas meja Chika. "Gampang!."


'Sial, salah gue udah muji lo,' batin Chika.


🌹🌹🌹


Gery merasa bosan, hari ini tidak ada yang menarik. Tidak ada dua sahabatnya yang selalu menjadi mangsa kejahilan. Ada juga saat ini yang bersama dia, Maya. Gadis yang tiba-tiba jadi pendiam entah karena apa malah membuat mood Gery anjlok.


Suasana kelas cukup sepi, semua sibuk mengisi perut yang sudah keroncongan ke kantin. Kecuali mereka berdua dan beberapa teman Maya dan Gery lainnya.


"Ck, kok diem aja sih lo dari tadi?."


"Di ajak ke kantin juga nggak mau," lelah Gery yang tak di respon oleh Maya.


"Kalau mau ke kantin, sendiri aja sana!."


Gery merosotkan badannya dari kursi, lapar sih iya. Tapi mana asyik kalau makan sendiri.


"Lo kenapa sih May kok jadi pendiem akhir-akhir ini?," keluar sudah pertanyaan yang tersimpan diotak-nya.


Maya tak menghiraukan, masih fokus membaca novel pinjaman dari perpustakaan. "Lagi kedatangan tamu, ya!?."


Lirikan sinis membuat Gery mengangkat kedua tangannya."Au ah, pusing gue ngadepin perempuan!."


"Ya udah nggak usah temenan sama perempuan lagi, keluar dari empat semprul!," sungut Maya.


"Kok jadi bawa-bawa empat semprul!?."


Tak ada sahutan dari maya, keduanya saling diam beberapa menit hingga suara helaan napas panjang dari Gery mengalihkan perhatian Maya.


"Ck, banyak banget cobaan hidup gue akhir-akhir ini."


"Hidup emang banyak COBAAN, kalau dikit nama-nya COBAIN!."


Balasan dari Maya mengangkat sudut bibir Gery. Meskipun balasan dari Maya sedikit menyebalakan. "Nah gitu dong ngomong! Udah kayak bicara sama patung aja gue dari tadi."


"May gue pusing nih, masa bang Seno tiba-tiba keluar dari cafe," keluh Gery menatap Maya memelas. Membuat sahabatnya itu sedikit tertarik ke arah pembicaraan.


Ya, Lima bulan ini Gery sudah berhasil mendirikan Cafe atas bantuan bokap yang menuntut Gery untuk mandiri. "Ya cari pengganti," balas Maya santai.


Gerry terdiam sebentar sebelum sosok tinggi melewatinya itu membuat secercah harapan. "Ven Veno sini lo!."


Teriakan dari teman sekelasnya itu membuat Veno yang biasa di juluki tiang listrik berjalan kearah bangku Maya dan Gery. "Ada apa?."


Maya beranjak pindah ke bangku paling belakang. Ketenangan membacanya sedikit terusik, dia butuh suasana tenang saat melakukan hobi-nya. Membaca.


"Lo mau kerja di Cafe gue nggak?."


"Jadi Robusta," lanjut Gery membuat kedua alis Veno menyatu.


"Itu loh yang kerjanya bikin kopi! Katrok banget lo masak nggak tahu!."


"BARISTA GOBLLOOKK!," teriak Veno yang terlampau kesal sembari memukulkan buku didepannya ke meja.


"Lah udah ganti ya?."


"GANTI PALA LU!? Emang dari dulu itu nama-nya ngab!."


"Hah? Oh...."


"....ya itu lah pokok-nya."


🌹🌹🌹


Sorak sorai senang keluar dari peserta Adi Bangsa. Penentuan terakhir juara pertama telah terpampang di depan mata. Lolos sudah hasil kompetisi pertama, kini mulai beranjak naik ke panggung untuk bersaing dengan SMA Pelita. Dua sekolah yang akan merebut juara satu sudah duduk rapi saling berhadapan.


Wajah wajah tegang kembali terpancar dari ketiga perempuan cerdas Adi Bangsa itu, siapa lagi kalau bukan Tara, Chika, dan Iren. Sedangkan para cowok disamping mereka tetap mempertahankan prinsipnya, stay cool dalam keadaan apapun.


Dari tempat penonton, tatapan dua mata beda generasi itu saling bertubrukan.  Senyum dari gadis yang tak lain Manda malah di balas tatapan menantang Dirgo. Pasalnya sekarang sekolah Manda, SMA Pelita sedang adu cerdas dengan sekolah adiknya.


"Sekolah lo bakal kalah lawan Adi Bangsa!," ujar Dirgo tanpa suara. Manda memanyunkan bibirnya tidak suka. Enak saja merendahkan sekolahnya semudah itu, tidak tahu saja Dirgo siapa yang melatih peserta Pelita. Manda, juara Nasional berturut turut di bidang Kimia.


