Zehntara

Zehntara
Chap 21 ( Hasil seleksi )



~Jangan lupa saling menghargai😉


🌹🌹🌹


Nasi sudah menjadi bubur, mau di jadikan nasi pun sudah tidak mungkin bisa. Menjalani hukuman memang sering Dirgo lakukan selama hidupnya. Menjadi anak dari Fariz ginanjar tidaklah mudah. Salah sedikit saja sudah terkena sanksi, apalagi melakukan kesalahan yang sangat fatal. Nasib malang menimpa sang abang dari Tara saendria putri. Menjalani hukuman, entah sampai kapan dia harus menumpang di rumah Zehn.


"Nasib buruk memang tak jauh dari hidup gue ya!?," helaan napas pasrah terdengar di indra Zehn.


"Itu mah bukan nasib buruk bang. Tapi takdir yang lo buat sendiri. Udah tahu watak Bokap lo kayak gitu, eh lo malah main-main."


"Ya mau gimana lagi Zehn?. Gara gara bisikan dari para syaiton jadilah gue mau ikut geng motor."


"Iya. Setannya lo sendiri bang."


"Gini deh Zehn, emang salahnya dimana coba ikut geng motor? Yang pentingkan kita nggak berbuat jahat, iya nggak?."


"Iya, emang nggak salah. Yang salah itu lo udah bohong sama Om Fariz!."


"Udah ah pusing kepala gue."


"By the way, apartemen lo bagus juga. Pasti nggak murahan nih apartemen!," lanjut Dirgo mengamati sekelilingnya.


Zehn hanya berdehem, tetap fokus memainkan game di gadged miliknya. Sampai notifikasi pesan muncul di atas layar.


Zehn melirik jam setelah membaca pesan dari Pak Huda. Sudah pukul empat sore, waktu dimana semua pelajar kembali ke rumah.


"Gue mau ke sekolah dulu!," Zehn beranjak mengambil jaket yang ada di sofa.


"Ngapain?. Udah pada pulang kali jam segini."


"Ada urusan."


"Oh ya Zehn, lo bilang ke Tara dong suruh bawa baju-baju  sama buku kuliah gue!."


Zehn mengangkat jari jempol dan menghilang ditelan pintu. Melajukan motor menuju Sekolah Adi Bangsa setelah mendapat perintah dari Pak Huda.


Sedangkan di aula Adi Bangsa sudah banyak para murid dari berbagai bidang olimpiade. Termasuk Tara dan juga Chika. Setelah hasil seleksi kemarin  di undur, para guru memutuskan hari inilah waktunya. Tangan Tara dan Chika saling bertaut, berusaha menyalurkan ketenangan. Rasa cemas, takut, panik semua menjadi satu. Takut jika gagal dalam seleksi kali ini.


"Sumpah gue grogi banget Tar. Gimana kalau gue nggak lolos?."


"Suutt!. Bismillah aja Chik, kita pasti lolos!."


"Tapi kalau nggak lolos gimana?."


"Masih ada tahun depan!."


Tara memutar pandangannya ke sekeliling aula, objek yang di cari ternyata baru saja duduk di kursi paling belakang. Sorot matanya menajam tak kala melihat ke anehan dari wajah sosok yang sedari tadi tidak di temuinya.


"Lihat apa sih Tar?."


"Itu Zehn bukan!?."


"Iya, kok baru nongol tuh orang?. Nggak pakai seragam lagi."


"Tunggu deh!. Itu wajah cowok lo kenapa benjut semua!?," lanjut Chika yang di balas cubitan dilengan.


"Awwhh sakit Tar!," sahut Chika sambil mengelus bekas cubitan Tara.


"Bukan cowok gue Chika!!!."


"Halah!, terus kenapa tuh muka udah kepanasan?. Sampai merah bak kepiting!?."


Tara salah tingkah, spontan mengusap pipinya. Chika menahan tawa melihat tingkah sahabat polosnya ini saat sedang salting.


"Habis berantem kah?."


