Zehntara

Zehntara
Chap 25 ( Debat )



~Jangan lupa saling menghargai😉


🌹🌹🌹🌹


Suara dentingan antara sendok dan piring beradu, begitupun tatapan penuh intimidasi antar dua generasi beda usia itu. Di sinilah Zehn dan Tara, di ruang makan keluarga Fariz ginanjar. Zehn serasa mati kutu duduk didepan Fariz yang menatap dingin dirinya. Ingin menelan makan saja sangat susah Zehn lakukan. Aura ayah Tara tidak perlu ditanyakan lagi, dijamin membuat siapapun tak akan berkutik.


"Jangan lupa," bisik Tara yang berada disebelah Zehn.


"Apanya?," sahut Zehn juga dengan bisikan.


"Tadi yang di lapangan."


"Uhukkuhuukk..."


Tara segera mengambilkan minum dan ditenggak habis Zehn.


"Pelan pelan nak, jadi tersedak kan. Santai aja jangan buru-buru pulang," ujar Ratih tersenyum penuh arti.


"I.. iya tan," sahut Zehn menatap Ratih dan Fariz bergantian. Fariz tidak menghiraukan, terus lahap menyantap makananya.


"Tar!."


"Hm?."


Masih dengan bisikan keduanya berbicara.


"Bisa diubah nggak syaratnya?."


"Syarat apa?."


"Jadi pacar kamu. Nggak usah tanya persetujuan dari ayah. Langsung pacaran aja, gimana? Mau ya!?."


"Katanya tadi siap, gimana sih?."


"Ayah kamu lagi naik pitam. Takutnya nggak dibolehin, nanti kita juga yang repot," elak Zehn mencoba mencari alibi. Sebenarnya dia lebih takut kepda Fariz saat ini.


"Kalau gitu Tara nggak bisa jadi pacarnya Zehn."


"Kenapa bisa gitu!?," kedua orang tua Tara menatap Zehn dengan alis terangkat satu. Suara Zehn yang sedikit meninggi membuat fokus keduannya teralihkan.


"Bicara apa tadi nak?."


"Oh bukan apa-apa tan, ini masakan tante enak banget kayak restoran bintang lima," sahut Zehn diakhiri kekehan sambil menyenggol kaki Tara.


Tara yang mengerti maksud Zehn segera menyahut


"Ahh iya bunda ini enak banget!."


"Bisa aja kalian ini. Ya sudah nambah lagi ya, dihabisin dulu!."


Keduanya saling mengangguk, menyantap kembali makanan masing-masing.


"Kalau Tara mau punya pacar harus lapor dulu sama ayah," bisik Tara kembali.


"Repot banget sih jadi anak abdi negara."


"Ayah emang posesif kalau soal gituan, bang Dirgo aja mau di jodohin sama ayah."


"Serius!?."


"Kalau bicara jangan bisik-bisik!."


Nah, kan. Sulit memang kalau dekat sama orang abdi negara. Sangat tajam dalam mengamati segala hal. Tara dan Zehn sama-sama berdehem. Menetralkan suasana akward yang selalu datang tiba-tiba.


"Ayah sudah selesai bun," Fariz beranjak dari duduk, tanpa jawaban dari Ratih dia langsung menuju kamar.


"Ayah masih marah sama kamu Zehn."


"Kayaknya sih begitu tan," sahut Zehn menggaruk lehernya yang tidak gatal.


"Sabar ya, nanti tante coba ngomong sama Om."


"Dirgo baik-baik aja kan Zehn!?," lanjut Ratih berubah cemas.


"Bang Dirgo baik kok tan."


"Tante titip Dirgo ya. Dia anaknya suka nggak teratur kalau makan."


"Bunda apaan sih. Bang Dirgo udah gede, nggak perlu diingatin terus kalau makan. Nanti kalau laper juga makan sendiri," sahut Tara sedikit kesal. Pasalnya Ratih selalu saja memanjakan abangnya.


"Kamu itu kalau sama abang sendiriselalu iri. Hmm yasudah kalian lanjut makan, bunda mau samperin ayah dulu."


Ratih berdiri dari duduknya, meninggalkan dua remaja saling pandang dengan wajah memelas.


"Kamu serius bang Dirgo mau dijodohin?. Kalau kamu nanti juga dijodohin gimana!?,"lesu Zehn menurunkan bahunya.


"Mungkin aja!," acuh Tara mengedikkan bahunya, membuat Zehn menatap tajam dirinya.


"Jadi kamu lebih pilih dijodohin hah!?."


"Kok jadi sewot, ya gimana lagi? Salah kamu nggak mau ijin ke Ayah," kesal Tara melipat tangannya didepan dada.


"Eh, tunggu!."


"Sejak kapan kita bicara pakai 'aku' 'kamu'!?," lanjut Tara.


"Ya nggak apa-apa dong," acuh Zehn.


"Kayak udah pacaran aja!."


"Ya udah ayok pacaran!!!," balas Zehn cepat.


"Jawab iya!!!. Nggak ada penolakan atau aku cium!?," seloroh Zehn sebelum Tara membuka mulutnya kembali.


