
~Maaf sebelumnya kalau ada typo🙏 Jangan lupa saling memghargai😉
🌹🌹🌹
...Jantung ini adalah milikku...
...Tapi di setiap degupnya adalah milikmu...
Hembusan angin malam semakin menembus jaket yang ia kenakan. Tatapan sayu itu menatap lurus gadis yang kini juga menatapnya. Sesuatu berhasil masuk melewati kerongkongan menuju proses penggilingan. Mengunyah kembali rasa yang terasa asing. Begitupun perasaannya yang terasa cemas, cemas atas apa yang sedang terjadi dengan sikap orang yang kini dihadapan.
"Enak banget loh Tar roti kacangnya. Kamu bener nggak mau?," seulas senyum melengkung menghiasi wajah Zehn.
"Kak Zehn pulang aja!."
Keduanya saling tatap seperkian detik hingga ketokan dari arah pintu kamar membuat keduanya sedikit membelalak.
"Tara, kamu bicara sama siapa?," suara dari luar semakin mempercepat degup jantung Tara.
"Ayah!?," ucap Tara panik.
"Tutup gordennya Tar!."
"Jangan sampai kelihat bayangannya kak," Zehn mengangguk. Segera dia menepi ke sisi pintu sebelah kanan. Roti yang ia bawa kembali dimasukkan kedalam kresek. Sembari bersembunyi tangan itu tak henti hentinya memukul leher berusaha membuat apa yang sudah masuk kembali keluar. Percuma, semua sudah lolos dari gerakan peristaltik menuju lambung.
Langkah cepat membawa Tara ke arah pintu. Dan yah, Fariz sudah berdiri dengan muka garangnya. Semakin membuat raut wajah Tara berubah khawatir.
"A..ada apa yah?," tanyanya sembari meremas handle pintu, berusaha tidak melihatkan ke cemasannya.
"Ayah dengar kamu lagi bicara. Apa ada orang di dalam?."
"Ah.. itu Tara lagi nonton drakor jadi kebawa sampai ngomong sendiri deh heheehe... iya lagi nonton drakor," ujar Tara cengengesan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Faris bisa paham dari gerak gerik Tara yang terlihat gugup. Jangan lupakan pendeteksian seorang Fariz ginanjar tidak akan pernah salah. Profesinya sebagai seorang TNI yang selalu dahadapkan dengan musuh membuatnya terlatih menilai gelagat seseorang.
"Tara bohong!."
Ingat, itu sebuah pernyataan. Bukan pertanyaan.
Faris tersenyum ketika baru saja Tara cegukan, pertanda putrinya ini sedang gugup dan apa yang diucapkan Fariz benar adanya.
"Enggak ada siapa-siapa kok Yah. Tara nggak bohong, lihat aja nggak ada siapa-siapa kan? Tara bener lagi sendiri kok," cerocos Tara.
Fariz melipat kedua tangannya dan bersandar di ambang pintu. Menelisik setiap sudut ruangan. Netranya berhenti tepat di pintu kamar mandi.
"Ayah boleh cek kamar mandi?."
"Bo..boleh."
'Semoga ayah nggak ke balkon,' batin Tara.
Sedangkan diluar tepat di balkon Tara, seseorang mulai panik. Ya, Zehn mulai tak tahu harus apa. Lompat turun atau tetap bersembunyi?. Pasalnya kadar oksigen ditubuhnya kian menipis. Seperti pasokan udara diatmosfer bumi habis secara perlahan.
Berusaha tetap tenang juga mengatur napas itu sangatlah sulit disaat situasi tegang seperti ini. Kantung kresek yang semula ia pegang mulai merosot dari genggaman.
Faris menoleh ke arah balkon setelah ingin melangkah pergi. Tangan yang berubah pucat itu sekuat tenaga menggenggam erat pagar untuk menopang tubuh yang bersandar di dinding. Tangan satunya terus memukul mukuli dada yang terasa sempit bagai ditindih benda berat disisi kanan dan kiri.