"Mungkin," sahut Tara lirih.


Saat keduanya hendak beralih menghadap ke depan tak sengaja ekor mata mereka menangkap sesuatu yang mengganjal, hingga Tara dan Chika menoleh ke belakang kembali dengan alis berkerut dan juga mulut terbuka. Di mana ada sosok Ziro dan Jez dengan wajah babak belur duduk di belakang Zehn.


"Tar!."


"Iya Chik!?."


"Pikiran lo sama nggak sama gue?."


Keduannya saling menatap dengan tatapan penuh isyarat.


"Fiks! Mereka saling bogem!," ujar kompak keduanya.


Sedangkan di belakang Zehn tersenyum menemukan Tara yang juga menatapnya. Lain dengan Tara yang langsung berpaling ke depan guna mengamankan jantungnya. Dia masih sayang nyawa.


"Kenapa?," tanya Chika melihat Tara menyetuh dadanya yang terus berpacu lebih cepat.


'Cuma senyuman aja udah bikin gue jantungan'


"Gue nggak kuat lagi deh Chik!."


"Haa?? Nggak kuat kenapa? Asma lo kambuh ya? Kita ke rumah sakit sekarang aja yok!!!," panik Chika.


"Apaan sih Chik!?."


"Lah, lo yang kenapa ogeb!?," geram Chika saat wajah Tara kembali linglung.


"Gue nggak apa-apa," santainya kembali duduk tegap tanpa menghiraukan mimik mulut Chika yang sudah ngedumel tak jelas.


'Untung lo anaknya ayah Fariz Tar. Kalau nggak gue mutilasi lo'


Suara ketukan mix membuat semua penghuni aula fokus ke sumber suara, di mana pak Huda sedang mengecek suara mix.


"CEK CEK SATU DUA TIGA."


"TES."


"OKE SUDAH TERDENGAR  JELAS!?."


"SUDAH PAK!!!."


"Oke kita mulai hasil seleksi kalian sekarang saja karena matahari juga sudah semakin tenggelam. Pertama saya di sini bukan sebagai pembina olimpiade Biologi saja tetapi saya di sini yang akan membina kalian di semua bidang Sains."


"Baik pak!."


"Saya akan mengumumkan enam peserta yang lolos dengan ketetapan jumlah yang sudah disepakati, yaitu bidang Biologi kita ambil dua murid, Fisika juga dua murid, Kimia dan Matematika kita hanya mengambil satu murid!."


"Yah kok cuma dua sih."


"Kenapa Kimia cuma satu?, nggak adil dong!."


"Fiks nih gue nggak lolos. Gimana mau lolos kalau lawannya aja kakak kelas se frekuensi Heroz lagi!."


Masih banyak ocehan murid lainnya yang masih bisa di dengar Tara dan Chika.


"Tar!?," Chika menatap Tara dengan wajah pasrah.


"Mungkin tahun depan Chik!."


"SUDAH JANGAN BICARA DULU BIAR SAYA SELESAIKAN. LEBIH CEPAT LEBIH BAIK!!!!"


"Ini sudah ketetapan dari pihak penyelenggara olimpiade, jadi saya juga tidak bisa menambahkan atau mengurangi peserta yang berhak mewakili sekolah!."


"Dengarkan baik-baik, saya akan bacakan yang lolos bidang Fisika lebih dulu."


Jez menoleh ke samping, dimana Ziro juga menatapnya dengan cengiran. Jez hanya tersenyum miring, dia sudah mengira siapa yang akan lolos di bidang Fisika nanti. Tidak di ragukan lagi.


"Santai Bro!. Lo gue udah aman!!!," Jez kembali mengeluarkan smirknya.


"SELAMAT UNTUK ZIRO DAN IREN, KALIAN LOLOS!!!."


"Nggak usah di tanyakan lagi kan Jez, siapa yang lebih hebat!?," ujar Ziro agak keras menatap orang di depannya.


'Kita lihat saja Zehn, siapa yang paling hebat!.'