Seketika membuat Tara menutup mulutnya dengan telapak tangan, jangan lupakan detak jantung yang mulai berlomba menuju finish.


"Mau ngajak pacaran kok kayak mau ngajak makan sih? Nggak ada romantis romantisnya," kesal Tara mengebungkan pipi cabinya.


"Terus maunya gimana?. Kalau gini caranya nggak bakal selesai."


"Ya usaha dong!!!."


"Usaha gimana lagi!?."


"Bilang ke Ayah, cari muka dulu kek, baik-baikin atau gimana. Supaya Ayah lupa kejadian kemarin."


"Kamu enak bilang kayak gitu, nah aku yang jalaninnya susah. Lihat mata singa ayah kamu aja udah mati kutu!."


"Salah siapa coba main tawuran segala, mau jadi jagoan ya!?," sahut Tara tak mau kalah. Zehn menghela napas kesal.


"Kok malah jadi nyalahin aku!?."


"Ya terus salah siapa? Kalau aja ayah nggak marah pasti semua akan lancar!."


"Nggak ada yang salah. Cuma kamunya aja yang ribet, tinggal bilang iya aja susah banget!."


"Mau ngajak pacaran atau mau ngajak ribut sih!?," geram Tara menaikkan volume bicaranya.


"Ya menurut kamu!?," sahut Zehn yang terlampau kesal.


Benar-benar dua manusia ini, soal seperti ini saja sudah melebar kemana mana. Malu woy sama anak kecil yang berebut mainan. Sudah gede masih aja debat soal hubungan??. Oh sungguh tidak masuk di akal.


Dan pergi kemana sifat berwibawa Zehn? Juga sifat Tara yang polos?.


"Gini aja deh, sekarang kita pacaran langsung aja nggak usah bilang sama siapa pun!!!."


Tara terdiam sejenak sebelum menggeleng kuat-kuat. Zehn kembali mengembuskan napas pasrah.


"Terus maunya apa!?."


"Maunya langsung nikah aja, gimana!?,"sahut Tara cengar cengir. Dengan  gemas Zehn mencubit kedua pipi Tara membuat sang empu mengerucutkan bibir.


"Oke, minggu depan aja mau!?."


"Kelamaan!."


Zehn mengangkat alisnya, berpikir sejenak sebelum bersuara.


"Kalau besok!?."


"Nggak!."


"Terus kapan!?."


"Sekarang aja, lebih cepat lebih baik!!!."


"GASPOOLLL!!!!."


🌹🌹🌹 🌹


Suasana laboratrium Kimia sangat ricuh. Saat ini kelas X Ipa 4 sedang melakukan praktek di bimbing Bu Rike sebagai guru pelajaran Kimia. Kelompok sudah diatur, mereka semua mulai mengerjakan tugas dengan arahan Bu Rike.


"Jangan sampai kalian tidak tertib apa yang sudah saya contohkan tadi!."


"Iya bu!."


Keadaan canggung dalam satu meja sangat membuat Tara tidak nyaman. Bagaimana tidak jika dia satu kelompok dengan Saniya. Anna yang berada di tengah mereka berdua saja bisa merasakan aura dingin dari keduanya.


"Kalian lanjutkan step empat dulu. Jangan sampai buat keributan, saya mau ke toilet sebentar!."


"Baik Bu siap laksanakan!," teriak salah satu murid.


"Tar!."


"Jangan ngelamun!."


"Siapa yang ngelamun."


"Ckck dari tadi lo tuh cuma bengong tahu," seloroh Anna menyenggol lengan Tara.


"Oh ya San lo kemarin kenapa nggak masuk?."


"Lagi istirahat aja kok An."


Anna hanya manggut-manggut dengan mulut membulat. Sedari pagi tidak ada yang membuka suara antara Tara dan Saniya. Merasa aneh sih iya, tapi keduanya saling diam. Mungkin menunggu waktu yang tepat untuk membuka suara kembali.


"Kalian kenapa sih dari tadi gue lihatin kok pada jutek banget."


"Enggak!," sahut keduanya bersamaan.


"Oke kalau gitu gue tinggal dulu ya!."


"Mau kemana!?."


Tara dan Saniya saling pandang saat ucapan mereka saling bertemu. Anna hanya geleng-geleng melihat situasi yang rumit ini.


"Ke kamar mandi. Urusin dulu tuh masalah kalian berdua, bye!."


"Eh An!, siapa juga yang punya masalah," lirih Tara di akhir.


Keduanya kembali canggung, melihat teman-temannya yang berada di depan mereka serasa aneh. Mereka semua dengan gesit mencampurkan bahan-bahan entah apa itu.


"Kalau aja ada Jez," lirih Saniya yang masih bisa didengar Tara.


"San!."


Saniya menoleh menatap Tara yang juga menatapnya. "Hm!?."


"Gue minta maaf kalau nyinggung perasaan lo kemarin," terang Tara yang membuat hati Saniya sedikit merasa bersalah. Seharusnya bukan Tara yang minta maaf, tapi dirinyalah yang terlalu egois.


"Ekkhmm minta maaf buat apa?. Lo nggak ada salah kok sama gue!."