"A..ada apa yah?," tanya Tara was was. Dia juga mendengar suara tadi. Jangan, Tara mohon jangan sampai ayahnya tahu Zehn ada disini.
"Suara apa tadi?."
"Ah mungkin kucing, iya kucing kali yah."
"Ayah," panggilan dari Ratih mengalihkan keduanya.
"Ada apa kok lama banget ngecek Tara?," tanya Ratih menghampiri keduanya.
"Tahu nih bun, masa ayah curiga kalau dikamar Tara ada orang lain. Padahal Tara sendiri di sini," ujar tara manja sembari bergelayut dilengan Ratih. Berusaha agar bundanya bisa membujuk sang ayah agar cepat pergi dari sini.
"Ayah kenapa parno banget sih?."
"Bukannya gitu bun. Tadi ayah dengar ada suara orang selain Tara."
"Kan udah Tara bilang itu suara drakor ayah. Tara lagi nonton Drama Korea di HP," sahutnya memberenggut.
"Iya tap-."
BRUK
Mata Tara melotot sedangkan kedua orang paruh baya itu mengernyit menatap bayangan dari luar yang berada diteras balkon Tara.
"Siapa itu!?," teriak Fariz mulai beranjak diikuti Ratih.
"Ayah," panggil Tara yang sudah tak hiraukan. Pintu pun sudah terbuka lebar menampangkan sosok Zehn yang terbaring di lantai.
"Zehn!?," teriak Ratih terlihat panik. Fariz tak mengeluarkan sepatah kata, dia langsung membawa kepala Zehn ke pangkuannya. Menepuk nepuk pipi Zehn yang sangat dingin.
Tara menutup mulutnya, tubuhnya mematung kaku. Hatinya semakin berdegup tak karuan. Entah apa yang sedang terjadi saat ini, dia hanya berharap satu. Zehn hanya bersandiwara. Okey, tapi tidak. Tara tidak bisa melihat letak sandiwara itu.
Mata yang sudah terpejam, bibirnya membiru, wajah dan kulitnya yang memucat seperti mayit berhasil mengoyak hati Tara.
"Zzz...zeehn," panggil Tara masih berdiri di tempat semula. Matanya memerah, tubuhnya juga begetar tak sanggup melihat kondisi sosok cowok yang selama ini membuat hatinya berdegup tergeletak dengan mata terpejam.
"Zehn bangun nak," ujar Ratih sambil mengusap usap tangan yang amat dingin itu.
"Gawat bun! Ini gejala Anafilaksis," sahut Fariz setelah memeriksa gejala di tubuh Zehn.
'Anafilaksi adalah gejala alergi yang dapat membahayakan jiwa seseorang.'
Netra Fariz menangkap sebuah kresek hitam, beralih menatap Tara yang sudah terduduk lemas dengan isakan. Tak berani melihat lebih dekat lagi, pikirannya sedang kacau saat ini.
"Itu kresek apa Tara!?."
Tara hanya sesegukan, tak fokus dengan apa yang Fariz tanyakan. Ratih mendekati putri nya, memeluk sembari mengelus punggungnya lembut.
"Ro..roti kacang yah," final Tara membuat Fariz mendelik.
"Dia alergi kacang. Kita bawa ke rumah sakit sekarang! Detak nadinya lemah."
Deg
Hati tara mencelos. Alergi? Tapi kenapa Zehn memakannya?.
"Zehhnn hikkss bunda semua salah Tara hikss....Arghhh Zehn bunda Zehn!? Gara gara Tara Zehn jadi kayak gini hikss...bunda," racau Tara. Wajahnya kini sudah basah dipenuhi cairan yang terus mengalir dari kelopak matanya.
"Sudah jangan menangis kita bawa ke rumah sakit secepatnya kalau tidak-."
Fariz menghentikan ucapannya, menatap putrinya sejenak.
"Bunda ambilkan kunci mobil!."
"Iya yah. Tara kuat, kita kerumah sakit sekarang, okey?," tutur Ratih mengecup dahi Tara sebelum berlari mengambil kunci mobil. Sedangkan Fariz membopong Zehn keluar kamar menuju garasi.