Suara tepuk tangan menggema memenuhi aula Adi Bangsa. Cewek dengan tinggi semampai di tambah rambut hitam legamnya yang lurus itu memeluk erat Chika yang sudah kaget setengah mati.


"WOY LEPASIN TANGAN LO UHUUKK UHUUKK!!."


"Eh sorry gue kelepasan," sahutnya dengan senyuman yang tidak luntur.


'Nggak kenal juga main peluk. Untung nggak mati kecekek gue!'


"Seneng banget lo!?," tanya Chika yang masih mengelus lehernya.


"Iya, gue Iren!."


"Wah Congrats ya!."


"Pantesan senangnya bukan main. Sampai mau bikin orang is die," sarkas Chika yang langsung kena cubitan lagi dari Tara.


"Sorry temen gue emang gini orangnya!."


"Nggak masalah kok, emang gue kelepasan tadi. Sorry, masih sakit?," Chika menggeleng dan kembali duduk tegap, beralih ke pak Huda yang kembali membuka amplop.


"Amplop kedua berisikan murid yang lolos di bidang Matematika!."


Jantung Chika berpacu lebih capat, keringat dingin mulai keluar, tangannya tak terasa sudah meremas tangan Tara dan juga Iren.


"Gue deg deg an Taarr!!!!."


"SELAMAT UNTUK CHIKA ANANTA KAMU LOLOS!"


"HUUWWWAAAAAA!!!!."


Teriakan Chika membuat mereka semua spontan menutup telinga masing masing. Sedangkan Chika sudah seperti cacing kepanasan, melompat lompat tak jelas dengan teriakan yang siap merusak gendang telinga.


Tara dan Iren berusah membuat Chika kembali normal. Tara menarik Chika duduk kembali sedangkan Iren membekap mulut Chika.


"Tahu malu dikit lah Chik!!!!," bisik Tara seketika membuat Chika tersadar dan mengamati sekeliling yang sudah menatap dirinya horor.


"Malu banget gue Tar hiikkss!!!. Nggak jadi senang deh!," sahut Chika menenggelamkan wajah dipaha Tara. Iren terkekeh melihat tingkah laku Chika.


"Emang gini orangnya Ren!," ujar Tara dengan wajah inocent. Iren mengangguk, menampilkan senyum manisnya.


"Iya saya tahu kamu senang, tapi jangan sampai membuat semua orang pingsan ya Chika!. Oke kita lanjut!."


"Iya pak maap!!," sahut Chika lirih yang masih tak mau mengangkat kepalanya.


"Dasar mulut mercon!," lirih Jez.


"Amlop selanjutnya akan menentukan siapa yang lolos di bidang Biologi."


Chika mengangkat kepalanya dan menggenggam erat tangan Tara. "Lo pasti lolos Tar, gue yakin itu!."


"Maksih Chik, tapi lepasin!. Sakit," sahut Tara saat dirasa tangannya terlalu di cengkram kuat.


"Ahh Sorry!," sahut Chika menggaruk lehernya.


"SELAMAT UNTUK ZEHN DAN TARA KALIAN LOLOS!!!."


"NAH KAN GUE BULANG JUGA AP__."


"Sekali lagi lo teriak, gue bongkar rahsia lo ke bang Dirgi!," ancam Tara membekap mulut Chika.


"Mulut gue emang nggak bisa di rem, Please jangan di bongkar ya Tara sayangku!," bujuk Chika menggelayut di lengan Tara. Sedangkan murid lainnya menggelengkan kepala termasuk pak Huda, muak dengan suara mercon ratu kepo.


"Gini amat punya sahabat!," Chika tersenyum, melihatkan deretan giginya.


"Iya Tar, gue tahu kalau gue itu sahabat special lo kok!," tingkat Overdosis Chika sudah mulai naik. Helaan napas pasrah dari Tara, tak juga Tara. Iren pun yang baru mengenal Chika sudah mengembuskan napas kasar berkali kali.


"Congrats ya!. Kalian berdua lolos!."