"Seharusnya gue nggak ngomong gitu sama lo Tar. Gue yang egois!," lanjut Saniya.


"Gue juga salah San. Sorry kalau gue nyakitin perasaan lo."


"Tapi lo jangan salah paham, gue ngomong gini bukan berarti gue mundur gitu aja!."


'Sama aja bo'ong kalau gitu'


"Gue setuju kalau pertemanan kita nggak boleh hancur hanya karena mencintai hati yang sama," sahut Tara lesu.


"Okey, kita ikuti alurnya saja!."


"Gue masih perjuangin perasaan gue, dan gue harap itu nggak membuat pertemanan kita bubar!,"   lirih Tara.


"Nah gitu dong akur!!!," seloroh Anna.


"Ganggu aja lo An!."


"Tahu tuh," lanjut Tara yang di susul kekehan Saniya.


Suara bel istirahat menghentikan aktivitas murid X Ipa 4 yang sedang fokus-fokusnya meracik beberapa cairan. Saniya dengan cepat membereskan barangnya.


"Mau kemana sih San buru-buru banget kayaknya!?."


"Mau cari udara segar dulu. Gue titip beresin ini semua ya, thanks Beb bye!."


"Woylah San enak banget loh!," teriak Anna meski Saniya terus berlari meninggalkan mereka berdua.


"Mau kemana sih dia Tar?."


"Mana gue tahu An."


Mereka berdua beranjak meninggalkan beberapa murid yang masih setia melanjutkan eksperimennya.


"Dasar anak-anak ambis," gumam Anna melirik temannya yang lain.


Saniya berlari kecil memasuki kelas bertuliskan XI Ipa 1 dengan wajah berseri. Di tangannya membawa satu kotak bekal.


"Jez!."


"Tumben lo San kesini?," sahut Adit yang berada di sebelah Jez.


"Emang nggak boleh!?."


"Jelas boleh lah, bisa digorok gue sama Ziro kalau larang lo kesini!."


"Tuh tahu!."


Jez masih fokus dengan game yang di mainkannya bersama Aditya. Saniya yang merasa tidak digubris merempas Hp Jez. Jez hanya mengembuskan napas kasar, lebih tepatnya tidak ingin berdebat.


"Gue ngomong sama lo ya Jez. Ckck!!."


"Dimana Ziro!?."


"Keluar."


"Kemana!?."


"Lagi caper tuh anak," seloroh Aditya tanpa mengalihkan pandangan dari benda pipih ditangannya.


"CAPER SAMA SIAPA!!?."


"Woylah sans dong San, kalah kan gue!," kesal Adit saat suara Saniya mengejutkan sampai membuat permainannya mati.


"Sama junior San. Anak Ipa lima, gih kekelasnya sono!," kompor Aditya.


"Wah benar-benar ya!," sahut Sanita geram meremas hp Jez.


"Hp gue San!," panggil Jez yang tak dihiraukan Saniya yang terus melangkahkan kaki menuju kelas X Ipa 5.


Dari ambang pintu Saniya melihat Ziro mengacak acak rambut  cewek, entah siapa dia tidak mengenalnya. Dengan langkah lebar Saniya  menghampiri dua sejoli itu.


BRRAKK


Suara gebrakan meja mengejutkan keduanya, bahkan  penghuni kelas sepuluh ipa lima lainnya.


"Saniya!?."


"Cewek keberapa Ro!?," tanya Saniya sengit,  melipat tangannya didepan dada.


Ziro berkomat kamit dengan jari jari tangan seperti menghitung, alisnya berkerut menatap langit langit.


"Nggak tahu San, susah ngitungnya," jawab Ziro santai.


"DASAR BUAYA DARAT!."


"GUE RUKYAH JUGA LO!."


Geram Saniya berganti menaruh kedua tangannya di pinggang. Menatap tajam Ziro yang hanya mebalas dengan kekehan kecil. Cewek ber name tag Iren itu kebingungan, sedikit takut sih melihat situasi yang mendadak berubah. Murid lainnya juga mulai memperhatikan mereka bertiga.


Saniya beralih menatap Iren yang langsung menundukkan pandangannya.


"Dan lo!!," tunjuk Saniya tepat diwajah Iren.


"Jangan mau dijadiin mainan sama dia!," ucapnya beralih menatap sengit Ziro.


"Kenapa sih San marah-marah?. Cembukor ya!?," sahut Ziro menaik turunkan satu alisnya dengan bibir melengkung miring.


"HAH?? GUE CEMBURU!?."


"NGIMPI LO!!!."


🌹🌹🌹🌹


HOLA HOLAAA👋


MAAP AGAK MALAM UPDATENYA✌


GIMANA NIH SAMA CHAP DEBAT INI?? BIKIN NGGREGET NGGAK!??


...JANGAN LUPA SPAM KOMEN...


...LIKE...


...VOTE...


...POOOIIIINNNN...


...SEE YOU NEXT CHAP...


...LOVE U ALL GAESS😚...


...☠...


...🖤...


...👽...


Komuk komuk kesal Tara debat ama Zehn😝