"Zehn, maaf!," gumam Tara berlari kecil mengikuti ayahnya.
🌹🌹🌹
"Kenapa perasaan aku jadi nggak enak," sambungnya.
"Kamu memberitahu siapa ibu kandungnya?."
"Tidak."
"Sekarang dia di mana? Aku mau menemuinya."
"Apa kau gila!?."
"Ini sudah waktunya mas!."
"Belum, cukup dia mengenal istriku sebagai ibunya!."
Wanita itu mengepalkan tangan, menatap tajam sosok dihadapannya. "Aku ibu kandungnya, dia berhak tahu siapa ibu yang sudah melahirkannya! Bahkan dia juga harus tahu kalau dia itu punya-."
"Cukup! Aku nggak akan membongkar semuanya sekarang!."
"Cepat atau lambat semua akan terbongkar mas," lirihnya.
Wanita itu bangkit, tapi naas saat kuah panas tumpah mengenai tangannya.
"Aawhh panas..."
"Astaga maaf nyonya saya tidak sengaja," ujar pelayan sembari membantu membersihkan menggunakan tissue.
"Kamu nggak apa apa?."
"Perasaan aku nggak enak mas."
🌹🌹🌹
"Sudah sayang jangan nangis terus. Bunda yakin Zehn itu anak yang kuat, dia pasti baik baik saja, hm?,"ujar Ratih menenangkan Tara yang masih histeris menyalahkan dirinya sendiri. Kini mereka bertiga ada diruang tunggu ICU.
Fariz hanya berjalan mondar mandir sedari tadi didepan pintu. Kali ini dia benar benar takut dan khawatir dengan kondisi Zehn.
"Tara bun, Tara yang udah buat Zehn makan rotinya hikss..."
Faris menoleh, menghampiri Tara. Menggenggam tangan yang terasa dingin itu.
"Bener Tara yang suruh Zehn makan rotinya?," tanya Fariz lembut.
Tara megangguk.
"Kenapa?."
"Apa Zehn nggak tahu kalau dia alergi kacang?."
"Itu nggak mungkin yah. Zehn pasti tahu, tapi karena Tara dia-."
Tara tak sanggup melanjutkan ucapannya. Terus meracau sampai sesenggukan. Semua benar benar diluar dugaannya.
"Kalian berantem?."
Lagi dan lagi Fariz tahu apa yang sedang Tara alami.
Ceklek
"Dengan keluarga pasien-."
"Iya Dok, bagaimana keadaannya? Semua baik-baik aja kan?," seloroh Fariz berdiri mendekat begitu juga Tara dan Ratih.
"Maaf sebelumnya,.kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi hanya tuhanlah yang berkehendak."
"MAKSUD DOKTER APA!?."
Teriak Tara yang tak habis pikir apa yang sudah keluar dari Dokter ber name tag Hendra itu.
"Detak jantung pasien berhenti."
Deg
🌹🌹🌹
HOLA HOLAAA👋
Gimana nih sama Chap ini??
MAU DIKASIH ENDING NGGAK??
ENDING NGGAK YAA??
HAPPY ATAU SAD END NIH??
MAU LANJUT NGGAK??
BERI EMOT TERBAIKMU UNTUK CHAPTER INI GAYYSS🤗
PENUHI KOLOM KOMENTARRR!!!!
~NB : Author tahu loh yg baca tpi nggak like, Tinggal tekan jmpol apa susahnya? readers baca nggak smpai lima menit sedangkan author ngetik ber jam jam. Ayolah beri jempol apa susahnya?? Bayangkan saja klau kalian jadi author, bisa ya saling menghargai!?
...SPAM KOMEN...
...LIKE...
...VOTE...
...POOOIIINNNN...
...SEE U NEXT CHAP🤗...
...LOVE U ALL GAYS😘...
...☠...
...🖤...
...👽...
..."Maaf..."...
..."Jangan...."...