"You are welcome!."


Zehn mengepalkan tangan ke udara, bahagia. Sangat. Bisa berjuang di medan perang bersama Tara. Entah sejak kapan kepalanya di penuhi dengan gadis polos bernama Tara.


Diam-diam Tara juga tersenyum. Memikirkan hal yang sama kah?. Dirinya dan senior pemikat kepolosannya?. Mungkin ini awal dari kisah yang mulai di rajut, entah dengan rajutan sempurna atau tidak. Biarlah waktu yang menuntun.


"Oke yang terakhir yaitu bidang Kimia!."


"SELAMAT UNTUK JEZ LAWIENS KAMU LOLOS!!!."


Semuanya bertepuk tangan riuh, kecuali ekspresi Chika yang berubah masam.


"Ckk ngapain korek Jez lolos sih?. Bikin bad mood aja kalau ada dia!."


"Emang kenapa kalau kak Jez lolos?, apa hubungannya coba sama mood lo!."


"Ya ampun Tar, lo kan tahu dia itu musuh terbesar gue!."


"Lo nggak suka sama kak Jez Chik?. Astaga, demi apa?? Padahal kak Jez orang nya ganteng banget tahu, pintar lagi. Anggota Heroz juga lohhh, yang paling cool!," sahut Iren.


"Idih geli gue dengernya!," sahut Chika.


"OKE SEMUANYA TENANG!!."


"Bagi yang tidak lolos jangan  berkecil hati, karena tahun depan masih ada. Kalian bisa lebih mempersiapkan dan bagi yang lolos, jangan berhenti untuk terus semangat, giat belajar, sampai kalian membawa piala kemenangan. SEMANGAT!!!."


"FIGHTING!!!!."


"Berhubungan sudah jam lima sore, mari kita akhiri pertenuan kali ini dan jangan lupa besok sepulang sekolah bagi yang lolos kita latihan di laboratrium Biologi. Saya akhiri selamat sore dan hati-hati di jalan!."


"Lo naik apa Ren?," tanya Tara.


"Gue bawa motor, kalau kalian??."


"Naik mobilnya Chika."


"Tar, tuh di panggil!," sahut Chika menunjuk ke arah Zehn dengan dagunya. Iren menganga lebar saat tahu siapa yang dimakhsud Chika.


"Kalian kenal sama dia!?," Tara dan Chika memgangguk.


"Sumpah!?. Astaga!."


"Kenapa sih Ren, biasa aja kali!."


"Dia kan mantan anggota geng Heroz bukan!?."


"Iya!, terus?."


"Ya ampun Tar gue aja pengen dekat sama yang berbau Heroz. Lo beruntung kalau dekat sama mereka."


"Apanya yang beruntung!?. Stres iya!," sahut Chika kesal.


"Udah gue duluan ya, bye!."


"Ckk iya sana pergi aja. Tahu gue yang lagi kesengsem mah," teriak Chika tak di hiraukan Tara dan Zehn yang sudah menjauh.


"Ta..tara sama dia.."


"IYA MEREKA PACARAN JADI JANGAN SAMPAI LO MACAM-MACAM!!!."


Ngacau lo Chik!


Mulut dan mata Iren melebar sempurna, benarkah?.


"Lo hebat Tar!. Baru masuk udah dapat emas," monolog Iren, sedangkan Chika sudah beranjak dulu daripada mendengar kehebohan Iren.


🌹🌹🌹


**Hola holaaa👋


Apa kabar gaesss!???


Selalu jaga kesehatann yaaa😉


Yuk bantu Share 'Zehntara' di berbagai medsos atau keteman" juga boleh🤗 Siapa nih yg jago bikin vidio, bisa yuk di edit dan jangan lupa follow @naokimiki12😉


...SAMPAI JUMPA DI CHAP SELANJUTNYA👋...


...Jangan lupa like...


...Vote...


...Komen...


...Poinnya juga ya sangkyuu😙...


...☠...


...🖤...


...👽**...