"Lihat aja nanti siapa yang bakal menang!," balas Manda juga tanpa suara yang dapat ditangkap Dirgo.


Keduanya saling berinteraksi di antara orang-orang disebelah mereka. Suara ketukan mix dari pembawa acara membuat mereka berdua kembali menatap ke depan.


"Oke kita akan mulai babak Final sekarang juga! Masih semangat tim Adi Bangsa!?."


"SEMANGAT!!!," balas serempak para pendukung Adi Bangsa juga ke enam peserta.


Di masa tegang seperti ini, akal cerdas Zehn tak putus untuk mencari celah agar bisa bermesraan dengan Tara. Tangannya mengambil jari jari Tara untuk digenggamnya dibawah meja. Sang empu mendengus pelan, ingin melepaspun tidak bisa. Genggaman Zehn terlalu kuat ditangannya yang mungil.


"Jangan macam-macam dulu Zehn, tahu situasi," bisik Tara.


"Ya, aku udah tahu situasi. Dan ini situasi yang tepat Tara," balas Zehn menggoda gadis yang sudah bersemu merah. Jangan lupakan degup jantungnya yang tak teratur.


"Bagaimana dengan SMA Pelita, masih SSEMANGAT!?."


"SEMANGAT!!!."


"oke kita mulai, siapa yang menekan bel lebih cepat-."


"Dia yang akan menjawab pertanyaan."


"Pertanyaan pertama...."


"......TENTUKAN HIMPUAN PENYELESAIAN DARI PERSAMAAN TRIGONOMETRI SIN X \= SIN 80°, 0 KURANG DARI X KURANG DARI 360°!?."


Raut kedua tim sama- sama tegang, semua berkutat dengan buku masing-masing.


Kali ini senyum mulai mengembang dibibir Chika dan...


Ttiiittt


"YAH ADI BANGSA!..."


"Arrgghh sial," umpat cowok ber name tag Zeano dari tim Pelita.


Chika, dia menekan lebih dulu. Sebelum menjawab dirinya melirik ke rekannya sembari menunjukkan jawaban. Zehn sedikit mengernyit mendapati jawaban dirinya dan Chika berbeda, begitu juga dengan Jez.


"Beda!?," pertanyaan ambigu dari Zehn membuat Chika sedikit ragu melihat hasil jawabannya dengan kedua senior itu, tidak sama.


Jez mengetuk ngetuk hasil jawabannya mengisyaratkan bahwa jawaban dia dan Zehn yang benar. Semakin membuat Chika gelisah.


"Ini mana yang benar?," panik Tara melihat waktu satu menit semakin menipis.


"IYA, APA JAWABAN DARI ADI BANGSA!?."


Deg


Tara,  Chika dan Iren menelan ludah susah payah. Melihat tatapan Jez yang tajam sembari mengetuk berulangkali kertasnya membuat Chika di landa kepanikan.


Dia harus percaya sama siapa? Jawabannya sendiri atau seniornya?.


Netra Jez dan Chika saling bicara seakan mengatakan jawaban merekalah yang benar. Ketika Jez menarik mix untuk memberi jawaban dengan spontan Chika mengambil alih dari tangannya.


"HP \= 80, 100, 260, 280."


Kedua mata Jez melotot, helaan napas pasrah dari Zehn terdengar jelas di indera pendengaran Chika. Jantungnya semakin berdegup tak karuan, apa yang dilakukannya ini benar? Apa dia egois? Arghhh, tapi Chika merasa jawabannya yang benar. Bukan karena dia sombong karena ini bidangnya, matematika. Tidak.


Wajah Krezy, Tara, dan Iren hanya bisa menunduk pasrah menunggu keputusan dewan juri.


🌹🌹🌹


HOLA HOOLLAAA👋


Maaf nih udah malah Updete nya🥺


NEW STORY UPDETE DI NOVELTOON FRIENDS 👉 JANGAN LUPA MAMPIR YA, DIJAMIN NGGAK KALAH SERU SAMA ZEHNTARA KARENA ADA GENG HEROZ ANGKATAN SELANJUTNYA DIPIMPIN OLEH SEORANG MAFIA🤗 YUK, TINGGALKAN ABSEN DI NEW STORY AUTHOR, BARU UPDATE LOH😉


MAMPIR YAAAA AUTHOR TUNGGUUU🤗😘


...Jangan Lupa Like...


...Komeeennn...


...Votee...


...Pooinn...


...See You Next Chap...


...Love You All Gays😘...


...☠...


...🖤...


...👽...